Showing posts with label Blog. Show all posts
Showing posts with label Blog. Show all posts

Tuesday, December 16, 2014

Her World Magazine | Most Powerful Woman 2011 | Juni, 2011 | by Theresia Christy


Apa saja kesibukan Mbak Dewi saat ini?

Saya baru saja meluncurkan buku baru, kumpulan cerita berjudul Madre yang merupakan kumpulan karya saya selama lima tahun terakhir. Selebihnya sih lebih banyak kerja dari rumah, dan mengurus anak tentunya.

Dari beberapa e-mail kita, aku lihat perhatian Mbak Dewi sangat besar untuk keluarga, khususnya anak-anak. Hal apa yang mendasari hal tersebut? Adakah yang bisa dibagikan kepada pembaca Her World secara khusus, dan perempuan Indonesia secara umum?

Sudah jadi komitmen saya dengan suami untuk full mengurus anak bungsu kami, Atisha yang sekarang baru 20 bulan. Anak kami yang pertama, Keenan, juga baru kelas 1 SD (sekarang naik kelas 2). Jadi banyak sekali hal-hal yang sifatnya transisional bagi anak-anak seumur mereka. Dari mulai perkembangan mental, fisik, sampai aktivitas. Bagi kami periode itu sangat krusial, tidak akan terulang lagi, jadi sayang kalau terlewat. Sementara saya berprinsip kalau pekerjaan sih bisa menunggu, akan ada saatnya saya bisa kembali full bekerja seperti dulu. Lagipula, banyak di rumah bersama anak itu ternyata lebih menyenangkan.

Supernova KPBJ menjadi salah satu karya yang diterbitkan dalam bahasa Inggris, bagaimana perasaan dan apa pendapat Mbak Dewi tentang hal tersebut?

Bagi saya itu impian yang jadi kenyataan. Memang tidak mudah untuk buku lokal menembus pasar internasional, dan diterjemahkan saja bukanlah jaminan buku tersebut akan bagus penjualannya. Namun bagi saya, dan juga Yayasan Lontar - yang menerbitkannya, penerjemahan karya pustaka Indonesia adalah penting untuk memperkenalkan kultur, masyarakat, dan Indonesia secara keseluruhan kepada dunia, karena sastra adalah karya kompleks yang mencerminkan lebih dari sekadar kisah, melainkan juga budaya sebuah bangsa.

Saat ini, Mbak Dewi (tampaknya) lebih dikenal sebagai novelis, apakah memang ini yang menjadi cita-cita Mbak sejak awal? Tolong ceritakan.

Saya nggak pernah bercita-cita secara spesifik menjadi penulis. Yang saya tahu sejak kecil, hobi saya adalah musik dan menulis, dan saya mengembangkannya sedemikian rupa selama bertahun-tahun sehingga akhirnya bisa menjadi profesi. Prinsip saya dalam bekerja adalah realistis dan situasional, artinya mana yang bisa dan feasible untuk saya kerjakan saat ini, itulah yang saya jalankan. Dengan pilihan saya untuk lebih banyak di rumah dan fokus pada keluarga, otomatis menulis menjadi lebih convenient, karena saya dimungkinkan untuk banyak di rumah. Kalau satu saat situasinya berubah lagi, anak-anak sudah lebih independen misalnya, ya, prioritas karier saya bisa berubah lagi juga. Namun bidangnya nggak akan lepas dari hobi saya. 

Adakah hal-hal tertentu yang ingin Mbak sampaikan melalui tulisan-tulisan Mbak kepada para pembaca?

Intinya, saya menulis apa yang saya suka baca. Artinya, saya menuliskan minat saya sendiri. Hal-hal yang saya tulis cenderung berbau transendental, spiritual, tapi dalam kemasan yang relatif mudah dicerna. Hal itu jugalah yang saya suka dan saya cari ketika saya membaca buku. Jadi dalam hal ini saya memposisikan diri saya sebagai pembaca.

 Adakah bidang lain yang menjadi passion Mbak Dewi, selain menulis? Kalau nggak salah, aku pernah baca di blog Mbak Dewi kalau Mbak juga hobi dengan masak dan makan? Bisa ceritakan tentang hal tersebut?

Saya senang masak dari kecil, tapi sempat berhenti lama. Setelah berkeluarga, minat itu muncul lagi. Selain masak, saya senang tanaman. Punya keinginan kursus serius merangkai bunga, tapi belum kesampaian. Saat ini lebih banyak sibuk di kebun sendiri, bercocok-tanam.

Mbak Dewi apakah masih aktif menulis di blog? Alasannya? Soalnya aku lihat (kayaknya) terakhir nulis di blog tahun 2009.

Blog Dee-Idea itu dibuat untuk menampung tulisan-tulisan nonfiksi yang sifatnya random. Dan bagi saya, per saat ini kumpulan tulisan yang saya buat sudah cukup dari segi jumlah. Jadi saya memang berencana untuk menutup blog tersebut. Barangkali satu saat akan saya jadikan buku. Kegiatan blogging mungkin masih akan berjalan tapi dalam format dan konsep yang berbeda. Jadi nggak sama dengan Dee-Idea lagi. Untuk interaksi dengan pembaca, saya sekarang lebih memilih lewat jalur Twitter.

Apa yang menjadi pencapaian terbesar Mbak Dewi sejauh ini?

Mengalami gentle birth saat bersalin Atisha. Bagi saya, peristiwa itu sangat luar biasa dan menguatkan saya secara fisik, mental, dan spiritual.

Menurut Mbak, apa yang membuat seorang perempuan menjadi powerful?

Terus terang, pemahaman saya tentang esensi keperempuanan mengalami banyak transisi. Terutama ketika saya belajar memahami sifat feminin dan maskulin secara energetik. Menurut saya, selama ini kita cenderung fokus pada pencapaian eksternal seorang perempuan. Kalau perempuan berkarier hebat, berpendidikan tinggi, berpengaruh secara politis, kita lantas mencapnya "powerful". Namun sebetulnya orientasi external achievement pada hakikatnya sangatlah maskulin. Jadi kita seperti menghargai perempuan yang punya kualitas maskulin kuat, dan bukan kualitas feminin yang kuat. Maskulin di sini bukan berarti tomboy, dan feminin juga bukan berarti girly, melainkan dalam dari itu. Bagi saya perempuan yang powerful dalam arti sesungguhnya adalah perempuan yang "grounded", punya koneksi kuat pada tubuhnya, pada alam, pada intuisinya, dan mentally & spiritually secured.

Apa yang menjadi kekuatan terbesar Mbak Dewi? 

Saat saya berfungsi sehari-hari, kekuatan terbesar adalah dari keluarga saya. Namun selalu ada kekuatan yang lebih besar dari diri kita sendiri, yang bahkan pemikiran kita tidak bisa memahaminya. 

Berkaitan dengan ulang tahun Indonesia, cara Mbak Dewi dalam mewujudkan rasa cinta pada Indonesia?

Terus berkarya, dan memberikan yang terbaik ke dalam karya tersebut. 

Siapa sosok perempuan powerful yang menjadi inspirasi Mbak Dewi dan apa alasannya?

Saya sangat mengagumi Robin Lim, seorang bidan dan pemilik klinik bersalin Bumi Sehat di Ubud. Ibu Robin ini baru saja dapat award dari Kick Andy dan juga menjadi salah satu CNN Heroes. Saya kenal langsung dengan beliau dan sering mampir ke Bumi Sehat setiap kali ke Ubud. Dedikasi, semangat, dan ketulusan Beliau sangat luar biasa. Dan bukan hanya Robin seorang bidan yang membantu ribuan ibu, beliau juga penulis yang menulis buku tentang kehamilan, persalinan, buku puisi, fiksi, dsb. Beliau sangat mengagumkan.

For Men | Profil | Februari, 2013 | by Hendra Suhendra


Sepertinya Anda melek IT juga. Untuk saat ini seberapa penting teknologi informasi bagi Anda? 

Haha, itu hanya “tipuan brosur”. Mungkin kesannya aja saya melek IT, tapi sebenarnya biasa-biasa aja. Yah, sampai batas tertentu saya punya ketertarikan dan kebutuhan, tapi saya bukan pengulik IT. Batas saya hanya sampai level praktis aja. Kalau soal hp, misalnya, saya biasa pakai satu handset sampai jelek banget dan nggak ganti-ganti (bahkan pernah ada hp saya yang tergilas mobil dan tetap saya pakai). Baru tahun lalu saya beli Blackberry. Laptop saya IBook Macintosh edisi lama, dan masih saya pakai sampai sekarang. Penggunaan internet juga sebatas yang saya butuhkan aja. Terus terang, untuk masalah IT, sekarang ini saya dibantuin Reza juga. Dia lebih ngulik daripada saya. 

Anda juga memiliki blog dan menulis di sana. Apa arti sebuah blog bagi seorang Dewi Lestari? 

Saya mulai nge-blog tahun 2006. Awalnya hanya untuk memuat tulisan-tulisan yang belum tertampung di buku. Ada banyak artikel yang saya tulis, sebagian sudah dimuat di majalah, sebagian lagi belum terpublikasi, dan saya bisa tampung itu semua di blog. Baru tahun 2007 saya lebih intens menulis di blog, traffic di blog saya juga meningkat pesat. Bahkan sekarang saya bisa mengatakan bahwa blog adalah media komunikasi utama saya dengan pembaca. Saya sih kepingin bikin website sendiri, domain sudah ada, tapi konsep website-nya masih mencari yang paling pas. 

Lagu terbaru Anda, Malaikat Juga Tahu, memiliki spirit yang khas dan berbeda. Bagaimana proses terciptanya? 

Pada dasarnya kalau bikin lagu saya lebih sering pakai sistem ‘wangsit’, jadi inspirasinya datang gitu aja, kayak wangsit. Makanya susah banget terima order bikinin lagu. Wong saya sendiri nggak pernah tahu kapan inspirasi itu muncul. Dan lagu Malaikat Juga Tahu (MJT) adalah salah satu contoh yang sempurna untuk kondisi tsb. Lagu itu tercipta begitu saja, hampir tanpa usaha berarti. Benar-benar seperti kesambar petir. Saya lagi di kamar mandi, sikat gigi, lalu melodi reff-nya MJT tahu-tahu muncul. Saya langsung rekam di HP. Lalu, saya tergelitik memakai kata “malaikat” dan “juara”, dan jadilah lirik reff-nya MJT. Sisanya saya ikut arus lagu itu sendiri aja. Dalam mencipta saya merasa lebih sering “digiring” daripada “menggiring”. 

Pesan apa yang ingin Anda sampaikan lewat lagu Malaikat Juga Tahu? 

Yah, sesuai liriknya saja. Saya nggak punya pesan pribadi apa-apa. Cerita dalam lirik MJT cukup umum, banyak orang mengalaminya. 

Apakah lagu tersebut berhubungan dengan seseorang? Tentang siapa? 

Nggak ada. Banyak yang nyangka saya curhat pribadi lewat MJT, padahal sama sekali tidak. Kalau dalam fiksinya, saya memang mengangkat sepenggal kisah dari kehidupan seorang teman dan keluarganya. 

Sebenarnya, bagaimana proses kreatif Anda dalam menciptakan lagu? Apakah bisa berdasarkan pesanan seseorang? 

Lihat jawaban no 3. 

Grup musik atau band sebelum bubar biasanya melakukan pergantian personil, tapi Trio RSD langsung bubar. Kenapa? 

Memang itulah keputusan kami saat itu. Saat saya memutuskan keluar, Rida & Sita pun memutuskan untuk tidak mencari pengganti, jadi mending grupnya pensiun aja sekalian. Yah, kami dibatasi oleh faktor nama juga sih, karena kan kalau mau tetap “Rida, Sita, Dewi” berarti nama personilnya harus sama terus. Sebetulnya kalau saya yang keluar kans cari pengganti cukup besar, berhubung nama “Dewi” sangat pasaran, hehe. Kalau “Rida” atau “Sita” pasti lebih susah. 

Sepertinya Anda sudah menikmati sebagai solois. Ada rencana untuk membuat album atau konser Trio RSD Reunion? Kalau ada, kapan? Kalau tidak, kenapa? 

Bikin album nggak gampang. Butuh persiapan yang panjang dan matang. Terus terang, kalau untuk bikin album lagi kami belum kepikiran. Tapi untuk konser atau nyanyi bareng sih ayo-ayo aja, kalau memang jadwal dan konsepnya pas. Sebetulnya kalau konser reuni sudah kita jalankan. Tahun 2007 akhir kita konser ke 12 kota di Jawa Barat. Untuk ke depannya masih belum tahu. Rida sekarang lagi mau meluncurkan album solo, jadi pasti dia lagi konsentrasi dulu ke albumnya. Sita juga punya rencana sama. Untuk RSD, kami sih cenderung santai dan nggak ngoyo. Kalau ada tawaran nyanyi ya nyanyi, kalo enggak ya nggak pa-pa.  

Anda sukses sebagai penyanyi dan penulis. Boleh jadi ada pekerjaan atau profesi yang menantang tapi Anda tidak ingin menekuninya. Seperti apa misalnya? 

Saya punya hobi masak, traveling, dan merangkai bunga. Nggak tahu apakah akan jadi profesi atau enggak.

Dalam sebuah wawancara Anda mengatakan ingin meluncurkan novel digital dalam bentuk cetak. Bisa diceritakan? 

Novel digital saya berjudul Perahu Kertas, tahun lalu (2008) diluncurkan oleh XL, dan tahun ini (2009) akan diluncurkan lewat Indosat. Novel digital sendiri adalah novel yang bisa di-download dan dibaca lewat hp, jadi sementara ini yang bisa baca adalah pengguna hp dari perusahaan telekomunikasi yang bersangkutan. Tadinya saya mau meluncurkan versi cetak Perahu Kertas akhir 2008, tapi bertabrakan jadwal rilisnya dengan Rectoverso. Saya cenderung untuk tidak mengeluarkan dua produk dalam waktu berdekatan, karena ribet menjalankan promonya. Jadi Perahu Kertas terpaksa ditunda sampai pertengahan tahun 2009. 

Beberapa tahun lalu Andrei Aksana pernah meluncurkan novel disertai soundtrack, judul Lelaki Terindah, meskipun (album) soundtrack-nya tidak dikemas secara khusus. Pendapat Anda? 

Saya kurang jelas maksud pertanyaan ini. “Pendapat saya?” Yah, baik-baik saja.  

Sepertinya, karya-karya Anda cenderung berbau supranatural. Apakah ini menjadi trade-mark seorang Dewi Lestari? 

Kita perlu definisikan dulu arti “supranatural”. Buat saya “supranatural” itu berkonotasi mistis dan cenderung klenik. Benarkah ini yang dimaksud? Karena saya tidak punya niatan demikian. Jika yang dimaksud adalah “spiritual”, berarti jawabannya adalah iya. Dan yang saya maksudkan “spiritual” di sini adalah dorongan alamiah dalam setiap manusia untuk mengenal diri sejatinya. Sejujurnya, saya nggak pernah dengan sengaja ingin menjadikannya sebagai label atau trade mark. Tapi memang motor penggerak saya terbesar dalam berkarya adalah spiritualitas, karena itulah minat saya yang paling utama. 

Adakah keinginan untuk menciptakan sebuah karya dengan tema tertentu, namun Anda khawatir akan mengalami pencekalan? 

Sejauh ini belum ada, baik yang dimaksud sebagai ‘tema tertentu’ maupun kekhawatiran akan pencekalan.  

Tema-tema apa saja yang menarik untuk Anda tulis menjadi novel atau cerita? 

Seperti yang dijelaskan di atas, kecenderungan saya adalah menulis tema tentang pencarian jati diri. Tapi nggak 100% itu melulu juga, saya pun senang mengungkap cerita hati: baik itu jatuh cinta, patah hati, berharap, dsb. 

Dari banyak peristiwa yang terjadi secara global, momen apa yang paling menyita perhatian Anda? 

Sekarang ini? Masalah lingkungan hidup. 

Kalau tidak salah, novel-novel Anda belum pernah difilmkan? Apakah Anda tertarik untuk memfilmkan? Atau jangan-jangan sudah ada yang meminta? 

Memang buku saya belum pernah difilmkan. Dulu, waktu Supernova baru keluar, banyak pihak yang menawarkan, tapi saya belum punya kesiapan untuk itu. Karena kalau bikin film, pastinya saya ingin terlibat cukup intens, dan sejauh ini, secara waktu dan kesempatan saya belum punya ruang untuk itu. Kalau soal tertarik sih tertarik, tapi bukan jadi tujuan utama saya. Bagi saya, difilmkan atau tawaran difilmkan hanyalah bonus sampingan, yang kalau bisa jalan ya syukur, enggak juga nggak apa-apa. 

Seandainya difilmkan, seberapa besar Anda ingin terlibat didalamnya? Karena cukup banyak novelis yang mengaku kurang puas atas hasil adaptasinya ke dalam film. 

Setidaknya supervisi skenario, karena skenario bagi saya adalah nyawa film. 

Saat masih bersama Marcell, sepertinya perkawinan Anda ideal sekali. Akan tetapi perceraian terjadi juga. Menurut Anda, seperti apa sebuah perkawinan yang ideal? 

Saya nggak pernah punya konsep ideal tentang pernikahan. Dan jika dikatakan “sepertinya perkawinan Anda ideal sekali” tentunya itu adalah penilaian terbatas dari pihak luar, yang menurut saya sah-sah saja, tapi belum tentu punya derajat kebenaran apa pun. Perkawinan bagi saya hanyalah bungkus luar yang nggak perlu dibubuhi idealisme apa-apa karena hanya akan bikin stres dan tidak natural. Yang lebih penting adalah relationship-nya. Bungkus bisa apa saja. Bagi saya, relationship yang sehat adalah relationship yang berbasiskan kejujuran dan kekinian (tidak terpaku pada masa lalu dan tidak berorientasi ke masa depan). Dan itu tidak berarti sebuah relationship akan lekang seumur hidup atau bahagia terus menerus. Jadi, bagi saya konsep ideal tidak berlaku. Yang lebih penting dan nyata adalah hubungan yang natural, bukan yang ideal.

Monday, December 15, 2014

Wawancara Skripsi Part 2 | Mei, 2007 | by Diah Ismawardani


PENULISAN ARTIKEL DI DALAM BLOG DEE-IDEA 

Saat saya membaca artikel Anda ide yang dibuat terkadang bukan hal yang baru, namun Anda melontarkan argumen yang cukup kuat. Apakah hal ini sering terjadi pada saat Anda menulis. Mengapa demikian?

Saya sendiri baru mulai mencoba menulis artikel dengan lebih intensif sejak tahun lalu, jadi sebetulnya saya juga masih meraba-raba bentukan khas artikel saya itu seperti apa. Sekarang-sekarang ini memang sudah mulai ketahuan benang merahnya. Saya senang membuat artikel yang sifatnya menggugah, temanya tidak jadi masalah apakah sederhana atau tidak. Yang penting mampu mengajak pembaca untuk merenung. Dan barangkali itulah ciri khas artikel saya.

Kebanyakan dari ide artikel Anda adalah hasil pengamatan sehari-hari, namun apakah Anda tidak takut bila pembaca beranggapan ”itu adalah hal yang biasa”, dan artikel Anda menjadi tidak dibaca?

Semua artikel saya memang berawal dari pengamatan sehari-hari. Dan saat saya menulis, saya tidak terlalu memikirkan pembaca saya beranggapan apa, yang penting saya jujur dulu menuliskan apa yang saya pikir atau rasa. Syukur kalau pembaca menyukai atau terinspirasi, kalu tidak juga tidak apa-apa. Saya tidak terlalu memikirkan. Semua itu terserah pembaca, dan penulis tidak bisa terlalu mengendalikan.

Apa yang melandasi ide konvensional yang ada dalam beberapa artikel Anda namun tetap Anda tulis dan ternyata dimuat dalam harian, apakah atas dasar nama besar Anda saja?

Bagi saya, artikel itu tidak harus bertemakan sesuatu yang ‘aneh’ atau ‘tidak biasa’. Karena toh yang kita hadapi dalam hidup kebanyakan adalah hal-hal yang rutin kita temui, biasa, dan tidak aneh-aneh, tapi di balik semua itu banyak perenungan yang kita lupakan. Saya tertarik untuk menggali hal-hal kecil yang cenderung dilupakan tersebut. Saya pikir, setiap harian punya kebijaksaan tertentu, kalau memang tulisannya tidak layak standar mereka, siapa pun penulisnya, ya, tidak akan dimuat. 

Terus terang saya sangat menyukai gaya penulisan artikel Anda yang tidak jauh dari seperti menulis novel. Apakah tidak pernah ada komplain dari pihak media massa yang memuat artikel Anda?

Tidak. 

Apakah Anda pernah melihat orang lain melakukan ide yang Anda tulis dalam artikel Anda?

Belum. Tapi saya suka gaya penulisan artikel Goenawan Mohamad, menurut saya dia esais yang sangat hebat. 

Apakah ada yang beranggapan bahwa artikel Anda tidak selayaknya sebuah artikel karena gaya penulisan Anda yang seperti menulis novel ini?  Lalu bagaimana Anda menyikapinya?

Bagi saya, tidak ada garis kaku antara ‘gaya artikel’ dan ‘gaya novel’, yang membedakan adalah fiksi atau nonfiksi. Gayanya bisa apa saja. Saya malah suka bingung, kenapa artikel maupun karya-karya tulis sepertinya wajib ditulis dengan gaya akademis yang cenderung berat dan membosankan, kan tidak harus begitu melulu? Mungkin juga karena saya penulis novel, jadi ada pengaruh kuat dari gaya penulisan fiksi. Tapi menurut saya, gaya adalah pilihan, dan juga karakteristik. Saya tidak akan menulis artikel dengan gaya orang lain, hanya karena alasan gaya tsb ‘wajib’ atau ‘selayaknya’. Semua penulis tetap harus menemukan otentisitasnya masing-masing. 

Bagi Anda, apa artikel itu sebenarnya?

Secara definisi saya tidak tahu pasti, barangkali  bisa ditemukan di buku-buku teks.
Yang jelas, artikel itu karya nonfiksi. Bisa ditujukan untuk kepentingan akademis, jurnalistik, dsb. 

Dalam beberapa artikel Anda sering menggunakan Intro yang mendeskripsikan kehidupan Anda sehari-hari. Apakah memang kehidupan sehari-hari Anda cukup menarik bila dijadikan sebuah intro artikel? Atau hanya sebatas gaya penulisan Anda saja?

Karena kebanyakan saya menulis artikel diawali oleh perenungan terhadap hidup saya sehari-hari, saya pasti memasukkan unsur-unsur itu. Dan menurut saya, artikel yang menarik adalah artikel yang personal. Kalau kita membaca majalah-majalah internasional, setiap wawancara berkelas adalah wawancara yang kental dengan personalitas si penulisnya, bukan sekadar pemaparan info. Dan saya menyukai tipe artikel seperti itu. Karenanya, saya pun selalu menuliskan artikel yang sifatnya personal.

Terkadang dalam penulisan artikel seolah Anda tidak memperhatikan kemampuan pembaca mencerna kata-kata yang anda munculkan. Dan tak sedikit kata-kata yang sukar pembaca mengerti. Bagaimana Anda berani seperti itu?

Justru supaya pembaca penasaran, dan mencari tahu. Kalaupun dia tidak cari tahu, minimal dia jadi tahu apa yang dia tidak tahu. Saya pribadi menyukai dengan tulisan yang menantang saya untuk tahu lebih, memberi info lebih. Menurut saya itu salah satu cara untuk kita tidak malas dan terus menggali pengetahuan.

Saat menulis artikel, apakah Anda memperhatikan abstraksi media mana yang akan memuat tulisan Anda? Atau tidak?
 
Saya tentu menyesuaikan juga, tapi lebih ke masalah temanya dan contoh-contoh yang saya pakai. Untuk Imagosentris dan Sinkronisitas, karena saya tahu pembaca majalah Trolley kebanyakan anak muda, saya pakai contohnya dengan nama musisi, dsb. Gaya penulisan dan bobot sih biasanya sama-sama saja, karena menurut saya itu bagian dari karakteristik saya sebagai penulis.

Saya pernah membaca beberapa artikel anda di harian Pikiran Rakyat, dan ada yamg satu yang sangat saya sukai “Menembus Tingkap Kaca” dan “Satu Orang Satu pohon”, dan beberapa artikel lain seperti “imagosentris” menurut Anda artikel Anda yang paling bagus yang mana? Bisakah dilampirkan?

Saya tidak bisa memilih mana yang paling bagus. Semuanya memiliki pesan yang saya pikir layak dan cukup penting untuk disampaikan. Pembacalah yang menentukan tulisan mana yang paling beresonansi dengan mereka, dan pastinya setiap orang akan memiliki opini yang berbeda-beda. 

Artikel seperti apa yang menurut Anda bagus?

Artikel yang menggugah, mengedukasi, memberi info berguna, dan personalitas penulisnya terasa. 

Artikel bisa dikategorikan sebagai karya jurnalistik, lalu bagaimana menurut Anda tentang tulisan Seno Gumira Ajidarma dalam bukunya “Ketika Jurnalisme dibungkam, sastra berbicara? Apakah Anda pernah mengalami hal itu sebagai penulis artikel dan sastra?

Kebetulan saya mulai menulis ketika masa reformasi, di mana semua orang lebih bebas bersuara dan saya tidak merasakan opresi yang dirasakan banyak penulis saat rezim Orde Baru, jadi saya tidak bisa terlalu memberikan banyak pendapat soal ini. Lagipula, saya kurang tertarik dengan masalah-masalah politik, jadi tulisan-tulisan saya tidak terlalu berisiko pembungkaman. 

Bagaimana menurut Anda tentang lingkungan Indonesia khususnya pemanasan global, karena kebanyakan yang saya baca dari artikel Anda lebih mengarah ke lingkungan?

Karena saya sangat peduli soal lingkungan, dan menurut saya krisis lingkungan adalah hal yang sangat krusial untuk dunia sekarang ini.

Apakah Anda menulis setiap hari? Kapan terakhir menulis artikel? 

Saya menulis jurnal setiap hari. Kalau berkarya sih sebagaimana ada ide dan minatnya saja. Artikel terakhir bulan Mei ada di blog saya, judulnya Pacarku Ada Lima.


PEREMPUAN PENULIS & DUNIA PERBUKUAN INDONESIA 

Sebagai seorang wanita, bagaimana perkembangan penulis wanita di Indonesia saat ini?

Untuk perempuan, kondisinya sedang menguntungkan, karena sekarang justru para penulis perempuan yang lebih banyak disorot, bukan berarti lebih bagus dari yang laki-laki. Tapi media sedang berkiblat ke arah ekspos para penulis perempuan. Yang jelas, banyak penulis perempuan yang berani dan lebih jujur mengungkapkan masalah-masalah politik, gender, seksualitas, dan datang dari sudut perempuan, jadi cukup menarik untuk dikaji—khususnya peminat masalah-masalah gender.

Apakah pernah ada tanggapan negatif pembaca terhadap tulisan Anda? 

Kritik selalu ada. Supernova 1 cukup keras juga mengalami gelombang kritik. Tapi saya rasa semua karya seperti itu, ada yang memuji dan juga ada yang mengkritik. Hal itu biasa, karena kritik sastra adalah bagian inheren dari sastra itu sendiri. 

Apakah tanggapan Anda tentang penulis Indonesia yang sok “nginggris” pada judul buku, namun isinya bahasa Indonesia?
 
Sebetulnya sah-sah saja, selama punya konsep yang jelas, memang nyambung dan relevan dengan isi buku, dan juga mengandung nilai jual (misalnya gampang diingat, dsb) supaya mendukung buku itu sendiri. Tapi saya pribadi, selama masih ada pilihan yang sama baiknya dalam Bahasa Indonesia, saya pasti akan memilih dalam Bahasa Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan tayangan televisi yang seperti kasus di atas?

Idem. Selama ada konsep jelas, nyambung, dan ada nilai jual, kenapa tidak? Tapi kalau ada padanan Bahasa Indonesia yang sama baiknya, kenapa juga tidak dicoba dulu dengan Bahasa Indonesia?

Dalam dunia tulis menulis, terdapat dua paham yang menyatakan bahwa seorang penulis itu dilahirkan (sangat ditentukan bakat), kedua seorang penulis dibentuk (melalui proses pelatihan/ pendidikan). Bagaimana pendapat Anda mengenai paham ini?

Saya pernah baca kutipan, bahwa faktor bakat itu cuma 1%. 99% kerja keras dan keberanian. Saya sendiri bukan lahir dari keluarga penulis, dan banyak penulis yang saya tahu juga orang tuanya bukan penulis. Tapi mereka menyukai menulis, lalu berani mencoba, dan bekerja keras untuk mengembangkan kemampuannya. Jadi bukan bakat yang paling penting, tapi minat. Selama minatnya ada, tinggal disusul oleh komitmen. Tapi, kalau minatnya nggak ada, mau orang tuanya pasangan sastrawan, ya, tidak akan tumbuh bakatnya.

Anda sendiri termasuk yang mana?

Saya punya minat, nekat dan komitmen. Soal bakat, saya tidak yakin. Mungkin ada, mungkin tidak.
 
Apa dan bagaimana penilaian Anda terhadap para penulis Indonesia sekarang?

Banyak penulis baru, terutama dari genre chicklit dan teenlit. Saya mendukung keberanian dan kreativitas para penulis baru ini. Tapi kalau fiksi dewasa saya masih melihat ada kesenjangan antara karya sastra dan populer. Sementara yang bermain di tengah-tengah, yang bisa berfungsi sebagai jembatan, agak kurang jumlahnya. Jadi menurut saya sekarang ini tercipta kesenjangan yang cukup lebar antara penulis remaja dan penulis dewasa. Dan tema-tema yang dipilih para penulis remaja ini cenderung agak jenuh, sementara yang penulis dewasa mungkin agak terlalu serius, jadi para pembaca muda cenderung kurang berminat untuk mengikuti. 

Apakah penulis harus menguasai Bahasa Indonesia, terutama tata bahasanya?

Kalau mau jadi penulis profesional: harus. Kalau cuma untuk jadi diary atau dibaca oleh teman-teman dekat, nggak harus. Kalau kita sudah jadi penulis profesional, kita bertanggung jawab untuk edukasi bahasa yang baik bagi pembaca kita, karena saya sendiri dulu pun merasakan betul akibat dari kurangnya pengetahuan soal tata bahasa ini menjadikan saya banyak tidak tahu soal penulisan, ejaan, dll. Setelah cerita saya diedit saya baru mulai belajar, dan menyadari bahwa selama ini saya belajar dari sumber-seumber yang memang ‘kurang bertanggungjawab’. Iklan kita banyak yang ngaco, penulisan di majalah juga ngaco, sementara seberapa sering kita baca buku teks pelajaran Bahasa Indonesia? Jadi sebagai penulis profesional, kita harus menguasai. Bahkan menurut saya, profesionalisme si penulis bisa dinilai, salah satunya, adalah dengan melihat tata bahasanya.

Saturday, December 13, 2014

Bz! Majalah Komunitas Blogger | Blook: Dari Buku ke Blog | April, 2012 | By Meity Mutiara


Sempat menulis, kemudian menyanyi dan menulis lagi. Apa yang membuat Kak Dee memantapkan hati untuk menulis?

Sebetulnya sekuensnya nggak begitu. Awalnya saya nyanyi duluan. Dan setelah menulis, belum pernah berhenti menulis. Menyanyinya yang off, kecuali ketika bikin Rectoverso yang memang terdiri dari album dan buku. Menulis sendiri sudah hobi dari kecil, tapi baru tahun 2001 saya menerbitkan buku. Hingga kini saya menulis karena memang sudah hobi, dan tentu kini menjadi profesi. Dan bagi saya, menulis adalah profesi yang nyaman, karena memungkinkan saya lebih banyak di rumah.

Tentang Supernova yang banyak ditunggu, karena setiap sequence bikin penasaran fansnya. Terinspirasi dari apa/siapa setiap sequence Supernova?

Konsep untuk Supernova dan masing-masing serinya sudah ada sejak lama, saya susun dari tahun 2001. Jadi sekarang tinggal eksekusinya aja. Setiap buku menampilkan tokoh yang berbeda-beda, penelusuran yang berbeda-beda, dan penekanan topik/disiplin ilmu yang juga beragam. Benang merahnya adalah spiritualitas. Supernova merupakan kisah petualangan spiritual dari tokoh-tokohnya.

Loncat ke Perahu Kertas. Bagaimana akhirnya menyetujui Perahu Kertas untuk dilayarlebarkan? Apa harapan Kak Dee terhadap versi layar lebarnya ini mengingat terkadang banyak film adaptasi yang tidak memuaskan fans yang sudah membaca bukunya?

Sejak menulis manuskrip Perahu Kertas thn 1996, saya selalu membayangkan cerita itu sebagai motion picture. Dulunya sih kebayangnya sebagai serial teve, tapi jadi film pun saya oke. Jadi, ketika dulu penerbit Bentang datang untuk menawarkan diri menerbitkan Perahu Kertas, Mizan Production yang merupakan sister company dari Bentang sudah juga langsung menawarkan format film. Tentu saya sambut baik, karena memang itu cita-cita saya sejak lama. Risiko fans tidak puas tentu ada, tapi ya sudah terima saja. Menurut saya, tidak akan mungkin memuaskan semua orang karena masing-masing pembaca akan memiliki "film" versi masing-masing di kepalanya, yang bahkan mungkin berbeda dengan saya. Yang penting selama proses pembuatan Perahu Kertas, saya coba untuk terlibat sebisa mungkin dalam penentuan hal-hal penting semisal skenario, casting, dsb. Sejauh ini tim produksi Perahu Kertas pun sangat kooperatif untuk diajak diskusi.

Tentang blog Blog Dee Idea di 
http://dee-idea.blogspot.com/ , bisa cerita tentang blognya? Lalu apa guna blog, fanpage dan twitter buat seorang penulis seperti Kak Dee? 

Blog saya sebetulnya sudah lama nggak aktif karena saya kepingin ganti konsep, cuma belum sempat fokus ke sana karena setahun lebih ini menulis dan riset untuk Supernova Partikel. Buat saya, blog lebih seperti wadah untuk memuat ide yang tidak tertampung di buku. Sementara Twitter dan fanpage gunanya lebih untuk berkomunikasi dengan pembaca, memberikan informasi, dsb.

Wednesday, March 11, 2009

GOOD HOUSEKEEPING | Cover Story | Jan, 2009 | By Zustina Priyatni

1. Apa rasanya jatuh cinta (dengan Reza Gunawan) lagi?

Reza adalah sahabat terbaik saya, bahkan sebelum kita pacaran dan menikah. I feel so blessed to experience this companionship with him.

2. Saat Anda memutuskan untuk menikah lagi, apa pertimbangan Anda?

Sejujurnya saya nggak tahu pasti. Lebih seperti intuisi. Jadi bukan pertimbangan logis atau matematis bahwa ini poin positifnya berapa, negatifnya berapa, penjelasannya gimana, dsb. Pokoknya, itulah yang saya rasakan sebagai sesuatu yang ‘pas’ bagi saya saat itu, dan juga saat ini, tapi ujungnya apa… kita nggak pernah tahu.

3. Apa yang Anda pelajari dari kegagalan pernikahan Anda sebelumnya?

Bahwa segala sesuatu indah pada waktunya, baik itu perjumpaan maupun perpisahan. Bahwa kejujuran, bagi saya, lebih penting daripada sekadar kebersamaan. Bahwa hubungan cinta, bagi saya, adalah sesuatu yang realistis dan ‘hidup’, bukan konsep mati dan pajangan sosial. Bahwa otentik pada diri kita sendiri jauh lebih mendamaikan daripada cuma bikin masyarakat senang.

4. Percayakah Anda dengan istilah "soulmate"?

Menurut saya, “soulmate” adalah salah satu istilah yang terlalu diromantisir. Hehe. Bagi saya pribadi, “soulmate” tidaklah tunggal, melainkan jamak. Setiap orang dan setiap hal yang hadir untuk mendewasakan jiwa kita, ya itulah “soulmate”. Jadi jumlahnya tidak satu, dan punya banyak konteks. Saya dengan orang tua dan keluarga saya di kehidupan sekarang ini, misalnya, mereka juga “soulmate[s]” saya. Jadi konteksnya tidak harus dengan pasangan hidup saja.

5. Apa Keenan tahu bahwa bapak dan ibunya sudah berpisah? Pengertian seperti apa yang Anda coba sampaikan padanya?

Keenan sekarang baru berusia 4 tahun. Jangankan konsep perceraian, konsep pernikahan saja tentunya anak sebesar dia belum ngeh. Menurut pengalaman dan pengamatan saya selama ini, di usia anak seperti Keenan penjelasan bukanlah hal utama. Dia lebih melihat kenyataan dan contoh langsung, bukan memahami penjelasan. Sama halnya kalau saya mau mencontohkan makan yang tertib, bukan dengan dijelaskan, tapi dengan saya peragakan langsung. Barulah dia paham. Jadi saya belum pernah menjelaskan verbal ke Keenan mengenai perpisahan orang tuanya ataupun keluarga barunya dengan Reza, saya hanya menunjukkan dari hari ke hari bagaimana ayah dan ibunya tidak bersama lagi, tapi kami berdua masih berhubungan baik dan dia bisa menemui ayahnya kapan saja. Jadi dia masih merasa secure dan tidak kehilangan. Saya juga pelan-pelan memperkenalkan Reza dan membiarkan Keenan dan Reza menemukan “chemistry” mereka secara alamiah. Nggak dipaksakan. Begitu juga ketika memperkenalkan Keenan ke oma-opanya yang baru (orang tua Reza), ya alamiah aja. Sampai akhirnya Keenan malah yang nagih ingin ke rumah oma-opanya bahkan senang bermalam di sana.

6. Apakah pandangan Anda tentang media massa berubah, setelah kasus perceraian Anda menjadi berita hangat?

Sejak lama saya memang menyadari bahwa media massa tidak ada yang objektif, meskipun kredonya demikian. Kebetulan saya kuliah politik jadi secara teoritis saya paham bahwa memang media massa pada dasarnya adalah drama-maker, tapi yang dirangkai adalah potongan kehidupan nyata, fakta, opini, dsb. Jenis drama apa yang ingin ditampilkan, ya disesuaikan dengan kepentingan dan kebutuhan dari medianya. Dan saya mengalami sendiri bagaimana fakta bisa disetir dan dirangkai untuk memenuhi kebutuhan media, terutama media hiburan. Pelajaran utamanya adalah: jangan sepenuhnya percaya apa yang kita baca dan kita dengar, justru kita harus senantiasa mempertanyakan apa yang kita baca dan kita dengar. Dan, bagi saya, dengan pendekatan seperti kita bisa lebih kritis dan jernih dalam memilah informasi.

7. Apakah benar, kehadiran Keenan sedikit banyak memengaruhi proses menulis Anda?

Setelah punya anak, cara kerja saya memang berubah. Saya nggak lagi fanatik dengan menulis subuh atau menulis malam. Sekarang saya belajar menulis kapan saja dan di mana saja, sesuai dengan sempatnya saya. Tadinya saya sempat ragu, bisa atau enggak. Tapi ternyata bisa, dan saya malah lebih merasa sehat dengan cara kerja seperti itu. Baik fisik maupun mental. Karena keseimbangan hidup saya jadi lebih terjaga, fisik saya juga nggak terlalu diforsir.

8. Belakangan Anda sering diajak menjadi pembicara di berbagai acara/seminar tentang meditasi. Sejak kapan Anda mendalami meditasi dan apa yang membuat Anda tertarik untuk menjalaninya? Adakah 'live turning event' yang menguatkan keinginan Anda untuk mempelajari meditasi?

Ketertarikan saya pada spiritualitas (dan di dalamnya termasuk meditasi) dimulai sudah cukup lama sebetulnya, dari tahun 1999 tepatnya. Saya pernah belajar meditasi selewat melalui yoga dan reiki, tapi baru tahun 2006 saya mulai serius belajar. Pertama kali saya ikut Mindfulness Retreat dengan Master Thich Nhat Hanh tahun 2006, waktu itu retreatnya diadakan di Hongkong. Pada tahun yang sama, saya ikut retreat meditasi vipassana (meditasi untuk mengenal diri) di Vihara Mendut. Dan dari sana hingga sekarang saya cukup rutin meditasi, baik melalui praktek harian maupun ikut retreat maupun pelatihan. Sekarang ini saya praktek mingguan juga di Meditasi Rabu yang kebetulan dibimbing Reza.
Tahun 1999 saya melepaskan konsep “lama” saya tentang Tuhan, agama, dsb, dan mulai mencari sendiri. Kalau dulu kan saya ikut-ikut saja apa yang dibilang orang, lingkungan, dsb. Nah mulai tahun 1999 saya kembali ke diri saya sendiri, dan mulai mencari dari sana. Kalau untuk meditasi sendiri, boleh dibilang setelah sekian tahun membaca literatur tentang spiritualitas dan meditasi, akhirnya saya haus untuk berpraktek dan mengalami sendiri. Dan itulah yang menguatkan keinginan saya untuk bermeditasi.

9. Apa manfaat meditasi yang Anda rasakan dalam kehidupan sehari-hari?

Lebih peka dan jujur pada diri sendiri. Lebih memahami jerat-jerat pikiran dan perasaan yang kadang bisa membelenggu dan memabukkan, dan lebih memahami bahwa segala sesuatu yang di luar sana adalah hasil bentukan mental kita sendiri. Jadi, meditasi membantu saya lebih bertanggung jawab atas hidup saya sendiri.

10. Saat aktivitas Anda padat, bagaimana Anda mencari waktu untuk bermeditasi?

Meditasi sebetulnya tidak sebatas pada duduk diam. Segala kegiatan bisa jadi meditasi, yang penting kita menyadari sepenuhnya, baik itu makan, berjalan, bernyanyi, masak, dsb. Saya sih selalu mengupayakan minimal dalam 1 hari itu ada kegiatan meditatifnya, mau itu duduk diam, menyadari napas, atau melakukan relaksasi ringan. 10 menit dicicil 3x sehari, misalnya.

11. Apakah Anda percaya pada kekuatan pikiran?

Semesta ini adalah kumpulan energi, dan energi mengikuti gerak pikiran (thought). Jadi, ibarat kuda dan pedati, pikiranlah kuda yang menggiring pedati ke mana2. Masalahnya, pikiran kita seringkali tidak jernih, liar, dan tidak disadari, karena kita terlalu sering mengidentifikasikan diri kita dengan pikiran kita. Padahal pikiran, meski punya kekuatan, hanyalah fenomena. Masih dualitas. Cuma keelingan atau awareness-lah yang bisa membantu kita melihat semua fenomena itu dengan jernih.

12. Bagi Anda, apakah menulis mempunyai efek yang sama dengan meditasi?

Menulis dapat menjadi kegiatan meditatif, jika dilakukan dengan meditatif. Jadi bukan sembarang menulis. Saya punya sebuah buku tentang kepenulisan dari seorang pemeditasi Zen (Natalie Goldberg). Di sana dikatakan bahwa: menulis, jika dilakukan dengan meditatif, akan membantu kita untuk menghadapkan diri kita yang sejati. Dan saya setuju itu.

13. Kegiatan menulis dan meditasi, menimbulkan kesan bahwa Anda orang yang serius. Sementara dari tulisan-tulisan Anda (termasuk di blog), sisi humoris seorang Dewi Lestari justru jelas terlihat. Apakah bisa dibilang bahwa proses menulis merupakan upaya Anda
untuk menyeimbangkan diri?

Hehe, yah itu namanya ‘kesan’ saja. Meditasi tidak identik dengan keseriusan kok. Justru orang yang terlalu serius malah bisa kesulitan dalam praktek meditasinya. Dalam meditasi tertentu, kita bisa tertawa segila-gilanya dan bertingkah sekonyol-konyolnya. Yang penting disadari. Jadi meditasi bukan masalah “serius” atau “nggak serius”, tapi disadari atau tidak. Humor menurut saya adalah bentuk sifat ilahiah yang sangat sakral. Tuhan, kalau di mata saya, adalah Maha Humoris. Saya nggak ada upaya khusus untuk menyeimbangkan diri, tapi ya itulah faset-faset yang ada pada saya. Saya, seperti halnya semua orang, punya banyak sisi atau faset.

14. Menurut Anda, adakah perbedaan yang Anda rasakan saat menulis blog dengan menulis buku?

Tujuan awal saya membuat blog adalah membuat wadah bagi tulisan-tulisan saya yang tidak tertampung dalam wadah buku. Jadi bentuk tulisan dalam blog lebih seperti artikel lepas, kontemplasi pendek, dsb. Satu hari nanti, bukannya nggak mungkin tulisan saya di blog akan dibukukan. Jadi perbedaan utamanya hanya dalam bentuk format aja. Kalau rasa menulisnya sama. Tulisan panjang atau pendek, untuk diterbitkan atau enggak, dalam proses mentahnya terasa sama, kok. Dalam metafora saya, seperti memancing di kolam inspirasi. Sama-sama ada tarik menarik antara diri saya dengan Sang Sumber tersebut.