Showing posts with label Bermusik dan Proses Kreatif. Show all posts
Showing posts with label Bermusik dan Proses Kreatif. Show all posts

Friday, May 12, 2017

UPH Conservatory of Music - Skripsi | Menulis Lagu | Januari, 2017 | Novia Arifin


Apakah latar belakang Dewi Lestari sehingga dapat berkarya tidak hanya sebagai penulis namun juga sebagai pencipta lagu?

Dorongan ataupun ketertarikan mencipta lagu sudah saya rasakan sejak kecil. Seingat saya, saya pertama kali coba-coba bikin lagu sejak kelas 2 SD, tapi tentunya belum terstruktur dengan baik. Baru kelas 5 SD saya mencoba lebih serius dan berhasil membuat dua lagu pada saat itu. Sehabis itu, terus coba-coba di bangku SMP. Namun, baru saat kuliah saya mulai lebih serius lagi. Lagu pertama saya yang masuk dapur rekaman adalah Satu Bintang di Langit Kelam, saya tulis tahun 1994, dan masuk ke album perdana Rida Sita Dewi tahun 1995. Saya menulis juga sejak kecil, sejak SD. Kelas 5 SD pertama mencoba bikin novel, dan terus coba-coba. Jadi, sejarahnya kurang lebih sama dan berjalan paralel. Intinya, passion saya adalah story-telling. Fiksi atau lagu, hanya perkara mediumnya saja.

Bagaimana pengalaman Dewi Lestari saat membuat karya musik pertama/lagu pertama? Urgensi/inspirasi apa yang dirasakan? Kronologi pembuatannya seperti apa?

Bagi saya, proses bikin lagu itu selalu “balap-balapan” antara melodi dan lirik. Terkadang lirik membuka pemicu untuk melodi baru, terkadang melodi yang memicu lirik. Jadi, datangnya silih berganti. Baru setelah rampung, saya punya kesempatan untuk mengedit lirik agar lebih rapi dan sempurna. Inspirasinya biasanya datang dari merasakan sebuah emosi. Bisa dari pengalaman pribadi, maupun pengalaman orang lain. Tapi, saya selalu melihat frame sebuah cerita untuk bisa dijadikan lagu. Jadi, tetap ada unsur story-telling.

Bagaimanakah proses kronologi pembuatan lagu yang sering dilakukan atau sudah menjadi kebiasaan bagi Dewi Lestari?

Mirip dengan jawaban di atas. Biasanya, muncul potongan sedikit melodi, lalu beberapa kata untuk lirik. Kemudian, saya lanjutkan di piano. Proses merampungkannya jarang sekali jadi. Biasanya, bisa makan waktu beberapa hari. Bahkan beberapa minggu. Jadi, saya bolak-balik mengunjungi draf lagu, hingga rampung. Baru, saya edit ulang lirik agar rapi; efisien dalam penggunaan kata, enak dinyanyikan, ceritanya lebih runut.

Apakah inspirasi yang biasanya memicu Dewi Lestari sebelum membuat sebuah lagu?

Emosi, yang kemudian saya kembangkan menjadi cerita.

Bagaimana proses pembuatan lirik yang diterapkan dalam pembuatan lagu bagi Dewi Lestari?

Mirip dengan jawaban-jawaban di atas. Kalau sudah ada bingkai cerita maka biasanya lebih mudah. Sama dengan prinsip bercerita, awal itu biasanya set-up, di bait kedua sudah ada “persoalan” lagu, dan biasanya pesan utamanya muncul di reffrain.

Dalam pembuatan lirik adakah teori yang dipakai khususnya teori dalam ilmu sastra? Misalnya semantic atau rima, apakah rima penting untuk membuat lirik?

Tidak berdasarkan teori tertentu. Lebih banyak feeling. Rima biasanya saya terapkan karena bagi kuping saya lirik yang punya rima lebih enak didengar.

Apakah keberadaan teori sangat berperan dalam pembuatan lagu secara keseluruhan atau tidak sama sekali?

Karena saya otodidak, saya tidak menjalankan teori tertentu. Belakangan baru saya baca-baca buku tentang songwriting, dan ternyata sebagian besar sudah saya terapkan tanpa disadari. Misalnya, tentang prosody, yakni kesesuaian melodi dan lirik. Bagi saya, prosody sangat penting. Dan, itu terasa ketika saya mendengar lagu yang menurut saya baik. Dan juga terasa ketika saya mendengar lagu yang prosody-nya nggak pas, contohnya lagu dengan melodi cerah tapi diberi lirik yang sendu. Jadi, nggak terasa “kawin”.

Manakah yang lebih didahulukan dalam membuat lagu, lirik atau melodi lagu?

Sama seperti jawaban no 2.

Jika lirik dibuat terlebih dahulu, adakah pemberlakuan/treatment yang sering digunakan saat membuat melodi berdasarkan lirik yang ada?

Saya tidak pernah membuat lagu (melodi) dengan lirik yang sudah rampung terlebih dahulu. Selalu overlapping.

Jika melodi dibuat terlebih dahulu, adakah pemberlakuan yang sering digunakan saat membuat lirik?

Sama dengan jawaban no 9.

Lirik yang menyesuaikan melodi atau melodi yang menyesuaikan lirik? Manakah yang biasanya ‘dikorbankan’?

Keduanya saling menyesuaikan.

Apakah lirik dan melodi memiliki posisi yang sederajat atau ada yang lebih penting diantara keduanya?

Bagi saya sama penting. Lirik indah tapi melodi tidak menggugah sama lemahnya dengan melodi indah tapi lirik tidak menggugah.

Hal apakah yang paling penting dalam sebuah lagu sehingga lagu dapat dikatakan matang?

Strukturnya rapi, jelas. Baik dari segi melodi, bagan lagu, hingga cerita/konten lagu.

Apakah makna lirik berhubungan dengan pergerakan melodi dalam lagu?

Itu yang tadi saya sebut dengan prosody. Salah satu lagu dengan prosody terbaik konon adalah I Don’t Have The Heart (James Ingram). Bisa dipelajari bagaimana ketika melodi dan lirik sudah “kawin” atau terintegrasi, maka yang terjadi adalah cerita. Tidak lagi bisa kita pisahkan melodi dan liriknya. Keduanya saling memberi penekanan yang tepat hingga baik melodi dan lirik sama-sama kuat bagi pendengar.

Apa pendapat Dewi Lestari tentang lagu yang memiliki makna lirik yang buruk/negatif? (Contohnya: Yura – Cinta dan Rahasia dll.)

Saya punya definisi berbeda tentang makna lirik yang negatif. Bagi saya, lirik yang sampai taraf negatif itu kalau sudah sampai ke taraf menghasut ke tindakan kriminal seperti membunuh, dsb. Namun, apa yang diungkap dalam contoh lagu yang kamu berikan, saya rasa masih sangat realistis dan banyak dialami oleh orang-orang. Jadi, saya merasa netral-netral saja dengan lagu tsb.

Apakah cerita lagu diutamakan dalam pembuatan lagu?

Bagi saya, iya.

Apakah ada pemberlakuan yang berbeda antara verse, pre chorus maupun chorus dalam hal lirik maupun melodi?

Saya belum terlalu jelas dengan makna “pemberlakuan” dalam konteks pertanyaan di atas. Tapi tentu saja karakteristik verse, pre-chorus, dan chorus berbeda. Verse sifatnya membuka, pre-chorus sebagai jembatan, dan chorus biasanya punya kekuatan ekstra, nadanya lebih klimaks. Secara lirik, bergantung pendekatan penulis lagunya seperti apa. Kalau saya, prinsipnya seperti story-telling. Ada set-up, ada masalah, ada penyelesaian/kesimpulan.

Apakah pencipta lagu terbiasa mengerjakan lagu secara individual atau lebih menyukai bekerja sama dengan musisi lainnya? Jika bekerja sama dengan musisi, bagaimanakah prosesnya? Dan apakah sulit karena tentu saja memiliki perbedaan selera dan pendapat.

Hal tersebut sifatnya individual. Jawaban saya tentu tidak bisa mewakili penulis lagu lain. Kalau saya sejauh ini selalu bekerja sendiri.

Apa latar belakang dari lagu Firasat yang dibuat oleh Dewi Lestari?

Banyak lagu saya yang tidak punya “latar belakang” atau “misi”, lebih ke lahir begitu saja. Firasat, adalah salah satunya. Yang saya ingat, waktu itu saya diminta bikin lagu untuk album Marcell. Dan, karena suara Marcell cenderung lebih R&B, saya kemudian membayangkan melodi yang kira-kira cocok dilantunkan Boyz II Men, dan lalu muncullah potongan melodi di reffrain Firasat, yang tak lama kemudian saya pasangkan dengan kata-kata “Cepat pulang”. Setelah itu mulai terbingkai sebuah cerita yang lebih lengkap.

Adakah interaksi yang terjadi antara lirik dengan melodi dari lagu Firasat? Jika ada, seperti apakah interaksi tersebut?

Sama seperti jawaban sebelum-sebelumnya. Karena saya menciptakan lagu secara overlapping, keterkaitan antara melodi dan lirik otomatis jadi sangat kuat karena saling mendorong terciptanya satu sama lain. Begitu juga dengan Firasat.

Bagaimanakah kronologi pembuatan lagu Firasat?

Sama seperti jawaban no 19. Sekadar tambahan, Firasat adalah lagu yang sepenuhnya saya ciptakan di “kepala”, tanpa bantuan alat musik. Karena saya bikinnya waktu itu di luar kota. Baru ketika saya pulang ke rumah, saya coba mainkan di piano untuk tahu chord-nya.

Lebih penting mana, membuat lagu untuk disukai orang yang mendengar atau membuat lagu agar orang mengetahui pesan lagu tersebut, suka atau tidak suka?

Pada prinsipnya, saya hanya menulis lagu yang ingin saya dengar. Artinya, patokannya adalah saya sendiri. Saya harus suka duluan sama lagunya. Orang lain suka, saya anggap bonus. Tapi, saya tidak pernah bikin lagu yang saya sendiri nggak suka.

Menurut pendapat Dewi Lestari, apa perbedaan musik instrumental dengan musik ber-lirik? Apakah ada yang lebih bermanfaat/bagus/komunikatif?

Saya rasa musik instrumental lebih mengedepankan pada penekanan pada instrumen tertentu atau sebuah aransemen/komposisi multi-instrumen. Sama halnya dengan musik yang berlirik, keduanya tentu punya cerita yang ingin dikomunikasikan. Hanya saja pada musik instrumental, cerita itu tidak disampaikan secara verbal. Jadi, bukan soal lebih bagus atau tidak. Kembali kepada tujuan maupun preferensi kreatornya. Yang jelas, biasanya musik instrumental punya interval melodi yang lebih luas dan kompleks karena tidak perlu memperhitungkan rentang maupun kenyamanan vokal sebagai salah satu instrumen. Sementara musik yang berlirik biasanya memperhitungkan kecocokan dan kenyamanan vokalis untuk membawakan lagu.

Sriwijaya Air Magz | Inspiring People | April, 2016 | K. Ayu Budiani


Dee terkenal piawai menggunakan bahasa-bahasa puitis dalam membuat lirik lagu. Jika ditanya, Dee merasa tipe orang romantis atau bukan?

Lumayan. Namun, khusus dalam kepenulisan, saya bisa karena terbiasa. Dalam menulis, saya harus menempatkan diri saya dalam konteks cerita, meresapi emosi yang terjadi, sehingga bisa mengomunikasikan emosi tersebut dalam kata-kata yang saya susun.

Siapa musisi favorit? Kenapa?

Saya cenderung menyukai mereka yang singer-songwriter, karena biasanya lagu-lagu mereka sangat mengena. Saya menyukai Sarah McLachlan, Sara Bareilles, Emily Saliers dari Indigo Girls.

Dari mana biasanya mendapat inspirasi lagu?

Tidak tentu. Buat saya selama ini proses bikin lagu itu seperti tersambar petir. Kalau terjadi, terjadilah. Saya tidak sengaja mencari-cari.

Sebagai penulis lagu, bagaimana menyelaraskan antara lagu dengan orang yang menyanyikan?

Patokan saya bukan kepada yang menyanyikan, karena saya tidak tahu pasti siapa yang akan menyanyikan lagu saya. Saya lebih memperhatikan aspek prosodi, yakni kesesuaian melodi dengan lirik. Prosodi itu butuh kepekaan. Tapi, jika kita sudah bisa mengamati itu dengan jeli, kita bisa tahu bahwa frase melodi tertentu cocok dengan bunyi vokal tertentu. Kemudian, frase melodi tersebut akan membentuk suasana tertentu yang cocok dengan tema tertentu. Ketika ada lagu yang prosodinya nggak enak atau nggak pas, saya bisa merasa dan terganggu. Misalnya, ada frase melodi cerita tapi diisi dengan lirik yang sedih dan sebaliknya. Atau ketika ada pemotongan suku kata yang tidak pas dengan napas melodi. Atau ketika ada kata yang artikulasi hurufnya menyulitkan ketika dinyanyikan. Hal-hal seperti itu yang saya perhatikan.

Seorang penulis harus banyak membaca. Seberapa seringkah Dee membaca buku?

Kalau sedang riset, bisa sangat banyak. Terus terang, belakangan saya kesulitan punya waktu luang untuk membaca. Kalau memang niat banget, saya sampai harus mencantumkan membaca dalam to-do-list.

Siapa penulis favorit dan apa judul buku favorit? Kenapa?

Tidak ada satu penulis fiksi yang saya ikuti terus dengan setia, mungkin karena saya bukan pembaca fiksi yang sabar. Tapi, ada beberapa penulis nonfiksi yang saya ikuti terus karena saya suka topiknya, seperti Graham Hancock.

Dee adalah seorang ibu dari dua anak, bagaimana membagi waktu dengan keluarga namun bisa tetap berkomitmen menulis?

Dengan mengaturnya dalam jadwal kerja. Ketika saya sudah memilih satu proyek kreatif, saya langsung membuat deadline, menyusun jadwal harian, dan dalam perhitungan tersebut saya sudah memilah waktu saya kerja dan waktu saya buat keluarga dan hal lainnya. Ketika komitmen itu dimulai, saya menyebut fase tersebut “fase masuk gua”. Biasanya, selama fase masuk gua berlangsung, saya membatasi seminim mungkin kegiatan saya di luar rumah, jadi saya masih punya waktu untuk keluarga. Karena dengan hanya menulis saja sudah begitu banyak jam yang saya dedikasikan untuk bekerja, kalau saya masih mengambil lagi komitmen-komitmen pekerjaan lain, bisa-bisa saya tidak punya waktu lagi untuk rumah dan keluarga. Jadi, memang harus ada yang dikorbankan.

Semua buku Dee yang diterbitkan sudah difilmkan. Sejauh mana keterlibatan Dee dari semua film-film adaptasi buku Dee tersebut?

Beda-beda bergantung kesepakatan saya dengan pihak produser dan juga kesanggupan saya. Karena meski produsernya kepingin saya terlibat, kalau saya sedang ada fase menulis, saya pasti akan mengutamakan buku saya. Mengapa? Karena pertama, film bukan pekerjaan inti saya. Kedua, dalam film, posisi saya masih bisa digantikan atau malah ditiadakan, karena bagaimana pun produser mengadaptasi karya saya, yang artinya mereka punya kebebasan untuk melakukan interpretasi ulang. Sementara tidak ada lagi yang bisa menuliskan buku saya selain saya sendiri.

Bagaimana Dee memandang sebuah film yang diadaptasi dari buku?

Film yang diadaptasi dari buku adalah hal biasa. Film-film pertama di dunia pun diambil dari adaptasi buku. Jadi, ini adalah praktik yang lazim. Film yang diadaptasi dari buku biasanya menjadi polemik di antara pembaca setia, ada yang suka dan tidak. Namun, menurut saya, semua film juga biasanya begitu. Akan ada yang suka dan tidak. Pada akhirnya, sebuah produksi film tugas utamanya adalah menghadirkan film yang sebaik mungkin. Terlepas itu diadaptasi dari buku atau bukan.

Piawai dalam menulis karya fiksi, lalu menulis skenario pertama kali untuk Perahu Kertas. Apakah mengalami kesulitan untuk menulis skenario? Jika iya, bagaimana mengatasi kesulitannya?

Skenario adalah hal yang sama sekali berbeda dengan penulisan novel. Pakemnya, pendekatannya, eksekusinya, semuanya beda. Jadi, untuk menulis skenario saya harus belajar ulang dari nol. Saya baca lagi teori-teori menulis skenario, diskusi dengan beberapa penulis skenario, dsb.

Jika disuruh untuk memilih, bermusik atau menulis? Kenapa?

Tidak bisa memilih. Keduanya sudah inheren ada di dalam diri saya. Bagi saya, musik dan menulis hakikatnya satu: story telling.

Ide gila apa yang ingin dituangkan di dalam tema cerita di buku?

Pendekatan saya kepada buku tidak seperti itu. Saya tidak menulis semata-mata karena punya “ide gila”. Saya menulis karena ingin menciptakan cerita yang baik. Dan, untuk itu tidak selalu dibutuhkan ide yang gila, ide yang biasa-biasa pun jadi, selama dikerjakan dengan baik hasilnya bisa jadi luar biasa.
 
Pernah punya keinginan untuk menulis skenario orisinal untuk film? Film genre apa?

Saat ini belum.

Banyak sekali anak-anak muda yang bercita-cita menjadi penulis dan karyanya dipajang di toko buku. Sama seperti impian Dee. Namun tak sedikit pula yang mengalami penolakan. Bisa berbagi sedikit untuk mereka bagaimana supaya tidak patah semangat?

Penolakan adalah hal yang akan dilalui semua penulis, skalanya beda-beda. Mungkin yang satu ditolak penerbit, yang satu lagi ditolak media, yang lain mungkin dikritik teman-teman yang akhirnya terasa seperti “penolakan”. Intinya, tidak semua orang akan menyukai karya kita. Penulis pemula mengalami itu, penulis profesional pun masih akan terus mengalami itu. Ketika saya mengalami hal tersebut, saya menggunakannya sebagai momen refleksi. Biasanya, kita akan temukan beberapa hal yang perlu kita perbaiki dari karya kita. Momen seperti itu juga menjadi pengingat bagi saya: untuk siapakah saya menulis? Saya tidak menulis untuk memuaskan orang lain. Saya menulis untuk kepuasan diri saya sendiri. Kalau ada orang yang suka, saya anggap bonus. Jadi, selalu kembalikan niat kita ke bentuknya yang paling dasar. Saya menulis buku yang saya ingin baca. Itu saja.

Sukses menerbitkan Supernova seri terakhir di awal tahun 2016. Target dan impian apa lagi yang belum tercapai?

Saya tidak melihatnya lagi seperti itu. Saya memandang menulis adalah proses kontinu. Sama halnya seperti petani menghadapi musim. Habis Supernova 6 akan datang buku berikutnya, dan seterusnya.  

Kapan menerbitkan buku lagi?

Sekarang ini saya break dulu. Masa rihat bagi saya sama pentingnya dengan masa bekerja. Saya ingin mengambil napas panjang sebelum mulai sesuatu yang baru. Mungkin saya baru akan menyusun proyek kreatif berikutnya di akhir tahun. We’ll see.

Wednesday, February 17, 2016

Majalah TEMPO | Musik & Memori '90-an | November, 2015 | by Aisha Shaidra

Sebagai salah satu musisi yang terkenal di era 90-an adakah musisi di era yang sama yang jadi idola Dee Lestari? Siapa dan kenapa?

Banyak. Pada umumnya saya menyukai para penulis/pencipta lagu (singer-songwriter) seperti Sarah McLachlan dan Paula Cole. Untuk band saya menyukai Tears For Fears (walaupun mereka lebih 80’s ketimbang 90’s). Dan, secara umum saya menyukai musik-musik 90’s seperti Pearl Jam, Blind Melon, Crowded House, dsb. Untuk musik Indonesia tahun segitu saya senang juga Sheila On 7, Padi, Tic Band, Jikustik.

Banyak lagu yang diciptakan Dee untuk RSD, jika bisa kembali ke era 90-an adakah lirik lagu yang ingin diubah dari lirik atau segi musiknya? Kenapa?

Nggak, sih. Saya rasa, baik lirik maupun musik, memang akan selalu mencirikan sebuah zaman. Kalau diubah malah bisa jadi berubah nuansa waktunya. Kecuali kalau konteksnya re-make untuk dibuat lebih dekat ke zaman sekarang. Tapi kalau konteksnya “menyesal”, andaikan dulu dibikin begitu dan begini, nggak ada perasaan seperti itu, sih.

Banyak orang dewasa saat ini mengelu-elukan banyaknya tontonan menarik pada masa kecil mereka dibandingkan dengan tontonan saat ini, bagi Dee sendiri tontonan di era 90-an apa yang saat itu paling menarik dan berkesan? Kenapa?

Saya bukan penonton televisi. Tapi, yang saya ingat, tahun 90’an adalah masa kejayaan MTV Indonesia. Selain itu, sitkom Friends juga sangat terkenal. Saya juga ingat beberapa sinetron di Indosiar pada awal mereka berdiri itu bagus-bagus, seperti Abad 21, Kipas-Kipas Asmara, dll.

Pertanyaan serupa berlaku juga untuk beragam jenis permainan dan jajanan, jenis permainan dan jajanan apa yang di era 90-an banyak dimainkan dan sangat berkesan buat Dee?

Tahun ‘93 saya sudah kuliah, jadi nggak terlalu lagi melakukan permainan kanak-kanak dan jajan. Tapi, yang saya ingat sih, saya main PS dan sering ke warnet untuk browsing karena waktu itu belum punya koneksi internet sendiri. Jajanan rasanya nggak ada yang terlalu spesifik, tapi saya ingat itu adalah awal-awalnya kuliner di Bandung mulai terkenal ke Jakarta. Banyak yang datang untuk memborong pisang molen, batagor, dan variasi serabi mulai macam-macam, bukan cuma oncom dan gula merah.

Barang seperti apa yang pada era tersebut menurut Dee sangat keren (barang di sini misalnya mainan, atau benda-benda pakai yang hits pada saat itu)? Kenapa?

Sepatu Doctor Marten. Keren, karena memang keren, sih. Sampai sekarang juga model sepatu Docmart tetap tidak lekang oleh zaman, dan kualitasnya memang bagus. Juga jins Levi’s 501 yang pakai kancing (bukan ritsleting). Bagi saya, model jins seperti itu lebih manusiawi ketimbang model skinny jeans zaman sekarang yang mencekik kaki.

Kalau misalnya Dee diberi kesempatan untuk menjadi salah satu tokoh kartun anak yang terkenal di tahun 90-an Dee pilih menjadi siapa? Kenapa?

Saya nggak ingat tokoh kartun terkenal tahun ’90-an. Seingatku, Doraemon. Tapi sampai sekarang Doraemon tetap beken. Saya nggak pengin jadi Doraemon, tapi mau kalau punya teman kayak Doraemon

Seantusias apa Dee menyiapkan diri untuk berpartisipasi dan menyambut konser 90-an (The 90's Festival di Istora Senayan)?

Buat saya sih, dibawa santai saja. Tidak terlalu tegang juga, karena toh, sebetulnya orang datang kebanyakan untuk nostalgia. Kami nyanyi juga bukan untuk lagi mengejar ambisi tertentu atau ingin eksis, tapi karena untuk bersenang-senang.

Tuesday, December 16, 2014

For Men | Profil | Februari, 2013 | by Hendra Suhendra


Sepertinya Anda melek IT juga. Untuk saat ini seberapa penting teknologi informasi bagi Anda? 

Haha, itu hanya “tipuan brosur”. Mungkin kesannya aja saya melek IT, tapi sebenarnya biasa-biasa aja. Yah, sampai batas tertentu saya punya ketertarikan dan kebutuhan, tapi saya bukan pengulik IT. Batas saya hanya sampai level praktis aja. Kalau soal hp, misalnya, saya biasa pakai satu handset sampai jelek banget dan nggak ganti-ganti (bahkan pernah ada hp saya yang tergilas mobil dan tetap saya pakai). Baru tahun lalu saya beli Blackberry. Laptop saya IBook Macintosh edisi lama, dan masih saya pakai sampai sekarang. Penggunaan internet juga sebatas yang saya butuhkan aja. Terus terang, untuk masalah IT, sekarang ini saya dibantuin Reza juga. Dia lebih ngulik daripada saya. 

Anda juga memiliki blog dan menulis di sana. Apa arti sebuah blog bagi seorang Dewi Lestari? 

Saya mulai nge-blog tahun 2006. Awalnya hanya untuk memuat tulisan-tulisan yang belum tertampung di buku. Ada banyak artikel yang saya tulis, sebagian sudah dimuat di majalah, sebagian lagi belum terpublikasi, dan saya bisa tampung itu semua di blog. Baru tahun 2007 saya lebih intens menulis di blog, traffic di blog saya juga meningkat pesat. Bahkan sekarang saya bisa mengatakan bahwa blog adalah media komunikasi utama saya dengan pembaca. Saya sih kepingin bikin website sendiri, domain sudah ada, tapi konsep website-nya masih mencari yang paling pas. 

Lagu terbaru Anda, Malaikat Juga Tahu, memiliki spirit yang khas dan berbeda. Bagaimana proses terciptanya? 

Pada dasarnya kalau bikin lagu saya lebih sering pakai sistem ‘wangsit’, jadi inspirasinya datang gitu aja, kayak wangsit. Makanya susah banget terima order bikinin lagu. Wong saya sendiri nggak pernah tahu kapan inspirasi itu muncul. Dan lagu Malaikat Juga Tahu (MJT) adalah salah satu contoh yang sempurna untuk kondisi tsb. Lagu itu tercipta begitu saja, hampir tanpa usaha berarti. Benar-benar seperti kesambar petir. Saya lagi di kamar mandi, sikat gigi, lalu melodi reff-nya MJT tahu-tahu muncul. Saya langsung rekam di HP. Lalu, saya tergelitik memakai kata “malaikat” dan “juara”, dan jadilah lirik reff-nya MJT. Sisanya saya ikut arus lagu itu sendiri aja. Dalam mencipta saya merasa lebih sering “digiring” daripada “menggiring”. 

Pesan apa yang ingin Anda sampaikan lewat lagu Malaikat Juga Tahu? 

Yah, sesuai liriknya saja. Saya nggak punya pesan pribadi apa-apa. Cerita dalam lirik MJT cukup umum, banyak orang mengalaminya. 

Apakah lagu tersebut berhubungan dengan seseorang? Tentang siapa? 

Nggak ada. Banyak yang nyangka saya curhat pribadi lewat MJT, padahal sama sekali tidak. Kalau dalam fiksinya, saya memang mengangkat sepenggal kisah dari kehidupan seorang teman dan keluarganya. 

Sebenarnya, bagaimana proses kreatif Anda dalam menciptakan lagu? Apakah bisa berdasarkan pesanan seseorang? 

Lihat jawaban no 3. 

Grup musik atau band sebelum bubar biasanya melakukan pergantian personil, tapi Trio RSD langsung bubar. Kenapa? 

Memang itulah keputusan kami saat itu. Saat saya memutuskan keluar, Rida & Sita pun memutuskan untuk tidak mencari pengganti, jadi mending grupnya pensiun aja sekalian. Yah, kami dibatasi oleh faktor nama juga sih, karena kan kalau mau tetap “Rida, Sita, Dewi” berarti nama personilnya harus sama terus. Sebetulnya kalau saya yang keluar kans cari pengganti cukup besar, berhubung nama “Dewi” sangat pasaran, hehe. Kalau “Rida” atau “Sita” pasti lebih susah. 

Sepertinya Anda sudah menikmati sebagai solois. Ada rencana untuk membuat album atau konser Trio RSD Reunion? Kalau ada, kapan? Kalau tidak, kenapa? 

Bikin album nggak gampang. Butuh persiapan yang panjang dan matang. Terus terang, kalau untuk bikin album lagi kami belum kepikiran. Tapi untuk konser atau nyanyi bareng sih ayo-ayo aja, kalau memang jadwal dan konsepnya pas. Sebetulnya kalau konser reuni sudah kita jalankan. Tahun 2007 akhir kita konser ke 12 kota di Jawa Barat. Untuk ke depannya masih belum tahu. Rida sekarang lagi mau meluncurkan album solo, jadi pasti dia lagi konsentrasi dulu ke albumnya. Sita juga punya rencana sama. Untuk RSD, kami sih cenderung santai dan nggak ngoyo. Kalau ada tawaran nyanyi ya nyanyi, kalo enggak ya nggak pa-pa.  

Anda sukses sebagai penyanyi dan penulis. Boleh jadi ada pekerjaan atau profesi yang menantang tapi Anda tidak ingin menekuninya. Seperti apa misalnya? 

Saya punya hobi masak, traveling, dan merangkai bunga. Nggak tahu apakah akan jadi profesi atau enggak.

Dalam sebuah wawancara Anda mengatakan ingin meluncurkan novel digital dalam bentuk cetak. Bisa diceritakan? 

Novel digital saya berjudul Perahu Kertas, tahun lalu (2008) diluncurkan oleh XL, dan tahun ini (2009) akan diluncurkan lewat Indosat. Novel digital sendiri adalah novel yang bisa di-download dan dibaca lewat hp, jadi sementara ini yang bisa baca adalah pengguna hp dari perusahaan telekomunikasi yang bersangkutan. Tadinya saya mau meluncurkan versi cetak Perahu Kertas akhir 2008, tapi bertabrakan jadwal rilisnya dengan Rectoverso. Saya cenderung untuk tidak mengeluarkan dua produk dalam waktu berdekatan, karena ribet menjalankan promonya. Jadi Perahu Kertas terpaksa ditunda sampai pertengahan tahun 2009. 

Beberapa tahun lalu Andrei Aksana pernah meluncurkan novel disertai soundtrack, judul Lelaki Terindah, meskipun (album) soundtrack-nya tidak dikemas secara khusus. Pendapat Anda? 

Saya kurang jelas maksud pertanyaan ini. “Pendapat saya?” Yah, baik-baik saja.  

Sepertinya, karya-karya Anda cenderung berbau supranatural. Apakah ini menjadi trade-mark seorang Dewi Lestari? 

Kita perlu definisikan dulu arti “supranatural”. Buat saya “supranatural” itu berkonotasi mistis dan cenderung klenik. Benarkah ini yang dimaksud? Karena saya tidak punya niatan demikian. Jika yang dimaksud adalah “spiritual”, berarti jawabannya adalah iya. Dan yang saya maksudkan “spiritual” di sini adalah dorongan alamiah dalam setiap manusia untuk mengenal diri sejatinya. Sejujurnya, saya nggak pernah dengan sengaja ingin menjadikannya sebagai label atau trade mark. Tapi memang motor penggerak saya terbesar dalam berkarya adalah spiritualitas, karena itulah minat saya yang paling utama. 

Adakah keinginan untuk menciptakan sebuah karya dengan tema tertentu, namun Anda khawatir akan mengalami pencekalan? 

Sejauh ini belum ada, baik yang dimaksud sebagai ‘tema tertentu’ maupun kekhawatiran akan pencekalan.  

Tema-tema apa saja yang menarik untuk Anda tulis menjadi novel atau cerita? 

Seperti yang dijelaskan di atas, kecenderungan saya adalah menulis tema tentang pencarian jati diri. Tapi nggak 100% itu melulu juga, saya pun senang mengungkap cerita hati: baik itu jatuh cinta, patah hati, berharap, dsb. 

Dari banyak peristiwa yang terjadi secara global, momen apa yang paling menyita perhatian Anda? 

Sekarang ini? Masalah lingkungan hidup. 

Kalau tidak salah, novel-novel Anda belum pernah difilmkan? Apakah Anda tertarik untuk memfilmkan? Atau jangan-jangan sudah ada yang meminta? 

Memang buku saya belum pernah difilmkan. Dulu, waktu Supernova baru keluar, banyak pihak yang menawarkan, tapi saya belum punya kesiapan untuk itu. Karena kalau bikin film, pastinya saya ingin terlibat cukup intens, dan sejauh ini, secara waktu dan kesempatan saya belum punya ruang untuk itu. Kalau soal tertarik sih tertarik, tapi bukan jadi tujuan utama saya. Bagi saya, difilmkan atau tawaran difilmkan hanyalah bonus sampingan, yang kalau bisa jalan ya syukur, enggak juga nggak apa-apa. 

Seandainya difilmkan, seberapa besar Anda ingin terlibat didalamnya? Karena cukup banyak novelis yang mengaku kurang puas atas hasil adaptasinya ke dalam film. 

Setidaknya supervisi skenario, karena skenario bagi saya adalah nyawa film. 

Saat masih bersama Marcell, sepertinya perkawinan Anda ideal sekali. Akan tetapi perceraian terjadi juga. Menurut Anda, seperti apa sebuah perkawinan yang ideal? 

Saya nggak pernah punya konsep ideal tentang pernikahan. Dan jika dikatakan “sepertinya perkawinan Anda ideal sekali” tentunya itu adalah penilaian terbatas dari pihak luar, yang menurut saya sah-sah saja, tapi belum tentu punya derajat kebenaran apa pun. Perkawinan bagi saya hanyalah bungkus luar yang nggak perlu dibubuhi idealisme apa-apa karena hanya akan bikin stres dan tidak natural. Yang lebih penting adalah relationship-nya. Bungkus bisa apa saja. Bagi saya, relationship yang sehat adalah relationship yang berbasiskan kejujuran dan kekinian (tidak terpaku pada masa lalu dan tidak berorientasi ke masa depan). Dan itu tidak berarti sebuah relationship akan lekang seumur hidup atau bahagia terus menerus. Jadi, bagi saya konsep ideal tidak berlaku. Yang lebih penting dan nyata adalah hubungan yang natural, bukan yang ideal.

Friday, April 3, 2009

JEUNE | Feature / Profile | Feb, 2009 | By Che Cupumanik

Dee's Note:Inilah kali pertama saya 'dikeroyok' oleh 16 penanya sekaligus dalam satu wawancara. 16 orang dengan karakter dan latar belakang berbeda-beda hingga otomatis pertanyaannya pun sangat bervariasi dan cenderung tidak tertebak. I hope you enjoy this unique interview as much as I did :)


Q&A with CHE - Chief Editor JEUNE:


1. Setelah melewati proses waktu dan perenungan atau atau pencarian jati diri, tolong uraikan siapakah seorang Dee itu sebenarnya?

Saya juga nggak tahu. Haha! Dan itulah indahnya. Sejauh yang saya temukan, yang namanya “diri” itu berubah-ubah, bahkan pernah juga saya merasa “diri” itu tidak ada.

2. Kira-kira apa sesungguhnya peran Dee dan untuk apa Dee di dunia ini?

Saya pun tidak tahu persis apa manfaat saya ada di dunia. Yang jelas mengapa saya bisa terlahir pasti ada penyebabnya, ada karmanya, tapi detailnya bagaimana tidak tahu, tujuan pastinya apa juga tidak tahu. Yang saya jalankan sekarang ini ya peran saya sebagaimana yang saya bisa: menulis, menulis lagu, bernyanyi, menjadi ibu, menjadi istri, menjadi Dewi yang terus berubah dan berevolusi.

3. Sudahkan menemukan jati diri pada akhirnya? Seperti apa bentuknya?

Ya itu tadi. Yang sejauh ini saya telusuri, ternyata “diri” itu cuma bentukan konsep dan fenomena yang kita anggap sebagai identitas permanen kita. Penemuan jati diri, sejauh pengalaman saya, berujung bukan pada jawaban, melainkan usainya “keinginan mencari” itu sendiri.

4. Duka atau bahagia keduanya tidak permanen, lalu apa yang permanen bagi seorang Dee?

Tidak ada.

5. Dee kabarnya seorang yang tidak ingin berpuas diri melihat sebuah fenomena, apakah anda sudah cukup puas dengan menjadi seorang Buddha atau atas agama yang kamu anut saat ini? (koreksi kami jika memang Dee bukan seorang beragama Buddha)

Metaforanya begini: seseorang berjalan lalu menemukan sepeda, dipakailah sepeda itu untuk meneruskan perjalanan, lalu perjalanan itu membawa dia ke sebuah sungai, jadi sepeda tidak cocok lagi untuk dipakai, toh? Sepeda pun harus ditinggalkan. Di pinggir sungai itu ada perahu, ya jadinya seseorang itu pakai perahu, nanti kalau sungai itu berujung lagi entah di mana, si perahu barangkali tidak akan berguna lagi. Jadi, masalahnya bukan puas atau nggak puas, tapi cocok atau nggak cocok. Sejauh ini, saya merasa cocok dengan ajaran Buddha. Saya jalankan dengan serius tapi santai. Karena ujung perjalanan ini kita nggak akan pernah tahu.

6. Kabar terbaik atas novel terbaru sejauh ini, mungkin penjualan, respon, atau dampak baiknya yang di dapat? Kabar terburuknya apakah juga ada?

(Koreksi: “Rectoverso” adalah kumpulan cerita pendek, bukan novel). Sejauh ini penjualannya cukup bagus, buku sudah memasuki tiras 45.000, CD sekitar 25.000. Tantangannya adalah stamina saya yang cukup terkuras. Soalnya saya bentar lagi mau nulis “Supernova: Partikel”, dan mulai ingin menarik diri alias masuk gua, tapi promosi “Rectoverso” masih harus dijalankan.

7. Silahkan kabarkan kepada pembaca Jeune, apa yang harus mereka tunggu dari karya baru Dee setelah ini?

Novel digital saya “Perahu Kertas”, yang diluncurkan lewat XL tahun lalu, tahun ini akan diluncurkan ulang lewat Indosat. Jadi pelanggan Indosat berkesempatan untuk menikmati “Perahu Kertas” lewat ponselnya. Pertengahan tahun versi cetak “Perahu Kertas” akan keluar. Dan tahun ini saya akan menulis “Supernova: Partikel”, kalau lancar ya mudah-mudahan bisa rilis tahun ini juga.

8. Terakhir, rutinitas apa yang saat ini sedang di kerjakan dengan penuh gairah dan ambisi? Mengapa mengerjakan itu?

Yang sedang dikerjakan dengan penuh gairah dan ambisi adalah: mengurangi waktu kerja dan meningkatkan waktu bermalas-malasan, tapi tetap produktif. Hehe.
Saya sebetulnya merasa sangat beruntung karena bisa punya profesi yang sekaligus juga hobi saya. Tapi belakangan saya punya pendekatan lain terhadap hidup. Yang utama bagi saya bukan lagi karier, melainkan menjadi manusia seutuhnya. Yang artinya, hidup seimbang, natural, dan apa adanya. Di dalamnya tentu ada keluarga, karier, hubungan dengan teman-teman, lingkungan, dll. Namun untuk menjalankan semua itu nggak kepingin ngoyo, cukup dijalankan dengan kesadaran sebaik-baiknya.
Yang sedang rutin saya jalankan sekarang adalah meditasi. Tapi itu pun tidak dengan ambisi.


Q&A with MOAMMAR EMKA:

1. Kaka Dee, pernah patah hati? Gimana rasanya? Please, ekspresikan lewat kata-kata indah.

Tentu pernah dong, Kakak Emka. Siapa sih yang nggak pernah? ☺
Patah hati adalah terjun bebas ke sebuah jurang tanpa tali pengaman, tanpa parasut, tanpa tahu berapa kedalaman jurang, bahkan tanpa tahu jurang itu ada dasar atau tidak, dan kemudian meluncur cepat mencium tanah, hancur berantakan, berkeping-keping, terburai dan terserak. Dan setelah itu dengan ajaibnya masih punya kekuatan untuk memanjat ke atas dan melakukan terjun bebas lagi jika ada kesempatan.

2. Seumpama cuma ada 3 pilihan dalam hidup Kaka Dee, mana yang akan dipilih: (1) menikah lagi, (2) pacaran saja sampai tanpa batas waktu atau, (3) single parent (tanpa ikatan dengan laki-laki mana pun). Alasannya kenapa, yuuk?

Hmm. Kalau per saat ini, jawabannya adalah menikah (sudah dilakukan). Kenapa? Sebetulnya, relationship—apa pun itu, mau nikah, single parent, atau pacaran, hanyalah kemasan sosial buat saya. Tinggal saya rasa-rasa saja, kemasan sosial mana kira-kira yang cocok untuk hidup saya saat ini. Di jantungnya, semua relationship kan sama-sama saja. Yang namanya relationship pasti ada dinamika, pasti ada jatuh-bangun, turun-naik, dan masing-masing bentuk relationship punya tantangan tersendiri. Saat saya memilih menikah ya semata-mata karena itulah kemasan sosial yang saya rasa pas untuk mewadahi hubungan saya dan orang yang saya cintai. Tapi saya sendiri tidak melihat kemasan atau bentuk hubungan sebagai sebuah tujuan akhir, melainkan kendaraan. Sama seperti metafora naik sepeda dan perahu tadi. Mana yang cocok untuk perjalanan saat ini, itulah yang saya pakai.


Q&A with IZABEL JAHJA:

1. Mendadak kuingin bertanya apakah kau sudah menemukan apa yang kau cari?

Sebetulnya saya sendiri lupa, apa ya yang saya cari? Hehe. Kalau sekarang ini, jujur, saya sedang tidak melihat hidup sebagai sebuah pencarian, walaupun unsur menelusuri selalu ada dalam keseharian saya, tapi pendekatannya lebih seperti: hari ini, hidup mau kasih lihat apa lagi sama saya? Ketimbang sebuah pencarian aktif dari pihak saya. Saya lebih senang mengamati ketimbang mencari. Membiarkan apa pun yang sudah menjadi ‘jatah’ saya dalam hidup hadir dan menghadapinya satu demi satu.

2. Malaikat pun tahu kamu juaranya, memang kamu ikut kompetisi apa siiiiy? :)

Kompetisi sulap antar RT… wakakak! ☺


Q&A with ANDRE SUMUAL – TRAX Magazine:

1. Karya-karya Dee membawa pembaca novel maupun pendengar lagu seperti terhipnotis masuk ke dalam lubang spiritual yang dalam. Sejauh apa pemahaman agama menjamah spiritualitas Dee?

Gerbang spiritualitas baru terbuka buat saya justru ketika saya melepaskan semua pemahaman saya tentang agama—apa pun itu. Tahun 1999 saya memutuskan untuk menjalankan hidup dengan cita rasa ‘netral’, tanpa kekangan dogma apa pun. Dan sejak itu justru segala hal sederhana pun jadi luar biasa, dan kehidupan ini memunculkan keindahan yang selama ini entah bersembunyi di mana. Dan itulah yang banyak muncul dalam karya saya, yakni kekaguman, ketercengangan, keterpanaan, dan kontemplasi saya tentang hal-hal sederhana dalam hidup dan semesta. Bagi saya, itulah spiritualitas.


2. Malaikat Juga Bisa. Brilian. Kenapa bisa buat lagu begitu bagus?

(Hihi. “Malaikat Juga Tahu” kaliii…) Jujur, saya juga nggak tahu. Terutama dalam penciptaan lagu, seringnya saya merasa seperti “saluran” yang dimanfaatkan. Sejak lama saya memang sudah merasa bahwa sebetulnya istilah yang lebih tepat daripada “mencari inspirasi” adalah “dicari inspirasi”. Jadi kalau ada lagu yang tercipta lewat saya, rasanya lagu itulah yang kepingin “lahir” lewat saya, dan bukan saya yang menciptakan. Makanya sampai sekarang saya susah terima order bikin lagu, berhubung sistem wangsit begitu. Saya nggak pernah tahu pasti kapan ada lagu yang muncul, bagus atau tidak, dsb. Memang ada proses dinamika antara saya dan sebuah karya; filter pemahaman, pengalaman, dan selera pribadi saya, turut mewarnai lagu atau karya yang saya ciptakan. Tapi pada prakteknya, saya lebih merasa “digiring” oleh lagu, ketimbang menggiringnya.


Q&A with PAY – BIP:

1. Menurut lo kita ini menentukan takdir kita sendiri ga?

Saya percaya pada hukum karma, sebab-akibat. Apa yang jadi “takdir” kita sekarang adalah hasil dari perbuatan kita di masa lampau. Dan apa yang jadi “takdir” kita di masa depan adalah hasil dari perbuatan kita hari ini. Jadi kalau sepintas dilihat, kita menentukan karma hidup kita sendiri. Masalahnya, apa yang kita sadari hanyalah 1% dari gudang karma kita, 99% sisanya tersimpan di bawah sadar. Makanya tidak semudah itu membalikkan arah “takdir” kita. Kunci perubahan hidup tidak hanya dengan mengarahkan tindakan-tindakan kita sesuai tujuan yang kita inginkan. Faktor-faktor yang bermain sangatlah banyak dan kompleks, bahkan di luar kemampuan nalar kita. Dan faktornya bukan cuma apa yang kita sadari, banyaknya justru yang kita tidak sadari.

2. Percaya dengan kebetulan ga?

Tidak. Seindah dan senyata apa pun sebuah kebetulan atau ketidaksengajaan, di balik itu semua pasti ada penyebab.


Q&A with REMY SOETANSYAH:

1. Waduh, saya kenal Dee, waktu awal-awal kariernya di RSD, abis itu beberapa kali ketemu, dan setelah itu gak ngikutin perjalanan kariernya. Paling yang patut dicatat adalah novel Supernovanya yang meledak, ya. Jadi pertanyaannya: Sekarang dia agak terdengar setelah merilis Malaikat Juga Tahu. Lagunya bagus, tapi kok liriknya sangat personal, ya? Dan kesannya pembelaan diri setelah bercerai dengan Marcell?

Yah, memang banyak yang tertipu. Hehe. Dari sebelas lagu di Rectoverso, “Malaikat Juga Tahu” adalah salah satu yang tidak ada sangkut-pautnya dengan kehidupan pribadi saya. Kesannya personal mungkin karena yang bikin liriknya jagoan. Haha!

2. Apa yang kamu tidak suka dari sistem bisnis di dunia industri musik kita?

Bisnis adalah bisnis. So, kalau dari kaca mata bisnis semata, saya nggak menemukan sesuatu yang saya sukai atau tidak sukai secara khusus dari industri musik. Yang mengusik saya justru attitude para penikmatnya, yang masih beli barang bajakan. Karena itu jadi pukulan berat bagi industri, termasuk para artis. Produksi musik nggak mudah dan nggak murah, dan musisi di sini sedikit sekali yang bisa hidup dari royalti. Jadi saya melihat relasi yang kurang sehat antara penikmat musik dan para musisi. Seperti kurang apresiasi. Kurang menghargai. Pembajakan bisa subur karena didukung oleh mental peminatnya.

3. Apa opini kamu soal boomingnya artis (band/solois/duo) di Indonesia. Apakah musikalitasnya menurut kamu masih tetap terjaga? Terlepas dari selera tentunya?

Rasanya semua industri sama. Ibarat main selancar, kalau ada satu ombak sedang naik, maka yang dirasa logis tentunya adalah numpang sebanyak dan selama mungkin di ombak tsb. Tapi namanya ombak, pastinya nanti turun lagi, lalu akan ada ombak baru, beserta gelombang pengikut baru yang numpang ikut momentum. Dalam tiap ombak ini, isinya pasti bervariasi. Ada yang bagus, ada yang lumayan, ada yang mengkhawatirkan. Jadi, kalau soal musikalitas terjaga atau tidak, pastinya ada yang iya dan ada yang tidak. Sulit bagi saya untuk menggeneralisasi. Yang jelas, yang paling diuntungkan adalah mereka yang pionir. Yang ngikut, kalau nasib dan timing-nya bagus, tetap bisa terangkat, tapi banyak juga yang jadi “lost in the mass” alias hilang karakter karena jadi pasaran.


Q&A with TERE:

1. Kalau pada suatu hari tiba-tiba kamu tidak bisa bersuara karena ada masalah dengan pita suara kamu, apa yang akan kamu lakukan?

Mungkin jadi penulis aja. Dan kayaknya juga masih bisa nulis lagu, selama masih bisa pakai notasi tertulis.

2. Apa makna pernikahan buat kamu?

Ada di jawaban buat Kakak Emka.

3. Apa yang akan kamu perbuat jika ternyata dalam 24 jam dari sekarang planet Bumi yang kita tinggali ini harus lenyap karena suatu alasan yang tidak mungkin bisa diatasi oleh umat manusia?

Menghabiskan waktu yang tersisa dengan orang-orang yang paling saya cinta, dan hidup seperti biasa. Mungkin ditambah berpelukan dan tertawa lebih banyak.


Q&A with QIBIL – THE CHANGCUTERS:

1. Dulu kan basket happening banget, cewek-cewek pasti tergila-gila sama pemain basket, pertanyaannya: Siapa pemain basket favorit Dewi Lestari? Kenapa?

Nggak ada. Haha! Saya dulu lebih tertarik sama anak band daripada anak basket.

2. Kira-kira siapa penemu retsleting?

Whitcomb L. Judson, tapi namanya waktu itu masih “Clasp Locker”, belum “zipper”. Baru kemudian Gideon Sundback menyempurnakannya menjadi resleting modern seperti sekarang. Yang menamakannya jadi “zipper” adalah perusahaan B. F. Goodrich yang waktu itu memakai resletingnya Gideon Sundback untuk produksi sepatu-sepatunya.


Q&A with ADIB HIDAYAT – ROLLING STONE INDONESIA:

1. Jika ada beberapa partai politik akan menjadikan Anda sebagai "Menteri Urusan Peranan Wanita". Apa partai paling ideal yang akan Anda masuki?

Kehidupan partai saya sudah berhenti di usia 15 saat terakhir kali menjabat Ketua P.A.P-DUM (Partai Anti Pacaran Dalam Usia Muda). Hingga saat ini saya tidak tertarik untuk memasuki kehidupan politik atau berpartai. Saya percaya segala sesuatu yang kita lakukan punya dampak politis, dan karena itu saya lebih tertarik untuk bergerak dari kehidupan sehari-hari, yang meski tidak punya wadah politik tetap memiliki kekuatan politis yang tidak bisa diremehkan.

2. Apa hal paling 'kurang ajar' yang Anda lakukan terhadap orang yang Anda cintai?

Menghajarnya habis-habisan dengan bantal.


Q&A with KIKAN – COKELAT:

1. What's the best "quote" that you've ever read or heard?

“To write is to write is to write is to write is to write is to write is to write is to write” – Gertrude Stein.
“Men plan. God laughs.” – Anonymous.

2. What's your definition for Hapiness?

Kebahagiaan buat saya adalah keberanian untuk melepaskan, termasuk melepaskan kebahagiaan itu sendiri.


Q&A with EVAN SANDERS:

1. What do u want, to choose or to be chosen?

Neither.

2. How do you want your egg in the morning?

Omelet, pakai keju, tomat, jamur, paprika, dan ditaburi lada hitam.


Q&A with DEDY LISAN – THE BACKBONE:

1. Seberapa mudah menulis lirik lagu setelah sukses buat novel laris?

Terus terang, buat saya lebih mudah menulis lirik daripada bikin novel. Bikin lirik paling lama seminggu, bikin novel bisa berbulan-bulan.

2. Ada niat reuni dengan Rida & Sita?

Untuk bikin album sih sepertinya belum ada rencana, karena Rida dan Sita juga lagi mengeksplorasi kemungkinan album solo. Tapi untuk tampil bareng atau konser bareng, kita sih senang banget (selama jadwal pas dan harga pas, hekhek). Bagi saya, justru sekarang ini adalah “golden moment”-nya RSD, karena ketika kami disuruh nyanyi, udah nggak ada beban sama sekali, nggak ada ambisi sama sekali, murni untuk senang-senang aja. Dan ini adalah momen yang sangat mahal bagi semua musisi.


Q&A with ANJI – DRIVE:

1. Mana yang lebih dulu ingin kita capai dalam hidup? Kesuksesan, ketenangan, kedamaian atau kebahagiaan?

Semua orang prioritasnya pasti beda-beda. Kalau saya sih nggak masalah mana yang duluan, karena toh pada akhirnya kita harus terbebas dari semuanya. Kesuksesan tak tetap, ketenangan tak tetap, kedamaian tak tetap, kebahagiaan pun tak tetap. Yang paling gampang dan realistis adalah membiarkan mana duluan yang sampai, lalu dinikmati saja sebisanya.

2. Dee dikenal sebagai penulis lirik lagu agak puitis yang cenderung kurang komersil, Tapi saat ini siapa yang tidak tahu lagunya 'Malaikat Juga Tahu' dengan keanehan bahasa liriknya? Kira-kira kesuksesan lagu itu apakah akan mempengaruhi cara pandang Dee akan konsep penulisan lirik? Karena pada saat kita dihadapkan pada sebuah kesuksesan secara komersial, pandangan dan 'tuntutan' kita akan sesuatu cenderung agak bergeser. Saya minta pendapatnya...

Kira-kira tahun 2003 saya mulai tertarik untuk bikin lagu yang punya cerita spesifik. Dan itu bukan karena pertimbangan komersial, melainkan secara alamiah perkembangan selera lirik saya bergerak ke arah sana. Contohnya lagu saya “Satu Bintang Di Langit Kelam” (RSD) dengan “Malaikat Juga Tahu”. Dua-duanya sama-sama puitis, tapi “Satu Bintang…” lebih abstrak, sementara “Malaikat…” lebih langsung dan lugas. Dan kalau soal lirik saya nggak terbebani kesuksesan komersial karena bagi saya setiap lagu itu punya cerita sendiri yang ingin dibagi, lagu itu punya “nyawa”. Dan saya respek sama “nyawa” itu. Kalau memang liriknya nggak komersil ya nggak pa-pa, yang penting sayanya puas dan merasa bahwa lagu itu sudah menuntaskan pesannya. Prinsip saya, tulislah buku yang ingin kita baca, dan buatlah lagu yang ingin kita dengar. Itu saja sudah lebih dari cukup. Kalau ada orang lain yang suka, itu adalah bonus.


Q&A with IMEL – TEN TO FIVE:

1. What love means to you?

As unromantic as it sounds, for me love is pure energy. Everything in life is love. No matter how ugly or pretty, no matter how good or evil. It’s all energy.

2. What does loyalty means to you, regards to your beautiful song “Malaikat Juga Tahu”?

Kesetiaan adalah niat yang mulia, yang sebaiknya tetap dijadikan niat dan bukan janji dengan harga mati. Bagi saya, kejujuran lebih penting daripada kesetiaan. Karena kita bisa hidup selamanya dalam ingkar dan dusta hanya karena menjunjung tinggi kesetiaan di atas segalanya. Dan kita bisa hidup dalam kebencian dan neraka karena menuntut orang setia pada kita di atas segalanya. Untuk hidup dalam kesengsaraan seperti itu, hanya atas nama kesetiaan, bagi saya rasanya membatalkan semua manfaat dan tujuan kita hidup.


Q&A with JOE – ST. LOCO:

1. Kapan pertama kali lo ngerasa hidup lo berarti buat orang lain?

Saya nggak tahu ini jawaban relevan atau bukan. Tapi saat saya jadi juara kelas waktu kelas 1 SD, dan mendengar nama saya dipanggil di hadapan satu sekolah, mendadak saya merasa hidup saya ini kok punya arti ya buat orang lain? Kok bisa-bisanya mereka tepuk tangan? Memangnya saya ngapain aja? Mendadak saya tersadar bahwa manusia punya kepedulian yang aneh. Hehe.

2. Kalo lo dikasih kesempatan untuk ngulang masa lalu, bagian hidup lo yang mana yang mau lo ulang untuk lo perbaiki?

Detik terakhir sebelum saya memutuskan untuk lompat dari kereta yang sedang berjalan di stasiun Gambir, sembilan tahun yang lalu. Kalau dipikir-pikir sekarang, lebih baik saya terbawa ke Bogor saat itu dan ketinggalan kereta terakhir ke Bandung, daripada akhirnya lompat dan cedera lutut.


Q&A with MARCELL:

1. Apa yang terlintas di kepala kamu kalo mendengar kata 'Kartu Diskon'?

GRGGHHHH… ARGGHHHH… GRRRMMMM… GROOOOWWWLLLGHH!!! (bebunyian binatang buas yang dikerangkeng dan sedang kelaparan dan sekonyong-konyong dikasih lihat bongkahan daging).

2. Kalo disuruh milih: belajar renang sama Ian Thorpe (atlet renang Internasional) atau belajar Wing Chun sama Sifu Ip Chun (anaknya Master Ip Man)? Alasannya?

Ip Chun! Ip Chun! Ip Chun! Ip Chun! (sambil tepuk-tepuk tangan).
Setelah nonton film “Ip Man” (Donny Yen), saya memutuskan untuk jadi perenang di kehidupan selanjutnya dan kalau bisa sekalian jadi ikan paus jadi sudah pasti mengalahkan segala ikan di laut termasuk Ian Thorpe, dan di kehidupan sekarang belajar Wing Chun aja jika ada kesempatan, karena bela diri tersebut (setidaknya dalam film) sangat keren dan bikin ngiler.

Thursday, February 19, 2009

COSMOPOLITAN | Fun Fearless Female | May, 2006 | By Intan Pradina

1. Kabarnya album Out of Shell sudah rilis? Bagaimana rasanya telah merampungkan satu proyek yang makan waktu lama dalam prosesnya? Semua Anda kerjakan sendiri mulai dari bikin lagu sampai produksi?

Rasanya plong! Karena proyek ini tertunda lama banget. Mungkin bisa dicatatkan di MURI sebagai album yang persiapannya paling lama, hehe. Saya memang mengerjakan semuanya hampir sendirian, bahkan kalau lagi rekaman saya kadang-kadang merangkap jadi ‘office girl’ juga, beliin makanan buat kru, musisi, dsb. Demo pertama saya buat sejak tahun 1997, dan master sudah jadi dari tahun 2002. Waktu itu kendalanya karena masih terikat di Sony, tapi ketika keluar dari RSD tahun 2003 pun saya masih belum bisa keluarin karena menikah lalu hamil, 2004 punya anak, 2005 Keenan masih kecil banget, nah… baru 2006 inilah, setelah sudah bener-bener nggak tahu album itu musti diapain, tahu-tahu jalannya terbuka begitu aja. Out of Shell pertama rilis di I-Tunes dulu, dua minggu kemudian baru di toko-toko. Sebagian pembiayaan album ini sempat dibantu juga oleh Triawan Munaf, tapi operasionalnya saya kerjakan sendiri.

2. RSD dulu sukses. Begitu pun buku-buku Anda, laku keras! Apa resepnya?

Wah, apa, ya? Mungkin karena semua dilakukan dengan cinta. Memang kecintaan saya ada di musik dan menulis. Ukuran laku sih relatif ya, tapi kalau kita melakukan profesi kita atas dasar cinta, passion, pasti hasilnya memuaskan, setidaknya dari ukuran kreatornya. Faktor lain yang nggak kalah penting lagi adalah kerja keras. Mempromosikan buku sebenarnya sangat melelahkan dan menyita waktu, makanya nggak semua penulis mau melakukannya. Tapi sejauh ini saya memilih untuk seoptimal mungkin berpromo karena saya rasa itu yang terbaik bagi buku itu sendiri.

3. Sepintas melihat Dee, yang terbayang Dee itu tipe pemikir dan orangnya serius. Tapi saat membaca beberapa karya Anda seperti Petir dan cerpen Rico De Coro (Filosofi Kopi), sepertinya sisi humor Anda tinggi juga bahkan cenderung “gila”. Benarkah?

Bener banget. Untuk banyak hal saya memang serius, sangat-sangat serius, saya senang berpikir, merenung, melamun, kontemplasi, dan bacaan saya juga kebanyakan serius dan berat. Tapi di sisi lain saya ini pencinta humor sejati, sangat senang tertawa, sangat ringan, konyol, bahkan “gila”. Itu terlihat dari sahabat-sahabat saya yang sangat beragam, dari mulai yang ancur-ancuran lucunya sampai ke para pemikir yang sangat serius. Dan memiliki kedua sisi itu, menurut saya, adalah cara terbaik untuk menikmati hidup. Ada yang bilang, ketika orang sudah mencapai pencerahan dia justru akan tertawa. Saya setuju banget. Untuk jadi tercerahkan biasanya kita setengah mati memeras hati dan otak, tapi kalau pada ujungnya nanti kita malah nggak bisa ketawa, maka pencarian itu sia-sia. Tidak ada cara terjitu untuk memaknai hidup selain lewat humor.

4. Imajinasi Anda pasti tinggi. Pernahkah merasa “kewalahan” dengan talenta Anda itu? Bagaimana Anda mengatur untuk dapat menampung seluruhnya dalam wadah yang tepat?

Kayaknya saya tiap hari kewalahan soal itu, deh. Haha! Dan memang itulah tantangan saya terbesar, mengorganisasi begitu banyak ide dan menyusunnya dalam rancangan kerja yang realistis. Selama ini, yang sering menjadi batu sandungan saya adalah jumlah ide dan keinginan yang tidak sinkron dengan kemampuan riil. Solusinya adalah kompromi dengan diri sendiri. Di kepala saya ada sepuluh proyek, tapi di atas kertas saya cuma bisa mencantumkan dua atau tiga, dan saya tidak boleh terhanyut rasa frustrasi atau gemas karena yang sisanya itu belum bisa direalisasi. Intinya sih, just get real. Dan untuk bisa realistis bagi seorang pemimpi seperti saya itu adalah tantangan besar.

5. Apa hal-hal yang bisa bikin Anda tertawa lepas dan gembira?

Almost anything. Saya punya sekelompok sahabat, yang kalau sudah dengan mereka dijamin saya bisa lepas dan gila. Dengan keluarga saya pun begitu juga, kami selalu mampu menemukan hal lucu. Momen terlucu yang baru-baru ini terjadi adalah ketika saya di restoran masakan Sunda di Cirebon, dan saya menemukan hal aneh di buku menunya. Jadi untuk menerjemahkan masakannya ke bahasa Inggris mereka pakai istilah Latin, mungkin karena ingin sekali terkesan serius dan akurat. Misalnya, “Keripik Emping” diterjemahkan jadi “Gnentum Gnenom Cracker”, “Ikan Mas Bakar” jadi “Grilled Cyphrinus Carpio”, “Pete Goreng” jadi “Fried Parkia Speciosa”, dan masih banyak lagi. Sumpah, saya ketawa sampai ternangis-nangis, setengah jam lebih nggak berhenti. I think that’s the best kind of humour. Ketika sesuatu tidak dimaksudkan untuk lucu, ditemukan nggak sengaja, dan absurd.

6. Apa sisi paling mengasyikkan dari pekerjaan Anda sekarang?

Bertemu begitu banyak orang yang berkualitas. Bertemu dengan para pembaca saya yang bilang ‘buku Anda menginspirasi saya’, ‘buku Anda mengubah hidup saya’. Itu tak terkatakan rasanya.

7. Anda bahagia menjadi Dee karena... ?

I can do what I love the most, and actually can make a living out of it. Untuk satu hal itu, I consider myself very, very lucky.

8. Orang-orang dekat Anda mengatakan Dee itu identik dengan apa?

Kata adik saya: Joget Norak dan Suara Dua. Haha! Berhubung di rumah cuma lagi ada dia, jadi saya nggak ada tambahan dari yang lain.

9. Anda pernah diprotes soal cover novel Akar yang menyinggung satu agama tertentu. Bagaimana reaksi dan sikap Anda menghadapi hal itu?

Setiap agama pasti punya kelompok chauvinist yang memang hobinya mengklaim ini-itu sebagai milik eksklusif kelompoknya, dan ini merupakan ciri umum dari agama di seluruh dunia. Ketika saya membahas masalah universal seperti spiritualitas, yang merupakan jantung tiap agama, pastinya akan beririsan dengan lapisan periferinya juga, yaitu dengan orang-orang yang pandangannya masih eksklusif dan sempit. Fenomena ini wajar sekali. There’s no wrong or right, hanya sudut pandang yang berbeda. Dan, saya pikir masyarakat pun bisa bijak melihat esensi dari masalah seperti itu. Toh di berbagai kasus yang serupa pun yang protes juga masih orang-orang yang sama.

10. Menurut Anda, sisi fearless Anda muncul pada saat Anda...

Saat saya jatuh cinta. Rasanya apa aja bisa dilakukan. And also in those short moments when I feel that life is actually a whole, inseparable, and everything is one.

11. Apa arti seksi buat Anda? Anda mengatakan seorang wanita tampak seksi bila?

Sexy is a state of mind. Sexy is an energy that when transcended becomes nothing but love. Jadi seksi sesungguhnya adalah kemampuan untuk mencinta. Ketika seseorang tampak sangat nyaman dengan dirinya sendiri, menurut saya itu sangat seksi. Penerimaan diri itu bukan hal yang mudah, tidak bisa dicapai dengan kosmetik atau operasi plastik, dan sepertinya orang-orang modern makin keras berjuang untuk bisa diterima. Mereka cari guidance dari majalah, dari iklan, dari macam-macam. Ada yang ketemu, tapi lebih banyak lagi yang malah tersesat. When a woman finally arrives at a point where she can claim: “This is me. And I’m happy and comfortable with myself”, it’s when she reaches the sexiest point of her life.

12. Anda suka membaca apa? Musik siapa yang Anda dengarkan?

Bacaan saya kebanyakan seputar spiritualitas, sains, filsafat, kesehatan, parenting, ekologi, dan beberapa fiksi. Kalau sekarang lagi suka baca bukunya Graham Hancock yang mendekonstruksi sejarah pra-primitif dan bicara soal The Lost Civilization, dan yang lebih menariknya lagi adalah ternyata penelitian tsb masih berhubungan dengan global warming yang kita hadapi sekarang. Lagi baca bukunya Osho juga. Untuk musik saya kebanyakan suka band atau singer-songwriter, saya suka Tears for Fears, Sarah McLachlan, Paula Cole, dll.

13. Apa pengaruh keluarga/orangtua dalam membentuk karakter Anda hingga seperti sekarang ini?

Sangat besar. Mereka tidak pernah intervensi kerjaan saya secara langsung, tapi keberadaan mereka sebagai sebuah sistem penyokong memungkinkan saya bisa berkembang seperti ini. Ayah saya sangat demokratis, berpikiran terbuka. Ibu saya cenderung disiplin, intelektual. Kakak-adik saya “gila” semua, mereka memang seniman-seniman sejak kecil, dan sampai sekarang pun bekerja di bidang seni. Jadi kreativitas sudah jadi kegiatan sehari-hari dari kami kanak-kanak.

14. Apa yang kamu lakukan untuk relaksasi, keluar dari 'rutinitas' sebagai selebriti?

Santai di rumah saja, nonton TV kabel, nggak keluar-keluar, bahkan seharian nggak mandi, itu sudah jadi relaksasi. Sesekali ke bioskop, atau nongkrong ketemu teman-teman lama.

15. Apa impian Anda saat ini?

Pingin travelling. Banyak sekali yang ingin saya lihat tapi sejauh ini waktunya belum ada. Mudah-mudahan setelah Keenan agak besar, setelah proyek-proyek buku selesai, saya ingin off dulu beberapa lama dan hanya travelling.

Tuesday, February 10, 2009

BINTANG INDONESIA Tabloid | Rubrik: Bintang Musik | Desember, 2009 | by Wayan Diananto

Saya mengikuti kiprah menulis lagu Dewi sejak Satu Bintang di Langit Kelam (Rida Sita Dewi, 1995), Jalanmu dan Di Sudut Malam Bisu (Bertiga, 1997) dan Tak Perlu Memiliki (Satu, 1999). Sejak kapan letupan bermusik muncul dalam diri Mbak Dee?

Saya menulis lagu sejak umur 7 tahun. Nggak jelas judulnya apa, sih. Tapi saya menyadari betapa senangnya saya merangkai kata dan melodi. Baru umur 10 tahun saya cukup “serius” menulis lagu, saya membuat mars untuk sekolah saya, judulnya “Mars SDN Banjarsari” (tapi nggak pernah berani dikasih dengar ke guru-guru, jadi saya nyanyiin sendiri dengan teman-teman), dan satu lagi “Nyiur Melambai”. Saya ajarkan ke adik-adik dan sepupu-sepupu saya, lalu kami nyanyi bersama-sama. Haha! Kebetulan saya memang bisa main piano, jadi sejak itu sampai besar saya bikin-bikin lagu aja sendiri. Baru lagu “Satu Bintang Di Langit Kelam” yang akhirnya direkam secara profesional. 

Apa bedanya bernyanyi bertiga dan kini tampil sendiri?

Wah, beda banget. Kalau nyanyi bertiga beban panggungnya dibagi tiga, dan kita tidak bisa menampilkan individualitas kita, melainkan kebersamaan grup. Jadi dari mulai dinamika, gerak, vokal, harus selalu lihat kiri-kanan biar tetap seimbang. Kalau nyanyi solo, ya, itu semua menjadi pe-er sendirian. Tapi kebebasannya juga jelas lebih luas karena kita bisa menampilkan karakter individu kita dengan maksimal. 

Rectoverso menyusul Out of Shell, perkembangan baru apa yang Anda suguhkan di album terbaru Anda?

Secara musik, Rectoverso merupakan lompatan jauh. Tidak semua penyanyi memiliki kesempatan untuk rekaman live dengan 45 musisi sekaligus. Jadi musik di Rectoverso boleh dibilang memang kualitas premium. Tapi yang menjadi pembeda Rectoverso dengan album-album yang lain adalah konsep hibridanya, yakni penggabungan fiksi dan musik yang saling melengkapi, dan menggunakan dua media yang berbeda. 

“Keresahan” seperti apa yang Anda tuangkan dalam Rectoverso?

Saya ingin menampilkan aspek romantisme saya yang selama ini hanya bisa terekspresikan secara parsial dalam karya-karya saya yang sebelumnya. Rectoverso itu seperti menulis surat cinta yang panjang. Saya tidak fokus pada penokohan atau plot, melainkan emosi terdalam yang dirasakan oleh tokoh-tokoh, baik dalam lagu maupun cerpen di Rectoverso. 

Apakah “permasalahan intern” beberapa bulan silam, turut mempengaruhi proses kreativitas Anda di album ini?

Bisa iya, bisa tidak. Saya tidak tahu pasti. Buat saya, setiap karya sudah punya nyawanya sendiri yang tidak terganggu gugat oleh keadaan si penciptanya. Tapi tentu saja setiap proses kreatif tidak mungkin 100% imun dari kondisi eksternal. Jadi pengaruhnya pasti ada, tapi sedikit atau banyak, saya sendiri tidak tahu karena semuanya sudah melebur. 

Bisakah dikatakan Rectoverso merupakan album soundtrack dari novelnya?

Konsep soundtrack tidaklah tepat untuk Rectoverso karena kedua karya dalam Rectoverso berdiri sama tegak dan bisa dinikmati secara terpisah. Sementara dalam konsep soundtrack, film menjadi yang utama dan musik sebagai pendukung tambahan. 

Menarik, ketika Anda mengganti lirik Firasat versi Marcell. Di baris terakhir dengan: “Aku pun sadari, kau tak kan kembali lagi...” Seberapa penting pergantian lirik ini?

Sebenarnya, lirik asli Firasat adalah versi yang saya bawakan di Rectoverso. Dulu di album Marcell, sengaja saya ganti supaya lagunya jadi tidak terlalu sedih. Ada masukan juga dari perusahaan rekaman Marcell saat itu supaya Firasat lebih happy-ending agar lebih gampang jualan. Jadi ketika saya memutuskan untuk membawakan ulang Firasat, inilah kesempatan saya untuk membawakan versi aslinya dengan suasana sebagaimana yang ingin dihadirkan oleh lagu tersebut. 

Adakah sesuatu yang mendasari pergantian lirik Firasat, apa yang ingin Anda sampaikan kepada penikmat musik melalui pergantian lirik ini?

Sudah terjawab di atas. 

Peluk, seingat saya pernah muncul di debut album perdana Shanty (2000). Jujur, sebenarnya saya berharap Peluk menjadi single kedua Shanty waktu itu, karena ketajaman lirik dan aransemen yang simple. Apa pertimbangan Anda mengangkat kembali lagu ini?

Sama. Dulu saya juga pinginnya lagu itu jadi single kedua Shanty karena menurut saya, lagu itu komersil tapi tetap puitis dan emosional, hehehe... Pertimbangan saya memakai ulang lagu Peluk semata-mata karena kekuatan narasi dalam liriknya bisa dikembangkan menjadi cerita. Tidak semua lirik lagu bisa difiksikan. Dan ini yang menjadi kriteria dasar lagu-lagu di Rectoverso. 

Bisa diceritakan sedikit proses kreatif Anda saat menulis Peluk?

Saya menulis lagu tersebut sekitar tahun 2000 dan niatan saya adalah membuat lagu putus yang elegan, dewasa dan nggak cengeng. Karena hampir semua lagu putus isinya terlalu dramatis dan tragis. Kalau fiksinya saya benar-benar setia pada lirik, jadi pengembangannya hanya sampai pada menciptakan suasana antara dua kekasih yang memutuskan untuk berpisah. 

Selain bersaudara, apa yang membuat Anda tertarik untuk mengajak Arina berkolaborasi dalam Aku Ada?

Saya adalah pengagum berat suaranya Arina. Menurut saya, dialah yang paling berbakat menyanyi di keluarga dan saya juga selalu berangan-angan ingin berkolaborasi dengan saudara-saudara saya. Kebetulan saya mencari karakter suara yang innocent dan seperti anak kecil untuk lagu Aku Ada. Arina adalah vokalis yang paling pas untuk itu. Duet tersebut sekaligus juga mewujudkan cita-cita saya untuk berkolaborasi dengannya. 

Malaikat Juga Tahu menjadi komposisi yang unik dan punya daya jual tinggi. Andi Rianto berada dibalik studio bersama Anda mengerjakan aransemennya. Piano dan orkestra terdengar pekat. Bisa Anda ceritakan bagaimana suasana pengerjaan lagu ini? Bagaimana kesan Anda bekerja sama dengan Andi?

Saya pengagum Andi Rianto sejak lama. Waktu saya merumuskan konsep musik Rectoverso di awal proyek ini, produser saya (Tommy Utomo) bilang bahwa khusus untuk lagu MJT, orang yang paling tepat mengaransirnya hanyalah Andi Rianto, dan saya setuju. Seperti berjodoh, Andi pun langsung jatuh cinta pada lagu itu. Secara keseluruhan, Andi sangat enak diajak kerjasama, dia idealis tapi masih punya ruang untuk diskusi. Suasana pengerjaan lagu tersebut dan juga semua lagu di Rectoverso, bagi saya, sangat sakral dan berkesan. Semua musisi memberikan yang terbaik yang mereka miliki dan itu dimungkinkan karena kita latihan cukup intensif sebelumnya, dan rekaman yang dilakukan secara live. 

Kelebihan lain dari Malaikat Juga Tahu, terletak pada video klipnya yang bagus. Sejauh mana campur tangan Anda dalam video klip tersebut?

Sejujurnya, saya hanya membekali sutradara dengan cerita pendek MJT dan berpesan agar video klipnya mengikuti cerita. Saya beruntung karena Lukman Sardi sangat antusias ingin mengambil peran dalam video klip tersebut, dan Lukman bermain dengan sangat cemerlang. 

Eksplorasi Anda di Rectoverso patut mendapat apresiasi positif. Single Cicak di Dinding, terdengar 'tengil' tapi pemaknaan Anda pada cinta membuat banyak orang termenung. Bisa Anda ulas sedikit, lagu ini untuk pembaca Bintang?

Kita cenderung melewatkan hal-hal kecil tapi sebetulnya dalam sesuatu yang kita anggap remeh, banyak sekali makna yang bisa digali. Cicak di Dinding adalah penggambaran situasi sederhana dimana kadang-kadang benda mati atau hewan kecil yang sering kita abaikan malah punya tempat yang sangat spesial, yang tidak bisa kita miliki. Contohnya, ketika kita jadi pengagum rahasia, rasanya kita rela memberikan apa saja demi jadi cicak di tembok orang yang kita kagumi. 

Berapa lama Anda mengerjakan album ini?

Rekamannya sendiri hanya 4 hari karena semua direkam secara live. Tapi pengerjaan dari mulai konsep sampai mastering butuh waktu 1,5 tahun. 

Seorang sutradara film Indonesia sempat mengenang dan terkesan pada susunan lirik Malaikat Juga Tahu. Khususnya pada baris: "Andai wajahku diganti..." Jika sekarang Anda dibatasi lima kata saja. Kata-kata apa yang akan Anda pilih untuk menggambarkan Rectoverso?

Air mata, hati, pulang, pergi, berharap. 

Musik Dee itu musik yang seperti apa sih?

Maksudnya yang saya suka? Kebanyakan saya menyukai genre singer/songwriter, karena biasanya karya-karya di genre ini kuat, menyentuh, dan berkarakter. Contoh: Sarah McLachlan, Paula Cole, Corrinne May, Indigo Girls. Saya suka lagu dengan lirik yang kuat dan melodius. 

Dari mana saja inspirasi menulis lagu dan lirik di album ini? Apakah inspirasi juga datang dari anak?

Inspirasi datang dari mana saja, termasuk juga dari anak dan orang-orang di sekitar saya. Umumnya setiap saya berkarya, selalu diinspirasikan 4 hal: pengamatan, pengalaman hidup sendiri, pengalaman hidup orang lain, dan imajinasi.