Showing posts with label 2005. Show all posts
Showing posts with label 2005. Show all posts

Sunday, December 21, 2014

Snapshot Questions | Profil | November, 2005

How would you describe your personality?

I was designed to be an ‘in-between’ person, my zodiac is Aquarius-Capricorn, my shio is Dragon-Rabbit, so my personality is created by the tension between the two polars, and my struggle in life is to maintain the balance between two different (sometimes opposite) groups of characteristics. Really, there’s no easier way to explain it.

What quality do you most like about yourself?

I guess it’s my humor side. At the end of the day, I’ve always managed to laugh at things, even on what should be very, very shitty. I just love to laugh so much. It’s an elemental privilege of being a human.

What quality do you most dislike about yourself?

My forgetfulness and my weak ability to say ‘no’.

What qualities do you admire in others?

Which others? People in general? Or you mean a quality that I wish I had? I must say, I envy those who can say ‘no’ easily. And those who manage to travel around the globe just for the sake of it. 

What do you consider would be your greatest achievement?

To be enlightened.

What do you consider would be your greatest failure?

To forget who I truly am, and forget who others truly are. To forget that we are one and inseparable.

When and where were you happiest?

When I’m among those who can make me laugh. Doesn’t matter where.

When and where were you unhappiest?

When I see so many violence in the name of stupidity and fear. Doesn’t matter where.

How good are you at managing your money?

Quite good. I always managed to safe up money ever since I was financially independent.

What was your greatest extravagance?

To be able to make my hobbies as my professions. On this matter, I must say I’m truly blessed.  

Apart from Indonesia, where would you like to live?

Can’t really tell. I don’t think I’ve seen the world enough to make a judgement. But they say Vancouver is one of the nicest and safest places to live, San Fransisco also might be interesting.

Where would you not like to live?

Errr. Can’t really tell either. But I wouldn’t go to any war spot in the world for sure.

What is the best thing that ever happened to you?

Having a baby, for sure. Never felt so much in love. It’s a totally incomparable experience.

What is the worst thing that ever happened to you?

To lose a friend.

What makes you laugh?

Jokes, sitcoms, movies, funny faces, witty conversations, Kariage Kun, 2 glasses of beer, my husband, my baby, my friends, my quirky family… so many  other things I couldn’t possibly mention. In short, it’s easy to make me laugh.

What makes you cry?

Songs, movies – esp scenes where the animals get killed, heart breaks, break-ups, Japanese drama comics e.g. Candy-Candy book 7, too much laugh, beauty of nature… and so many other things I couldn’t possible mention. But in short, it’s still easier to make me laugh than cry.

What is the most courageous thing you ever did?

I’m so afraid of cokcroach. But once, I succesfully hit it with a sandal. That was a milestone in my personal history. And I’ve never repeated it up to this day.

What was your most embarrassing moment?

When I was 7 years old, I was in this running competition wearing a pair of loafer. The shoes slipped right off my feet just when I was about to jump start. The whole school laughed. I hated the sport class ever since, up until high school. I never attended any.

Who are your heroes?

I’m not a hero type of person. Not so much into idol as well. But I do admire Sarah McLachlan, and she’s my barometer in music. I also admire Stephen King who’s able to write so many books while I nearly strangled myself to finish 6 books of Supernova series. I also admire Diane Warren who managed to write thousands of songs while I consider myself lucky to be able to write two songs in one whole year. 

Which famous person would you most like to meet?

Roland Orzabal – from Tears for Fears. I actually bumped into him in Friendster. But I doubt it was the real person. 

What is your favourite book?

Too many to mention. But as far as I recall, Neale Donald Walsch -- Conversation of God Book 2 has the greatest impact in my life.

What is your favourite record?

Tears for Fears “Tears Roll Down”. Sarah McLachlan “Surfacing”.

What is your favourite movie?

The Matrix.

What is your favourite food?

Indonesian and Thai food.

Who has been the biggest influence on your life?

I used to be clueless when I was asked about who had influenced me the most. Like I said, I’m a community type of person, not hero or idol base. But after years of contemplating, I have to say it’s my family, my siblings. They are the one who mold and shape me to be who I am today. They are the quirkiest and coolest family one can ever have. I am so lucky. 

What is your main career ambition?

To have a global audience, either for my music or for my books.

What is your main personal ambition?

To lead a fulfilling, peaceful, and healthy life.

Soap Magazine | Profil: The Dark Side of Dee | Juni, 2005 | by Johan Sihotang


Dee’s Past

Aku kepingin tahu, masa kecil seperti apa sih yang telah membentuk seorang Dewi Lestari sekarang? Mungkin background khusus keluarga, kepribadian salah seorang tua yang cukup unik? Atau mungkin kehadiran masalah keluarga yang cukup besar sehingga sanggup membentuk kepribadian Dewi sekarang?

Keluarga saya itu sangat unik. I’m blessed to be raised in such family. Ayah saya, sekalipun perwira militer, sesungguhnya berjiwa seniman, he’s a fun person, musisi otodidak yang kreatif. Dan kualitasnya diimbangi oleh ibu saya yang sangat sistematis, tertata, but very thoughtful. Hasilnya kami berkesempatan untuk mengeksplorasi sisi seni kami, tanpa mengabaikan sekolah. Bisa dibilang kami punya modal disiplin tapi juga ‘keliaran’ kreativitas. Kalau masalah hampir nggak ada. Cuma Mama kadang-kadang kelewat hemat, kami hampir nggak pernah punya mainan, jarang beli barang baru. Tapi pikir-pikir, itu juga yang mendorong kami jadi kreatif, dan punya drive untuk bercita-cita. 

Apa trauma terbesar Dewi saat masih kecil, mungkin belum bisa didefinisikan sebagai trauma, tetapi yang tidak menyenangkan dan masih keinget, masih ada nga ya dampaknya sampai sekarang? (seperti saya masih ingat dipukuli teman-teman sendiri)

Hmm. Apa, ya. Barangkali waktu kelas 2 SD dulu, saya pernah lomba lari, tapi sepatu saya model loafer yang gampang copot, akhirnya pas lari sepatu saya lepas, diketawain satu sekolah. Sejak itu saya jadi nggak pede sama sekali dengan pelajaran olah raga dan segala permainan fisik. Sampai SMA saya bolos terus pelajaran olah raga, ngaku sakit segala macem, padahal sehat-sehat saja, bahkan I’m actually an active person. Saya sampai punya template surat sakit, memalsu tanda tangan ortu, pokoknya jadi sneaky berat, hanya untuk menghindari pelajaran satu itu. Hehe.

Ada nggak sih pengalaman-pengalaman di masa kecil dulu yang memalukan, lucu, memorable; mencium (lebih dulu) teman cowo mungkin? Apa yah cita-cita Dewi sewaktu kecil dulu, sudah terpikir untuk menjadi seorang selebritis sepeti sekarang?

Waktu kecil pengin jadi dokter hewan, karena cinta sekali sama binatang. Hanya kandas karena takut saya pada serangga melampaui cinta saya sama binatang. Hehe. Lalu arsitek, tapi kandas juga karena malas bermatematika ria, hanya sampai sekarang saya senang sekali menata interior, dsb. Anehnya, sekalipun tidak masuk ke daftar cita-cita, tapi yang saya lakoni secara konsisten sejak kecil memang seni. Baru saat kuliah, ketika pada semester 2 saya mulai membiayai hidup bahkan kuliah saya sendiri, saya tersadar bahwa hobi tersebut telah bertransformasi menjadi profesi. And it’s simply something I cannot live without. Saya tidak pernah lagi berpikir menjadi sesuatu yang lain.


Dee’s Train of Thoughts

Apa sih yang diinginkan dan dicari Dewi dalam hidup ini, dengan mengulik-ulik dunia spiritualnya? Mungkin beberapa orang sudah cukup nyaman dengan ‘spiritualitas pemberian’ (orang tua, masyaraktnya), kalau orang lain bilang hidup sudah terlau susah tanpa mempertanyakan kembali sisi spiritual, atau apakah karena ‘enggan mengutak-atik’ itu manusia merasa lebih susah?

Untuk seseorang sampai pada kembara spiritual yang sesungguhnya memang dibutuhkan satu titik balik. Ahli agama bisa berkhotbah sampai berbusa-busa, tapi kalau panggilan itu tidak muncul dari dalam hati, maka kita tetap jalan di tempat dan bahagia dengan itu. Saya setuju, pengembaraan spiritual itu memang bikin susah, tidak menjadikan hidup kita tambah mudah. Ada ungkapan yang mengatakan ‘ignorance is a bliss’. Ketidakmautahuan bisa jadi membuat hidup kita aman, tenang. Sementara keingintahuan justru menempatkan kita dalam track berbatu, menyakitkan, dicemooh, dst. Namun saya percaya, saat spiritualitas lama kita diguncang maka itu berarti kita sudah siap ‘naik level’. Sama halnya bersekolah, yang secara berkala kita harus ujian naik tingkat, dan nggak selamanya adem ayem tanpa diuji. Usaha saya menulis Supernova pun sekadar untuk berbagi, bahwa: this is my test, this is my exam sheet, how’s yours? Mereka yang berada pada tahap yang sama pasti akan connect. Mereka yang sudah lewat akan tersenyum simpul. Mereka yang belum sampai akan mengapresiasinya dengan cara yang lain lagi. I want nothing but to share. 

Kapan sih Dewi menemukan tujuan hidupnya seperti sekarang? Ada kejadian khusus yang melatar belakangi? (Sigmund Freud; women barely knows what they wants)

My series of epiphany took place by the end of 1999, sebelumnya pertanyaan saya tentang spiritualitas sudah menumpuk, tapi meledaknya pada saat itu. Buku yang menyatukan puzzle dalam otak saya adalah Conversation with God – Neale Donald Walsch. Semenjak itu pandangan saya terhadap Tuhan, hidup, dan juga diri, berubah total. Dan semenjak itu pulalah saya bertekad untuk sharing apa yang saya alami, dan berhubung talenta saya adalah menulis, plus cita-cita sejak kecil adalah menulis buku, maka tahun 2000 saya menulis Supernova.

Dengan kesuksesan seperti sekarang, kenapa memilih hidup berkeluarga dengan anugerah kehadiran seorang anak di sisi Anda? Dengan merepotkan penitian karir yang sedang baik-baik nya?

Kalau istilah ‘repot’ yang dipakai maka seolah-olah pilihan berkeluarga merintangi sesuatu. Menurut saya tidak demikian. My life is one assorted package. Kalau isinya melulu karier maka hidup ini pun terlalu sempit rasanya. Untuk bertumbuhkembang sebagai pribadi yang utuh manusia akan memilih beragam hal. Saya pribadi, memilih menikah dan punya anak. Karier sebagai salah satu aspek tentunya beradaptasi dengan kondisi tersebut. It is a challenge, but not an obstacle. Kalau dulu saya bisa nulis begadang dari malam sampai pagi, sekarang jadwal seperti itu tidak bisa dipertahankan.Tapi tidak berarti saya lantas tidak dimampukan untuk berkarya, kan. Hanya saya sekarang saya nulis pada jam yang lain, dengan pola yang lain. Sebetulnya yang bikin stres itu kan ekspektasi. Kalau nggak ingin stres, ekspektasi kita nggak usah ambisius. Kalau dulu pengin berpromo buku 4-5 hari dalam seminggu, sekarang 1-2 hari saja. Tiga harinya bisa dikompensasi dalam promo lain, perbanyak poster, pasang iklan, misalnya. Jadi hanya masalah beda siasat saja.   

Apa sih arti image untuk Dewi Lestari, hidup dengan ‘jaim’ terus, apalagi setelah menjadi selebritis dan menjadi sorotan public?

Image itu seperti peliharaan yang harus terus diberi makan. Everybody has an image to feed. Bukan cuma figur publik, orang biasa pun punya, hanya saja mungkinpeliharaannya lebih kecil dan relatif lebih mudah di-handle. Semakin besar dan gemerlap image yang dipunya, ya, maintenance-nya pun makin susah. Bahkan sampai tingkat tertentu tidak jarang image menjadi lebih besar dari diri kita yang sesungguhnya, sehingga kita dikendalikan image dan bukan sebaliknya. I just have to keep in mind that image is something partial, is a part of us but not us. Secara proporsional kita harus punya ruang dan waktu untuk melepaskan segala image yang melekat dan rileks dengan keberadaan kita yang sesungguhnya, bukan yang dituntut masyarakat. I’d like to think my image is like my Golden Retriever. It’s fun, friendly, and when it’s unleashed, you can feel safe knowing that it won’t kill you while you’re asleep.

Apakah Dewi punya misi jauh ke depan pada setiap pekerjaan yang dilakoni (menulis dan menyanyi)?

Rasanya saya sudah mantap dengan trek pekerjaan ini. Saya juga merasa beruntung menemukannya cukup dini. Jadi program saya hanyalah berkarya dan berkarya. Kalaupun ada pengembangan sifatnya lebih ke pelebaran audiens, satu saat saya ingin karya-karya saya bisa ‘go global’. Nggak cuma di Indonesia saja. 

Saya sempat gemas sekali dengan karakter Elektra (PETIR) yang begitu pemalas, sial terus menerus, tetapi ahirnya beruntung juga dengan perkenalannya dengan bisnis dunia maya warnet. Kenapa sih harus eksistensinya harus seperti itu?

Elektra adalah representasi metamorfosis manusia. Beda dengan Bodhi, atau Diva, yang jelas-jelas sejak awal dianugerahi kualitas ‘super’, Elektra butuh proses panjang untuk menemukan potensi dirinya. Bahkan kisahnya dalam Petir pun sebetulnya masih berupa awalan saja. Elektra mewakili sosok girl next door yang biasa banget, tapi sesungguhnya punya potensi luar biasa. Dan dia menemukannya dengan caranya sendiri, yang konyol, tapi sesungguhnya punya kedalaman. I had so much fun with Elektra, really. Menuliskannya sangat enjoyable, bahkan bisa membuat saya sendiri ngakak-ngakak.


Dee’s Dark Side

Seperti Bapak Freud mengutarakan kehadiran 3 elemen penting dalam setiap unik pribadi seseorang: id, ego, superego. Kali ini aku ingin melihat sisi gelap seorang Dewi Lestari. Dan karena ini majalah cowok Mbak, maaf sebelumnya jika saya ingin menanyakan hal-hal di sekitar seks dan juga hal-hal absurd lainnya, haha. Feel free not to answer. Sewaktu Mbak Dewi diributkan dengan masalah cover buku yang bertuliskan lambang umat Hindu, seperti apa Mbak dewi menanggapinya, sempat marah dulu?

Awalnya sempat kecewa, kesal juga. Bukan apa-apa, tapi karena hal tersebut seperti disengajakan untuk bocor ke pers terlebih dahulu, wartawan tahu duluan lewat faks yang sampai ke mereka beberapa hari lebih awal dibandingkan surat resmi ke saya. Jadi saya menerima kesan bahwa sebagian permasalahan lebih berupa cari sensasi bukan cari solusi. Tapi secara global kasus itu menyadarkan saya bahwa inilah gambaran masyarakat Indonesia. Spektrum consciousness level masyarakat kita sangatlah luas. Dari yang ekstrem fundamentalis sampai universalis ada di sini. Dan masalah simbol itu (dan kasus-kasus seputar simbol berikutnya) merepresentasikan bagaimana Tuhan diproyeksikan begitu beragam. Tidak ada yang salah, semua berpijak dari persepsi kita atas Tuhan, dunia, dan dirinya sendiri. Keputusan saya untuk akhirnya berunding dan berkompromi pun berpulang dari kesimpulan saya bahwa Tuhan tidak perlu dibela dan tidak perlu berpromo (baik lewat sampul novel atau sampul buku apa pun). Lenyapnya lambang Om dari Akar tidak berdampak apa pun bagi Tuhan. Dia tidak tambah besar, tidak juga tambah kecil. Tidak lebih ditinggikan, tidak juga lebih rendah. Wajah dan tapak Tuhan ada di mana-mana, dalam renik debu sekalipun, jadi buat apa didebatkan? Kasus kover Akar dan kasus sejenis sesungguhnya bukan kasus benar atau salah, tapi kasus yang tak perlu ada, alias nggak penting.

Kita terkadang hidup dengan defense mechanism (denial, proyeksi) masing-masing, yang terkadang perlu sewaktu menanggapi masalah, untuk memiliki mental yang sehat (saya sendiri sering ‘bertindak saat baik pada seseorang’ di saat saya justru sangat membencinya). Kalau Mbak Dewi seperti apa, ya?

Defense mechanism saya adalah dengan jurus ‘bird’s eye view’. Ketika ada masalah muncul, saya berusaha berpikir bahwa masalah itu menimpa Dewi Lestari, bukan diri saya yang sesungguhnya. Dewi Lestari itu kan kumpulan opini dari hasil konsensus sosial yang ditumpukkan sejak saya lahir. Seperti kain perca yang menyelimuti kesejatian kita. So when shit happens, it doesn’t really matter. Hanya keterikatan kita pada label sosial kitalah yang menjadikan itu ‘matter’. Tapi kalau kita berpulang pada diri kita yang ‘nonmatter’ then things ‘doesn’t matter’ anymore. Got it? Jurus bird’s eye view itulah yang, menurut saya, dapat sejenak membebaskan kita dari ilusi duniawi, termasuk segala masalah. Ketika beban tersebut lepas, solusi lebih jernih pun bisa didapat.

Pernah nggak menyakiti perasaan orang lain sampai teringat terus, atau bahkan masih bermusuhan sampai sekarang?

Disakiti kali, ye. Pernah. Nggak enak banget. Sebenarnya perasaan marahnya sudah bermutasi seperti ‘nggak usah kenal aja, deh. Kita beda frekuensi’. Beberapa kali dikhianati masalah bisnis, padahal dulunya teman baik, makanya sampai sekarang saya jadi berhati-hati sekali bisnis sama orang, kalau teman/saudara malah saya udah nggak mau sama sekali. Karena kalau ada apa-apa, sakitnya nggak worth it sama hasilnya. Lebih baik nggak usah.

Menyakiti atau disakiti? Yang mana yang lebih baik jika harus memilih?

Hmm. I have to say ‘disakiti’. Hehe. Kalau menyakiti you have to forgive yourself, which is even harder.

Hal apa yang bisa membuat Dewi merasa menjadi manusia terkejam di dunia?

Absolutisme. Tidak memberikan ruang untuk memilih dan wawasan akan pilihan yang ada. Menurut saya, semua kejahatan terbesar dalam sejarah manusia bermuara di situ. Merasa diri absolut yang paling benar dan tidak memberikan ruang bagi opsi.

Pernah tebersit ingin bunuh diri? Karena semua mulai terasa berantakan. Ke mana biasanya Anda ‘berlari’?

Nope. I cannot comprehend a suicide. Yet. Sepertinya dibutuhkan kasus berlatar belakang super luar biasa agar saya bisa memahami/memaklumi aksi bunuh diri. Tapi saya percaya kematian seharusnya adalah gerbang menuju sesuatu yang lebih baik. 

Bagaimana dengan membunuh, pernah paling nggak tebesit untuk membunuh orang lain?

Membayangkan membunuh in action sih, nggak. Tapi kalau membayangkan Bumi ini dikurangi populasinya sampai paling tidak setengah, pernah. Bahkan sering. Is it the same thing? I dunno.

Bagian tubuh pria yang paling menarik? Seperti saya yang adalah “leg person” hahaha…

Neck – one that’s firm, not too slender. Flat abdomen is also appealing. A bit muscley arm is nice as well. Dan juga urat kecil yang suka nongol di jidat, nggak tahu itu apa, but for me it’s a beautiful sight to see. But above all, pria yang menarik itu tidak dinilai dari tubuh, tapi auranya saat dia sedang asyik-asyiknya bekerja, now that is very sexy.

Pernah nggak sih menolak cinta orang lain, sampai pria itu begitu sakit hati?

Sering. Hehehe. But truly, it’s not something that I’m proud of. Seringnya saya jadi sedih dan miris. Cinta itu kan energi yang luar biasa, ya. Begitu melihat cinta salah alamat saya suka miris, andaikan cinta berbalas pasti dentumannya luar biasa. Tapi kalau tidak rasanya seperti nabrak dinding. Saya cuma berharap dinding itu bisa disikapi seperti cermin, jadi energi itu bisa terpantul dan menjadikan kita tambah kuat, bukannya malah buyar nggak karuan. Nggak jarang saya menyesalkan my unfortunate position sebagai si ‘penolak’, seriously. Lebih baik ditolak, kali. Terlebih kalau sikap atau kebaikan kita ternyata mislead or misguide other people. Aduh, nggak enak banget. 

Apa arti seks untuk Dewi Lestari?

Sex is one of God’s primal languages. Sex in a big picture is to exchange. Pertukaran dan saling-silang energi yang menghasilkan kehidupan baru. 


Republika | Menulis Novel vs Cerpen | April, 2005


Sejak kapan senang menulis novel?

Saya memang senang menulis sejak masih kanak-kanak. Barangkali sama dini atau bahkan lebih awal dari bernyanyi/bermusik. Muaranya satu: hobi mengkhayal. Bagi saya, menulis itu seperti survival kit. Saya bisa berfungsi sebagai manusia yang balans karena saya menulis. Benak ini rasanya begitu padat, pengap, dan bisa meledak kalau tidak dituangkan. Novel, atau lirik lagu, hanyalah format salurannya saja. Menulis buku memang menjadi cita-cita. Sejak dulu, saya merasa tulisan saya ini tidak punya tempat di media. Terlalu panjang untuk cerpen, terlalu pendek untuk novel. Makanya, saya bertekad akan menulis buku saja langsung. Ketika mulai menulis Supernova tahun 2000, saya sudah feeling: inilah buku pertama saya yang dipublikasikan.

Kabarnya, Mbak lebih senang menulis novel dibanding cerpen. Kenapa?

Menurut saya, penulis itu seperti pelari. Ada yang lari sprint, ada yang lari maraton, dsb. Penulis pun ada yang memang tendensinya menulis pendek, menulis panjang, dsb. Kalau saya dari dulu memang lebih suka menulis panjang, saya menikmati jalan cerita yang berkembang, tokoh-tokoh yang memiliki sejarah lengkap, dsb. Baru sekarang2 ini saya mulai belajar membuat cerpen. Dan memang kedua format itu, sekalipun hakikatnya sama-sama menulis, masing-masing punya trik dan metoda tersendiri.

Bisa diceritakan awalnya menemukan ide untuk menulis novel Supernova?

Supernova merupakan sharing permenungan spiritual pribadi saya, yang ingin saya bagi untuk orang banyak. Melihat krisis bangsa kita ini, saya sering merasa tergerak ingin melakukan sesuatu, berkontribusi, tapi tidak tahu apa. Sampai akhirnya saya sadar bahwa potensi saya untuk menulis dan bermusik merupakan jalur yang bisa dipakai dan dimaksimalisasikan. Supernova merupakan novel serial. Secara cerita, pesan, dan inti, pastinya ada benang merah antarepisode. Tapi, tentu terdapat perbedaan pada gaya pengungkapan, setting, penyusunan plot, karena itu juga mengungkapkan pertumbuhan saya sebagai penulis. Sekilas konsep Trilogi Supernova: Episode 1 akan mengungkapkan hubungan manusia dengan dirinya sendiri; episode 2, hubungan manusia dengan lingkungan/eksternalitas; episode 3, hubungan manusia dengan Pencipta. Jadi episode kedua ini banyak unsur petualangan, permenungan tentang Bumi, alam, dan sistem masyarakat yang lebih luas.

Ada tenggat waktu untuk merampungkan seri yang tersisa, misalnya mendisiplinkan diri menulis sekian jam sehari?

Biasanya saya meluangkan setidaknya empat jam untuk menulis dalam sehari. Tidak melulu menulis Supernova, pokoknya sesuai dengan jadwal pekerjaan saja. Misalnya sekarang ini saya sedang menyusun kumpulan cerita, prioritas saya ke sana dulu. Begitu selesai, saya akan mengerjakan Supernova lagi.

Apa arti menulis - khususnya novel - bagi Mbak?

Ada di jawaban no 1, ya.

Banyak orang memuji Supernova. Bagaimana perasaan Mbak Dewi dengan pujian itu?

Sebenarnya hadiah terbesar bagi seorang penulis adalah ketika berhasil menyelesaikan karyanya. Sisanya hanyalah bonus. Jadi pada dasarnya, pujian maupun kritik, sama-sama saja nilai dan artinya. Saya tentunya senang dan bangga apabila Supernova banyak disukai, terutama kalau karya kita dapat menginspirasi mereka untuk jadi lebih baik, jadi lebih kreatif.

Ke depan, masih akan terus menulis novel? Tidak berniat mengembangkan disiplin ilmu hubungan internasional yang diperoleh di perguruan tinggi?

Tentunya masih. Walaupun bukan berarti tidak ada kemungkinan menulis dalam format lain. Buktinya sekarang saya sedang menyiapkan kumpulan cerita. Saya tidak akan eksklusif menulis novel saja, saya masih berkeinginan banyak dalam dunia kepenulisan ini. Saya ingin satu saat nanti menulis buku cerita anak-anak, buku cerita remaja, juga karya nonfiksi yang mungkin saja akan ada hubungannya dengan Hubungan Internasional. Memang tidak dalam waktu dekat, tapi akan.

Bagaimana dukungan keluarga dengan aktivitas menulis novel?

Pendukung terbesar saya sejak dulu adalah keluarga. Sejak kecil mereka sangat pengertian, suportif, dan juga sering memberikan inspirasi dan masukan. Ayah dan Ibu saya memberikan kebebasan untuk berkreasi, termasuk menulis. Suami saya pun sangat mengerti profesi ini, kadang2 dia malah suka menemani begadang. Kalaupun mereka tidak membantu secara langsung, mereka tetap berperan sebagai refreshment kalau saya lagi jenuh soal kerjaan, kebanyakan menulis, dsb. 

Masih tetap mencipta lagu dan menyanyi?

Menyanyi tetap menjadi prioritas utama. Sama dengan menulis. Tapi sekarang saya prioritaskan berdasarkan sikon saja. Apabila memang berencana mengeluarkan buku, ya berarti menulis dulu. Rencana untuk bersolo karier sudah ada. Bahkan sudah lama ada. Tapi terpaksa saya tunda karena dulu ingin merilis buku. Dalam waktu dekat sebenarnya ada rencana akan menggabungkan album saya dengan buku. Ditunggu saja!



Tuesday, December 16, 2014

Hers Magazine | Profil | Juli, 2005 | by Ina


Orang pertama kali mengenal Anda sebagai penyanyi, bagaimana ceritanya sampai tiba-tiba Anda ingin jadi penulis? 

Sebetulnya hobi menulis itu sudah sejak kecil sekali, bahkan bisa dibilang sebelum menyanyi. Kalau hobi bermusik lebih dulu subur karena terdorong oleh keluarga dan lingkungan yang pecinta seni semua, tapi hobi menulis benar-benar hadir secara independen. Saya juga tidak pernah ikut lomba atau aktif mengirim ke media cetak, jadi betul-betul asyik buat sendiri saja. Paling-paling saya sebar ke teman-teman sendiri dan keluarga. Meskipun begitu, keinginan untuk menulis buku memang sangat kuat, hanya tunggu timing dan karya untuk menjadi titik awal, dan itu saya temukan ketika mulai menggarap naskah Supernova tahun 2000. Saya berpikir ‘inilah saatnya, inilah yang akan menjadi buku pertama saya’. Dan itu juga bedanya dengan karier musik saya yang berjalan mengalir begitu saja, it’s given, sementara dalam menulis I have to make it happen. Ada satu awalan yang saya mulai sendiri, yakni menerbitkan dan memasarkan Supernova secara independen.

Kenikmatan apa yang Anda dapatkan saat menulis?

Bagi saya, menulis itu menjadi media komunikasi saya dengan jiwa. I’m communicating with myself, between the little self and the Big Self. Dalam level substansi, bagi saya menulis bukan lagi sekadar hobi tapi kebutuhan rohani. It’s how I keep my sanity.

Apa yang biasanya menjadi inspirasi utama Anda dalam menulis?

Cinta – evolusi dan metamorfosanya. Karena dinamika pemahaman kita akan Cinta itu sejalan dengan dinamika pemahaman kita akan diri, dunia, dan Tuhan.

Dari keseluruhan seri novel Supernova, mana yang paling Anda sukai?

Ketiganya merupakan pengalaman yang tak terbandingkan. Dan itu yang ingin saya dapat sekaligus hadirkan dalam Supernova, setiap seri merupakan pengalaman yang berbeda-beda. Dalam Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ) saya mendapatkan kepuasan eksplorasi berpikir, keindahan saat rasio dan insting melebur. Sementara dalam Akar saya mendapat pengalaman mind traveling, saat pikiran saya harus mengikuti jejak Bodhi ke berbagai tempat. Kalau Petir saya bisa melepaskan sisi ‘gila’-nya Dewi Lestari yang sebenarnya sangat senang bercanda.

Misi atau pesan apa yang sebenarnya ingin Anda sampaikan dalam keseluruhan buku Supernova?

Supernova merupakan cerminan pergelutan spiritual kaum muda dalam zaman Aquarius, yang mana peran generasi kita pada zaman ini sangat krusial dalam penentuan nasib dunia kelak. Value utama dalam Supernova adalah self-inquiry. Kita harus menggali diri kita ke dalam untuk tahu identitas kita yang sesungguhnya, dan setelah itu didapatkan maka niscaya kita akan memperlakukan diri kita, Bumi, dan sesama makhluk hidup, dengan respek dan tanggung jawab. 

Karakter yang Anda tulis dalam setiap seri Supernova apakah secara tidak langsung menggambarkan pribadi dan karakter Anda sendiri? 

Setiap karya tentunya merupakan ekspresi subjektif penciptanya. Supernova tidak terkecuali. Kalaupun tidak langung merupakan penggambaran Dewi Lestari, tapi pastinya pikiran maupun ide-ide saya tertumpangkan ke dalam tokoh-tokoh Supernova maupun alur ceritanya.

Bagaimana Anda menggambarkan karakter dan kepribadian Anda?

I’m multidimensional. Tanggal lahir saya perbatasan Capricorn-Aquarius, shio saya perbatasan Kelinci dan Naga. So I guess my personality is a mix between equally strong but contrast qualities, and my challenge is to bring the best out of those two sides and at the same time learn to embrace the down sides of both.

Anda juga dikenal sebagai pecinta lingkungan hidup, ada nggak niatan untuk menulis buku tentang lingkungan?

 Tentunya ada. Saya akan memulainya dengan seri Supernova berikut yakni Partikel di mana tokoh utamanya, Zarah, adalah seorang environmentalist yang juga berprofesi sebagai seorang nature photographer. Walaupun masih dalam kerangka besar Supernova, tapi setidaknya ide-ide dan pesan-pesan saya tentang urgensi isu lingkungan bisa tersalurkan.

Atau mungkin, salah satu seri buku Supernova ada yang ingin dikembangkan menjadi film layar lebar, tertarikkah Anda untuk menulisnya menjadi naskah skenario film?

Hmm. Masih belum kepikiran, sih. Kalau keinginan untuk bikin skenario film sih ada, tapi mungkin bukan Supernova. Karena bagi saya Supernova masih cerita yang belum utuh tamat, kalau serial itu selesai mungkin-mungkin saja kemungkinan itu jadi terbuka. 

Lirik-lirik yang pernah Anda tulis dalam album RSD terdengar sangat puitis dan filosofis? Dari mana Anda mendapatkan sumber inspirasi dan imajinasi dalam merangkainya menjadi satu kalimat lirik lagu? Apakah itu hanya karangan atau ada hubungannya dengan pengalaman pribadi Anda?

Dari semua tipe kepenulisan, bagi saya menulis lirik lagu merupakan pekerjaan yang paling menantang sekaligus paling memuaskan. Kita harus mengkondens cerita dalam beberapa bait dan harus mengawinkannya dengan melodi sehingga peleburan itu terasa sempurna dan bukan tempelan. Analoginya, bagi saya membuat lirik itu seperti ngisi TTS. Menantang otak sekaligus rekreasi. Nggak semua pengalaman pribadi, tapi sedikit banyak ada tercampur-campur. Karena tetap dong butuh dramatisasi, tidak semuanya kisah pribadi itu cukup menarik untuk diangkat, hehe.

Bagaimana cara Anda mendidik atau menanamkan nilai-nilai pendidikan pada si kecil? 

Karena Keenan masih 10 bulan, mungkin belum terlalu terasa, ya. Tapi saya sih natural saja sama dia. Jangan malu untuk jadi jelek atau gila-gilaan, pokoknya we just have to be fun. Yang paling penting  bagi saya adalah dia tumbuh dalam kasih. Interaksi kita harus akrab, nggak formal. Dia juga harus diajarkan untuk cinta lingkungan dan respek sama makhluk lain.

Adakah obsesi untuk ‘mempersiapkan’ si kecil menjadi penulis atau seniman seperti Anda? Atau ada obsesi lain? 

Kami sebagai orang tua sudah pasti akan membesarkan anak dengan tendensi. Sama seperti ayah saya yang suka musik, sekalipun dia tidak menyuruh kami jadi musisi, tapi dengan menghadirkan alat musik di rumah, sering bernyanyi-nya, dsb, akhirnya kami jadi terbawa. Keenan juga pasti tumbuh besar dalam tendensi profesi kami berdua. Saya pasti akan mendekatkan dia dengan buku, dengan musik, dengan seni. Ayahnya pasti mengajak dia ikut main drum, atau membawa dia ikut kalau show, dsb. Saya nggak tahu outcome dari itu semua, apakah kemudian dia mengikuti jejak kami berdua atau tidak, yang jelas kami akan berusaha memfasilitasi semua potensi dia. I just want him to become the best at what he’s good at.

Rencana Anda ke depan baik sebagai penulis atau penyanyi?

Untuk menulis ya tentunya menamatkan serial Supernova, menerbitkan kumpulan cerita dalam waktu dekat. Kelak, saya ingin menulis cerita anak. Untuk nyanyi penginnya bikin album solo, tapi nggak ngoyo. Kalau bisa terealisasi tahun ini sudah bagus banget. 
 

Tuesday, February 10, 2009

A+ Majalah | Most Creative People | Mei, 2005

Describe yourself in 5 words: Freak of Nature, yeah, yeah!

If you were a canvas, you'd be painted by... Pak Tino Sidin.

If you were a microphone, you'd be sang by... Sarah McLachlan.

If you were clothes, you'd be worn by... Vic Zhou.

I like the taste of a/an... fresh water at 15 degrees Celcius.

I like the smell of a/an... garden after the rain.

I love to dance with... a pole.

I want to be with... My late Mom … in 5 minutes and I'll say... ‘I love you’ and ‘thank you’ and ‘sorry’ repeatedly for 5 minutes.

My life begins when... I experienced a mind explosion back in 1999.

Most beautiful things I've ever seen was... my baby boy.

My favorite quote would be... There’s nothing new under the Sun.

The soundtrack of my life is... all Tears for Fears best cuts.

I can't live without... Oxygen.

Tagline for your commercial ad... Know thyself. Don’t give a shit about Dee.

The best gigs ever was... RSD at Brisbane, Australia.

I dream of... early retirement then travelling around the world.

My guilty pleasures are... staring at the sky, doing and thinking nothing.

My hidden talent is... Cooking and flower arranging.

Your idea of complete happiness... That unspeakable time before being born.

Cockroach… really scares me because… reasons that I wish I knew.

What inspires you? Life and all its crap.

Best Jakarta spot is... Bandara CGK Terminal Keberangkatan Internasional.

My most embarrassing fashion mistakes was... nge-bonding rambut.

Medicine for my soul and mind is... Sleep. Lotsa sleep.

I wish i was the one who created... Microsoft.

I move my feet when I hear... Kepakan sayap kecoak.

1st thing I purchased with my 1st salary was... Jam tangan Kura-kura Ninja, 1991.

Hardest thing that i should do is... not to laugh for one whole day.