Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Sunday, December 21, 2014

Majalah Tumbuh Kembang | Rubrik Bintang Tumbuh Kembang | April, 2011 | by Deti Gurnita


Di antara kesibukan Dewi, kegiatan apa nih yang kira-kira sering dilakukan bersama anak-anak? Dan seperti apa membagi waktunya?

Anak kedua saya, Atisha, masih 17 bulan, jadi selalu saya dampingi tiap harinya. Justru saya yang mengurangi drastis kegiatan saya untuk bisa menemaninya. Kalau Keenan, sudah kelas 1 SD, jadi kegiatan saya dengan dia lebih banyak membimbing belajar, membaca buku bersama. Dan kalau weekend, kita sesekali jalan-jalan bareng sekeluarga. Saya banyak bekerja dari rumah, jadi paling saya mengkhususkan 2-3 jam bekerja (menulis, dsb), habis itu sudah. Saya nemani anak-anak lagi.

Kejadian atau kebiasaan unik apa nih yang sedang terjadi di keluarga?

Menurut saya sih, sebetulnya kebiasaan-kebiasaan kami biasa-biasa saja. Sedang menikmati perkembangan pesat Atisha dan menikmati humor dan kelakuannya Keenan yang penuh kejutan.

Apa saja perkembangan pesat Atisha yang sekarang Dewi amati?

Dia sangat "connect" dengan orang. Pandangannya selalu fokus, dan dia seperti memahami semua yang kita komunikasikan, meskipun dia belum bisa bicara seperti orang dewasa. Saat ini dia sangat pintar meniru, sangat senang bicara, sangat senang menari.

Humor dan kelakuan Keenan apa saja yang sering membuat Dewi terkejut?

Komentar-komentarnya suka tidak terduga. Saking seringnya saya udah nggak inget lagi satu-satu, cuma sering saya posting aja di Twitter, hehe.

Pola dan rules apa yang telah dibangun dan sedang berjalan di keluarga Dewi?

Kami mengajarkan anak-anak untuk tidak ragu mengungkapkan perasaan mereka, karena bagi kami itu lebih sehat untuk perkembangan mentalnya. Dan kami juga membiasakan menghargai perasaan mereka. Kalau mereka kelihatan sedih atau ngambek, kami ajak bicara baik-baik, permasalahannya apa, kenapa merasa seperti itu, dsb. Meski Atisha belum berkomunikasi verbal dengan jelas, tapi kami tetap sebisa mungkin menunjukkan itikad kami untuk menghargai perasaannya.

Sebagai penulis, pasti ada beberapa cerita yang terinspirasi dari anak-anak. Sebenarnya, sebagai orangtua, apa yang paling Anda harapkan dari mereka? dan bagaimana arti anak-anak sendiri di hidup Anda?

Saya berharap mereka tumbuh maksimal sesuai dengan potensi yang mereka punya. Mereka menjadi manusia yang sadar akan tujuan mereka, dan membantu menyembuhkan Bumi. Saya sepaham dengan Kahlil Gibran tentang makna anak. Mereka adalah panah yang akan melesat. Kami orang tua hanya membekali perjalanan mereka sebaik mungkin.

Pernahkah Anda terinspirasi dari anak-anak dalam membuat tulisan?

Kalau secara harfiah dijadikan cerita sih belum. Tapi beberapa kali membuat artikel berdasarkan kejadian saya dengan Keenan. Sudah pernah saya posting juga di blog.

Apa upaya Dewi dan suami dalam memaksimalkan tumbuh kembang anak-anak? 

Memberikan ruang bagi mereka untuk berekspresi, tapi juga punya guideline untuk mereka belajar disiplin.

Tolong berikan sedikit tips dari Anda dalam menciptakan waktu yang maksimal untuk anak-anak.

Semua profesi pasti punya tantangan masing-masing perihal pembagian waktu. Kalau saya, saya harus benar-benar menyediakan waktu untuk nulis secara khusus, 2-3 jam sehari, sisanya saya harus bagi untuk anak-anak dan keluarga. Intinya sih ya ditata saja waktunya, karena kalau nggak banyak yang keteteran. Saya sengaja nggak ambil banyak kerjaan selama Atisha masih ASI. Rencananya saya ASI sampai 2,5 thn. Jadi sebisa mungkin selama periode itu, saya lebih banyak bersama anak-anak.

Saturday, December 20, 2014

Nakita | Gentle Birth | Oktober, 2011 | by Dedeh


Kesibukan dan aktivitas apa saja yang sekarang Anda tengah lakukan?
                   
Saat ini saya sedang menyelesaikan buku saya kedelapan, Supernova Partikel. Untuk itu, saya sengaja cuti panjang dari berbagai kegiatan yang di luar rumah. Jadi saat ini konsentrasi saya hanya untuk menulis dan mengurus rumah, keluarga, anak-anak.
                   
Anda pernah menjalani persalinan dengan gentle birth. Dari pengalaman yang Anda rasakan, bagaimana pengaruhnya bagi diri anak sekarang ini dan juga hubungannya dengan Anda sebagai ibu? (Misalnya, anaknya termasuk anak yang tenang, bahagia, dan sebagainya. Hubungan dengan Anda sebagai ibu lebih erat, dan sebagainya.)
                   
Sejak lahir, Atisha bisa dibilang sangat "conscious". Perkembangannya sangat baik, baik itu motorik, sensorik, maupun memori dan daya tangkapnya. Dari Atisha masih di kandungan, saya dan sudah membiasakan berkomunikasi dengannya. Jadi setelah lahir pun, meski dia belum berkomunikasi seperti orang dewasa, dia sangat responsif terhadap apa yang kami sampaikan. Secara kesehatan, Atisha jarang sakit, daya tahan tubuhnya sangat bagus.
Pengalaman Gentle Birth benar-benar revolusioner dalam hidup saya, dan juga keluarga. Atisha juga dekat dengan abangnya dan ayahnya. Saya sendiri sangat menikmati peran saya sebagai ibu. Meski bisa dibilang, saya hampir tidak bekerja lagi seperti dulu, jadi hanya mengambil pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah, saya tidak merasa kehilangan apa pun. Malah kalau bisa selama mungkin mengurus Atisha secara penuh, setidaknya sampai sebelum dia bersekolah.
                   
Dalam hal membesarkan buah hatinya, seperti mendidik dan mengasuhnya, apa yang Anda anggap penting untuk ditanamkan pada diri mereka? Mengapa itu penting?
                   
Kami selalu mendorong mereka untuk jujur dan tidak sungkan mengomunikasikan perasaan dan pikiran mereka. Kami ingin mereka tumbuh besar menjadi orang yang peka dan tidak mengabaikan suara batin mereka. Karena kami melihat kecenderungan orang modern sekarang ini adalah melapisi diri mereka dengan berbagai tameng, entah itu citra, identifikasi yang tidak tulus, dan sebagainya.
                   
Kegiatan apa yang sering dilakukan bersama anak-anak dalam keseharian dan juga di hari weekend?

Kami sering jalan-jalan di sekitar kompleks, membaca, menyanyi di rumah. Saat kami semua berkumpul di kamar, bercanda dan ketawa-ketawa, itulah momen yang paling menyenangkan.

Mother & Baby | Gentle Birth | Desember, 2010


Apa kabar? Selain disibukkan dengan Keenan dan Atisha, apa lagi kegiatan sekarang? Bagaimana dengan penulisan buku? Perahu Kertas jadi difilmkan?

Kabar baik. Saat ini saya sengaja “sabbatical leave” alias cuti panjang dari pekerjaan, untuk mengurus Atisha. Untuk pekerjaan saya cuma ambil yang bisa dikerjakan dari rumah saja. Penulisan buku masih jalan terus. Tahun ini saya menulis skenario Perahu Kertas yang rencananya akan difilmkan tahun depan. Dan ada satu manuskrip kumpulan cerpen, plus beberapa proyek website pribadi.

Apakah sempat kagok jadi ibu lagi karena jarak antara Keenan dan Atisha cukup jauh? Apakah santai saja atau sempat juga baca-baca majalah kehamilan atau website?

Kagok sih enggak, bahkan saya merasa sangat dimudahkan karena Keenan udah cukup besar dan mulai mandiri, jadi saya bisa konsentrasi untuk mengurus Atisha. Kalau santai ya santai, tapi banyak pembekalan saat hamil, seperti membaca, praktek meditasi, latihan self healing, taichi, dsb.

Perbedaan kehamilan Keenan dan Atisha kemarin seperti apa? Tolong ceritakan.

Saat hamil Atisha pendekatan saya jauh lebih natural, karena sudah mulai menerapkan Gentle Birth yang memang dimulai dari kehamilan. Check up hanya dilakukan jika benar-benar perlu, USG saya hanya dua kali, dan tidak ada obat-obatan sama sekali. Banyak istirahat, taichi, meditasi, dan terapi alami seperti homeopati, Jin Shin Jyutsu, self-healing, dsb. Waktu hamil Keenan saya sebentar-sebentar ke dokter, bahkan sempat masuk rumah sakit dua kali, padahal nggak ada yang serius, cuma parno aja. Hehe.

Bagaimana dengan makanan? Berarti dari janin, Atisha vegan ya?

Saya sudah vegetarian saat hamil Atisha, jadi otomatis dia vegetarian juga. (catatan: bukan vegan, kalau vegan sudah tidak mengonsumsi telur/produk susu. Waktu hamil saya vegetarian, bukan vegan)

Sempat baca, kemarin melahirkan Atisha bersama suami dengan metode gentle birth. Apa yang dimaksud dengan metode gentle birth? Bisa diceritakan? Perbedaan dengan water birth atau persalinan normal pada umumnya apa?

Gentle Birth itu pendekatan yang holistik untuk persalinan, dan juga kehamilan, di mana yang diutamakan bukan hanya keselamatan fisik saja, tapi juga meminimalkan trauma lahir pada bayi dan ibu. Untuk itu kami memilih bersalin di rumah, sehingga suasananya santai dan sakral. Kami dibantu bidan, tapi pada saat persalinan karena bidannya nggak keburu datang sementara bayi sudah siap keluar, akhirnya Reza yang menangkap bayi. Tapi karena sudah persiapan, jadi kami cukup tenang menjalankannya. Tidak ada sobekan, dan semua berjalan cepat. Bidan membantu untuk proses pengeluaran plasenta dan perawatan pasca persalinan. Kami memang menggunakan metode water birth karena dari riset kami, bayi yang keluar di air transisinya lebih mulus, dan berada di air juga menenangkan bagi sang ibu.

Dari mana Anda dan suami mendapatkan metode ini? Apakah setelah persalinan ini, Anda ke rumah sakit juga? Berapa berat dan panjang Atisha serta arti namanya?

Reza sudah cukup lama mengenal Gentle Birth karena pekerjaannya sebagai praktisi penyembuhan holistik. Kami banyak belajar dari buku, menonton video, dan konsultasi dengan para bidan di Bali yang menjalankan metode ini, seperti di Bumi Sehat (Ubud). Kami tidak ke rumah sakit sesudahnya karena tidak ada kondisi medis yang mengharuskan. Nama lengkap Atisha adalah Atisha Prajna Tiara. Atisha adalah nama guru besar agama Buddha, Prajna artinya “wisdom”, dan Tiara adalah mahkota.

Bagaimana Anda memandang kelahiran Atisha untuk pribadi dan keluarga baru Anda?

Kelahiran Atisha benar-benar mentransformasi kami semua. Proses persalinannya sungguh luar biasa dan itu benar-benar membawa keajaiban bagi kami sekeluarga.

Lalu, bagaimana dengan pola didik dan pola asuh yang diterapkan untuknya?

Kami menerapkan conscious parenting yakni pola asuh berkesadaran. Prinsipnya sederhana, ketimbang mengasuh berdasarkan teori para ahli, atau sekadar meniru pola asuh mayoritas, kami berusaha untuk terus dituntun intuisi dari dalam diri. Kepekaan ini adalah kombinasi dari upaya untuk terus memperhatikan secara jernih energi, perilaku dan perkembangan si anak yang tentu punya kebutuhan unik, dengan latihan hidup berkesadaran yang kami latih sebagai individu. 

Untuk edisi Januari ini, temanya New Year, New You, kalau Anda sendiri apakah Anda memiliki resolusi tahun baru untuk pribadi dan keluarga? Seperti apa? Apakah Anda memiliki waktu pribadi untuk merenung?

Kami berencana untuk membangun rumah tahun depan, jadi itu resolusi kami yang terdekat. Biasanya untuk tahun baru saya dan Reza meditasi singkat bersama-sama.

Tip sehat dan bugar dari Anda?

Banyak tertawa, punya hobi, banyak minum air putih, meditasi, sering berjalan dan hiruplah udara segar.

Majalah Internal Kesehatan | Rekreasi Untuk Anak | Desember, 2009 | by Anastasia Ratih P Tyas


Menurut Anda, pentingkah seorang anak diberi kesempatan untuk rekreasi secara rutin? Mengapa?

Rekreasi itu penting. Kalau rutinnya sih saya lihat sikon, jika memang memungkinkan oke, tapi kalau enggak ya nggak usah dipaksakan. Menurut saya, rekreasi itu menyehatkan mental anak, dan juga memperkuat bonding antara orang tua dan anak.

Buat anak Anda, Keenan Avalokita Kirana, dalam bentuk apa rekreasi yang Anda berikan kepadanya? Atau, adakah permintaan khusus dari si kecil untuk melakukan suatu kegiatan rekreasi?

Keenan lagi suka main di air, jadi paling sering diajak berenang. Kalau ke luar kota sesekali kita jalankan, misalnya ke Taman Safari, Puncak, Garut, Bali. Kalau memang pas saya ada nyanyi/talkshow ke luar kota juga kadang-kadang Keenan saya bawa. Dia sih pada dasarnya suka jalan-jalan, jadi ke mana pun semangat. Tapi tempat favorit dia sejauh ini adalah Bali.

Saat ini, apa yang biasanya anak Anda lakukan saat diberi waktu untuk bermain?

Dia senang main di luar, ketemu teman-teman sebayanya. Kebetulan di kompleks kami cukup banyak anak kecil. Atau dia main musik (drum).

Apakah Anda termasuk tipe orangtua yang membatasi waktu bermain anak setiap harinya? Kalau iya, kapankah waktu yang pas untuk Keenan bermain/bersantai?

Karena dia baru 5 tahun, masih TK, dan belum ada pekerjaan rumah dari sekolah. Hampir setiap saat ya kerjanya main. Dia punya slot waktu khusus untuk belajar dan membaca. Sekarang ini dia lagi belajar nulis, dan biasanya dia membaca dongeng bersama saya sebelum tidur. Sisanya dia main.

Apakah Anda senantiasa menemani Keenan bermain atau Anda sudah mulai membiarkan dirinya mandiri, termasuk dalam hal rekreasi? Alasannya?

Saya nggak selalu menemani, apalagi sekarang ini saya sedang mengurus anak kedua, jadi Keenan lebih sering dibiarkan mandiri atau ditemani Reza. Karena Keenan juga cukup sering mengunjungi kakek-neneknya di Bandung, dia sudah terbiasa naik travel ditemani babysitter, jadi sudah cukup mandiri. 

Biasanya, apa yang Anda lakukan bersama anak-anak di waktu luang?

Ngobrol, nonton teve bareng, atau baca buku. 

Majalah Luar Biasa | Purpose of Life | November, 2009 | by Anastasya Ratih P Tyas


Kebanyakan orang memiliki resolusi hidup yang ingin dicapai setiap kali pergantian tahun. Apakah Anda termasuk salah satunya? Bila iya, dalam hal apa saja resolusi tahunan yang Anda buat?

Sudah lama sekali tidak punya resolusi tahunan. Mungkin terakhir bikin waktu masih kuliah. Sekarang sih menjalani hidup apa adanya saja.

Resolusi apa yang Anda ingin capai pada saat awal tahun 2009 lalu? Dan, apakah resolusi itu dapat diwujudkan?

Merujuk ke jawaban no 1, saya nggak punya resolusi.

Menurut Anda, pentingkah seseorang memiliki resolusi dalam hidupnya? Mengapa?

Menurut saya, nggak ada jawaban general yang bisa berlaku untuk semua orang. Akan selalu tergantung kebutuhan orang itu sendiri. Barangkali ada yang merasa terbantu dengan memiliki resolusi, karena jadi ada target untuk dikejar. Tapi ada juga yang mungkin tidak merasa terlalu perlu punya resolusi, saya salah satunya. Sesekali saya tetap punya target, tapi saya tidak menjadikannya kegiatan rutin. Kalau memang diperlukan saja.

Apakah Anda termasuk orang yang menganggap pergantian tahun patut dirayakan?

Sekarang ini saya rasanya lebih santai melihat pergantian tahun. Kalau memang ada kesempatan merayakan, oke. Kalau enggak pun nggak apa-apa. Esensinya, kan, semua tanggal pun tidak ada yang berulang dua kali, jadi setiap hari sebetulnya sama spesialnya.

Biasanya, dengan cara apa Anda menutup tahun?

Belakangan lebih banyak di rumah bersama keluarga. Dengar suara kembang api dan kadang-kadang nonton kembang api di langit kalau lagi ada. Pada saat tengah malam, saya dan Reza selalu bermeditasi sejenak. Setelah lewat tengah malam baru tidur.

Sudah ada rencana untuk akhir tahun 2009?

Untuk akhir tahun ini nggak ada. Tapi Oktober lalu saya baru melahirkan anak ke-2, jadi akhir tahun ini kami punya anggota keluarga baru. Bagi saya itu sudah cukup menjadikan akhir tahun 2009 ini ekstra spesial.

Sudahkah Anda menetapkan apa yang ingin Anda capai di tahun 2010?

Ada beberapa agenda pekerjaan yang memang jatuhnya di tahun 2010, antara lain beberapa judul buku baru. Tapi saya tidak menjadikannya resolusi, sekadar agenda kerja saja.

Apakah Anda sudah puas dengan hidup yang sudah Anda miliki dan jalani saat ini? Kalau belum, apa yang dirasa masih kurang dalam pencapaian hidup Anda?

Puas-puas saja. Impian atau proyeksi masa depan tetap ada, tapi itu rasanya tidak sampai membuat saya merasa kurang dengan apa yang saya punya sekarang.

Pernahkah Anda merasa menyerah dalam menghadapi suatu masalah?

Menurut saya, tahu kapan kita menyerah dan kapan kita berjuang adalah seni yang harus terus digeluti dalam hidup. Entah itu menyerah, bertahan, atau berjuang, bagi saya yang lebih penting adalah berpasrah dalam segala prosesnya. Menyadari dan menerima bahwa apa pun yang kita pikirkan dan rencanakan belum tentu akan terwujud dan belum tentu adalah yang terbaik. Menjalani hidup secara sadar bagi saya lebih esensial.

Bila hal di no.9 tadi sedang melanda, apa yang Anda lakukan untuk membangkitkan kembali semangat hidup?

Sekadar menyadari bahwa segala sesuatu tidak ada yang tetap. Kesedihan tidak tetap, kesialan tidak tetap, semua itu akan berlalu jika memang sudah saatnya. Sebaliknya pun sama. Nasib mujur tidak tetap, kegembiraan pun tidak tetap. Jadi kedua sisi itu nggak usah terlalu digigit kuat. Biarkan saja mereka hadir bergiliran sesuai waktunya.

Kesibukan apa yang sedang Anda lakukan saat ini?

Saat ini saya mau konsentrasi mengurus anak ke-2 saya dan keluarga. Lebih banyak ingin kerja dari rumah saja dan mengurangi kegiatan di luar kalau nggak perlu-perlu banget. Ada beberapa naskah buku yang tengah dipersiapkan.

Anda pertama kali terjun di dunia entertainment sebagai penyanyi, lalu belakangan orang mengenal Anda sebagai salah satu penulis wanita yang telah menerbitkan karya-karya tulis yang luar biasa. Mana sebenarnya yang lebih mencerminkan diri Anda sendiri, penyanyi atau penulis?

Bagi saya pribadi, musik dan menulis tidak bisa dipisahkan. Keduanya merupakan bagian inheren dari diri saya. Keduanya merupakan jalur saya berekspresi. Tinggal waktunya saja, kadang-kadang yang muncul adalah keinginan menulis, kadang-kadang bermusik. Jadi, hanya momen dan timing-nya saja yang bervariasi, tapi jalur ekspresinya ya hanya dua itu.

Ke depannya, apakah rencana Anda, apakah fokus pada dunia tarik suara atau dunia tulis-menulis?

Masih di dua-duanya. Tapi untuk jangka waktu dekat, saya masih harus menyelesaikan beberapa naskah tulisan saya.

Oktober lalu, Anda melahirkan anak ke-2. Bagaimana cara Anda membagi waktu secara adil, antara keluarga dan karier? Apalagi saat ini, promo album terbaru Anda juga masih berlangsung?

Sejak dulu, prinsip saya tentang prioritas adalah melihat situasi dan kondisi serealistis mungkin. Saat ini, saya memilih untuk fokus pada keluarga dan anak-anak saya dulu, khususnya anak ke-2 saya yang baru lahir. Untuk promo, kalau album sih sudah rilis dari tahun lalu jadi sudah tidak lagi intensif promonya. Yang paling baru justru buku (Perahu Kertas), dan sekarang buku itu tetap berpromo, tapi tidak dengan cara menghadirkan saya secara fisik, jadi lebih ke pemakaian media cetak seperti poster, banner, iklan, dsb. Syukurnya, meski dengan begitu, Perahu Kertas tetap bisa jadi best-seller.

Bagaimana tanggapan anak pertama dalam menerima kehadiran adik baru dalam hidupnya?

Keenan, anak pertama saya, sangat antusias sekali dengan kehadiran adiknya. Dari waktu hamil, dia sudah nagih-nagih untuk adiknya cepat keluar. Dan sekarang, dia sayang sekali dengan adiknya. Keenan selalu membanggakan ke orang-orang bahwa sekarang dia sudah punya adik perempuan.

Bagaimana cara Anda memperlakukan dengan adil kedua buah hati Anda?

Sebisa mungkin saya tetap kasih porsi perhatian saya pada Keenan. Kami punya ritual yakni membaca cerita sebelum dia tidur, jadi walaupun sekarang sudah ada adiknya, saya tetap sebisa mungkin mempertahankan ritual, tsb. Cara lain adalah dengan melibatkan Keenan dalam kegiatan mengurus adiknya: mengajarkan dia cara membelai, meminta tolong dia untuk menjaga adiknya, dsb.

Apakah kendalanya membesarkan anak dengan dua ayah yang berbeda? Apakah itu terkadang membuat Anda susah, atau malah memberikan warna tersendiri dalam hidup Anda?

Sebelum Atisha, anak ke-2 saya lahir, ikatan antara Keenan dan Reza sudah sangat kuat. Jadi tidak ada kesulitan sama sekali. Dan sejak saya hamil Atisha, Keenan sudah kami libatkan dari mulai proses kehamilan, bahkan saat kelahiran. Jadi ikatan antara satu sama lain dalam keluarga kecil kami tidak pernah terputus atau merenggang dengan perubahan ini. Kuncinya, ya, dengan cara melibatkan Keenan secara perlahan namun kontinu dalam semua perubahan yang terjadi.

Pernahkan anak pertama Anda mengeluhkan kurangnya perhatian Anda kepadanya, dan bagaimana Anda menyikapinya?

Sejauh ini sih nggak pernah, karena yang kasih perhatian sama dia banyak sekali. Saya malah bersyukur dia punya banyak keluarga. Karena dengan demikian dia bisa punya variasi dan curahan kasih sayang dari kiri-kanan, nggak hanya menuntut dari kami saja. Setiap akhir pekan dia punya kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama ayah kandungnya atau nenek-kakeknya di Bandung. Meski demikian, Keenan memang menghabiskan waktu paling banyak dengan saya dan Reza. Jadi sebagai sebuah unit keluarga, memang kami harus solid supaya Keenan tetap merasa stabil di mana pun dia berada. 

Wednesday, December 17, 2014

Harian INDOPOS | Profil Selebritis | Juli, 2009 | by Ahmad Sukarno Hamid

Dee... sebelumnya selamat dan sukses untuk diluncurkannya novel terbaru. 

Terima kasih. 

Kabarnya novel Rectoverso sudah rilis? Bagaimana rasanya telah merampungkan satu proyek? 

Rectoverso rilis sejak Agustus tahun lalu. Rasanya senang, bahagia, lega. 

Bisa diceritakan awal penulisan novel ketujuh ini? 

Pertama-tama, Rectoverso adalah kumpulan cerpen. Bukan novel. Dan untuk buku, Rectoverso adalah buku saya ke-6. Banyak informasi tentang Rectoverso bisa dilihat di www.dee-interview.blogspot.com dengan label posting “Rectoverso”, silakan dicek. Jika ada yang belum saya jawab di sana, maka akan saya jawab di interview ini. Tapi kalau sudah ada, mohon dilihat jawaban saya di Dee-Interview, dan wawancara ini bisa berjalan lebih efisien dan efektif bagi pihak saya maupun Indopos. Terima kasih sebelumnya. 

Kalau dibandingkan dengan novel sebelumnya ada hubungannya nggak? 

Tidak ada hubungannya. 

Sempat nggak mengalami stagnan di karya ini? Bisa dijelaskan? 

Karena saat menyelesaikan album Rectoverso, saya belum kelar menulis semua cerpennya, saya sempat behind schedule untuk dua cerpen, makanya saya akhirnya kabur dulu ke Garut selama 3 hari 2 malam khusus untuk merampungkan dua cerpen tsb.

Dee… siapa sih yang paling berperan dalam pembuatan Rectoverso dan karier kamu? 

Setiap karya saya selalu membawa “tim sukses”-nya sendiri. Jadi setiap karya hampir selalu orang yang ngebantuinnya beda-beda. Saya berutang budi pada banyak orang, saking banyaknya nggak bisa saya sebutkan satu-satu. 

Sejauh ini peran suami (Reza Gunawan) dalam menunjang karier di musik sejauh apa? Dan untuk menulis seperti apa? Bisa dijelaskan? 

Reza membantu saya dengan mengiringi piano selama promosi Rectoverso (kebetulan dia pianis), dan secara umum dia sangat mendukung karier saya, baik menulis maupun musik. Dia adalah teman diskusi, teman brainstorming, dan teman curhat dalam segala pekerjaan saya. 

Sempat nggak meminta saran Reza atau sekedar pendapat, atau membaca ulang hasil tulisan kamu? 

Selalu. 

Ada perasaan beda nggak setelah menikah dengan Reza Gunawan? 

Setiap hari perasaannya beda-beda. Haha! 

Dee... seperti apa sih upaya dan rencana kamu untuk membesarkan Keenan Sidharta? 

Nama lengkap Keenan adalah: Keenan Avalokita Kirana. Bukan Keenan Sidhartha.
Saya nggak punya rencana macam-macam, pokoknya memfasilitasi dia sebaik mungkin. Kalau minatnya musik, ya, saya dorong, kalau menyanyi, ya, didorong juga. Pokoknya dilihat saja perkembangannya setiap hari seperti apa, lalu didukung sebaik mungkin. Karena kan, Keenan pastinya punya minat dan bakat sendiri, yang belum tentu sama dengan orang tuanya. 

Untuk sekadar mendidik anak pernah nggak browsing internet atau tanya kepada orang tua.

Saya banyak baca buku bertema parenting, cari info di internet juga. Kalau tanya orang sih cenderung enggak, karena belum tentu pas dan sevisi dengan kami. 

Masih komunikasi dengan Marcell untuk mendidik Keenan? 

Tentu masih. 

Sampai sejauh ini peran Marcell seperti apa, sih? 

Sebagai ayah kandung Keenan, tentunya peran dia tidak tergantikan. Sampai kapan pun hubungan mereka tak akan terputus, jadi sampai sekarang kami berdua (bahkan bertiga dengan Reza) masih terus diskusi dan saling lapor tentang perkembangan Keenan. Misalnya, saya sedang mengajarkan disiplin makan, saya lapor ke Marcell, supaya kalau Keenan lagi bareng Marcell pola asuhnya nggak belang-belang, dst. 

Sekarang, kan, mulai sibuk lagi, ada pembagian tugas nggak dengan Marcell? 

Kalau kebetulan saya dan Reza lagi ada kesibukan, saya suka telepon Marcell juga minta tolong jagain Keenan. Sebaliknya juga begitu dari pihak Marcell. 

Tuesday, December 16, 2014

Hers Magazine | Profil | Juli, 2005 | by Ina


Orang pertama kali mengenal Anda sebagai penyanyi, bagaimana ceritanya sampai tiba-tiba Anda ingin jadi penulis? 

Sebetulnya hobi menulis itu sudah sejak kecil sekali, bahkan bisa dibilang sebelum menyanyi. Kalau hobi bermusik lebih dulu subur karena terdorong oleh keluarga dan lingkungan yang pecinta seni semua, tapi hobi menulis benar-benar hadir secara independen. Saya juga tidak pernah ikut lomba atau aktif mengirim ke media cetak, jadi betul-betul asyik buat sendiri saja. Paling-paling saya sebar ke teman-teman sendiri dan keluarga. Meskipun begitu, keinginan untuk menulis buku memang sangat kuat, hanya tunggu timing dan karya untuk menjadi titik awal, dan itu saya temukan ketika mulai menggarap naskah Supernova tahun 2000. Saya berpikir ‘inilah saatnya, inilah yang akan menjadi buku pertama saya’. Dan itu juga bedanya dengan karier musik saya yang berjalan mengalir begitu saja, it’s given, sementara dalam menulis I have to make it happen. Ada satu awalan yang saya mulai sendiri, yakni menerbitkan dan memasarkan Supernova secara independen.

Kenikmatan apa yang Anda dapatkan saat menulis?

Bagi saya, menulis itu menjadi media komunikasi saya dengan jiwa. I’m communicating with myself, between the little self and the Big Self. Dalam level substansi, bagi saya menulis bukan lagi sekadar hobi tapi kebutuhan rohani. It’s how I keep my sanity.

Apa yang biasanya menjadi inspirasi utama Anda dalam menulis?

Cinta – evolusi dan metamorfosanya. Karena dinamika pemahaman kita akan Cinta itu sejalan dengan dinamika pemahaman kita akan diri, dunia, dan Tuhan.

Dari keseluruhan seri novel Supernova, mana yang paling Anda sukai?

Ketiganya merupakan pengalaman yang tak terbandingkan. Dan itu yang ingin saya dapat sekaligus hadirkan dalam Supernova, setiap seri merupakan pengalaman yang berbeda-beda. Dalam Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ) saya mendapatkan kepuasan eksplorasi berpikir, keindahan saat rasio dan insting melebur. Sementara dalam Akar saya mendapat pengalaman mind traveling, saat pikiran saya harus mengikuti jejak Bodhi ke berbagai tempat. Kalau Petir saya bisa melepaskan sisi ‘gila’-nya Dewi Lestari yang sebenarnya sangat senang bercanda.

Misi atau pesan apa yang sebenarnya ingin Anda sampaikan dalam keseluruhan buku Supernova?

Supernova merupakan cerminan pergelutan spiritual kaum muda dalam zaman Aquarius, yang mana peran generasi kita pada zaman ini sangat krusial dalam penentuan nasib dunia kelak. Value utama dalam Supernova adalah self-inquiry. Kita harus menggali diri kita ke dalam untuk tahu identitas kita yang sesungguhnya, dan setelah itu didapatkan maka niscaya kita akan memperlakukan diri kita, Bumi, dan sesama makhluk hidup, dengan respek dan tanggung jawab. 

Karakter yang Anda tulis dalam setiap seri Supernova apakah secara tidak langsung menggambarkan pribadi dan karakter Anda sendiri? 

Setiap karya tentunya merupakan ekspresi subjektif penciptanya. Supernova tidak terkecuali. Kalaupun tidak langung merupakan penggambaran Dewi Lestari, tapi pastinya pikiran maupun ide-ide saya tertumpangkan ke dalam tokoh-tokoh Supernova maupun alur ceritanya.

Bagaimana Anda menggambarkan karakter dan kepribadian Anda?

I’m multidimensional. Tanggal lahir saya perbatasan Capricorn-Aquarius, shio saya perbatasan Kelinci dan Naga. So I guess my personality is a mix between equally strong but contrast qualities, and my challenge is to bring the best out of those two sides and at the same time learn to embrace the down sides of both.

Anda juga dikenal sebagai pecinta lingkungan hidup, ada nggak niatan untuk menulis buku tentang lingkungan?

 Tentunya ada. Saya akan memulainya dengan seri Supernova berikut yakni Partikel di mana tokoh utamanya, Zarah, adalah seorang environmentalist yang juga berprofesi sebagai seorang nature photographer. Walaupun masih dalam kerangka besar Supernova, tapi setidaknya ide-ide dan pesan-pesan saya tentang urgensi isu lingkungan bisa tersalurkan.

Atau mungkin, salah satu seri buku Supernova ada yang ingin dikembangkan menjadi film layar lebar, tertarikkah Anda untuk menulisnya menjadi naskah skenario film?

Hmm. Masih belum kepikiran, sih. Kalau keinginan untuk bikin skenario film sih ada, tapi mungkin bukan Supernova. Karena bagi saya Supernova masih cerita yang belum utuh tamat, kalau serial itu selesai mungkin-mungkin saja kemungkinan itu jadi terbuka. 

Lirik-lirik yang pernah Anda tulis dalam album RSD terdengar sangat puitis dan filosofis? Dari mana Anda mendapatkan sumber inspirasi dan imajinasi dalam merangkainya menjadi satu kalimat lirik lagu? Apakah itu hanya karangan atau ada hubungannya dengan pengalaman pribadi Anda?

Dari semua tipe kepenulisan, bagi saya menulis lirik lagu merupakan pekerjaan yang paling menantang sekaligus paling memuaskan. Kita harus mengkondens cerita dalam beberapa bait dan harus mengawinkannya dengan melodi sehingga peleburan itu terasa sempurna dan bukan tempelan. Analoginya, bagi saya membuat lirik itu seperti ngisi TTS. Menantang otak sekaligus rekreasi. Nggak semua pengalaman pribadi, tapi sedikit banyak ada tercampur-campur. Karena tetap dong butuh dramatisasi, tidak semuanya kisah pribadi itu cukup menarik untuk diangkat, hehe.

Bagaimana cara Anda mendidik atau menanamkan nilai-nilai pendidikan pada si kecil? 

Karena Keenan masih 10 bulan, mungkin belum terlalu terasa, ya. Tapi saya sih natural saja sama dia. Jangan malu untuk jadi jelek atau gila-gilaan, pokoknya we just have to be fun. Yang paling penting  bagi saya adalah dia tumbuh dalam kasih. Interaksi kita harus akrab, nggak formal. Dia juga harus diajarkan untuk cinta lingkungan dan respek sama makhluk lain.

Adakah obsesi untuk ‘mempersiapkan’ si kecil menjadi penulis atau seniman seperti Anda? Atau ada obsesi lain? 

Kami sebagai orang tua sudah pasti akan membesarkan anak dengan tendensi. Sama seperti ayah saya yang suka musik, sekalipun dia tidak menyuruh kami jadi musisi, tapi dengan menghadirkan alat musik di rumah, sering bernyanyi-nya, dsb, akhirnya kami jadi terbawa. Keenan juga pasti tumbuh besar dalam tendensi profesi kami berdua. Saya pasti akan mendekatkan dia dengan buku, dengan musik, dengan seni. Ayahnya pasti mengajak dia ikut main drum, atau membawa dia ikut kalau show, dsb. Saya nggak tahu outcome dari itu semua, apakah kemudian dia mengikuti jejak kami berdua atau tidak, yang jelas kami akan berusaha memfasilitasi semua potensi dia. I just want him to become the best at what he’s good at.

Rencana Anda ke depan baik sebagai penulis atau penyanyi?

Untuk menulis ya tentunya menamatkan serial Supernova, menerbitkan kumpulan cerita dalam waktu dekat. Kelak, saya ingin menulis cerita anak. Untuk nyanyi penginnya bikin album solo, tapi nggak ngoyo. Kalau bisa terealisasi tahun ini sudah bagus banget. 
 

Thursday, December 11, 2014

Ayah Bunda | Minat Baca Anak | Februari, 2010


Sebagai penulis, sejak kapan Dee mengenalkan bacaan kepada anak? (khususnya Keenan, yang sudah jauh lebih besar dari Atisha). Dan bagaimana penerimaan Keenan terhadap hal ini?

Saya membiasakan suasana membaca dulu, jadi terlepas Keenan mengerti atau tidak, saya membuat rutinitas membaca buku cerita sebelum tidur, dan itu menjadi sebuah asosiasi “kebersamaan” bagi Keenan. Saya memulainya dari Keenan umur 1 tahun. Di samping itu, saya memang sudah mengajarkan Keenan membaca dari umur 1 tahun menggunakan flash card.

Buku/bacaan apa yang pertama kali Dee kenalkan kepada anak-anak?

Buku-buku cerita yang edukatif. Saya banyak menggunakan buku-buku produksi Tiga Raksa.  

Apa ide Dee untuk menumbuhkan minat baca pada anak-anak?

Membuat membaca dan suasana membaca menjadi kegiatan yang nyaman dan menenteramkan. Membuat sudut buku di mana buku-buku mudah untuk mereka raih dan mereka lihat kapan saja.

Apakah Dee dan Reza menciptakan satu rutinitas khusus untuk membaca dalam keluarga?

Biasanya setiap malam sebelum tidur.

Jenis bacaan seperti apa yang Dee/Reza/Keenan suka? Mengapa? Dan apa buku favorit Dee sekeluarga?

Kalau buku sih saya perkenalkan yang sesuai dengan umurnya saja. Waktu Keenan lebih kecil, bukunya lebih sederhana, teksnya sedikit. Ketika dia sudah lebih besar (4-5 tahun) bukunya juga sudah lebih kompleks. Ceritanya mulai panjang, gambarnya juga lebih kaya. Favorit kami adalah serial Winnie The Witch.

Apakah Dee berencana menerbitkan novel lagi setelah Perahu Kertas? Dan apakah mbak tertarik untuk menulis buku anak-anak?

Setelah Perahu Kertas, pe-er saya masih banyak, antara lain menamatkan serial Supernova. Jadi proyek menulis saya masih banyak. Menuliskan buku anak-anak adalah cita-cita besar saya, tapi sepertinya baru akan dilaksanakan setelah pe-er fiksinya (dan non-fiksi) selesai semua dulu.

Menurut Dee, bagaimana bacaan anak-anak yang sudah ada sekarang ini? Apakah sudah cukup memberikan apa yang seharusnya diketahui oleh anak-anak?

Menurut saya, bacaan anak-anak sudah sangat banyak, beragam dan bagus-bagus. Isinya juga informatif. Dan yang lebih menarik lagi, sudah banyak ilustrator-ilustrator lokal yang karyanya juga tak kalah dibandingkan ilustrator luar. Produksi bukunya, kualitas cetakan, dsb, juga nggak kalah.

Wednesday, December 10, 2014

Ayah Bunda | Vaksinasi | September, 2011


Apa pemahaman Mbak tentang imunisasi?
Bagaimana pendapat Mbak bila ada orangtua yang tidak ingin mengimunisasi anaknya? Apa yang menjadi alasannya menurut Mbak? Apakah jumlah mereka sudah banyak di Indonesia?
Bila Mbak – mohon maaf bila salah – juga berniat untuk tidak mengimunisasi anak Mbak, apa yang menjadi alasan Mbak? Lalu, apa yang Mbak lakukan agar anak Mbak tidak terjangkit penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi?
Bila kebetulan anak sakit, termasuk sakit yang bisa dicegah dengan imunisasi, tindakan apa yang akan Mbak lakukan atau bagaimana menyikapinya?

Saya tidak anti vaksinasi, tapi saya mendukung perilaku konsumen medis yang mempelajari dengan benar risiko dan kandungan yang terdapat pada vaksinasi tersebut, baru kemudian memilihnya dengan sadar.  Yang kurang berkenan bagi saya, adalah perilaku membeo ikut arus vaksinasi hanya karena mayoritas orangtua yang lain melakukannya, tanpa mempelajari sendiri riset yang ada, tanpa berkonsultasi pada intuisi kita sendiri sebagai orang tua.
Imunisasi tidaklah bebas risiko bagi tubuh anak, meskipun dinyatakan aman oleh beberapa pihak. Jika setelah dipelajari plus-minusnya, kita cek intuisi kita, dan kita menyimpulkan vaksinasi tersebut diperlukan bagi sang anak, maka silakan diteruskan. Kalau kesimpulan kita ternyata tidak, maka tidak usah dipaksakan. Intinya, kita harus lebih kritis dan hati-hati.
Sistem kekebalan tubuh punya kekuatan alamiah yang luar biasa, selama kita menjaga hidup yang sehat lewat nutrisi, olahraga, keseimbangan mental emosional. Perlindungan vaksinasi, yang bersifat imunitas buatan, tidak pernah juga efektif 100% dan jangka waktu perlindungannya pun terbatas.  Jadi, pada intinya pencegahan penyakit tetap harus dari gaya hidup sehat secara keseluruhan, tidak hanya mengandalkan vaksinasi saja.
Saya dan keluarga memilih untuk mengobati secara alami terlebih dulu. Penyakit bukanlah sesuatu yang selalu harus diperangi dengan segala cara, dan tubuh sudah punya kecerdasan alamiah untuk menyembuhkan diri. Cuma karena kita terlalu terbiasa menyikapi sakit dengan reaksi ketakutan, jadi muncul gejala sedikit kita sudah cekoki berbagai obat, yang belum tentu ramah untuk tubuh.
Saya dan suami memutuskan untuk tidak memvaksinasi Atisha karena kami justru ingin daya tahan tubuhnya berkembang maksimal tanpa intervensi yang terlalu dini. Sejak kelahirannya dengan metode gentle birth di rumah, hingga sekarang di usianya hampir 15 bulan, sistem imun Atisha keliatannya cukup kuat, jarang sekali sakit, dan belum pernah diberi obat medis apa pun sama sekali. Bila anak kami sedang kurang sehat, biasanya diterapi di rumah dengan pijat dan homeopati saja, serta tentunya ASI bagi Atisha.
Jika suatu hari, kami merasa imunisasi diperlukan, kami akan memilih vaksinasi homeopati yang berdasarkan riset, jauh lebih aman ketimbang vaksinasi alopati (riset dokter Isaac Golden). Untuk referensi tentang imunisasi yang aman, kami mempelajari antara lain: buku-buku & riset Sherri Tenpenny, MD (www.drtenpenny.com), film dokumenter Vaccine Nation – Gary Null, selain itu informasi mengenai vaksinasi juga banyak di internet. Bagi saya sudah menjadi tanggung jawab orang tua untuk menggali informasi tersebut, dan tidak hanya mengandalkan “kata orang”, atau informasi dari satu dokter saja. Opini mengenai vaksinasi tidak berarti bebas bias, jadi yang lebih penting, kita juga cek intuisi kita sebagai orang tua.

Tuesday, February 10, 2009

WANITA INDONESIA | Mengajarkan Anak Membaca (Metode Glenn Doman) | Jan, 2009 | By Didi

1. Mundur ke belakang, sejak usia berapa Dee mengajar Keenan bermain dengan metode Glenn Doman? Bagaimana pada awal Keenan menerima pola ajar seperti itu?

Sejak Keenan umur 1 tahun. Dan saya tahu dia sudah bisa baca waktu umur 2,5 tahun. Dia sih menerimanya dengan baik, atentif, dan selalu memerhatikan flash card yang ditunjukkan padanya.

2. Apakah cara yang dilakukan itu menggunakan tempo, misalnya tiap hari atau tiap berapa kali dalam seminggu? Selama melakukan itu berapa lama (jam) dan di saat suasana seperti apa diterapkan pada Keenan? Atau adakah waktu khusus?

Sesuai dengan petunjuk dari metode Glenn Doman, saya memainkan tiga set flash card sebanyak tiga kali sehari. Memainkan flash card sendiri tidak makan waktu berjam-jam, bahkan kurang dari semenit, karena per kartunya hanya perlu ditunjukkan dalam waktu satu detik. Suasananya sih nggak ada yang khusus, pokoknya saat dia lagi santai dan fokusnya nggak ke hal lain (teve, mainan, dsb).

3. Apa dampak positif dan negatif pada keenan yang dirasakan Dee pada cara kerja metode Glenn Doman tersebut?

Saya sih tidak merasakan dampak negatif, walaupun ada beberapa psikolog yang bilang metode itu membuat anak hanya tertarik pada membaca saja, yang lain jadi kurang. Tapi buat saya pribadi, saya nggak merasakan dampak negatifnya. Keenan sudah bisa baca dari umur 2,5 tahun, bagi saya tentu itu dampak positif. Kuncinya adalah jangan pernah mengetes, karena kadang-kadang ibu-ibu jadi kesusu ingin mengetes anaknya, atau ngoyo supaya anaknya bisa cepat baca, apalagi kartu-kartu itu memang nggak murah, kalau buat sendiri pun lumayan repot, jadi wajar kalau ibu-ibu jadi ‘nggak mau rugi’. Cuma keinginan mengetes itu kontra-produktif bagi anak. Intinya semua anak senang belajar, tapi tidak suka diuji. Jadi biarkanlah hasil dari pembelajaran itu muncul dengan alamiah tanpa perlu dipaksakan.

4. Apa keistimewaan menggunakan Glenn Doman dibanding cara lainnya?

Khusus untuk membaca, saya nggak tahu metode lain, jadi nggak bisa membandingkan. Tapi, dibanding dengan waktu saya kecil dulu dan diajarkan baca memakai aksara dan mengeja ‘a, b, c’ dst, metode Glenn Doman lebih efektif dan konon lebih cocok dengan kerja alamiah otak.

5. Bagaimana Dee pertama kali mengetahui dan mengenal Glenn Doman? Dengar kabar sampai bela-belain mencari produk itu keluar negeri, ya? Dan menerapkan pada Keenan menggunakan bahasa Inggris?

Saya baca bukunya dulu, lalu ikut pelatihannya di Bandung. Saya beli kartu-kartunya di Indonesia, kok. Kan sudah ada distributornya di sini. Yang saya pakai memang Bahasa Inggris, karena waktu itu yang ada hanya Bahasa Inggris, versi Bahasa Indonesia baru keluar setahun kemudian. Dulu, untuk Bahasa Indonesia saya terpaksa buat sendiri, tapi nggak banyak, mungkin cuma 50-an kartu. Setelah versi Bahasa Indonesia-nya keluar, ya saya pakai flash card yang udah jadi.

6. Kalau tidak salah Dee jadi duta Glenn Doman? Bagaimana ceritanya? Terus, apa langkah yang dijalankan Dee dengan menyandang duta itu?

Saya bukan duta Glenn Doman. Setahu saya nggak ada yang jadi duta Glenn Doman, yang ada hanyalah licensed instructor yang memang mengambil pelatihan resmi Glenn Doman di Amerika, dan di Indonesia baru ada satu orang yakni Mbak Irene Mongkar.

7. Sepantasnya Glenn Doman cocok diterapkan pada usia anak berapa?

Dari bayi umur seminggu juga bisa, tapi bukan huruf dulu, hanya siluet aneka bentuk dengan warna hitam putih. Setelah itu baru pakai huruf. Pada prinsipnya, semakin dini diajarkan semakin baik, karena semakin mudah dicerap anak.

8. Peran ibu dalam hal ini seperti apa yang pantas dianggap cukup berhasil menerapkan metode Glenn Doman pada anaknya?

Buat saya pribadi, bukan hanya soal bisa baca atau enggak, tapi dengan meluangkan waktu untuk belajar dan bermain sama anak, kita jadi punya quality time dan bonding time dengan anak. Dan ya itu tadi, jangan tergoda untuk menguji. Saya tahu Keenan sudah bisa baca ketika dia tiba-tiba menunjuk kata-kata di layar komputer saya dan membacanya. Saya nggak pernah dengan sengaja menguji dia.

9. Kabarnya Glenn Doman pantas diterapkan pada anak yang bermasalah, misalnya pada anak yang mengalami ‘cacat’? Sehingga tidak layak diterapkan pada anak yang normal?

Awalnya metode itu ditemukan memang ketika Glenn Doman menangani anak yang mengalami brain injury, dan ternyata setelah diajarkan membaca, anak yang mengalami cedera otak tsb memperoleh kemajuan yang sangat pesat dan akhirnya punya kemampuan sama dengan anak dengan otak normal. Oleh karena itu, jika metode yang sama diterapkan ke anak dengan otak yang normal, hasilnya menurut Glenn Doman akan sangat luar biasa. Kenapa membaca? Karena membaca melibatkan aktivitas otak kiri dan otak kanan sekaligus.

10. Komentar lain tentang Glenn Doman yang Dee rasakan?

Jangan hanya terpaku atau fanatik pada satu metode saja. Menurut saya, kasih sayang, komunikasi yang jujur dan sehat dengan anak, serta alokasi waktu yang cukup untuk menemaninya adalah hal yang paling penting.

Sunday, February 8, 2009

EDITOR'S CHOICE Majalah | Writing is Power | August, 2007 | Oktavianti

1. Arti menulis bagi Dee?

Menulis bagi saya adalah kebutuhan, seperti berkomunikasi. Tapi dalam menulis yang diajak komunikasi adalah diri sendiri dan alam kreativitas.

2. Apa bisa dibilang menulis telah menjadi hidup Dee?

Karena sudah menjadi kebutuhan, menulis otomatis menjadi bagian dari sistem penopang hidup saya agar tetap seimbang dan selaras. Menulis bukan keseluruhan hidup saya, tapi bagian besar dari hidup saya.

3. Bagaimana tanggapan Dee tentang: “writing is power”?

Sudah bukan rahasia lagi bahwa tulisan dapat menjadi kekuatan dan katarsis kebudayaan, bahkan politik. Zaman dulu, bahkan sastra menjadi semacam alat pemerintah untuk menanamkan atau menyebarkan nilai-nilai tertentu. Dan seperti halnya semua “alat”, jika dipakai secara baik akan menjadi baik, jika disalahgunakan bisa jadi bencana. Bagi saya pribadi, menulis adalah proses dahsyat di mana manusia bisa terhubungkan dengan kekuatan kreatif yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.

5. Dari mana saja inspirasi dan ide tulisan Dee?

Kebanyakan dari perenungan. Bahan yang direnungkan tentu datangnya dari kehidupan itu sendiri, dari kisah pribadi, kisah orang lain, mengamati alam, dsb. Seorang penulis memang harus jadi pengamat yang baik.

6. Menurut Dee, apa saja yang harus dipersiapkan untuk menulis?

Komitmen. Keberanian. Referensi/Bacaan.

7. Hambatan apa saja yang Dee hadapi saat menulis?

Sekarang ini hambatan yang paling signifikan adalah waktu luang. Dengan adanya anak dan rumah tangga, waktu menulis menjadi barang langka. Beda dengan dulu waktu saya masih single dan bisa menulis seharian tanpa ada beban. Secara realistis, sekarang sudah tidak bisa begitu lagi. Jadi saya sedang belajar untuk menulis dalam potongan-potongan waktu yang relatif singkat, interval 1-2 jam, berhenti, lalu kalau ada kesempatan, menulis lagi. Dan karena saya penulis yang cenderung lamban, hal itu jadi tantangan besar, karena biasanya dalam 1-2 jam saya cuma bergerak ½ halaman.

8. Waktu yang cocok untuk Dee menulis, kapan dan kenapa?

Dulu yang paling cocok adalah jam 10 malam sampai pagi/subuh, saat sudah sepi dan tidak ada gangguan komunikasi seperti krang-kring telepon/hp. Sekarang, asal bisa duduk diam tidak diganggu sudah lebih dari cukup. Mau malam atau pagi atau siang atau sore tidak jadi masalah.

9. Bagaimana cara Dee mengatasi hambatan dalam menulis?

Kalau hambatan ide, biasanya saya menghentikan kegiatan menulisnya lalu melakukan hal lain, seperti membaca atau sama sekali yang tidak ada hubungannya dengan menulis, seperti jalan-jalan atau main dengan anak. Biasanya saya tidak memaksa diri. Saya menanggapinya seolah-olah benak saya minta istirahat, dan jatah itu harus dipenuhi kalau enggak nanti korslet. Hehe.

10. Siapa saja penulis-penulis (dalam dan luar negeri) yang menginspirasi tulisan Dee? Dan kenapa mereka?

Untuk dalam negeri saya suka Sapardi Djoko Damono, Ayu Utami, dan Seno Gumira Ajidarma. Saya suka metafora dan keindahan tulisan Sapardi, Ayu menurut saya adalah penulis yang telaten, estetis, dan cerdas. Dan saya suka gaya tulisan serta kelugasan tulisan Seno. Untuk penulis luar, saya suka Ana Castilo, Dave Eggers, dan terakhir ada penulis Thailand yang bagus sekali, yakni Ratawutt Lapcharoensap.

11. Apa motivasi Dee untuk menulis?

Berbagi. Itu saja.

12. Menurut Dee, tolak ukur kesuksesan penulis bisa dilihat dari apa?

Jika si penulis mampu mengartikulasikan sempurna idealisme dan kreativitasnya, dan tulisannya berhasil memenuhi tujuan dan membangkitkan efek yang ia inginkan. Misalnya, penulis cerita horor harus mampu membuat pembacanya merasa seram. Penulis cerita cinta harus mampu membuat pembacanya terharu-biru, dsb. Jadi tujuan cerita tersebut, apa pun itu, sampai dengan baik.

13. Dari novel-novel yang pernah Dee buat, novel apa yang paling berkesan (kesannya mendalam) baik dari segi pembuatannya, riset, atau yang lain? Dan kenapa?

Sejauh ini yang sangat berkesan secara keseluruhan proses adalah AKAR. Kompleksitas AKAR sangat tinggi, melibatkan banyak negara, banyak bahasa, dan aneka pengetahuan yang tidak saya kuasai, tapi harus mampu saya sajikan sedemikian rupa hingga meyakinkan. Karena itu risetnya benar2 menguras waktu dan tenaga, sekaligus sangat menyenangkan. Untuk mengerjakan AKAR, saya mewawancara dan berkorespondensi dengan puluhan orang, menongkrongi studio tato, kantor ASEAN, sampai mencari info tentang cara membuat detektor ranjau.

14. Bagaimana tanggapan Dee dengan semakin “menggeliat”-nya penulis-penulis wanita dan masih muda-muda?

Saya selalu menanggapi positif jika banyak penulis baru muncul. Soal perempuan dan laki-laki tidak masalah, yang penting tulisannya bagus. Ada yang bilang juga bahwa kondisi penulis muda Indonesia sekarang lebih berat di kuantitas bukan kualitas. Penulis banyak tapi yang bermutu sedikit. Kalau bagi saya, itu juga tidak terlampau masalah, karena seleksi alam secara alamiah akan berlaku. Yang penting orang-orang muda sekarang sudah berani berekspresi dan menuangkannya secara konstruktif dalam bentuk tulisan. Saya percaya tiap jenis tulisan akan punya audiens sendiri kok. Jadi bagi siapa pun yang ingin punya bacaan tertentu, tidak harus menunggu secara pasif, mereka bisa “membuat” bacaannnya sendiri dengan menjadi penulis.

15. Menurut Dee, bagaimana perkembangan menulis/kebebasan berekspresi di Indonesia saat ini?

Jika dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu tentunya sudah jauh berbeda ya. Tapi bukan berarti tidak ada “rambu” atau “polisi”. Jika zaman pra-reformasi atau Orba yang menjadi polisi adalah pemerintah, sekarang justru yang jadi polisi adalah kelompok-kelompok masyarakat, dan ini bisa menjadi problem baru bagi dunia kreativitas/seni karena aksi protes atau sensor dari kelompok-kelompok masyarakat ini seringnya tidak punya legitimasi tapi bisa jadi lebih keras dan brutal, dan belum tentu juga pihak seniman beroleh perlindungan. Jadi kalau sekarang yang berlaku adalah “risiko tanggung masing-masing”. Yah, pintar-pintarnya kita saja dalam mengemas pesan dan memilih tema yang “aman” tapi tetap tajam dan otentik. Kalau mau nekat juga sah-sah saja, tapi dengan catatan risiko tanggung sendiri. Selalu akan ada perubahan kepentingan dari berbagai macam pihak.

16. Bagaimana awal mula Dee terjun ke dunia menulis ini?

Saya mengawalinya pertama kali ketika cerpen saya “Rico De Coro” (ada dalam kumpulan cerita “Filosofi Kopi”) dimuat di majalah Mode tahun 1997, dua tahun sebelumnya tulisan saya juga pernah memenangkan kompetisi menulis di majalah Gadis, tapi saya pakai nama samaran. Sesudah itu langsung ke “Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh” tahun 2001. Sebetulnya cuma modal nekat saja, saya menerbitkan sendiri Supernova ke-1 tanpa ada ekspektasi dan pengetahuan lika-liku industri buku. Saya nyaris tidak ada target, siap merugi, yang penting saya menulis buku, itu saja.

17. Menurut Dee, seperti apa penulis yang baik?

Penulis yang jujur pada dirinya sendiri, otentik, berkomitmen, dan mau berkembang.

18. Menurut Dee, seperti apa tulisan yang baik?

Tulisan yang jujur, otentik, menggugah, dan punya kekuatan untuk mengubah sesuatu.

19. Kalau Dee lagi stress / sedang tidak ada ide untuk menulis, apa yang biasanya Dee lakukan?

Jawaban no 9.

20. Bagaimana frekuensi Dee membaca buku? (dalam sehari / seminggu / dst, Dee bisa membaca berapa buku?)

Sebetulnya tidak ada patokan tetap. Tapi kalau memang lagi dalam rangka mencari referensi, intensitas saya membaca sangat tinggi, sehari kadang-kadang bisa dua buku sekaligus. Kalau tebal sekali, saya biasanya menghabiskan 2-3 hari. Jadi kira-kira seminggu bisa 3-4 buku.

21. Apa saja pilihan buku Dee (dalam dan luar negeri)?

Saya memilih buku biasanya berdasarkan tema. Koleksi buku saya berkisar antara tema sains, spiritualitas, well-being, parenting, psikologi, globalisasi, filsafat, puisi, dan (sedikit) fiksi.

22. Menurut Dee, apa saja trik: “how to be a good writer”?

Seperti yang saya ungkap sebelumnya, seorang penulis yang baik harus menjadi pengamat yang baik. Penulis yang mau berkembang juga tidak segan memperkaya diri dengan referensi dan eksperimen. Tapi yang paling penting, penulis yang baik berani jujur pada dirinya sendiri dan berkomitmen untuk terus berkarya. Kita harus menemukan “kegelisahan” kita yang paling utama dan berani untuk terus berdialog dengannya, karena dari sana kita menemukan motor penggerak untuk berkarya.

23. Apa pendapat Dee jika “reading is a fashion”?

Reading can be a fashion, can be anything. Ada yang bilang bahwa anak sekarang membaca supaya dibilang keren. Menurut saya itu perkembangan yang baik dan patut didukung. Tren memang faktor pemicu yang sangat jitu, terutama di kalangan anak muda. Jika tren yang timbul sifatnya positif, harus didukung sebaik-baiknya. Awalnya fashion dulu, lama-lama kalau kecantol kan jadi kebutuhan.

24. Apa yang Dee dapat dari menulis?

Dari level superfisial, saya mendapatkan banyak pengalaman dan pertemuan menarik dengan orang-orang baru, pergi ke banyak tempat, dan menimba banyak ilmu. Dari level spiritual, menulis menjadi gerbang saya menemukan jati diri.

25. Apa yang Dee dapat dari menyanyi?

Menyanyi dan bermusik menjadi cara saya mencinta. Banyak keindahan dan perasaan yang bisa terungkap sempurna lewat menulis lagu dan menyanyi, dan itu menjadi kepuasan tersendiri yang tidak bisa terukur.

26. Jika diminta memilih, akan memilih yang mana dan kenapa?

Tidak bisa memilih, dan tak perlu memilih. Kedua-duanya adalah aspek yang tak terpisahkan dari diri saya.

27. Kepuasan apa yang didapat dari menulis yang tidak didapat dari menyanyi?

Menulis itu seperti menciptakan semesta sendiri, lebih komplet dan komprehensif, tapi tidak berarti lebih unggul dari musik, karena keduanya bersifat komplementer.

28. Kira-kira faktor penyebabnya apa?

Lewat menulis saya bisa mengeksplorasi karakter, narasi, dan plot. Dalam lagu, unsur itu ada tapi terbatas, jadi kisah dalam lagu cenderung lebih abstrak dan interpretatif. Tapi justru di situ jugalah kelebihan musik. Musik bisa dihayati bahkan lebih mendalam, dan bisa jadi lebih langgeng dan tak lekang zaman. Lagu juga punya melodi, dan itu satu kelebihan sendiri dibanding kata-kata belaka.

29. Apa “misi” terbesar dalam kegiatan menulis ini? Apakah untuk kepuasan batin atau ada yang ingin Anda sampaikan dalam setiap tulisan Anda? Misalnya: untuk perubahan bangsa ini, atau bagaimana?

Bagi saya pribadi, misi menulis itu sederhana dan sebaiknya juga memang dijaga agar tetap sederhana. Saya ingin menulis buku yang ingin saya baca, yang artinya saya menulis apa yang saya suka, dan saya mencintai kegiatan menulis itu sendiri. Jika ternyata itu bisa mengubah bangsa ke arah yang lebih baik, saya bersyukur. Itu bisa dibilang bonus. Tapi jika tidak mengubah apa-apa, juga tetap tidak masalah, karena pada intinya semua penulis hanya bertanggung jawab pada dirinya sendiri, otentisitasnya, dan kejujuran batinnya.

30. Dengan kepercayaan Buddha yang Anda yakini saat ini, ada tidak pengaruhnya sedikit banyak ke dalam tulisan Anda? Boleh dong berbagi pengalaman Dee yang paling berkesan mengenai hal itu?

Sejak lama sebetulnya saya sudah menyukai tema spiritualitas secara umum, dan jika dicermati, semua tulisan saya, terutama serial Supernova, memang berjangkar pada masalah spiritualitas. Boleh dibilang, itulah motor penggerak saya berkarya, yakni masalah jati diri, masalah kesadaran, “inner journey”, dll.
Sejak tahun 2002 pun saya banyak menuliskan soal Buddhism di “Supernova: AKAR”, karena tokoh utama saya memang ceritanya seorang Buddhis. Bagi saya inti dari ajaran Buddha adalah kesadaran. Dan tanpa perlu eksplisit menggunakan istilah-istilah Buddhis sekalipun, jika seorang penulis mengungkapkan muatan kesadaran/keelingan dalam karyanya, sesungguhnya dia pun sedang menuliskan eksplorasinya dalam menghayati dan memaknai jati diri. Dan itu merupakan hal yang universal.

31. Apa yang Anda dapat dari kepercayaan Buddha Anda sekarang yang belum pernah Anda rasakan dan sangat berpengaruh ke tulisan Anda?

Jawaban no 30.

32. Now, you’re being a mother, how do you feel?

It’s truly a blessing. Kehadiran Keenan bagi saya seperti kehadiran seorang guru. Melalui tugas saya sebagai orang tua, saya belajar banyak sekali.

33. Boleh juga dong berbagi pengalaman dalam kesibukan mengurus anak?

Karena pekerjaan saya yang sifatnya free-lance seperti ini, secara umum saya cukup punya banyak waktu dengan Keenan, tapi bukan berarti saya nggak sering pergi juga. Sampai 2,5 tahun, dia selalu ikut ke mana pun saya pergi, termasuk ke luar kota dan luar negeri. Sekarang, karena dia sudah mulai playgroup, kalau bepergiannya tidak terlalu lama saya sudah berani meninggalkan dia di Bandung. Yang jelas, hubungan kami dekat sekali, Keenan menyusui sampai umur 3 tahun. Kami punya kebiasaan tutup pintu rapat-rapat kalau sudah jamnya Keenan tidur, berdoa, dan baca buku bareng.

34. Sebagai orang tua, seperti apa Dee mengarahkan anak (dalam hal seperti: pendidikan, cita-cita, dan lain-lain)?

Saya hanya ingin Keenan berkembang maksimal sesuai dengan potensi, minat dan bakatnya. Dan tidak perlu dia sampai stres mengejar prestasi akademis. Yang penting dia punya inisiatif yang bagus, haus ilmu dan wawasan, serta nyaman dengan dirinya sendiri. Dan yang lebih penting lagi, menjadi manusia yang penuh kasih. Untuk itu, tentunya kami harus menjadi contoh, tidak ada cara yang lebih efisien. Karena anak tumbuh besar dengan meniru. Bukan berarti kami harus tampil sebagai orang tua sempurna tanpa cacat dan masalah, tapi setiap masalah yang kami hadapi, diselesaikan dengan cara yang baik, terbuka, dan berbasiskan kasih sayang.

35. Dee termasuk orang penyuka makanan apa? Minuman apa? Film apa?

Saya penyuka masakan Indonesia sejati. Sejak jadi vegetarian, memang jadi lebih sering makan masakan Sunda karena olahan tahu-tempenya banyak dan menunya simpel. Untuk minuman, saya suka air putih, jus buah tanpa gula, dan teh herbal.
Saya suka film drama, sitkom, film-film komedi yang ‘hancur’ juga suka, kayak filmnya Will Ferrel, Adam Sandler, dan Ben Stiller. Film favorit saya sejauh ini Matrix dan Lord Of The Rings.

36. Apa saja harapan Dee mendatang (baik di karier dan keluarga)? Planning dan cita-cita Dee mendatang?

Sekarang ini saya lebih suka menjalani hidup ‘one day at a time’. Bukan berarti tidak ada perencanaan sama sekali, tapi dalam perencanaan hidup saya berusaha nggak terlalu ‘distant-future-oriented’, apa lagi yang terlampau jauh ke depan. Membesarkan Keenan sebaik mungkin, berkarya seoptimal mungkin, dan menjalankan hidup sesadar mungkin. Itu saja.