Sunday, April 5, 2020

Simpul Aksara | London Book Fair | April, 2019 | Namira D.

Sebagai penulis, apa saja persiapan yang dilakukan untuk menghadiri event internasional seperti LBF ini?
Persiapan saya lebih ke persiapan teknis—membuat visa, mencocokkan agenda dengan jadwal keberangkatan, dsb. Dengan pihak British Council yang menjadi sponsor sekaligus penyusun program, kami berdiskusi mengenai topik dari panel-panel yang akan kami isi. Kami juga mendapat beberapa kali briefing dari pihak KBN mengenai program selama di London, logistik di sana seperti apa, dsb. Ada juga permintaan wawancara media yang kami penuhi sebelum berangkat ke London, yakni wawancara-wawancara dari media UK yang sudah diatur lewat agensi relasi publik yang ditunjuk resmi oleh pihak British Council dan KBN. Wawancara itu ditujukan sebagai persiapan/pemanasan public awareness tentang Indonesia, baik tentang industri buku, budaya, maupun literasi.
Selama proses persiapan (misal saat meeting) topik apa yang paling sering dibahas?
Kalau dengan KBN sifatnya yang lebih teknis dan berhubungan dengan logistik, karena koordinasi untuk rombongan besar tentunya membutuhkan pengecekan banyak detail.
Proses apa saja yang dilalui dan dilakukan bersama-sama (dengan tim LBF) sebelum sampai di London?
Kami berkomunikasi lewat grup WA. Sepertinya ada banyak grup, tapi yang saya ikuti adalah grup penulis saja. Selain briefing, konferensi pers, dan pertemuan dengan media UK, kami juga melakukan sesi pemotretan dan pengambilan video untuk materi promosi acara.
Bagaimana pendapat Mbak Dewi secara umum atas acara Indonesia Paviliun di LBF 2019?
Programnya sangat ekstensif dan bagus-bagus, ada 100 acara yang total diselenggarakan dalam rangka LBF, dan tidak semuanya diadakan di paviliun, melainkan meliputi fringe event di berbagai tempat di London dan di luar London dalam rentang waktu kurang lebih sebulan. Yang saya pantau dari KBN, target pembelian rights di LBF telah tercapai, bahkan melebihi target. Target BEKRAF kepada KBN adalah 50 judul, dan sekarang rights yang sudah terjual 60, plus masih ada 400 judul dalam negosiasi. Jadi, dari tolok ukur target penjualan rights, bisa dibilang LBF 2019 ini sukses.
Apakah added value untuk Mbak Dewi sebagai penulis dengan adanya event sejenis London Book Fair 2019 ini?
London Book Fair tidak dibuka untuk umum, hanya untuk pelaku bisnis, jadi memang tidak bisa disamakan dengan festival literasi. Acara utama di book fair seperti LBF adalah perdagangan rights. Diskusi panel yang diisi oleh para penulis hanyalah pelengkap saja. Kendati demikian, para penulis yang berangkat ke LBF tentunya beroleh pengalaman dan ekspos media internasional. Bagi saya, nilai tambahnya adalah pengalaman dan wawasan. Kehadiran saya di sana belum tentu menggolkan buku saya tembus pasar internasional, tetapi lebih untuk berbagi sudut pandang serta situasi perbukuan dan literasi Indonesia ke publik UK.
Selain itu, adakah commercial value yang Mbak Dewi dapatkan sebagai penulis melalui event ini?
Nilai komersial rasanya tidak ada.
Menurut Mbak Dewi apa yang seharusnya dikejar dalam event seperti ini?
Book Fair adalah perdagangan rights, jadi yang harus dikejar memang penjualan rights sebanyak-banyaknya. Dalam hal itu, saya rasa jalur yang ditempuh saat ini sudah benar. Yang lebih harus diperhatikan dan dibina sebetulnya justru yang terjadi di luar book fair, yakni persiapan penerjemahan, peningkatan kualitas SDM penerjemah, pengenalan penulis-penulis Indonesia ke agen-agen literasi, dan peningkatan kualitas penulis itu sendiri. Di luar itu, cukup banyak penulis yang menurut saya punya kesalahpahaman terhadap acara book fair besar seperti LBF dan FBF, seakan-akan ketika sudah berangkat ke book fair maka kita pasti dikenal secara internasional, buku kita pasti diterjemahkan, dst. Kepenulisan kita itu justru dibangun di luar book fair, lewat karya dan hubungan kita dengan pembaca. Untuk menjangkau pasar internasional yang kita butuhkan adalah agen. Namun, kadang-kadang menjadi delegasi book fair dianggap sebagai pinnacle keberhasilan seorang penulis, padahal tidak seperti itu.
Kalau ini bukan book fair pertama yang pernah Mbak Dewi ikuti, apa pengalaman baru yang ditemukan saat di London?
LBF menurut saya pelaksanaannya cukup rapi. Jumlah rombongan tidak sebesar FBF 2015 jadi lebih mudah ditata. Pengalaman yang sama sekali baru sih tidak ada, tapi saya justru menikmati kebersamaan dengan para penulis Indonesia lainnya karena di LBF ini kami punya banyak program bersama-sama, berangkat dan pulang bersama. Saat FBF rasanya lebih terpencar-pencar.
Bagaimana opini personal atas literasi Indonesia hari ini?
Sejauh pengamatan saya, industri buku sendiri cukup bergairah. Semakin banyak platform alternatif yang bisa dipilih calon penulis, genre yang semakin semarak, dan banyak penulis muda bermunculan. Namun, masih banyak juga bagian dari ekosistem buku kita yang harus diperbaiki. Perhatian saya saat ini lebih ke hal-hal yang sifatnya kebijakan, seperti pajak royalti dan pajak buku, serta pembajakan buku, karena ini berpengaruh ke semua penulis dan ke keberlangsungan profesi penulis di Indonesia.
Adakah rencana proyek baru yang sedang atau akan dikerjakan dalam waktu dekat?
Buku saya ke-13, dan juga nonfiksi pertama saya, akan terbit setelah bulan Lebaran, yakni Di Balik Tirai Aroma Karsa. Sebuah buku yang mengupas teknik serta metode yang saya pakai untuk menulis novel Aroma Karsa.
Selama perjalanan ini, adakah buku bacaan yang memang dibawa oleh Mbak Dewi sebagai bahan bacaan selama berkegiatan?
Waktu ke London, saya masih sedang meneruskan buku Genome karya Matt Ridley.
Adakah makanan tertentu yang dicari atau memang ingin dimakan saat sedang berada di London?
Yang spesifik nggak ada. Tapi, saya menikmati pastry dan steak di London. Di seberang Olympia tempat LBF diadakan, ada restoran steak Argentina yang berkesan. Di dekat hotel tempat kami menginap juga ada kafe yang menjual pastry enak, setiap pagi saya bela-belain jalan kaki dari hotel beli croissant ke sana.