Showing posts with label Arina Mocca. Show all posts
Showing posts with label Arina Mocca. Show all posts

Wednesday, February 17, 2016

KOMPAS | Kompas Kita: Q&A Dee Lestari | Mei, 2015 | by Susie Berindra


Sudah lama Dee menuangkan ide lewat cerita dan juga lagu. Jika harus memilih, manakah yang paling memuaskan bagi Dee? - Anggun Gita Sari

Saya juga punya kebutuhan berbeda untuk setiap pendekatan bercerita. Bagi saya fiksi dan lagu itu komplementer sifatnya, tidak saling menggantikan. Kepuasan yang dihasilkan masing-masing format juga berbeda, meski pada intinya sama-sama bercerita.

Apakah ada misi khusus Dee dibalik penulisan Supernova sampai 5 jilid dan bahkan akan menerbitkan lagi yang keenam? Sejak awal sudah direncanakan Supernova akan sampai 6 jilid? - Iko Boangmanalu

Sudah direncanakan dari awal. Misinya sederhana: menyelesaikan cerita. Supernova episode pertama hanya sepotong dari keseluruhan cerita dalam kepala saya.

Apa yang menjadi resep Dee selalu produktif berkarya, baik itu dalam literasi atau musik? Lalu syarat apa yang mesti dipenuhi agar sebuah karya dapat diterima masyarakat? Bagus Setyoko Purwo

Tujuan saya berkarya semata-mata karena banyak yang ingin saya ungkapkan. Mungkin kalau sudah tidak ada lagi yang ingin disampaikan, baru saya berhenti. Saya rasa tidak ada syarat khusus agar karya kita diterima masyarakat, yang jelas karya yang disukai adalah karya yang mampu menciptakan ikatan dengan penikmatnya.

Sebagai penulis, pernahkan Anda  mengalami kebuntuan ide? Lalu bagaimana cara mengatasinya? Christina M

Kebuntuan yang ringan cukup diatasi dengan hal-hal yang sederhana, seperti istirahat, mandi, atau baca buku. Kalau cerita stagnan berkepanjangan, biasanya perlu dirombak secara teknis. Elemen fiksinya dikaji ulang dan diganti, bahkan ditulis ulang.

Bermusik dan menulis adalah kanal untuk berekspresi, itu yang saya baca dalam sebuah artikel ttg Mbak Dee. "Ritual" seperti apa sih yang selalu dilakukan untuk mendapatkan ekspresi yang mendalam saat bercerita lewat novel? Apa secangkir kopi punya "dongeng" tersendiri yg mempengaruhi setiap karya Mbak Dee Lestari? – Uniqa Wardhani

Tidak ada ritual khusus selain disiplin mendedikasikan waktu dan fokus sampai proyeknya selesai. Bekerja dengan takaran yang terhitung dan punya deadline. Kadang ditemani kopi, kadang tidak. Saya berusaha tidak fanatik pada satu ritual khusus karena saya tidak ingin menciptakan ketergantungan yang merepotkan. Kalau nggak ada kopi lalu jadi nggak bisa kerja, kan repot jadinya.

Kira-kira apa yang menginspirasi Dee sehingga film Filosofi Kopi berhasil ditayangkan? Apakah ada tokoh sehingga membuat Dee terinspirasi untuk membuat film tersebut? – Hesrianus Cengga
              
Keberhasilan Filosofi Kopi sebagai film adalah hasil kerja keras tim dari Visinema. Saya hanya melepas hak adaptasi dan membantu pembangunan cerita pada tahap awal. Cerpen Filosofi Kopi sudah saya tulis lama sekali, dari tahun 1996. Saya tidak membasiskannya pada siapa-siapa. Hanya ingin membuat cerita seputar kopi, itu saja.

Sejak kapan Anda menekuni aktivitas menulis? Apa motivasi Anda terjun ke dunia literasi? – Ardiansyah Bagus Suryanto

Sebagai hobi, dari kecil. Dari usia 9 tahun saya sudah mulai mencoba menulis cerita panjang. Secara profesional, baru tahun 2001 ketika Supernova terbit. Saya menulis karena saya merasa tema-tema yang saya suka belum banyak ditemukan di pustaka Indonesia. Pada dasarnya saya menulis apa yang saya ingin baca.

Membuat tulisan bertema science fiction tidaklah mudah. Kendala apa saja yang muncul ketika menulis? – Dwi Atika Sari

Intinya, membuat novel memang tidak mudah. Kita harus punya komitmen, intuisi bercerita, paham struktur dan menguasai teknik menulis. Mau itu science fiction atau chick lit, akan susah kalau penulisnya tidak punya minat kuat atas apa yang ia tulis. Selama penulisnya suka dan tertarik dengan tema tulisannya, ia akan menggali dengan semangat. Kesulitan utama menulis bukan di tema, tapi bagaimana bercerita sebaik dan sejernih mungkin.

Dee, walaupun hanya bisa berjumpa lewat tulisan ini, aku ingin menyampaikan bahwa aku apreciate dengan karya-karyamu. Kamu telah merampas tiga malamku untuk menyelesaikan tiga karyamu! Melalui media Kompas Kita ini, aku mau bertanya kepadamu, passion apa yang paling membuatmu berkarya sampai saat ini? Sekaligus apa yang Dee lakukan untuk menjaganya tetap ada dan membara? – Jois Efendi

Terima kasih untuk apresiasinya. Banyak ide dalam kepala saya. Medium yang saya suka adalah lagu dan tulisan. Keduanya adalah skill yang menarik dan menantang. Setiap karya adalah ajang saya untuk belajar dan melepas ide-ide dalam kepala saya.

Saat ini semakin banyak para penulis novel seperti Dee yang saling berebut untuk memenangkan hati para pembaca. Bagaimana Dee menanggapi hal ini, apa saja yang dilakukan Dee agar karya Dee dapat mendapat tempat di hati para pembaca untuk selalu menunggu karya-karya Dee selanjutnya? – Nurus Syarifah

Berusaha memuaskan pembaca adalah motivasi berbahaya bagi penulis. Pertama, karena kita tidak mungkin memuaskan semua orang. Kedua, kita kehilangan otensisitas atas apa yang menurut kita paling penting. Tulislah apa yang bagi kita penting, mendesak, menggemaskan. Dan, tulislah sebaik dan sejernih yang kita bisa. Itu saja resep saya.  

Saya baru baca Filosofi Kopi dan Madre. Dulu baca Supernova (Akar) tapi nggak ngeh dan pusing, hehe. Kapan bikin novel true story tentang Tuhan versi Dee yang teologinya kayaknya ‘timur’ banget? Atau tentang kehidupan pribadi Dee bagaimana kegetiran perceraian dan tentang anak-anak, atau cerita-cerita tentang riak-riak kehidupan di rumah? – Amin Nurrokhman

Belum tahu. Sekarang belum tergerak.

Saya sangat antusias membaca karya Mbak. Madre, Filosofi Kopi, adalah salah satu kegemaran saya. Materinya ringan tapi sarat dengan makna. Yang ingin saya tanyakan, pertama, apa arti menulis buat Mbak? Kedua, apakah Mbak merasakan apa yang Mbak tulis? – Nordin                   

Menulis bagi saya adalah seni menyampaikan ide. Merasakan dalam arti emosi, tentu pernah. Kalau saya menulis tentang hal yang sedih tapi tidak ikut merasakan kesedihannya, berarti tulisan itu belum berhasil.  

Apakah ide dari cerita yang Dee tuangkan dalam novel merupakan ide murni dari pemikiran Dee sendiri ataukah ditambah ide yang telah ada di novel kebanyakan? Saya juga sering mendapatkan ide untuk cerita tetapi ketika dituangkan rasanya sulit sekali. Pernahkah Dee mengalami hal seperti itu dan bagaimana solusinya? – Dharmana Dhini Cipta Telaga

Yang saya tulis selalu kombinasi dari imajinasi, hasil pengamatan, hasil pengalaman. Termasuk mungkin di dalamnya buku-buku yang pernah saya baca. Kesulitan menuangkan ide biasanya karena kurang latihan dan jam terbang, begitu sering dilakukan, kita akan tahu sendiri tekniknya.  

Adakah di antara karya Dee, baik buku maupun lagu, yang merupakan pengalaman pribadi Mbak Dewi? Saya mengusulkan bagaimana kalau yang menjadi tokoh utama dalam layar lebarnya adalah Mbak sendiri. – Zenny Anaria

Kalau pun ada pengalaman pribadi, biasanya sudah tercampur unsur lain. Saya belum pernah berkarya yang sifatnya otobiografis. Untuk menjadi tokoh utama dalam layar lebar, sejauh ini belum terpikir dan belum tertarik. 

Bagi saya novel-novel Mbak Dee adalah sebuah alternatif. Alternatif dari miskinnya gagasan di Indonesia kontemporer. Saat ini adalah eranya pragmatisme, materialisme, dan budaya instan. Jadi, novel, juga film yang diadaptasi dari novel Mbak Dee-lah jawaban atas budaya yang diusung dunia modern tadi. Saya berharap Mbak Dee terus menuangkan gagasan-gagasannya dalam bentuk novel. Pertanyaan buat Mbak Dee, apa pendapatnya tentang kemalasan berpikir, budaya baca yang rendah, dan tradisi menulis yang belum mengakar dalam masyarakat Indonesia saat ini? – Darwinto

Terima kasih atas apresiasinya. Kalau kita bicara kultur, tentu kita bicara proses ratusan tahun, dan untuk membalikkannya tidak bisa dalam waktu singkat. Kita bisa menjadi agen perubahan dengan ikut aktif menjadi pelaku komunitas baca dan tulis. Mulai dari diri sendiri dan keluarga sendiri, misalnya. Setelah itu kita bisa melangkah lebih jauh dengan berkarya, bisa lewat blogging atau tulisan singkat. Dari level pemerintah juga banyak kebijakan yang bisa diberlakukan, salah satunya adalah bagaimana pemerintah bisa memproduksi buku lebih murah, mendorong penerjemahan, dan meningkatkan jumlah perpustakaan. 

Setiap penulis mempunyai diferensiasi pada karyanya, dan diferensiasi karya Dee ada pada tema yang selalu mengusung pencarian jati diri. Bagaimana defferensiasi itu awalnya terjadi? Apakah sengaja dibuat untuk membedakan karya Dee dgn karya-karya lain, atau ada dengan sendirinya? – Muh Turmudi              

Setiap penulis umumnya umumnya berkarya diawali oleh kegelisahan. Kegelisahan itu tidak bisa “diatur”. Segala bentukan lingkungan dan konstruksi batin seseorang akan memicu adanya kegelisahan yang kemudian diburu lewat mempertanyakan, lewat ekspresi seni, lewat kreasi, dan seterusnya. Kegelisahan saya yang terbesar memang sejak dulu berpusat di aspek spiritualitas.

Siapa sajakah yang menjadi inspirasi Dee dalam menulis novel ? – Laras Kusumaningtyas

Saya mengamati banyak orang, dan biasanya orang-orang yang saya temui bercampur menjadi karakter. Saking banyaknya saya tidak bisa lagi menyebutkan satu-satu.

Saya penasaran, dari mana nama pena "Dee" itu, serta apakah ada makna terselip di dalamnya? Bagaimana Dee menjalani multiperannya, yaitu ibu, penulis, penulis lagu, penyanyi? Mengalir saja, ataukah ada manajemen waktu sedemikian rupa sehingga tetap dapat menjalankan tugas di dalam rumah sekaligus menjalankan karier-kariernya? – Hesty Puji Rahayu

Waktu kuliah dulu, saya pakai ransel dengan inisial “D”. Sejak itu mulai suka dipanggil “D” (Dee) oleh beberapa orang. Saya senang dengan sebutan itu karena simpel. Menjalani multiperan mengalir saja dengan banyak trial and error, tentunya. Yang menantang adalah bagaimana menyusun prioritas dari waktu ke waktu, dan konsisten menjalaninya. Misal, ketika saya sudah harus intensif menulis, saya harus berani menolak banyak tawaran pekerjaan dan proyek kreatif lain, sebab waktu saya untuk rumah dan keluarga juga sudah memakan besar porsi hari-hari saya. Kalau saya ambil semuanya, pasti ada yang keteteran. Saya tidak ingin keluarga saya jadi korban hanya karena saya mengejar karier. Waktu 24 jam sehari tidak bisa ditambah, jadi saya harus memaksimalkan ketersediaan waktu yang ada.

Dee dan Arina (Mocca) kan adik kakak kandung, bagaimana bisa jadi figur yang keduanya penuh karya dan menginspirasi? Kalau boleh tahu bagaimana kebiasaan didikan keluarga sehingga bisa menjadi figur yang menginspirasi banyak orang? – Nida Hadaina Farida

Ketika kami kecil, kami tidak terpikir untuk bercita-cita jadi seniman. Tapi hidup kami sehari-hari memang sudah dipadati kegiatan seni, dari main musik, nyanyi, menggambar, dan sebagainya. Orang tua kami sangat mengutamakan soal akademis, dan itu jadi syarat untuk kami tetap meneruskan hobi seni. Di sisi lain, orang tua kami juga sangat suportif. Kami semua diberi kesempatan les musik. Rumah kami menjadi markas besar untuk kegiatan musik, latihan paduan suara sekolah, gereja, vokal group, band, dan lain-lain. Jadi, kegiatan berkesenian itu sudah seperti atmosfer tetap di rumah kami.

Monday, April 27, 2015

Free Magazine | Simangunsong Sisters & Gelombang | Januari, 2015 | by Mikhail Teguh Pribadi


Simangunsong Sisters
 
Bagaimana ide awalnya bisa tercetus untuk kumpul kembali ?

Sebenarnya nggak ada konsep “kumpul kembali” sih, karena secara formal kami memang nggak pernah menjadi satu group. Tapi dari kecil kami sering nyanyi bareng dan bermusik bareng. Kami saling membantu kalau satu sama lain bikin album solo atau proyek musik. Kami juga pernah ikut group vokal dan paduan suara bareng-bareng. Cuma memang yang jarang terjadi adalah kami bernyanyi untuk publik (umum) dengan tema di luar dari Natal / acara keluarga. Dan itu akhirnya kejadian di acara Tribute to Carpenters yang diadakan oleh @America.

Mengapa memilih The Carpenters sebagai perform awal untuk tampil ?

Itu pun sebetulnya bukan kami yang pilih. Salah satu kurator @America, Chico Hindarto, berteman baik dengan Imel, dan Chico terpikir untuk mengadakan Tribute to Carpenters sebagai salah satu program spesial @America. Chico lalu menghubungi Imel dan menanyakan apakah kami bertiga, sebagai bersaudara, mau tampil membawakan lagu-lagu Carpenters. Setelah ada tanggal yang kosong, akhirnya Imel mengiyakan. Bagi kami sih sebetulnya bukan Carpenters-nya yang utama, cuma pengalaman nyanyi bareng untuk publik umumlah yang menjadikan tawaran itu menarik.

Dengan kesibukan masing-masing yang berbeda dan superpadat, bagaimanakah kalian mengatur scheduling untuk latihan akhirnya tampil?

Terus terang latihan agak minim karena kesibukan masing-masing, terutama Arina yang super sibuk dengan Mocca, plus kami sudah tidak tinggal sekota. Jadi, kami latihan waktu kumpul keluarga pas Natal 2014, lalu pas Arina ada acara di Jakarta, Imel menyengajakan pergi ke Jakarta untuk latihan bareng. Kami latihan di rumah saya di BSD, sudah bareng dengan para pemusik tambahan, Jesse (drum) dan Chaka (bass), termasuk suami saya, Reza, yang “ditodong” jadi pianis tamu. Berikutnya, kami langsung ketemu di @America pas sound-check. Jadi, agak mepet memang. Untungnya beberapa lagu sudah familier karena sering dengar dari kecil. 

Ke depan, akankah kalian akan lebih sering tampil bersama seperti ini?

Ide itu menarik sih untuk dieksplorasi, yang jelas hanya bisa dilakukan kalau Arina sedang berada di Indonesia. Mudah-mudahan acara @America tempo lalu jadi pemicu untuk kesempatan tampil lainnya.

Sejauh mana The Carpenters menginspirasi kalian ?

Sejujurnya kami nggak pernah (setidaknya saya) merasa ngefans amat sama Carpenters, tapi setelah kami mengulik lagu-lagunya, ternyata banyak sekali lagu mereka yang sudah kami mainkan sejak kecil tanpa sadar. Banyak lagu Carpenters menjadi lagu-lagu pelajaran waktu kami les musik. Dan, Carpenters juga banyak menyanyikan lagu-lagu orang lain, termasuk lagu-lagu yang kami suka, seperti lagunya Jim Henson “Rainbow Connection”, lagunya Joe Raposo “Sing”, dan lagunya Neil Sedaka “Solitaire”. Di luar itu, lagu-lagu yang ditulis oleh Richard Carpenters-nya sendiri memang banyak yang bagus. Dan gara-gara ngulik untuk acara tempo hari, saya jadi mengapresiasi ulang kepiawaiannya menulis lagu.


Gelombang

Setelah merilis Novel Supernova #5 : Gelombang, adakah rencana untuk kembali bermusik ?

Ada, tapi saya kayaknya ingin mendahulukan menyelesaikan Supernova 6, setidaknya sampai manuskripnya selesai, baru bisa fokus ke proyek-proyek kreatif lain. Nggak bisa disambi.

Adakah plan untuk kembali mengadakan reuni bersama RSD ?

Sejauh ini belum. Kalau hanya untuk show saja sebenarnya kami terbuka, tapi memang kesempatannya belum ada.

Sejauh mana musik mempengaruhi seorang Dee untuk berkarya dalam menulis?

Sangat berpengaruh. Dan itu awalnya tidak saya sadari. Tapi semakin ke sini, saya makin sadar bahwa cara saya menulis dan menyusun kalimat itu sangat terpengaruh dengan bunyi dan tempo. Bagi saya kalimat yang dibacanya enak itu adalah kalimat yang juga enak dibunyikan, punya ritme, dan temponya pas dengan keseluruhan cerita. Feeling semacam itu saya dapatkan dari bermusik.

Siapa musisi saat ini yang menginspirasi Anda?

Saya selalu suka dengan singer/songwriter yang liriknya bagus. Dari dulu saya senangnya ya seputar Sarah McLachlan dan Indigo Girls. Yang agak baru saya suka Corrine May dan Sara Barreiles. Dari Indonesia, saya lagi suka Tulus.

Sunday, December 21, 2014

Wawancara Skripsi | Rectoverso | Agustus, 2009 | by Cecilia Abigail


Selain menjadi penyanyi sekarang Dee lebih sering dikenal sebagai penulis. Sejak kapan Dee memiliki bakat menulis itu?

Saya memang bercita-cita ingin menulis buku sejak kecil. Saya nggak pernah punya ambisi jadi penulis lewat jalur jurnalistik atau penulis fiksi lewat media (kirim cerpen ke majalah, dll—walaupun sesekali pernah mencoba), pinginnya memang menulis buku. Latar belakangnya sederhana saja: ingin berbagi. Berbagi perenungan, pengalaman, pemikiran. Dan saya pikir, keinginan berbagi ini inheren ada di setiap manusia, cuma pilihan penyalurannya saja yang berbeda-beda. Kebetulan media yang saya pilih adalah lewat menulis.

Dari mana kiprah Dee sebagai penulis dimulai?

Saya mengawalinya pertama kali ketika cerpen saya Rico De Coro (ada dalam kumpulan cerita Filosofi Kopi) dimuat di majalah Mode tahun 1997, dua tahun sebelumnya tulisan saya juga pernah memenangkan kompetisi menulis di majalah Gadis, tapi saya pakai nama samaran. Sesudah itu langsung ke Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh tahun 2001. Sebetulnya cuma modal nekat saja, saya menerbitkan sendiri Supernova ke-1 tanpa ada ekspektasi dan pengetahuan lika-liku industri buku. Saya nyaris tidak ada target, siap merugi, yang penting saya menulis buku, itu saja.

Mana yang lebih menarik, menjadi penulis atau menjadi penyanyi?

Sama-sama menarik, keduanya saling melengkapi. Dari level superfisial, lewat menulis saya mendapatkan banyak pengalaman dan pertemuan menarik dengan orang-orang baru, pergi ke banyak tempat, dan menimba banyak ilmu. Dari level spiritual, menulis menjadi gerbang saya menemukan jati diri. Sementara menyanyi dan bermusik menjadi cara saya mencinta. Banyak keindahan dan perasaan yang bisa terungkap sempurna lewat menulis lagu dan menyanyi, dan itu menjadi kepuasan tersendiri yang tidak bisa terukur.
Menjadi penyanyi dan penulis bukan pilihan. Kedua-duanya sudah menjadi bagian inheren dari diri saya. Mimpi terbesar saya adalah karya saya bisa dinikmati dalam skala internasional.
Menulis itu seperti menciptakan semesta sendiri, lebih komplet dan komprehensif, tapi tidak berarti lebih unggul dari musik, karena keduanya bersifat komplementer.
Lewat menulis saya bisa mengeksplorasi karakter, narasi, dan plot. Dalam lagu, unsur itu ada tapi terbatas, jadi kisah dalam lagu cenderung lebih abstrak dan interpretatif. Tapi justru di situ jugalah kelebihan musik. Musik bisa dihayati bahkan lebih mendalam, dan bisa jadi lebih langgeng dan tak lekang zaman. Lagu juga punya melodi, dan itu satu kelebihan sendiri dibanding kata-kata belaka.

Dari keseluruhan karya Dee itu, mana yang paling berkesan untuk Dee?

Hmm. Semuanya punya kesan masing-masing sih. Tapi barangkali secara pengalaman, saya paling banyak belajar dari Supernova 1, karena itulah buku pertama saya, dan dari sanalah segala macam pengalaman menulis dan jadi penulis bermula.

Pernah terbayangkan sebelumnya kalau sekarang Dee menjalani hidup sebagai seorang penyanyi, pencipta lagu sekaligus penulis buku?

Sejujurnya, tidak. Karier menyanyi saya berjalan begitu saja, transisinya halus sekali. Dari aktivis vokal group & paduan suara sekolah, lulus SMA jadi backing vokal selama dua tahun, lalu tahun 1995 mulai rekaman untuk RSD, berjalan delapan tahun, hingga akhirnya berkarier solo sampai sekarang. Untuk jadi penulis memang lebih banyak perjuangan, karena dulu saya menerbitkan sendiri Supernova, jadi tantangannya memang banyak. Kalau buku itu kemudian jadi laku dan jadi perbincangan, itu di luar dugaan saya sama sekali. Dulu saya cuma cita-cita pingin punya buku aja. Kalau yang baca cuma 10 orang juga nggak apa-apa. Sudah senang.

Dari keseluruhan buku atau cerita yang Dee telah tulis, dari mana biasanya Dee mendapatkan ide – ide ceritanya? Dari pengalaman orang lain, pengalaman sendiri, atau berasal dar imajinasi Dee saja?

Kebanyakan dari perenungan. Bahan yang direnungkan tentu datangnya dari kehidupan itu sendiri, dari kisah pribadi, kisah orang lain, mengamati alam, dsb. Seorang penulis memang harus jadi pengamat yang baik.

Dari karya Dee yang berjudul Supernova, beberapa orang yang beranggapan bahwa buku – buku karya Dee terlalu sulit dimengerti. Apakah memang Dee senang menggunakan bahasa atau istilah-istilah kiasan di setiap karya Dee, lalu bagaimana Dee menanggapi tanggapan beberapa orang itu?

Masalahnya, saya jarang memikirkan orang lain ketika berkarya. Saya menulis apa yang saya suka saja. Termasuk kalau menurut saya ada beberapa terminologi teknis yang perlu digunakan, ya saya gunakan. Kalau kiasan atau metafora sepertinya sih semua karya sastra memilikinya. Soal susah dipahami atau tidak menurut saya adalah hal yang relatif. Yang jelas, saat berkarya kita tidak mungkin memuaskan semua orang, atau memastikan bahwa semua orang akan mengerti. Yang mengerti pasti ada, yang enggak juga pasti ada. Karenanya saya lebih suka menjadikan diri saya sendiri sebagai patokan, pokoknya apa yang menurut saya sesuai dan pas dengan yang ingin saya ungkapkan, ya, saya gunakan.

Rectoverso merupakan karya kedelapan Dee. Apa yang Dee ingin angkat dari Rectoverso ini?

Rectoverso adalah karya yang sangat personal dan emosional. Justru sayalah yang menantikan pesan dari pembaca Rectoverso dalam bentuk perasaan mereka, air mata mereka, dan bagaimana kisah-kisah dalam Rectoverso menyentuh hati mereka.

Apa latar belakang Dee sehingga Dee menggabungkan dua media yaitu buku dan music (album cd) dalam karya kedelapan Dee ini?

Rectoverso pada dasarnya adalah produk hibrida, jadi nggak bisa cuma dilihat sebagai album saja, atau buku saja, melainkan kedua-duanya seperti “saudara kembar”. Itu yang sangat membedakan Rectoverso dari karya-karya saya yang lain. Lagu dan kisah di Rectoverso saling melengkapi dan saling bercermin. Jadi bukan sekadar satu paket, tapi buku dan album Rectoverso itu seperti dua sisi dari koin yang sama. Esensinya, ide dan inspirasi untuk album dan buku Rectoverso itu satu dan sama, hanya saja mengambil dua bentuk yang berbeda. Saya juga ingin menampilkan aspek romantisme saya yang selama ini hanya bisa terekspresikan secara parsial dalam karya-karya saya yang sebelumnya. Rectoverso itu seperti menulis surat cinta yang panjang. Saya tidak fokus pada penokohan atau plot, melainkan emosi terdalam yang dirasakan oleh tokoh-tokoh, baik dalam lagu maupun cerpen di Rectoverso.

11 cerita dan 11 lagu dengan judul yang sama. Apakah angka 11 itu sebuah kebetulah atau memang Dee memang sengaja menulis cerita dan menulis lagu hingga berjumlah 11?

Awalnya nggak sengaja, kebetulan materinya memang sebelas. Sebetulnya masih bisa ditambah, tapi pada akhirnya saya memutuskan sebelas, karena 11:11 itu punya makna yang sangat dalam di ilmu numerologi. 11:11 dipercaya sebagai angka yang mewakili terbukanya gerbang antara dunia materi dan spiritual, antara dunia fisik dan dunia roh.

Dari mana ide cerita – cerita di dalam Rectoverso didapat?

Ya dari hidup itu sendiri. Dari kejadian sehari-hari, peristiwa di sekeliling saya, curhat orang-orang, apa yang saya rasakan, imajinasi, fantasi, dsb. Bagi saya, hiduplah yang mengajarkan dan menginspirasikan segala lakon dan karya manusia di dunia. Tergantung bagaimana kejelian kita mengamati dan mencerapnya saja.

Berapa lama proses pengerjaan Rectoverso ini?

Rekamannya sendiri hanya 4 hari karena semua direkam secara live. Tapi pengerjaan dari mulai konsep sampai mastering butuh waktu 1,5 tahun. Kalau bukunya kurang lebih sama, tapi saya kerjakan secara sporadis. Jadi nggak sekaligus.

Kesulitan – kesulitan apa yang Dee temui pada proses pengerjaan Rectoverso ini?

Kendalanya lebih ke penyatuan antara dua industri yakni musik dan buku, dan bagaimana menentukan strategi pemasaran yang mengakomodasi keduanya. Dari segi rekaman, karena kita memakai sebegitu banyak pemain dan rekamannya live (sejarah yang lebih lengkap silakan lihat kata pengantar di buku Rectoverso), jadi cara mengorganisir dan mengatur skema kerja produksinya juga menantang. Kalau dalam menulis sih hampir nggak ada kesulitan karena saya bikin berdasarkan lirik, dan nggak melibatkan orang banyak jadi tinggal berproses dengan diri sendiri saja.

Dalam CD rectoverso Dee berduet dengan Arina Mocca dan Aqi ALEXA, kenapa Dee memilih mereka untuk berduet dalam Rectoverso ini?

Saya adalah pengagum berat suaranya Arina. Menurut saya, dialah yang paling berbakat menyanyi di keluarga dan saya juga selalu berangan-angan ingin berkolaborasi dengan saudara-saudara saya. Kebetulan saya mencari karakter suara yang innocent dan seperti anak kecil untuk lagu Aku Ada. Arina adalah vokalis yang paling pas untuk itu. Duet tersebut sekaligus juga mewujudkan cita-cita saya untuk berkolaborasi dengannya. Saya memilih Aqi karena memang mencari partner duet cowok yang karakternya agak nge-rock tapi nggak terlalu ‘sangar’ sampai melibas suara saya yang cenderung soft. Dan kebetulan waktu itu album Alexa belum dirilis jadi Aqi masih bebas, mengurus perizinannya jadi nggak ribet. Dan saya juga suka banget karakter suaranya Aqi.

Sudah dua video klip yang Dee keluarkan, apakah Dee berniat untuk membuat video klip dari judul lainnya?

Baru saja dirilis VK “Aku Ada”. Jadi sekarang sudah ada tiga VK dari album Rectoverso.

Beberapa orang memiliki caranya sendiri dalam menikmati Rectoverso, kalau menurut Dee sendiri bagaimana cara terbaik menikmati buku dan CD Rectoverso?

Tidak ada cara khusus. Orang-orang bisa memulainya dari mana saja, bisa dari buku atau dari musik. Yang penting adalah menikmati keduanya sehingga keutuhan karyanya bisa dihayati secara penuh  dan maksimal.

Apa yang ingin Dee dapatkan sebagai seorang penulis?

Saya cuma ingin berbagi pemikiran dan suara hati saya. Itu saja.

Friday, December 19, 2014

Koran Jakarta | Rubrik Perempuan | April, 2009 | by Ezra Natalyn


Sejak kapan bercita-cita menjadi penulis? Sebelumnya memang ingin terjun sekaligus sebagai penulis dan penyanyi?

Sejak kecil memang sudah ingin menulis buku, tapi tidak terpikir untuk menjadikannya profesi. Tidak pernah juga terpikir secara sengaja ingin jadi penulis dan penyanyi sekaligus. Saya semata-mata hanya mengikuti dan melaksanakan hobi saya saja. 

Apa menurut Anda persamaan dan perbedaan antara menulis dan menyanyi?

Perbedaan: jelas beda. Keduanya adalah aktivitas yang memang beda. Yang satu harus mengeluarkan suara, yang satu lagi enggak. Persamaan: Sama-sama saluran bagi saya untuk berekspresi. 

Biasanya menulis di mana? Kalau dideskripsikan kira-kira tempat Dewi menulis yang paling cocok itu seperti apa?

Saya menulis di mana-mana. Menurut saya, tempat apa pun bisa ideal untuk menulis yang penting hening dan nggak diganggu. 

Siapa penulis favorit? Dan mengapa?

Saya suka Sapardi Djoko Damono. Untuk penulis luarnya saya suka Dave Eggers, Rattawut Lapcharoenshap, dan Ana Castillo. Yang saya sukai dari para penulis tsb adalah ciri khasnya dan kekuatan inspirasif yang ditularkan pada pembacanya. 

Bagaimana rasanya saat proses kreatif menulis sebelum tulisan itu rampung?

Sangat magis. Seperti tarik-menarik, seperti pertarungan, seperti jatuh cinta, bisa juga putus asa, pokoknya rasanya macam-macam. Seperti naik roller-coaster. Tidak jarang saya begitu hanyutnya dalam cerita sehingga rasanya menjalani dua realitas; realitasnya Dewi Lestari dan realitas sebagai tokoh-tokoh cerita saya. 

Impian apa dalam dunia tulis-menulis yang belum teraih?

Bikin buku anak-anak. 

Apa pendapat Dewi tentang penulis-penulis perempuan Indonesia?

Saat ini, penulis perempuan memegang peranan dan punya suara sangat vokal di percaturan sastra Indonesia. Banyak acara yang diadakan khusus untuk mengangkat para sastrawan perempuan, sementara untuk yang laki-laki malah nggak ada. Keberagaman penulisnya juga sangat kaya. Banyak nama yang mencuat dan semuanya punya gaya menulis yang lain-lain. 

Adakah kisah masa kecil atau masa sekolah yang paling berkesan buat Dewi? Tolong diceritakan salah satu?

Banyak banget, sih. Tapi salah satu yang paling berkesan waktu diajak naik helikopter keliling kota Medan oleh ayah saya. Itu kali pertama dan satu-satunya saya pernah naik helikopter seumur hidup. 

Bagaimana rasanya menjadi seorang anak TNI? Displin dalam keluarga barangkali?

Ayah saya orangnya santai. Rasanya biasa-biasa aja. Tidak ada disiplin yang terlalu ketat. Kedua orang tua saya termasuk tipe yang demokratis dan mendengarkan pendapat anak, walaupun masih bisa tegas jika diperlukan. 

Dalam keluarga sebelum menikah, yang paling dekat dengan siapa dulu? Ayah? Ibu? Kakak atau adik? Mengapa?

Paling dekat dengan adik bungsu saya, Arina. Mungkin karena dari jarak usia kami yang dekat (cuma beda 2 tahun), dan sejak kecil saya selalu bareng dia terus ke mana-mana. Pernah pindah ke Medan barengan, sementara kakak-kakak perempuan saya yang lain tetap di Bandung. Setelah besar pun kami sharing rumah berdua. 

Sejak menikah, berapa lama setiap hari menghabiskan waktu dengan Keenan, dan apa acara favorit bersama keluarga?

Saya cukup sering menghabiskan waktu dengan Keenan. Apalagi dia ASI sampai 2,5 tahun, jadi dari bayi ikut saya terus ke mana-mana. Sekarang dia sudah TK, dan saya kebetulan lagi banyak di rumah, jadi waktu dengan dia tetap banyak. Yang pasti kalau malam saya punya jadwal rutin untuk membacakan dia cerita. Acara favorit kami sederhana aja: ngumpul di kamar, atau jalan-jalan ke villa keluarganya Reza di daerah Cibogo, Keenan senang sekali kalau sudah dibawa ke sana. Intinya, dia paling suka kalau keluarga besar ngumpul. 

Apa impian Dewi buat Keenan?

Menjadi manusia yang sehat luar dalam, dan apa adanya. 

Bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti memasak, dll? Kalau iya, kapan saja dilakukan?

Saya lumayan suka masak. Tapi nggak rutin. Kalau memang lagi ada dorongan aja. Saya suka memasakkan makanan Thai (tom yam, green curry, pad thai, dsb) untuk suami. 

Sekarang sedang mengandung anak kedua, kalau dideskripsikan, untuk Dewi bagaimana rasanya perempuan yang mengandung? Enak dan nggaknya?

Rasanya macam-macam, seperti deskripsi saya tentang proses kreatif. Kalau lagi muntah dan mual, ya, nggak enak. Kalau jadi dimanja suami dan keluarga, ya, enak. Yang jelas, buat saya hamil itu proses yang luar biasa besar. Untung cuma mau punya anak dua aja. Nggak kebayang kalau punya anak banyak! Haha. 

Suka wewangian jenis apa? Parfumnya apa? Kalau diungkapkan dengan kata-kata, bagaimana aroma wewangian favoritnya?

Saya lagi pakai parfum dari Philosophy (yang Baby Grace dan Falling in Love). Agak susah carinya, harus titip ke Amerika, atau cari ke toko parfum yang suka ngimpor parfum ‘aneh-aneh’. Saya suka aroma yang menenangkan hati, dan nggak pasaran. 

Apa arti sahabat bagi Anda, punya waktu rutin berkumpul atau kontak dengan sahabat?

Saya orangnya “sahabat-minded” banget. Tapi sekarang ini karena sudah berpencar, sudah pada menikah dan sudah punya kehidupan masing-masing, geng saya nggak ngumpul sesering dulu. Saya paling dekat dengan teman-teman SMA saya. Kalaupun nggak ketemuan langsung, saya kontak-kontakan via telepon, SMS, atau e-mail. Lagi kepikiran ingin bikin arisan supaya ada waktu kumpul, tapi belum sempat saya rintis. 

Pernah merasa jenuh dan kering inspirasi, apa yang biasanya dilakukan untuk menyegarkan pikiran kembali?

Tidak menulis dan mengerjakan hal lain.

Tuesday, February 10, 2009

BINTANG INDONESIA Tabloid | Rubrik: Bintang Musik | Desember, 2009 | by Wayan Diananto

Saya mengikuti kiprah menulis lagu Dewi sejak Satu Bintang di Langit Kelam (Rida Sita Dewi, 1995), Jalanmu dan Di Sudut Malam Bisu (Bertiga, 1997) dan Tak Perlu Memiliki (Satu, 1999). Sejak kapan letupan bermusik muncul dalam diri Mbak Dee?

Saya menulis lagu sejak umur 7 tahun. Nggak jelas judulnya apa, sih. Tapi saya menyadari betapa senangnya saya merangkai kata dan melodi. Baru umur 10 tahun saya cukup “serius” menulis lagu, saya membuat mars untuk sekolah saya, judulnya “Mars SDN Banjarsari” (tapi nggak pernah berani dikasih dengar ke guru-guru, jadi saya nyanyiin sendiri dengan teman-teman), dan satu lagi “Nyiur Melambai”. Saya ajarkan ke adik-adik dan sepupu-sepupu saya, lalu kami nyanyi bersama-sama. Haha! Kebetulan saya memang bisa main piano, jadi sejak itu sampai besar saya bikin-bikin lagu aja sendiri. Baru lagu “Satu Bintang Di Langit Kelam” yang akhirnya direkam secara profesional. 

Apa bedanya bernyanyi bertiga dan kini tampil sendiri?

Wah, beda banget. Kalau nyanyi bertiga beban panggungnya dibagi tiga, dan kita tidak bisa menampilkan individualitas kita, melainkan kebersamaan grup. Jadi dari mulai dinamika, gerak, vokal, harus selalu lihat kiri-kanan biar tetap seimbang. Kalau nyanyi solo, ya, itu semua menjadi pe-er sendirian. Tapi kebebasannya juga jelas lebih luas karena kita bisa menampilkan karakter individu kita dengan maksimal. 

Rectoverso menyusul Out of Shell, perkembangan baru apa yang Anda suguhkan di album terbaru Anda?

Secara musik, Rectoverso merupakan lompatan jauh. Tidak semua penyanyi memiliki kesempatan untuk rekaman live dengan 45 musisi sekaligus. Jadi musik di Rectoverso boleh dibilang memang kualitas premium. Tapi yang menjadi pembeda Rectoverso dengan album-album yang lain adalah konsep hibridanya, yakni penggabungan fiksi dan musik yang saling melengkapi, dan menggunakan dua media yang berbeda. 

“Keresahan” seperti apa yang Anda tuangkan dalam Rectoverso?

Saya ingin menampilkan aspek romantisme saya yang selama ini hanya bisa terekspresikan secara parsial dalam karya-karya saya yang sebelumnya. Rectoverso itu seperti menulis surat cinta yang panjang. Saya tidak fokus pada penokohan atau plot, melainkan emosi terdalam yang dirasakan oleh tokoh-tokoh, baik dalam lagu maupun cerpen di Rectoverso. 

Apakah “permasalahan intern” beberapa bulan silam, turut mempengaruhi proses kreativitas Anda di album ini?

Bisa iya, bisa tidak. Saya tidak tahu pasti. Buat saya, setiap karya sudah punya nyawanya sendiri yang tidak terganggu gugat oleh keadaan si penciptanya. Tapi tentu saja setiap proses kreatif tidak mungkin 100% imun dari kondisi eksternal. Jadi pengaruhnya pasti ada, tapi sedikit atau banyak, saya sendiri tidak tahu karena semuanya sudah melebur. 

Bisakah dikatakan Rectoverso merupakan album soundtrack dari novelnya?

Konsep soundtrack tidaklah tepat untuk Rectoverso karena kedua karya dalam Rectoverso berdiri sama tegak dan bisa dinikmati secara terpisah. Sementara dalam konsep soundtrack, film menjadi yang utama dan musik sebagai pendukung tambahan. 

Menarik, ketika Anda mengganti lirik Firasat versi Marcell. Di baris terakhir dengan: “Aku pun sadari, kau tak kan kembali lagi...” Seberapa penting pergantian lirik ini?

Sebenarnya, lirik asli Firasat adalah versi yang saya bawakan di Rectoverso. Dulu di album Marcell, sengaja saya ganti supaya lagunya jadi tidak terlalu sedih. Ada masukan juga dari perusahaan rekaman Marcell saat itu supaya Firasat lebih happy-ending agar lebih gampang jualan. Jadi ketika saya memutuskan untuk membawakan ulang Firasat, inilah kesempatan saya untuk membawakan versi aslinya dengan suasana sebagaimana yang ingin dihadirkan oleh lagu tersebut. 

Adakah sesuatu yang mendasari pergantian lirik Firasat, apa yang ingin Anda sampaikan kepada penikmat musik melalui pergantian lirik ini?

Sudah terjawab di atas. 

Peluk, seingat saya pernah muncul di debut album perdana Shanty (2000). Jujur, sebenarnya saya berharap Peluk menjadi single kedua Shanty waktu itu, karena ketajaman lirik dan aransemen yang simple. Apa pertimbangan Anda mengangkat kembali lagu ini?

Sama. Dulu saya juga pinginnya lagu itu jadi single kedua Shanty karena menurut saya, lagu itu komersil tapi tetap puitis dan emosional, hehehe... Pertimbangan saya memakai ulang lagu Peluk semata-mata karena kekuatan narasi dalam liriknya bisa dikembangkan menjadi cerita. Tidak semua lirik lagu bisa difiksikan. Dan ini yang menjadi kriteria dasar lagu-lagu di Rectoverso. 

Bisa diceritakan sedikit proses kreatif Anda saat menulis Peluk?

Saya menulis lagu tersebut sekitar tahun 2000 dan niatan saya adalah membuat lagu putus yang elegan, dewasa dan nggak cengeng. Karena hampir semua lagu putus isinya terlalu dramatis dan tragis. Kalau fiksinya saya benar-benar setia pada lirik, jadi pengembangannya hanya sampai pada menciptakan suasana antara dua kekasih yang memutuskan untuk berpisah. 

Selain bersaudara, apa yang membuat Anda tertarik untuk mengajak Arina berkolaborasi dalam Aku Ada?

Saya adalah pengagum berat suaranya Arina. Menurut saya, dialah yang paling berbakat menyanyi di keluarga dan saya juga selalu berangan-angan ingin berkolaborasi dengan saudara-saudara saya. Kebetulan saya mencari karakter suara yang innocent dan seperti anak kecil untuk lagu Aku Ada. Arina adalah vokalis yang paling pas untuk itu. Duet tersebut sekaligus juga mewujudkan cita-cita saya untuk berkolaborasi dengannya. 

Malaikat Juga Tahu menjadi komposisi yang unik dan punya daya jual tinggi. Andi Rianto berada dibalik studio bersama Anda mengerjakan aransemennya. Piano dan orkestra terdengar pekat. Bisa Anda ceritakan bagaimana suasana pengerjaan lagu ini? Bagaimana kesan Anda bekerja sama dengan Andi?

Saya pengagum Andi Rianto sejak lama. Waktu saya merumuskan konsep musik Rectoverso di awal proyek ini, produser saya (Tommy Utomo) bilang bahwa khusus untuk lagu MJT, orang yang paling tepat mengaransirnya hanyalah Andi Rianto, dan saya setuju. Seperti berjodoh, Andi pun langsung jatuh cinta pada lagu itu. Secara keseluruhan, Andi sangat enak diajak kerjasama, dia idealis tapi masih punya ruang untuk diskusi. Suasana pengerjaan lagu tersebut dan juga semua lagu di Rectoverso, bagi saya, sangat sakral dan berkesan. Semua musisi memberikan yang terbaik yang mereka miliki dan itu dimungkinkan karena kita latihan cukup intensif sebelumnya, dan rekaman yang dilakukan secara live. 

Kelebihan lain dari Malaikat Juga Tahu, terletak pada video klipnya yang bagus. Sejauh mana campur tangan Anda dalam video klip tersebut?

Sejujurnya, saya hanya membekali sutradara dengan cerita pendek MJT dan berpesan agar video klipnya mengikuti cerita. Saya beruntung karena Lukman Sardi sangat antusias ingin mengambil peran dalam video klip tersebut, dan Lukman bermain dengan sangat cemerlang. 

Eksplorasi Anda di Rectoverso patut mendapat apresiasi positif. Single Cicak di Dinding, terdengar 'tengil' tapi pemaknaan Anda pada cinta membuat banyak orang termenung. Bisa Anda ulas sedikit, lagu ini untuk pembaca Bintang?

Kita cenderung melewatkan hal-hal kecil tapi sebetulnya dalam sesuatu yang kita anggap remeh, banyak sekali makna yang bisa digali. Cicak di Dinding adalah penggambaran situasi sederhana dimana kadang-kadang benda mati atau hewan kecil yang sering kita abaikan malah punya tempat yang sangat spesial, yang tidak bisa kita miliki. Contohnya, ketika kita jadi pengagum rahasia, rasanya kita rela memberikan apa saja demi jadi cicak di tembok orang yang kita kagumi. 

Berapa lama Anda mengerjakan album ini?

Rekamannya sendiri hanya 4 hari karena semua direkam secara live. Tapi pengerjaan dari mulai konsep sampai mastering butuh waktu 1,5 tahun. 

Seorang sutradara film Indonesia sempat mengenang dan terkesan pada susunan lirik Malaikat Juga Tahu. Khususnya pada baris: "Andai wajahku diganti..." Jika sekarang Anda dibatasi lima kata saja. Kata-kata apa yang akan Anda pilih untuk menggambarkan Rectoverso?

Air mata, hati, pulang, pergi, berharap. 

Musik Dee itu musik yang seperti apa sih?

Maksudnya yang saya suka? Kebanyakan saya menyukai genre singer/songwriter, karena biasanya karya-karya di genre ini kuat, menyentuh, dan berkarakter. Contoh: Sarah McLachlan, Paula Cole, Corrinne May, Indigo Girls. Saya suka lagu dengan lirik yang kuat dan melodius. 

Dari mana saja inspirasi menulis lagu dan lirik di album ini? Apakah inspirasi juga datang dari anak?

Inspirasi datang dari mana saja, termasuk juga dari anak dan orang-orang di sekitar saya. Umumnya setiap saya berkarya, selalu diinspirasikan 4 hal: pengamatan, pengalaman hidup sendiri, pengalaman hidup orang lain, dan imajinasi.