Showing posts with label Meditasi. Show all posts
Showing posts with label Meditasi. Show all posts

Monday, December 22, 2014

Tabloid My Mommy | Profil | Juni, 2013 | by Hesty Daisy


Boleh ceritakan sedikit tentang latar belakang maupun karakter Mbak yang sedikit banyak punya pengaruh untuk sampai di karier sekarang sebagai penyanyi, penulis, dan penggubah lagu?

Dari kecil memang saya sudah suka musik, menulis, dan membaca. Jadi, bisa dibilang karier saya saat ini adalah perpanjangan hobi-hobi saya sejak kecil.

Di balik layar kehidupan Mbak sekarang, siapa (atau apa saja) yang paling jadi motivasi dan ikut andil jadi alasan kesuksesan Mbak?

Keluarga dan lingkungan tentunya membantu membentuk dan minat saya. Kalau alasan, sepertinya memang setiap seniman punya dorongan dan motivasi inheren untuk terus berkarya. Karya tersebut menjadi alat untuk berkomunikasi ke khalayak, sekaligus alat untuk menggali potensi diri. Jadi, motivasi dan andil menurut saya selalu dua pihak, secara eksternal yakni dari keluarga dan lingkungan serta secara internal yakni motivasi pribadi untuk berkarya.

Pernah mengalami masa-masa berat dalam hidup? Barangkali ada sesuatu hal yang belum banyak diketahui orang, tapi cukup dalam dan penting sebagai titik balik hidup Mbak. Tips apa yang Mbak bisa berikan kepada para perempuan/ibu saat menghadapi masa-masa sulit itu?

Saya merasa sangat terbantu oleh meditasi. Dengan meditasi kita mampu mengambil jarak dengan masalah. Alih-alih tergulung dalam masalah dan kemudian sulit untuk keluar dari kubangannya, meditasi membantu kita untuk bisa melihat situasi kita secara apa adanya, kemudian mengajarkan kita untuk menerima situasi tersebut. Dalam keadaan pasrah dan aware, biasanya masalah tidak bertahan lama, dan tidak sampai membelenggu kita secara berlarut-larut. Tidak hanya untuk perempuan atau ibu, menurut saya meditasi atau ritual untuk mengheningkan diri akan sangat berguna untuk kondisi general apa pun dalam hidup ini.  Selain itu, sangat penting untuk punya saluran komunikasi yang sehat dengan pasangan. Belajar mendengarkan dan berkomunikasi dengan jujur.

Bagaimana kabar Keenan? Sudah sebesar apa dia sekarang? Boleh dong ceritakan juga tentang dia. Seberapa dekat dengan Mbak, dan apakah dari dia  juga ada yang menjadi inspirasi dalam berkarya. Bisa sekalian share pola pengasuhan anak dengan para ibu.

Keenan sudah 9 tahun, tahun ini dia akan naik ke kelas 5. Anaknya aktif, senang bicara dan melucu, sayang sama adiknya sekaligus suka gangguin juga. Kalau dekat sih bisa dibilang dekat banget, karena dia kan tinggal bareng dengan kami. Bagi saya, dia lebih seperti sahabat kecil. Nggak selalu mudah membimbingnya, apalagi dia tambah besar dan secara psikologis juga ada masa-masa perubahan dan penyesuaian. Dengan bantuan Reza, saya belajar banyak untuk menghadapi dan membesarkan Keenan. Kami tidak menganut pola-pola khusus. Yang jelas kami mencoba seimbang antara disiplin dan kreativitas. Kami berusaha sebaik mungkin mendukung minat dan ketertarikannya. Sejauh ini dia menunjukkan minat ke arah musik dan seni. Dia kursus piano, drum, dan menggambar.

Bisa kasih pesan-pesan untuk para perempuan/ibu dalam mengasuh anak? Mengingat maraknya kasus pelecehan seksual pada anak. Di Kaltim juga heboh, lho mbak setelah mencuatnya pemberitaan JIS. Nah, sebagai ibu, hal apa yang bisa Mbak lakukan sebagai protect dan edukasi untuk anak?

Kejadian itu memang membuat kita jadi lebih awas terhadap hal-hal yang sepertinya selama ini luput untuk kita komunikasikan kepada anak. Dan memang peran sekolah juga penting untuk bisa mencegah hal-hal seperti ini terjadi. Untungnya sekolah anak saya cepat tanggap dan langsung mengadakan edukasi terhadap orang tua dan murid mengenai hal-hal yang perlu dilindungi, seperti mengajarkan anak perbedaan sentuhan yang aman dan berbahaya, juga mengajarkan bagian-bagian tubuh mana dari mereka yang tidak boleh disentuh orang lain, dan juga bagaimana mereka harus bertindak jika hal itu terjadi. Jadi dalam hal ini orang tua bekerja sama dengan sekolah. Di luar dari itu, saya juga langsung ajak ngobrol anak-anak, tanya sejauh mana mereka sudah memahami konsep “boundary” atas tubuh mereka.

Ngomong-ngomong, Mbak sedang sibuk mengurus atau berkegiatan apa? Nah, di tengah kesibukan itu, bagaimana cara mengatur waktu supaya karier dengan karya tetap bisa berimbang?

Saya sedang menulis buku saya berikut, episode kelima serial Supernova berjudul Gelombang. Untuk itu saya memang harus punya disiplin ketat untuk menulis secara terjadwal, dengan demikian saya bisa menata waktu saya sedemikian rupa untuk bisa tetap punya waktu untuk suami, anak-anak, dan mengurus rumah. Butuh waktu juga untuk hidup dalam jadwal seperti itu, karena pada dasarnya saya terbiasa bekerja bebas. Tapi setelah berjalan sekian lama, saya malah merasa jauh lebih produktif dan tetap berimbang. Walau demikian, tentunya ada konsekuensi-konsekuensi yang harus saya jalani, antara lain “cuti” dulu dari kegiatan wawancara, talkshow televisi, dll. Kalau nggak penting-penting banget saya nggak ambil. Jadi ada prioritas yang jelas dan harus konsekuen dengan itu. Buat saya saat ini, waktu adalah hal termahal yang nggak bisa diganti. Jadi kalau mau hidup berimbang ya harus mahir menata waktu.

Apa sih prinsip hidup Mbak? Ada nggak, cita-cita dan target ke depan setelah yang ini terjalani?

Saat ini saya cenderung menjalankan hidup secara realistis. Saya sudah berhasil punya profesi yang sesuai dengan hobi saya. Jadi, kalaupun ada target itu sifatnya sudah lebih praktis. Bikin buku tidak lagi jadi impian, tapi itu memang kewajiban saya, kalau enggak bukan lagi profesional namanya. Berkarya di musik atau yang lainnya hanya masalah yang mana yang jadi prioritas saat ini. Kalau sekarang saya sedang berkomitmen menulis buku, berarti yang lainnya harus menunggu. Pokoknya keluarga tetap nomor satu, bergandengan dengan pekerjaan. Sisanya masuk daftar tunggu. Kalau terselip syukur, kalau enggak juga tidak perlu mutung, karena mungkin memang saatnya belum tepat.

Secuil rahasia hidup Dee dong untuk pengetahuan eksklusif pembaca My Mommy.

Saya nggak punya tips rahasia. Itu rahasianya. Hehe.


Sunday, December 21, 2014

TravelXpose Magazine | Liburan & Kontemplasi | Juli, 2011 | by Fadly Molana


Apa arti keluarga bagi seorang Dewi Lestari?

Keluarga buat saya seperti bumi tempat kita berpijak. Keluarga membuat kita lebih membumi, dan rasanya membuat hidup ini lebih punya makna.

Suka traveling? Ke mana saja?

Tempat liburan favorit sih Ubud. Kalau traveling saya sebagaimana ada kesempatannya aja, karena dengan dua anak di rumah, kesempatan saya untuk traveling nggak terlalu banyak. Cita-cita sih pengin bisa ke Peru.

Bisa ceritakan pengalaman-pengalaman seru dan tak terlupakan saat traveling?

Salah satu yang paling seru waktu masih sama RSD, kami nyanyi di acara Freeport di Tembagapura. Itu pertama kalinya saya ke Papua. Alamnya benar-benar beda, bahkan warna tanahnya aja beda. Dan kota Tembagapura buat saya sangat mengesankan. Ajaib bisa ada kota semodern itu di ketinggian 2500 meter, haha.

Pernah traveling bersama keluarga atau anak?

Waktu anak pertama, aktivitas saya padat, dan saya bawa dia ke mana-mana. Jadi dari bayi dia udah keliling Indonesia, bahkan udah ke Singapura, Malaysia, dan Australia. Sekarang dia udah nggak ingat, haha. Setelah punya anak kedua, kami udah pernah liburan ke Ubud. Dan sekali pernah nonton konser di Singapura. Saya yang nonton karena itu grup favorit saya banget (Tears for Fears), Reza menemani Atisha (bayi kami) di kamar hotel.

Apa bedanya traveling sendiri dengan traveling bersama keluarga atau anak?

Beda packing dan beda destinasi. Kalau bawa anak, ya orientasi tempatnya harus family/child friendly. Packingnya juga menyesuaikan dengan kebutuhan anak.

Kalau liburan bersama keluarga atau anak, tempat seperti apa yang menjadi tujuan?

Yang kami bisa bersantai, tapi anak-anak menikmati, entah itu main di kolam renang atau berjalan-jalan. Favorit kami sih ya Bali, tepatnya Ubud.

Tujuan wisata mana yang ramah akan lingkungan menurut Anda?

Belum pernah pergi ke tempat yang memang berorientasi ke arah ramah lingkungan.

Punya tujuan favorit jika traveling? Kenapa?

Cita-cita sih pengin bisa ke Peru. Karena saya tertarik dengan banyak situs sejarahnya: Macchu Picchu, Saqsayhuaman, Nazca Lines, dll.

Bisakah memberikan tips saat traveling bersama keluarga atau anak?
Kalau untuk anak, yang perlu dipastikan mereka tetap bisa makan dengan baik dan tepat waktu. Karena biasanya itu yang paling susah dijaga, berhubung liburan mereka biasanya euphoria, dan pola makannya bisa terganggu kalau nggak dijaga.

Punya makanan favorit khas Indonesia?

Hampir semua masakan Indonesia saya suka. Paling favorit sih Sunda, Bali, dan Batak. Pokoknya yang pedas-pedas.

Jika harus memilih, lebih memilih Jakarta atau Bandung? Kenapa?

Saat ini saya harus memilih Jakarta, karena pekerjaan suami saya di Jakarta. Saya cinta Bandung tapi belakangan Bandung juga cukup menyiksa macetnya.

Dalam waktu dekat ada rencana traveling ke mana? Sendiri atau dengan keluarga?

Akan ke Ubud, karena suami saya melakukan retreat meditasi setiap tahun di sana, dan biasanya kami sekeluarga menyusul sesudahnya.

Apa arti kontemplasi atau menenangkan diri bagi Anda?

Kontemplasi menurut saya beda dengan menenangkan diri. Kalau menenangkan diri hanya sekadar relaksasi. Tapi kontemplasi kita menggali lebih dalam tentang banyak hal, terutama tentang diri kita sendiri.

Pentingkah bagi Anda kontemplasi dalam hidup?

Saya rasa kontemplasi tidak bisa dilepaskan dari aspek kemanusiaan kita. Dalam-dangkalnya tergantung masing-masing orang. Namun pada satu titik kita semua pasti melakukannya.

Ke mana tujuan Anda saat kontemplasi?

Untuk kontemplasi sebenarnya tidak perlu ada tujuan khusus. Di mana pun bisa. Asalkan hati dan pikiran kita siap. Kalau ingin proses yang intensif, saya biasanya pergi ke retreat meditasi. Yang selama ini saya jalankan, biasanya saya ke Ubud atau ke Mendut. Tapi ini sih tergantung lokasi mana yang dipilih oleh panitia retreatnya, saya hanya ikut saja. Cuma kebetulan yang pernah saya ikut lebih dari satu kali ya di dua tempat itu.

Tolong sebutkan tempat-tempat wisata yang cocok untuk kontemplasi yang pernah Anda datangi.

Seperti yang saya bilang, sebetulnya kontemplasi tidak perlu dalam bentuk wisata. Di mana pun bisa. Karena kontemplasi bukan faktor tempat eksternal, melainkan kesiapan internal. Secara umum, ya, pilihlah tempat yang relatif sepi dan mendobrak rutinitas sehari-hari kita, artinya jika biasanya bangun dengan beker, atau nonton TV sampai larut, pada saat rekreasi yang kontemplatif bangunlah secara alami, nggak nonton TV, tapi lebih banyak melihat dan berinteraksi dengan alam sekitar, dsb. Tempat favorit saya sih Ubud.

Bisa berikan tips-tips kontemplasi saat berada di dalam rumah?

Latihan meditasi sangat membantu. Pelajarilah teknik meditasi pada instruktur yang kompeten. Jika dilakukan rutin akan sangat bermanfaat. Jadi, selain waktu bekerja, punyalah waktu khusus untuk hening.

Wednesday, December 17, 2014

Kick Andy Magazine | Opini: Art of Doing Nothing | Oktober, 2011 | by Nurul Farichah


Kali ini, 'Me Time' membahas tentang Art of Doing Nothing yaitu sebuah sesi berdiam diri sejenak tanpa memikirkan apa-apa yang ternyata merupakan sebuah kebutuhan untuk terhindar dari stres. Untuk itu kami ingin bertanya kepada Anda: pentingkah melakukan Art Of Doing Nothing ini? Dan pernahkah Anda melakukannya? Opini dapat ditulis sekitar 100 kata saja.

Menurut saya, masyarakat modern saat ini hidup dalam era "Always Doing Something". Always doing something is a positive thing. 
Saya pernah baca sebuah buku berjudul Time Shifting karya Stephan Rechtschaffen, dia menulis bawa waktu adalah persepsi mental. Umum sekali kita dengar "24 jam tidak cukup," atau "Waktu kok sekarang berjalan cepat sekali ya?" Sebetulnya itu adalah persepsi mental, yang merasa kegiatan kita terlalu banyak, sehingga 24 jam tidak lagi cukup. Kita jadi kehilangan kemampuan untuk menikmati waktu kosong. Pada saat liburan, orang yang biasa kerja malah tersiksa karena merasa harus terus berbuat sesuatu. 
Seperti mesin, jika ia dipacu terus-terusan tanpa pernah istirahat, pada satu titik ia akan jebol. Pada manusia, istirahat bukan berarti hanya tidur, tapi bagaimana pikiran dan mental kita ikut relaks.
Saya setuju dengan pembubuhan "art" pada "doing nothing", karena dalam  kehidupan modern, untuk bisa beradaptasi dengan "doing nothing" diperlukan seni, pemahaman, dan teknik. Bagi saya pribadi, "doing nothing" paling ideal dilakukan dalam bentuk meditasi mengamati. Bukan konsentrasi. Karena dalam konsentrasi kita kembali "berbuat sesuatu". 
Dalam meditasi mengamati, kita duduk diam mengamati apa yang terjadi. Tubuh kita, pikiran kita, celotehan batin, dsb, tanpa mengintervensi atau aktif melakukan sesuatu. Jika dilakukan rutin, batin dan pikiran kita menjadi terbiasa untuk punya "rem", tidak senantiasa reaktif.

The Jakarta Globe | My Jakarta | Juli, 2010 | by Candra Malik


Anda seorang penyanyi sekaligus penulis yang produktif. Mana yang lebih awal Anda jalani?

Musik duluan. Saya mengawali karier musik dari umur 17 tahun (thn 1993). Awalnya menjadi backing vokal untuk Iwa K, P Project, Harvey Malaiholo, Java Jive, Chrisye, dan sebagainya. 

Apakah Anda mendapatkan dua kemahiran itu dari bakat yang turun di keluarga? Siapakah yang juga penyanyi dan/atau penulis di antara mereka?

Keluarga saya memang pencinta seni. Kakak saya, Imel, adalah seorang pianis/vokalis jazz profesional yang juga udah bikin album. Adik saya, Arina, adalah vokalis dari band Mocca. Kakak saya, Key, adalah seorang sutradara dan penulis skenario. Kalau yang menulis buku memang hanya saya. Kedua orang tua saya memang selalu mendorong kami untuk belajar musik sejak kecil. Ayah saya adalah seorang pencerita yang sangat baik, walaupun nggak nulis buku. Beliau juga senang bernyanyi dan bermusik meski otodidak. 

Saat ini, mana yang dorongannya lebih kuat dalam diri Anda: menyanyi atau menulis? Mengapa?

Dalam pengalaman saya, dorongan itu datang bergantian. Cuma sejak menulis Supernova tahun 2001, saya memang lebih intens menulis. Ada satu hal dalam dunia penulisan yang membuat saya lebih nyaman, yakni keleluasaan untuk rileks dan jadi diri sendiri. Menyanyi punya sisi glamor, sisi ‘nampil’, yang ternyata saya nggak selalu nyaman melakukannya. Saya senang rekaman dan membuat musik, tapi untuk performing saya nggak merasa punya semangat yang tinggi untuk itu. Selain itu, sejauh ini ide yang lebih sering muncul belakangan adalah ide menulis ketimbang musik. 

Anda memilih label indie untuk menerbitkan buku-buku, bahkan mendistribusikan sendiri buku-buku itu, dan terbilang sukses. Sudah berapa buku? Bagaimana ceritanya?

Sebetulnya saya cukup banyak bekerja sama dengan para penerbit selama ini, salah satunya yang masih bertahan hingga sekarang adalah GagasMedia dan Bentang Pustaka. Hanya seri Supernova (1-3) yang masih saya jalankan sendiri bersama Truedee Books. Awalnya sih bisa dibilang ‘kecelakaan’. Waktu itu saya punya manuskrip Supernova, dan saya nggak cukup pede untuk bawa ke penerbit. Teman saya ada yang mencoba, lalu katanya naskah tersebut harus antre dulu beberapa bulan, sementara target saya adalah menerbitkan Supernova sebagai hadiah ulang tahun bagi diri sendiri (Januari 2001). Ya sudah, akhirnya saya terbitkan sendiri. Dulu memang nggak kebayang ternyata animonya sebesar itu. 

Apa buku Anda yang, menurut Anda sendiri, paling spesial dan menunjukkan pencapaian tertentu? Siapa penulis atau tokoh yang memengaruhi Anda?

Agak susah memilih, karena setiap buku punya karakter tersendiri dan juga prestasi tersendiri. Secara historis sih ya tentu buku pertama, karena saya belajar banyak dari sana, baik sebagai penulis maupun sebagai penerbit. Saya mengagumi Ayu Utami dan Sapardi Djoko Damono. Buku Ayu, Saman, menjadi salah satu pendorong saya untuk berani menulis buku. Sementara dari Sapardi, saya banyak belajar tentang kreativitas, membuat metafora, dsb.

Sedangkan untuk album, sejak masih bersama grup RSD sampai akhirnya solo karier, mengapa Anda tak memilih jalur indie pula? 

Untuk RSD saya memang sejak awal sudah dibina oleh perusahaan rekaman yang mengontrak kami. Bahkan perusahaan rekaman tersebutlah (Warna Musik – Adjie Soetama/Adi Adrian) yang membentuk RSD pertama kali. Jadi memang jalurnya sudah seperti itu. Waktu solo karier, justru saya indie. Album solo saya pertama Out of Shell diproduksi sendiri, hanya distribusinya aja saya kerja sama dengan perusahaan distributor, karena saya nggak punya SDM untuk menjalankannya sendiri. Album kedua saya, Rectoverso, kebetulan bergabung dengan buku, jadi kasusnya agak lain. Tapi itu pun saya terlibat sebagai produser dan pemodal.

Anda berdarah Batak, lahir di Bandung, tinggal di Serpong, cari duit di Jakarta (Twitter said so ;p). Bagaimana Anda menjalani ini? Apa kesibukan Anda di Jakarta?

Hahaha... inget aja lagi. Bertahun-tahun saya memang bertahan di Bandung, walaupun teman-teman yang di industri sama sudah banyak yang pindah ke Jakarta karena memang lebih memudahkan. Tapi setelah anak saya, Keenan, masuk TK, saya mulai berpikir ulang. Soalnya, karena harus pulang-pergi terus, saya jadi sering ninggalin Keenan di Bandung, tapi kalau dia dibawa, dia sering bolos sekolah. Akhirnya saya “menyerah”, pindah ke Jakarta juga. Dan setelah menikah dengan Reza, yang orang Jakarta, ya semakin kuatlah alasan untuk tinggal di sini. Saya memilih tinggal di daerah suburb karena saya memang senang daerah yang masih hijau, tenang, relatif sepi. Di Bandung pun saya tinggalnya di daerah pegunungan. Tinggal di tengah kota nggak begitu cocok buat saya. Reza juga kebetulan prinsipnya sama. Hingga akhirnya kami memilih tinggal di BSD.

Ketika terjebak dalam kemacetan, apa hal yang paling produktif yang bisa Anda lakukan?

Meditasi.

Sebagai seorang Buddha, bagaimana Anda memahami meditasi dalam konteks kehidupan saat ini yang penuh gegap-gempita dan persaingan?

Sebetulnya, terlepas dari Buddhis atau bukan, untuk kehidupan zaman sekarang, saya ingin sekali menganjurkan ke semua orang untuk bermeditasi. Stimulasi eksternal di kehidupan modern ini begitu intens. Orang dipacu untuk terus cepat, instan, sibuk, dsb, makanya tingkat stres tinggi, penyakit degeneratif juga merajalela. Karena orang nggak lagi dibiasakan untuk ngerem dan berhenti. Meditasi adalah penyeimbang yang bisa bikin manusia modern tetap “waras”. Syukur-syukur bisa sampai pencerahan, haha! Tapi minimal untuk bisa berfungsi secara optimal, baik secara mental, emosional, dan fisik, meditasi sangat diperlukan. Bagi saya, meditasi bukan lagi sekadar unsur agama tertentu saja, tapi harusnya sudah menjadi bagian keseharian, sama halnya seperti kita berolahraga, atau makan. Kebanyakan orang sudah mulai melek dengan pola hidup sehat, makan sehat, dsb, tapi masih sedikit sekali orang yang memasukkan meditasi ke dalam kebutuhan keseharian. Bahkan di kalangan Buddhis sekalipun, praktisi meditasi masih menjadi minoritas.

Di Jakarta dan sekitarnya, apakah Anda mengalami kesulitan untuk berbelanja kebutuhan vegetarian? Anda memasak sendiri? Dari mana memperkaya menu-menu dan mendapat resep-resepnya?

Karena sekarang ini saya lagi hobi masak, otomatis jadi lebih sering bikin makanan sendiri. Nggak sulit sih, walaupun nggak banyak toko yang jual bahan vegetarian, tapi karena sedikit itulah networkingnya justru malah bagus. Ada direktori khusus yang bisa dicari di internet untuk petunjuk restoran/toko bahan vegetarian. Di BSD aja ada beberapa. Kalo menu dan resep saya modifikasi sendiri dari resep-resep nonvegetarian. Dan sebetulnya makanan Indonesia asli banyak yang vegetarian friendly. Apalagi di sini tahu tempenya murah dan enak.

Bagaimana Anda pertama kali meyakinkan orang lain bahwa vegetarian adalah pilihan hidup yang sehat dan mengasyikkan?

Kalau saya nggak pernah meyakinkan siapa pun. Apa pun yang saya jalankan dan rasakan manfaatnya, saya share sebisa saya. Entah itu lewat artikel, twit, atau blog. Kalau ada yang tertarik ya syukur, kalau enggak ya nggak apa-apa.

Jika Anda diminta memilih, lebih suka Dee yang ketika remaja atau Dee yang sekarang? Mengapa? Apa pula yang Anda sesali dari masa lalu?

Saya senang Dewi yang hari ini. Karena Dewi yang dulu sudah nggak ada. Setiap orang berubah hari bahkan setiap saat. Kalau saya bertahan atau terikat pada Dewi yang dulu, nggak akan bisa menikmati hari ini. Apa yang terjadi di masa lalu membentuk saya apa adanya hari ini. Hargai sejarah, jalani hari ini, dan siapkan masa depan, secara proporsional (kebanyakan planning juga stres, hehe). Itu prinsip saya.

Anda sering mondar-mandir Jakarta-Bandung. Bagaimana respon Anda ketika KA Parahyangan yang legendaris itu akhirnya distop operasionalnya? Mana yang paling Anda suka: naik kereta itu, travel, bis, atau berkendara sendiri Jakarta-Bandung? 

Perkembangan zaman kan nggak bisa dibendung. Sejak ada Cipularang, otomatis orang akan lebih menemukan kenyamanan dan keleluasaan untuk bepergian Jakarta-Bandung. Jadi yah wajar-wajar aja kalau terjadi perubahan. Tentunya sebagai bagian dari memori, saya trenyuh juga dengan tiadanya lagi KA Parahyangan. Tapi sebagai bagian dari perubahan itu sendiri, ya diterima saja. Saya lebih suka berkendara sendiri (pakai sopir), karena lebih fleksibel. Nomor duanya, saya memilih travel. 

Membaca peta Jakarta dan sekitarnya, menurut Anda, bagian mana di ibukota dan kota-kota satelitnya yang masih punya harapan ditata ulang agar semenarik dan sehijau Bandung?

Bukan karena saya tinggal di BSD ya, tapi menurut saya BSD punya peluang ke arah sana (meski Bandung jangan lagi dijadikan barometer karena sudah tidak semenarik dan sehijau dulu). BSD menurut saya planning kotanya cukup matang, penghijauannya cukup bagus, tinggal tunggu pohonnya besar-besar. Yang masih perlu digarap adalah konsep green living. Lebih bagus lagi kalau di BSD ada semacam sentra pengolahan untuk sampah organik, pusat daur ulang, dan juga upaya-upaya imbauan dan insentif untuk listrik tenaga solar, penampungan air hujan, dsb.

Tuesday, December 16, 2014

Femina | Pencerahan & Spiritualitas | Juni, 2009 | by Naomi Jayalaksana


Saya yakin, bahwa Dewi juga pernah mengalami masa-masa pencarian dan keraguan yang meliputi makna hidup, Tuhan, dan kebahagiaan. Kegelisahan atau pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang kerap muncul di benak Dewi saat itu? Bagaimana prosesnya perjalanan pencarian Dewi hingga akhirnya menemukan jawaban tersebut? Berapa lama?

Saya nggak tahu persis berapa lama, sejak kecil memang saya sudah tertarik dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial. Tahun 1998 saya mengalami peristiwa yang membuat saya harus mempertanyakan ulang arti cinta, dan setelah itu pertanyaan saya berkembang menjadi arti hidup, lalu arti Tuhan. Dan setelah itu saya bertemu dengan buku Conversation With God yang di dalamnya banyak beresonansi dengan perenungan saya selama itu. Hingga akhirnya tahun 1999 saya mengalami semacam epifani, semacam ekstase spiritual, dan sejak itu pandangan saya tentang Tuhan, agama, cinta, hidup, berubah sama sekali.

Apakah Dewi juga pernah melakukan perjalanan jauh untuk mendapatkan jawaban itu, misalnya ke Nepal, atau negara-negara lain? Menurut salah satu sumber, Dewi dan suami berencana untuk melakukan perjalanan spiritual ke Peru? Bisa dishare kisahnya, tentang tujuan dari Dewi dan suami?

Enggak sih, saya belum sampai melakukan perjalanan jauh, walaupun keinginan ada. Tapi saya sering ikut retreat meditasi, salah satunya ke Hong Kong, untuk ikut retreat bersama Thich Nhat Hanh. Rencana ke Peru sebagian besar dengan tujuan riset untuk novel saya Supernova Partikel, tapi terpaksa ditunda karena kehamilan. Tapi di Peru saya memang ingin mengunjungi situs-situs sakral dan ikut ritual sakral Ayahuasca bersama shaman di sana.

Adakah trauma atau sebuah kejadian yang membuat Dewi merasa gelisah, namun berhasil "disembuhkan" ketika Dewi akhirnya menemukan pencerahan itu? Bisa di-share kisahnya?

Sejak saya meditasi sebetulnya saya juga belajar bahwa hidup adalah kesempatan untuk menyembuhkan rangkaian trauma, dan trauma ini kita dapat bukan hanya dari kehidupan sekarang, tapi juga kehidupan-kehidupan lampau yang kemudian tertanam di DNA kita. Jadi nggak ada satu kejadian yang spesifik sih, tapi begitu banyak penyembuhan yang saya alami sejak mendalami meditasi.

Meminjam istilah Oprah Winfrey, apa "a-ha moment" Dewi, dan kapan serta bagaimana Dewi mendapatkan momen itu?

Tahun 1999, saya mengalami peristiwa di mana terjadi komunikasi langsung antara saya dengan “the higher self”, yah, namanya bisa macam-macam, orang ada yang menyebut Tuhan, dsb. Lalu tahun 2000 saya mendapat peristiwa visualisasi yang juga mengubah pandangan saya tentang realitas selama ini. Dan waktu saya belajar meditasi vipassana di Mendut, saya juga mengalami bahwa segala sesuatu tidak ada yang permanen termasuk apa yang kita sebut sebagai “diri” atau “self”. Pada tahun 2007, saat mengikuti retreat Enlightenment Intensive di Ubud, saya mendarat di present moment yang sangat powerful bagi saya saat itu. Bagi saya, kompilasi peristiwa-peristiwa tadi tidak lain adalah proses evolusi pribadi saya. Caranya bermacam-macam dan a-ha moment-nya juga macam-macam.

Seperti apa konsep kebahagiaan bagi Dewi? Adakah perbedaannya sebelum dan sesudah Dewi menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan pada nomor satu?

Kebahagiaan bukanlah yang terpenting meski itu adalah yang semua orang cari. Kesadaran atau keelingan lebih penting. Karena kebahagiaan juga pada akhirnya pudar, sama dengan kedukaan. Nggak ada orang yang terus-terusan bahagia, nggak ada juga orang yang terus-terusan susah, semuanya berganti-ganti dan nggak ada yang tetap. Namun menyadari keduanya sebagai fenomena dan menyambut keduanya dengan tangan yang sama-sama terbukalah yang membuat hidup ini lebih mudah dan realistis untuk dijalani.

 Bisa tolong di-share, perubahan pada pribadi Dewi: The "Then Dewi" and "Now Dewi" setelah mendapat pencerahan.

Menurut saya pencerahan itu bukan sesuatu yang fixed, tapi terus berjalan dan berubah. Saya lima menit yang lalu pun tidak sama dengan Dewi yang sekarang. Secara global, saya merasa lebih realistis dan lebih santai.
 

Femina | Retret Spiritual | Agustus, 2010 | by Eka Januwati


Sudah berapa kali Anda melakukan retret meditasi? Sudah ke mana saja dan bertemu dengan guru siapa saja?
  • 2007: Mindfulness Retret, Hong Kong. Pembimbing: Thich Nhat Hanh (Zen Master dari Plum Village, Prancis).
  • 2007 (dua kali): Meditasi Mengenal Diri (MMD), Vihara Mendut. Pembimbing: Hudoyo Hupudio.
  • 2007: Enlightenment Intensive, Anahata Resort – Ubud. Pembimbing: Jack Wexler.
  • 2008: Mahamudra 1 & 2, Jakarta. Pembimbing: Mingyur Rinpoche (Buddhist Zen Master, dari Tibet).
  • 2009: Retret “Geming, Hening, Bening”, Anahata Resort – Ubud. Pembimbing: Reza Gunawan. 
Ke mana dan kapan Anda pertama kali melakukan retret meditasi itu? Kenapa Anda memilih tempat itu?
 
Pertama-tama, pilihan retret itu bukan karena tempat, tapi siapa pembimbingnya. Saya pengagum karya-karya Thich Nhat Hanh, dan beliau sudah berkeliling dunia untuk mengadakan retret. Tahun 2007 kebetulan beliau ke Hong Kong, yang menurut saya cukup dekat ketimbang harus pergi ke Prancis, ke monastery-nya. Bagi saya, satu pengalaman yang berbeda ketika kita membaca karya seseorang dan kemudian berpraktek langsung di bawah bimbingannya. Yang satu hanya pengalaman nalar, sementara berpraktek langsung merupakan pengalaman lahir batin yang komplet.
 
Ketika pergi untuk yang pertama kalinya, apa yang mendorong atau memotivasi Anda untuk melakukan retret meditasi?

Bermeditasi itu cuma jadi sebatas pengalaman intelektual kalau kita hanya membaca dan mendiskusikannya. Meditasi baru bisa punya kekuatan transformatif jika dilaksanakan dan dicicipi langsung manfaatnya. Hadirnya pembimbing juga sangat membantu karena mereka bisa memberi pengarahan langsung, bahkan kehadiran mereka saja secara energetik sudah punya kekuatan tersendiri. Jadi, yang ingin saya alami adalah sebuah pengalaman langsung. 

Perasaan apa yang timbul ketika Anda melakukan retret meditasi (misal: terharu, damai, self-fulfillment, dsb.) dan apa yang bisa menyebabkan Anda merasakan perasaan itu?

Seringnya adalah ‘a-ha moment’ yang terjadi di ujung retret. Macam-macam istilahnya, ada yang bilang itu pencerahan kecil, atau satori, dsb. Kalo perasaan yang timbul sih nggak semuanya bersifat tenang, damai, dsb. Terkadang dalam retret yang intensif, justru kita harus berani menghadapi “inner demons” kita. Semua trauma, luka batin, dsb, bisa keluar dan teramplifikasi pada saat retret, tapi di sanalah justru proses penyembuhan terjadi. Yang penting dalam retret adalah jangan punya ekspektasi yang melulu cuma bagus dan enak-enaknya saja, justru kita harus siap dengan segala kemungkinan dan menghadapi diri sendiri. 
 
Apakah setiap retret meditasi itu menimbulkan perasaan atau kesan yang sama? Perjalanan yang mana yang menimbulkan perasaan atau kesan paling mendalam? Kenapa?

Setiap retret beda-beda. Tergantung situasi mental kita, jatah karma kita, dan juga dinamika yang terjadi antara kita, peserta lain, dan guru kita. Yang jelas, selalu ada pelajaran, pencerahan, pengalaman yang bermanfaat dari setiap retret. Setidaknya demikian dalam pengalaman saya pribadi.
 

Mengapa Anda merasa penting untuk melakukan retret meditasi lebih dari sekali, apakah pengalaman yang kedua, ketiga, dan seterusnya berbeda dari yang pertama? Bisa tolong ceritakan sedikit saja mengenai ritual-ritual yang Anda lakukan dalam retret meditasi itu?
 
Setiap retret akan punya metode tersendiri, tergantung tema dan pembimbingnya. Kalau Mindfulness Retret, kita belajar cara untuk menjadi mindful atau menyadari setiap yang kita lakukan, dari mulai makan, berjalan, dsb, dikombinasi dengan ceramah, tanya jawab, dsb. Kalau Enlightenment Intensive, kita menjalankan dyad yakni format meditasi yang dilakukan berdua dengan peserta lain, dikombinasi juga dengan surrender meditation. Kalau MMD, kita full meditasi duduk dari subuh hingga malam, diselingi tanya jawab, meditasi berjalan, dsb. Kalau Mahamudra bukan format meditasi intensif, tapi lebih seperti proses belajar saja. Biasanya kalau meditasi intensif sudah pasti harus menginap, ada noble silence yang artinya tidak berbicara selama retret (kecuali saat tanya jawab).
 
Apakah Anda merasakan adanya spiritual enlightenment dari retret meditasi yang Anda lakukan? Seberapa besar spiritual enlightenment yang Anda rasakan? Dan apa penyebabnya?

Spiritual enlightenment nggak bisa diukur besarnya. Kita hanya bisa merasakan efeknya pada pemahaman dan hidup kita. Spiritual enlightenment juga nggak bisa dijadikan tujuan, semakin dikejar malah semakin nggak dapet. Ini sesuatu yang sulit dijelaskan, tapi harus dialami langsung. 
 
Apakah ada perbedaan dengan spiritual enlightenment yang timbul dengan hanya bermeditasi di rumah atau di Jakarta saja?
 
Enlightenment itu bisa terjadi di mana saja, nggak harus dalam retret. Di rumah, di mana pun, kalau memang sudah saatnya ya terjadi. Tapi bedanya kalau retret kita berkesempatan untuk benar-benar memfokuskan energi kita ke dalam diri. Jadi jauh lebih intensif ketimbang kita melatih meditasi di rumah. Bagi saya, latihan di rumah itu seperti maintenance, tapi setahun sekali atau dua kali setahun, sebaiknya kita meluangkan waktu untuk retret karena itulah kesempatan kita untuk benar-benar membersihkan “mind stuff” yang bertumpuk selama hidup dalam keseharian. Kalau dalam istilah komputernya seperti di-defrag. Atau “turun mesin” lah kira-kira. 
 
 Seberapa lama spiritual enlightenment itu bertahan setelah Anda pulang dari retret meditasi?
 
Tergantung seberapa rajin kita menjalankan prakteknya dan mengaplikasikannya dalam keseharian. Semakin rajin, ya, semakin lama efeknya. 
 
Apa yang Anda lakukan untuk mempertahankan spiritual enlightenment yang Anda dapatkan dari retret meditasi?

Luangkan waktu untuk bermeditasi harian. Kebetulan, Reza suami saya, punya kegiatan meditasi kelompok setiap hari Rabu. Kegiatan mingguan semacam itu juga membantu untuk mengasah kepekaan kita sekaligus berbagi pengalaman bersama orang-orang lain. 
 
Menurut Anda, sebenarnya apa definisi dari spiritual enlightenment dan apa manfaatnya bagi kualitas kehidupan seseorang sebagai?
 
Tujuan dari praktik meditasi adalah hidup secara sadar. Itu saja. Sadar di sini bukan berarti sekadar melek atau nggak pingsan, melainkan menyadari semua tindakan, pikiran, kondisi mental kita. Karena banyak sekali problem dalam kehidupan yang terjadi hanya karena kita nggak “sadar”. Kita marah, kita emosi, tanpa tahu apa yang benar-benar terjadi dalam diri kita. Kita cenderung melihat segalanya ke luar, eksternalisasi. Akibatnya kita selalu mencari kesalahan pada orang lain. Jarang kita benar-benar melihat ke dalam diri dan mencari tahu siapa sebetulnya yang disebut “aku”, siapa “diri kita” yang sesungguhnya. Ketika kita bisa sadar itu, otomatis pemahaman kita akan hidup, akan diri kita, dan orang lain, akan berubah.

Elle | Buddhisme & Zen Living | Juni, 2009 | by Erika Ardianto

Bisa dijelaskan hakikat agama Budha? 

Ada beberapa fondasi dalam Buddhisme yakni: hakikat siklus hidup-mati (samsara) sesungguhnya adalah penderitaan (dukkha/suffering) yang disebabkan oleh jerat keinginan (desire) dan kemelekatan (attachment). Kebebasan sejati adalah ketika seseorang terbebas dari siklus samsara dan segala kemelekatan, dan hal ini bisa dicapai oleh siapa pun melalui pencerahan batin. Bagaimana caranya agar batin kita tercerahkan? Dengan mengasah kesadaran melalui praktek meditasi, mengamati batin dan fisik hingga kita memahami hakikatnya. Saat kita memahami diri kita yang sejati (Buddha nature) maka kita bisa terbebaskan dari segala ilusi dan bertemu kebenaran yang sesungguhnya.

Bagaimana idealnya menjalani hidup sebagai seorang Budhis? 

Intinya hidup sebagai seorang Buddhis sebenarnya simpel banget, yakni hidup penuh keelingan/kesadaran. Dengan mengasah kesadaran, kita dapat  mengetahui bagaimana batin dan fisik kita bekerja, kita bisa memiliki pandangan terang dan menyadari bahwa tidak ada satu hal pun dalam hidup ini yang bersifat permanen, bahwa segalanya berubah. Kita juga dapat menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada satu hal pun dalam hidup ini yang independen, segalanya interdependen, dan keterpisahan adalah ilusi. Semua ini bisa dilakukan dan dicapai oleh siapa pun melalui meditasi, bahkan tanpa harus memeluk agama Buddha. Buddha sendiri tidak mendirikan agama, ia hanya membabarkan pandangan hidup yang jernih. 

Sepengetahuan Mbak Dewi apa perbedaan mendasar antara Buddha dengan Zen? 

Zen dan Buddhisme sebetulnya tidak bisa dibandingkan apple to apple, karena Zen adalah percabangan dari Buddhisme. Zen bisa dibandingkan dengan aliran-aliran lain dalam Buddhisme, tapi bukan dengan Buddhisme itu sendiri. 

Dan apa sebenarnya konsep Zen Living itu sendiri? 

Batin kita hampir selalu tertarik ke masa lalu atau ke masa depan, dan itu mengakibatkan pandangan kita tak pernah jernih. Kita senantiasa memandang hidup melalui seperangkat persepsi, sehingga kita selalu luput melihat segala sesuatu apa adanya. Hidup secara Zen adalah melihat segala sesuatu apa adanya, dengan kesadaran yang penuh. Hidup secara Zen bisa diartikan adalah senantiasa hidup pada saat ini (living in the now).

Dalam Buddha apa pencapaian tertinggi dalam hakikat spritualnya? 

Saat seseorang bisa terbebas dari siklus hidup-mati dan mencapai kebebasan sejati (nibbana/nirvana). 

Bagaimana dengan pencapaian Zen? Atau adakah perbedaan dalam proses menuju atau justru titik tertingginya? 

Zen, dalam bahasa Jepang, artinya meditasi. Dan kondisi meditasi dalam Zen adalah sebuah kondisi di mana kita tidak berusaha, tidak berupaya untuk menuju apa-apa. Jadi, sekalipun dalam Zen—sebagaimana dalam Buddhisme—pencerahan sempurna adalah tujuan karena ia akan membawa ke pembebasan, Zen menekankan kondisi meditasi bebas upaya. Satu hal lagi yang penting dalam praktek Zen adalah pengalaman langsung (direct knowing) melalui praktek meditasi, jadi bukan berkutat pada teori.