Showing posts with label Twitter. Show all posts
Showing posts with label Twitter. Show all posts

Sunday, December 21, 2014

Marie Claire | Endorsement di Twitter | Juni, 2012


Seberapa kuat pengaruh Twitter dalam mempengaruhi opini public?

Saya rasa pertanyaan ini lebih bisa dijawab oleh para pengamat sosmed atau pun advertising agency yang memang mengukur dengan lebih pasti keberhasilan kampanye publik yang terjadi di Twitter. Sejauh pengamatan saya, sih, opini di Twitter cukup berpengaruh, ya. Banyak gerakan atau kampanye yang tercipta diawali di Twitter. Kenyataan bahwa sekarang divisi sosial media selalu ada di semua biro iklan, dan hampir semua brand punya akun Twitter, adalah bukti bahwa kekuatan sosial media sangat diperhitungkan. Tapi seberapa jauh pengaruhnya, saya nggak tahu pasti.

Apakah Twitter sudah menjadi media iklan / propaganda yang efektif?

Kalau untuk iklan atau pun informasi kegiatan menurut saya, sih, lumayan efektif. Saya adalah salah satu contoh orang yang menggunakan Twitter sebagai pusat informasi kegiatan-kegiatan saya, dan saya jarang sekali menggunakan Facebook. Meski demikian, sejauh ini Twitter sudah mencukupi untuk saya. Setiap bikin acara saya selalu umumkan di Twitter dan jumlah pengunjung selalu memuaskan, dan ketika saya tanya pada yang datang, mereka memang bilang tahunya dari Twitter. Sejak buku ke-7, Madre, saya menggunakan Twitter sebagai pusat informasi untuk penjualan maupun promosi, sejauh ini hasilnya memuaskan.

Tentang fenomena endorsement oleh beberapa brand terhadap akun ber-follower besar maupun jual beli akun, apa pendapat Anda?

Endorsement adalah fenomena yang tak terelakkan ketika brand mulai terjun ke dalam sosmed. Tentunya mereka selalu butuh corong-corong untuk membantu mereka "bersuara" sebagaimana yang selama ini terjadi di media non Twitter sekalipun. Kalau jual beli akun, saya nggak terlalu tahu fenomenanya. Hanya dengar-dengar saja.

Anda sendiri termasuk yang punya pengalaman di-endorse oleh brand tertentu? Bagaimana ceritanya?

Setahun setelah memakai Twitter, mulai ada brand yang menawarkan kerja sama dengan saya. Dari mulai barter dengan produk hingga pembayaran finansial. Saya melihatnya sama seperti saya ditawari iklan atau pun mengendorse brand tertentu. Pertimbangan yang saya pakai pun sama. Jika brandnya "nyambung" dengan brand image saya sebagai seorang pribadi,  saya oke. Saya juga melihat dulu konsep jualannya bagaimana, kalau terlalu hard-sell saya nggak mau. Untuk jumlah juga saya atur supaya nggak terasa spamming oleh follower.

Twitter kini bisa menjadi penghasilan tambahan bagi sejumlah orang, pendapat Anda?

Kenyataannya memang demikian. Dan menurut saya wajar saja. Selama industri masih melirik sosmed sebagai salah satu saluran yang menjanjikan untuk promosi, tentu akan ada akun-akun atau orang-orang yang akan diuntungkan, sama seperti orang berdagang lewat Facebook, lewat blog, dsb.

Apakah Anda pernah ditawari untuk menjual akun? Anda pernah mendengar jual beli akun?

Belum pernah.

Apakah Anda membuat akun khusus untuk mengakomodir endorsement dari brand tertentu?

Tidak. Saya hanya memakai akun pribadi saya.

Apakah perempuan pada umumnya bisa mengoptimalkan akun Twitter sehingga bisa menghasilkan uang?

Saya rasa nggak terlalu berhubungan dengan gender, tapi siapa yang mampu melihat celah kesempatan saja.

Bagaimana membuat trik agar Twitter dapat menarik banyak follower?

Menurut saya, yang orang cari di Twitter adalah interaksi. Jadi akun yang lebih punya interaksi dengan follower-nya, dan punya "personality" lebih bisa berkembang. Saya sendiri suka dengan akun follower yang "manusiawi", yang terasa kualitas orang yang di baliknya.


Saling Silang | Akun Addeection | Oktober, 2011 | by Tuti Ismail


Gimana awalnya akun @addeection ini bisa sampai ada?

Bisa dibilang gabungan kesengajaan dan tidak. Jadi dari dulu sebetulnya Bu Suri (panggilan sayang buat Dee) kepengin punya semacam wadah untuk para pembacanya, tapi belum pernah menemukan format yang pas. Dulu-dulu pernah ada mailing list, forum diskusi online, website, dll, tapi maintenance-nya nggak gampang. Setelah ada Twitter, barulah ketemu format yang jauh lebih praktis. Satu hari ada follower Bu Suri yang menanyakan fans club, lalu iseng-iseng ide itu dilemparlah ke timeline, langsung bermunculan banyak ide nama. Termasuk nama Addeection ini. Akhirnya, Bu Suri ngajak brainstorming untuk bikin akun. Menurutnya, akun ini bisa membantu banyak ke pekerjaannya karena bisa fokus ke aspek buku saja, sementara akun pribadinya kan lebih beragam isinya.

Dapat bahan di-tweet-kan dari mana?

Bahan tweet saya dapat dari Bu Suri, baik yang trivia maupun yang konten buku. Jadi saya kerjanya dari komputer, karena kalau buka buku lagi malah repot. Bahan sudah disusun sebelum mulai twit serial, supaya praktis. Walaupun pas prakteknya tetap ada improvisasi, ya.

Akun @addeection dikelola berapa orang, sih? Ada shift-shiftan gitu juga?

Sebenarnya masalah identitas dan jumlah admin kami rahasiakan. Hihi. Tadinya sih nggak direncanakan rahasia, tapi ketika waktu berjalan, sudah telanjur pakai banyak nama (inilah akibat dari ke-ababil-an kami), dan melihat reaksi para penongkrong (panggilan sayang untuk follower), maka kami putuskan untuk sekalian aja anonymous.

Kok pakai Bahasa Sunda? Apa nggak takut nanti kenanya segmented aja?

Bahasa Sunda sih sekali-sekali aja kalau ada yang mancing. Karena Mumun asalnya dari Bandung, Bu Suri juga, dan ada kecenderungan orang Sunda selalu berbicara Sunda jika ketemu sesama, jadi cukup sering Mumun keceplosan Bahasa Sunda. Tapi mayoritas tweet dalam Bahasa Indonesia, kok. Juga Bahasa Englais kalo diperlukan.

Ini ke depannya cuma sekedar menjaring followers, atau ada rencana-rencana lain, seperti kopdar para pecinta Dee, baksos, atau ngasih kursus bahasa Sunda mungkin buat followers yang ga ngerti bahasa Sunda? Hihihi...

Maman sih hobinya satu, ya: bikin posko. Jadi untuk baksos atau kursus, belum terpikir ke arah sana. Dagang bakso sambil bikin posko sih cukup menarik. Tapi untuk saat ini, Maman fokus dulu aja dalam pembangunan dan pembinaan posko. Sudah ada usulan dari para penongkrong untuk kopi darat, tapi Maman masih pikir-pikir, soalnya nanti muka Maman terekspos. Jujur, Maman takut terkenal. Lebih senang jadi orang belakang layar seperti ini.

Benefit lain kalo nge-follow @addeection apa? Mungkin kalo Dee ngeluarin buku baru, bakal ada diskon khusus mungkin?

Hobi Mimin selain bikin posko adalah menggelar kuis. Jadi, para penongkrong Addeection akan selalu dapat kesempatan menang kuis. Hadiahnya yang pasti collectible items seperti buku-buku ber-TTD. Dengan jaringan Bu Suri, kami bahkan pernah mendapat sponsor yang produknya bukan hanya buku. Kemarin ini, ada kuis berhadiah Self Healing yang disponsori Pak Suri (Reza Gunawan), lalu ada temannya Bu Suri yang mau ngasih cheese cake dari bakery-nya untuk jadi hadiah kuis. Untuk diskon sih bisa-bisa aja, kita belum eksplorasi ke arah sana. Yang jelas, Mimin menjaga hubungan baik dengan para penerbitnya Bu Suri, seperti Truedee Books, Bentang Pustaka, Gagas Media, dsb. Mereka juga seringkali berbaik hati mensponsori kuis Mimin.

Siapa pencetus hingga ada akun khusus ini?

Seperti yang Mahmud ceritakan tadi, ide untuk bikin komunitasnya sudah lama ada. Tapi gara-gara pertanyaan satu follower Bu Suri, akhirnya dibuatlah akun Addeection ini. Mahmud amati juga, memang karakter pembaca Bu Suri ini ada benang merahnya. Mereka itu bukan hanya suka baca karya Bu Suri, tapi juga seperti kecanduan. Makanya Mahmud akhirnya pakai judul Posko Sakaw Buku Dee.

Jobdesc Mimin apa aja sih?

Intinya sih menghidupkan akun Addeection. Walaupun banyak jobdesc yang nggak ada di brosur, seperti pengasuh anak, penunggu rumah, beliin nasi Padang, bikinin Indomie, dll, tapi semua itu Momod terima dengan lapang dada.

Suka duka jadi Mimin apa?

Sukanya karena melihat respons para penongkrong yang luar biasa. Berhubung Addeection ini akun yang sangat spesifik, yakni para pembaca buku Bu Suri, jadi Mukhlis juga enak kalau berkomunikasi dengan para penongkrong, karena rata-rata sudah familiar dengan karya-karya Bu Suri. Dukanya adalah, tidak setiap hari Mukhlis bisa menongkrongi timeline (karena kesibukan menjadi eksmud). Misalnya, program yang harusnya kelar satu bulan, malah bisa lebih karena Mukhlis nggak sempat bikin twit serial. Twit serial begitu kan butuh persiapan, ya.

Dengan adanya akun @addeection ini efektif nggak sih pendekatan ke penggemar-penggemar buku Dee Lestari? Dan bagaimana dengan pendekatan dengan orang-orang yang belum tau banyak tentang buku-buku Dee, ada strategi tersendiri, supaya buku-buku Dee jadi lebih dikenal?

Sejauh ini sangat efektif. Terutama kalau Munaroh sudah nge-tweet #KutipanMaut (kutipan-kutipan terpilih dari buku Bu Suri). Biasanya kalau sudah ngetweet rangkaian #KutipanMaut, mention dan jumlah follower langsung meningkat. Banyak yang jadi diingatkan lagi juga tentang konten buku Bu Suri, bahkan ini berdampak langsung pada penjualan. Setidaknya di jalur direct selling Truedee Books, itu kelihatan sekali efeknya. Begitu ada tema tweet atas buku tertentu, order buku tersebut langsung meningkat. Yang sudah baca Madre, tapi belum baca Filosofi Kopi, misalnya, ketika Munaroh cerita tentang Filosofi Kopi, penongkrong tersebut jadi tertarik untuk baca. Jadi ini berpengaruh juga pada pengenalan buku-buku Bu Suri secara umum.

Wednesday, December 17, 2014

Portal Berita KabarIndo | Industri Kreatif | Januari, 2010 | by Arul Arista


Apa ada korelasi imajinasi merangkai kata dari untaian kalimat prosa dengan kreativitas?

Menurut saya, imajinasi adalah sumbernya, kreativitas adalah mesinnya, jadi keduanya berkorelasi. 

Memulai kalimat inspiring dari sisi apa?

Dari pesan dasarnya dulu, apa yang sesungguhnya ingin kita sampaikan.

Apakah fakta atau cerita-cerita orang menarik dijadikan karya sastra?

Sebuah karya memang selalu merupakan gabungan dari imajinasi dan fakta, yang bisa berupa cerita/pengalaman orang, atau pun cerita/pengalaman kita sendiri. Setidaknya itu yang selama ini saya lakukan.

Supernova bisa didaulat sebagai produk industri kreatif?

Tentu saja. 

Hal apa saja yang menarik dari industri kreatif?

Karena pekerjaan saya memang ada di bidang kreatif, bagi saya segalanya tentang industri kreatif jadi menarik.

Indonesia 2010 sedang meniti era Komputasi Sosial. Jejaring Sosial seperti FB dan Twitter ibarat jamur di musim hujan, ada pendapat? 

Sudah saatnya. Sebagai salah satu negara berpenduduk terbanyak di dunia, Indonesia punya potensi besar untuk memiliki jejaring sosial yang signifikan.

Apa asyiknya dengan aktivitas update status dan Twitter?

Bisa berkomunikasi langsung dengan pembaca/penggemar karya, bisa brainstorming secara virtual dengan orang-orang yang kompeten, dan bisa terhibur dengan interaksi yang terjadi.
 
Cinta menurut Dee, apa? 

Cinta, bagi saya, pada dasarnya adalah energi. Energi yang menggerakkan segalanya.
 

Saturday, December 13, 2014

Bz! Majalah Komunitas Blogger | Blook: Dari Buku ke Blog | April, 2012 | By Meity Mutiara


Sempat menulis, kemudian menyanyi dan menulis lagi. Apa yang membuat Kak Dee memantapkan hati untuk menulis?

Sebetulnya sekuensnya nggak begitu. Awalnya saya nyanyi duluan. Dan setelah menulis, belum pernah berhenti menulis. Menyanyinya yang off, kecuali ketika bikin Rectoverso yang memang terdiri dari album dan buku. Menulis sendiri sudah hobi dari kecil, tapi baru tahun 2001 saya menerbitkan buku. Hingga kini saya menulis karena memang sudah hobi, dan tentu kini menjadi profesi. Dan bagi saya, menulis adalah profesi yang nyaman, karena memungkinkan saya lebih banyak di rumah.

Tentang Supernova yang banyak ditunggu, karena setiap sequence bikin penasaran fansnya. Terinspirasi dari apa/siapa setiap sequence Supernova?

Konsep untuk Supernova dan masing-masing serinya sudah ada sejak lama, saya susun dari tahun 2001. Jadi sekarang tinggal eksekusinya aja. Setiap buku menampilkan tokoh yang berbeda-beda, penelusuran yang berbeda-beda, dan penekanan topik/disiplin ilmu yang juga beragam. Benang merahnya adalah spiritualitas. Supernova merupakan kisah petualangan spiritual dari tokoh-tokohnya.

Loncat ke Perahu Kertas. Bagaimana akhirnya menyetujui Perahu Kertas untuk dilayarlebarkan? Apa harapan Kak Dee terhadap versi layar lebarnya ini mengingat terkadang banyak film adaptasi yang tidak memuaskan fans yang sudah membaca bukunya?

Sejak menulis manuskrip Perahu Kertas thn 1996, saya selalu membayangkan cerita itu sebagai motion picture. Dulunya sih kebayangnya sebagai serial teve, tapi jadi film pun saya oke. Jadi, ketika dulu penerbit Bentang datang untuk menawarkan diri menerbitkan Perahu Kertas, Mizan Production yang merupakan sister company dari Bentang sudah juga langsung menawarkan format film. Tentu saya sambut baik, karena memang itu cita-cita saya sejak lama. Risiko fans tidak puas tentu ada, tapi ya sudah terima saja. Menurut saya, tidak akan mungkin memuaskan semua orang karena masing-masing pembaca akan memiliki "film" versi masing-masing di kepalanya, yang bahkan mungkin berbeda dengan saya. Yang penting selama proses pembuatan Perahu Kertas, saya coba untuk terlibat sebisa mungkin dalam penentuan hal-hal penting semisal skenario, casting, dsb. Sejauh ini tim produksi Perahu Kertas pun sangat kooperatif untuk diajak diskusi.

Tentang blog Blog Dee Idea di 
http://dee-idea.blogspot.com/ , bisa cerita tentang blognya? Lalu apa guna blog, fanpage dan twitter buat seorang penulis seperti Kak Dee? 

Blog saya sebetulnya sudah lama nggak aktif karena saya kepingin ganti konsep, cuma belum sempat fokus ke sana karena setahun lebih ini menulis dan riset untuk Supernova Partikel. Buat saya, blog lebih seperti wadah untuk memuat ide yang tidak tertampung di buku. Sementara Twitter dan fanpage gunanya lebih untuk berkomunikasi dengan pembaca, memberikan informasi, dsb.

Wednesday, December 10, 2014

Area Magz | Rubrik Hotseat | September, 2011

Alasan menghadirkan buku kumpulan cerita Madre? 

Untuk membuat kumpulan cerita, butuh waktu tahunan bagi saya mengumpulkannya, karena saya menulis cerpen itu biasanya insidental. Beda dengan novel. Sejak Filosofi Kopi dan Rectoverso rilis, saya sudah punya lagi "tumpukan" karya pendek dalam kurun waktu 2006-2011, yang setelah saya hitung-hitung, volumenya cukup untuk membuat kumpulan cerita. Jadilah Madre. 

Menyoal cerita Madre, ada latar belakang apa yang membuat Anda tertarik dengan roti? Ada riset khusus yang dilakukan? 

Beberapa tahun terakhir saya hobi memasak, juga baking. Ingin sekali menulis tentang dunia memasak. Ide baru muncul ketika saya ikut kursus bikin roti, di sana saya dapat informai tentang ragi instan vs adonan biang. Seketika saya tertarik. Dan setelah saya riset, ternyata memang ada dimensi cerita yang saya bisa gali dan kembangkan dari sana.   

Kopi sudah. Kini roti. Anda sedang tertarik dalam wacana kuliner? 

Sejak dulu, sih. Kuliner selalu jadi minat saya sejak kecil. Cuma memang baru intensif saya lakukan ketika sudah berumah tangga.   

Madre jadi buku kumpulan cerita ketiga selain Filosofi Kopi dan Rectoverso. Dari Anda sendiri, ada alasan tersendiri menghadirkan buku kumpulan cerita selain novel?   

Seperti jawaban nomor 1 di atas, secara insidental saya cukup sering membuat karya pendek, baik itu cerpen maupun prosa. Otomatis peluang untuk membuat kumpulan cerita jadi ada. Saya ini kan penulis, bukan cuma novelis, hehe, jadi berkaryanya bukan hanya dalam bentuk novel.  

Cerita yang beragam. Buku ini menjadi ajang luapan segala unek-unek Anda atas segala tema, mulai dari cinta, hubungan ibu dan janinnya, tuhan, dan lainnya. Sengaja untuk tidak mengkhususkan pada satu bahasan? Ada alasan menghadirkan sejumlah sajak dalam buku ini? 

Seperti yang saya jelaskan tadi, menulis cerpen/karya pendek lainnya bagi saya insidental, tema apa yang menginspirasi saya pada momen itu, ya itulah yang saya jadikan tulisan. Baik itu cerpen atau prosa (atau yang disebut di pertanyaan sebagai sajak). Jadi tentunya tidak ada frame work untuk menyambungkan semuanya dalam satu tema, karena proses penulisannya tidak seperti itu. 

Jujur saja, menurut saya, cerita yang Anda hadirkan sederhana. Tokoh yang diciptakan sederhana. Tapi kenapa Anda selalu berhasil membuat kejutan dan membikin penasaran. Menurut Anda sendiri apa kunci keberhasilan Anda? 

Sejujurnya, saya sendiri nggak tahu persis apa kuncinya. Saya selalu percaya tidak ada rumusan baku di balik keberhasilan sebuah buku. Rumus dasar saya dalam berkarya cuma satu: menulis buku yang ingin saya baca. Mungkin apa yang ingin saya baca atau temukan dalam sebuah buku ternyata juga menjadi pencarian bagi banyak orang. Mengenai "sederhana" tadi, bagi saya justru keindahan lebih banyak bisa kita dapatkan dari hal-hal yang sederhana. Jadi faktor kejutan atau penasaran bukan ditentukan oleh sederhana/tidak, tapi seberapa kuat cerita itu bisa mengikat pembaca. 

Harus diakui, keberhasilan buku satu menyulut tuntutan keberhasilan di buku-buku selanjutnya.  Pembaca setia selalu menanti kejutan dari Anda. Bagaimana Anda menyikapi situasi ini? Bagaimana menghadapi pembaca-pembaca Anda yang over-expectation? 

Saya dengarkan, kadang dijadikan pertimbangan, sekaligus evaluasi. Tapi saya nggak pernah menjadikan keinginan pembaca sebagai benchmark dalam berkarya. Seperti yang saya bilang tadi, pada dasarnya saya hanya ingin menulis buku yang ingin saya baca. Dalam posisi tersebut, saya menjadikan diri saya sebagai pembaca: apa yang ingin saya cari dari sebuah buku, metafora seperti apa yang bisa menyentuh saya, dsb, itulah yang saya terapkan dalam semua karya saya. 

Kenapa memilih menulis? 

Bagi saya yang utama adalah bercerita. Saya bercerita lewat tulisan dan lagu. Barangkali inti dari semua itu adalah dorongan untuk ingin berbagi. Menulis hanyalah saluran atau cara yang pas bagi saya.  

Dalam proses kreatif penulisan, utamanya berkenaan dengan tema ilmiah dan historis yang kerap Anda ungkap, riset menjadi proses terbesar dan terpenting yang melatari kelahiran buku-buku Anda. Apa yang biasanya Anda lakukan? Apa kendala yang dihadapi? 

Riset pustaka, wawancara, riset internet, dan apa pun yang bisa membantu saya menggali sebuah tema. Yang paling besar tentunya adalah riset pustaka alias baca buku. Kendala saat ini adalah waktu. Banyak yang saya perlu urus di rumah, terutama anak-anak, jadi harus lihai mencuri-curi waktu, dan realistis bikin target biar nggak terlalu ngoyo. 

Di balik semua perdebatan, berkat Supernova Anda didaulat sebagai pengusung sains fiction. Adakah gelar tersebut menjadi beban dalam proses penulisan Anda selanjutnya? 

Saya nggak pernah setuju dengan penyebutan Supernova sebagai science fiction. Genre science fiction yang saya tahu itu nggak seperti Supernova. Dalam science fiction ada realitas yang diolah dan dimanipulasi dengan sains, sementara di Supernova yang ada hanyalah tokoh yang kebetulan suka sains. Jadi sudah beda definisi sebetulnya. Tapi mungkin karena saat itu nggak ada lagi cerita lain yang ada unsur sains, jadi dengan ringannya Supernova dikategorikan sebagai science fiction.  

Menulis buku (cerita pendek atau panjang) sedianya memiliki tantangan. Anda sendiri, kala menulis novel atau cerita-cerita pendek, tantangan apa yang dihadapi? 

Dalam cerita pendek yang menjadi tantangan adalah plot, bagaimana kita bisa membuat grafik cerita yang bagus dan dinamis dalam ruang yang ketat. Begitu juga dalam membentuk karakter, dengan cepat kita harus membuat pembaca mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh utama. Kita punya waktu panjang untuk itu dalam novel, tapi dalam cerpen efisiensi harus kita perhitungkan dengan matang. 

Apa yang menjadi tolok ukur keberhasilan Anda dalam menulis? 

Pertama, jika saya puas dengan hasilnya, bisa terbawa suasana oleh ceritanya, dan bisa sejiwa dengan karakter-karakternya. Kedua, jika ada pembaca yang juga merasakan sama.

Apa proyek selanjutnya? Buku atau musik? 

Supernova 4 yang berjudul Partikel.  

Bagaimana dengan urusan tarik suara dan menulis lagu? Masih berhasrat menyalurkan talenta tersebut dalam album? 

Masih, tapi tidak sekarang. Saat ini saya ingin fokus dulu membesarkan anak-anak, apalagi yang bungsu belum genap dua tahun. Musik itu lebih demanding ketimbang menulis karena ada jadwal promo yang lebih padat serta melelahkan. Bagi saya hal itu nggak realistis untuk saya kejar saat ini.  

Banyak orang bisa menulis. Banyak yang bisa menerbitkan buku. Banyak juga yang sekadar one-hit-wonder lantas hilang. Bagaimana tanggapan Anda dengan penulis-penulis yang demikian? Faktor apa yang menjadi aral? 

Banyak faktor. Bisa jadi mentok di ide, bisa jadi tertarik pada karier lain sehingga nggak ada lagi waktu untuk menulis, bisa jadi juga persaingan dalam industri. Hal seperti itu selalu terjadi dalam berbagai industri. Ya menulis, ya musik. Seleksi alam selalu ada. Saya sih yang penting industrinya yang tetap maju dan sehat supaya bisa terus men-support penulis-penulis baru, memapankan penulis yang sudah established, dan terus mengembangkan pembaca. 

Selebritas, popularitas, musik, buku, keluarga, anak-anak, dan lain-lain. Masih ada impian yang ingin diraih? 

Kursus merangkai bunga. Dari dulu belum kesampaian.  

Menyoal teknologi komunikasi digital dan social media. Bagaimana perannya dalam mendukung kreatif Anda dan pemasaran karya Anda? 

Untuk pemasaran, promosi, dan interaksi dengan pembaca, social media sangat membantu, khususnya Twitter. Namun untuk proses kreatif, bisa jadi pedang bermata dua. Terkadang saya terbantu juga oleh masukan atau input dari pembaca seputar nama karakter, informasi, dsb. Tapi Twitter adalah distraksi besar jika sudah memasuki proses nulis. Walaupun sepertinya nggak signifikan, tapi media seperti Twitter itu menyedot atensi dan energi kita.


Antara News | Social Media | April, 2011

1. Seberapa sering anda menggunakan jejaring sosial dan media online? Apa saja yang digunakan? Alasannya? 

Saya menggunakannya secara harian. Yang sejauh ini aktif sih Twitter, kalau FB hanya sesekali saja. Di FB ada personal page dan fan page juga. 

2. Menurut anda bagaimana perkembangan penggunaan jejaring sosial dan media online di Indonesia? Bagaimana hal itu mempengaruhi komunikasi sehari-hari? 

Sejauh yang saya amati dan juga rasakan, bagi saya pengaruh sekaligus perkembangan jejaring sosial ini sangat luar biasa. Bukan hanya memultiplikasi sebuah isu dengan cepat, tapi juga mulai mempengaruhi cara interaksi banyak orang. 

3. Anda bisa memprediksi trend industri media ke depannya? Bagaimana nasib surat kabar dan majalah cetak di tengah "geliat" media-media online dewasa ini? 

Hal itu bukan keahlian saya. Yang jelas, saya memang sudah lama nggak baca/langganan koran & majalah cetak. Hampir semua informasi dan berita, saya peroleh dari online dan Twitter. 

4. Terkait munculnya trend baru mengunggah video di Youtube, seperti aksi lipsync Sinta-Jojo, penyanyi Audrey Tapiheru dan Gamaliel, Bona Paputungan, dan yang terakhir Briptu Norman, yang kemudian menjadi terkenal dengan cepat, ada komentar khusus soal hal tersebut? 

Karena sekarang sudah ada "kendaraan komunikasi baru" yakni internet, dan juga memaraknya penggunaan jejaring sosial, apa pun bisa terekspos dengan intens dalam waktu yang sangat cepat. Apa pun itu. Entah video, pemikiran, foto, isu, dsb. Menurut saya, fenomenanya sih ya biasa dan wajar, dan pasti akan selalu sesuai dengan selera masyarakat pada saat ini, "kendaraan"-nyalah yang luar biasa. Wajar kalau internet disebut "information superhighway". Otomatis, apapun yang dilaluinya, mau itu video Keong Racun atau Briptu Norman, punya potensi terekspos secara super juga. 

5. Menurut anda bagaimana peran media (terutama televisi) dalam mempublikasikan hal-hal unik di atas? Cenderung berlebihan atau sudah sesuai dengan kapasitasnya?

Kayaknya kalau bukan berlebihan, ya itu bukan media, hehe. Saya rasa media hanya menjalankan perannya yang memang seperti itu. Fungsi media kan mengamplifikasi. Dan biasanya satu objek akan diperah dan diamplifikasi habis-habisan dulu sebelum beralih ke isu lain. Jadi buat saya, reaksi media lebih tepatnya adalah "predictable" ketimbang "berlebihan".