Showing posts with label Penulis Favorit. Show all posts
Showing posts with label Penulis Favorit. Show all posts

Sunday, April 5, 2020

Air Asia Magazine | Profile | April, 2018 | Mahdiah



1.     Boleh ceritakan awal karier di dunia entertainment? 
 
 
Saya sudah mulai berkarier di musik sejak mulai kuliah, tahun 1993, awalnya jadi backing vocal, antara lain untuk (alm) Chrisye, Iwa K, Padhyangan Project, Java Jive, Harvey Malaiholo, dan banyak lagi. Setelah dua tahun menjadi backing vocal, saya berkesempatan rekaman dengan trio Rida Sita Dewi yang diproduseri oleh Adjie Soetama dan Adi Kla Project. Saya merilis empat album bersama Rida Sita Dewi. Hobi menulis lagu dan menulis fiksi juga sudah dari kecil. Saya mulai bikin lagu dan mencoba menulis novel dari kelas 5 SD, dan hobi itu berlanjut sampai besar. Lagu ciptaan saya pertama yang masuk ke dapur rekaman adalah Satu Bintang di Langit Kelam, yang ada di album perdana Rida Sita Dewi. Awalnya saya hanya menulis cerita buat dikonsumsi sendiri, atau dibagi ke teman-teman dan keluarga. Baru tahun 2000 saya berniat serius untuk menerbitkan karya pertama saya, Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Sejak itu, saya dikenal sebagai penulis hingga sekarang. 
 
 
2.     Seperti yang sudah diketahui, selain bernyanyi, Mbak Dee kini dikenal sebagai penulis serta pencipta lagu. Lantas, jika harus memilih lebih tertarik profesi yang mana?

Saya punya kebutuhan berbeda-beda untuk setiap pendekatan bercerita. Bagi saya fiksi dan lagu itu komplementer sifatnya, tidak saling menggantikan. Kepuasan yang dihasilkan masing-masing format juga berbeda, meski pada intinya sama-sama bagian dari seni bercerita.
 
 
3.     Mbak Dee dikenal sebagai sosok multitalenta, apakah ada hal baru yang hingga kini belum tercapai dan segera ingin diwujudkan?

Masih banyak jenis buku yang ingin saya tulis, mulai dari buku resep, buku anak, fiksi remaja, dsb. Saya juga ingin berkarya lagi di musik, entah dalam bentuk single, atau album. Tapi, karena waktu saya terbatas, saya hanya bisa fokus kepada satu atau dua proyek kreatif per tahunnya.

4.     Adakah buku karya Mbak Dee yang paling memorable?
 
 
Saya merasa paling dekat dengan karya yang saya tulis paling akhir. Pada saat ini, karya terasa paling dekat bagi saya adalah Aroma Karsa. Cukup banyak alasan lain mengapa Aroma Karsa paling memorable, salah satunya adalah proses risetnya yang saya dokumentasikan paling rapi dibandingkan buku-buku saya sebelumnya. Karena itu, saya bisa menerbitkan buku “behind-the-scenes”-nya, yakni Di Balik Tirai Aroma Karsa. Buku Di Balik Tirai Aroma Karsa sejauh ini baru terbit dalam format digital. Isinya mengenai proses kreatif, proses riset, dan berbagai strategi pemasaran yang saya lakukan saat menerbitkan Aroma Karsa. 
 
 
5.     Apakah Mbak Dee merasa nyaman apabila karyanya dituang ke dalam sebuah film? Lalu, film apa saja yang membuat Mbak Dee merasa puas karena karyanya benar-benar terealisasikan?
 
 
Ketika penulis sudah bersepakat dengan produser dan menjual hak adaptasi karyanya, otomatis harus sepenuhnya menerima segala konsekuensi. Bagi saya persoalannya bukan nyaman atau tidak nyaman. Memang tidak semua adaptasi memuaskan bagi kreatornya, termasuk saya. Namun, saya harus melihatnya sebagai karya adaptasi, bukan lagi karya saya pribadi. Jadi, ketika saya melihat film yang diangkat dari karya saya, sebisa mungkin saya memandangnya sebagai karya film bukan lagi buku. Ada pakem dan aturan yang berbeda, ada banyak faktor penentu di balik pilihan kreatif sutradara dan produser. Jadi, dalam hal posisi itu, saya kembali menjadi penonton, dan menilai film yang ditonton, bukan lagi buku yang saya tulis. 
 
 
6.     Berkaitan dengan Hari Musik Nasional yang jatuh pada tanggal 9 Maret. Apa harapan Mbak Dee bagi industri musik Indonesia?
 
 
Saat ini ada keresahan dari banyak insan musisi tentang RUU Permusikan. Saya harap RUU tersebut dapat dibatalkan, atau setidak direvisi dan dipertimbangkan ulang dengan memperhitungkan aspirasi para musisi yang khawatir dengan potensi implementasi RUU itu kelak. Yang dibutuhkan para musisi adalah kejelasan tata niaga industri musik, bukan aturan yang mengatur dan mengekang kreativitas seniman. 
 
 
7.     Pengalaman traveling yang mengesankan bagi Mbak Dee?
 
 
Wah, banyak. Kalau luar Indonesia, saya sangat suka dengan Jepang. Saya mengagumi etos kerja masyarakat Jepang yang tercerminkan dari segala hal yang mereka kerjakan, mulai dari kualitas makanan, cara menjaga toko, cara menyambut tamu, dsb. Kalau domestik, perjalanan ke Papua salah satu yang paling berkesan. Alam Papua itu benar-benar berbeda dari belahan Indonesia lainnya. Saya memperhatikan mulai dari warna tanah, serangga, tanamannya, semuanya luar biasa unik. 
 
 
8.     Adakah pengalaman terseru konser pertama dan konser terakhir yang Mbak Dee tonton? 
 
 
Konser pertama yang saya tonton kalau tidak salah konser BB King, di Hardrock Café Jakarta, tahun 1992. Saya masih SMA waktu itu, di Bandung, bela-belain ke Jakarta naik kereta api yang penuh dan tidak dapat tempat duduk, jadi setengah perjalanan berdiri atau duduk di bordes. Pulangnya naik travel (dulu adanya 4848). Saya paling rajin nonton konser waktu masih SMA dan kuliah. Sekarang sudah jarang. Konser terakhir yang saya tonton adalah Konser Salute Erwin Gutawa di ICE BSD. Kenapa saya tonton? Karena Konser Salut tersebut didedikasikan untuk tiga penulis lagu-penyanyi perempuan, yakni Melly Goeslaw, Dewiq, dan saya. Hehe, jadi tidak mungkin saya tidak nonton. 
 
 
9.     Penulis novel favorit Mbak Dee?
 
 
Sejujurnya saya belum menetapkan siapa novelis favorit saya, karena saya jarang mengikuti dengan setia karya seorang penulis fiksi. Saya bacanya cabutan. Dan, setiap penulis itu punya ciri khas masing-masing yang sulit saya putuskan siapa atau gaya mana yang lantas menjadi favorit saya. Kalau penulis nonfiksi, saya malah cukup banyak punya favorit. Salah satu yang lagi saya sukai banget adalah Yuval Noah Harari, saya baca ketiga bukunya. 
 
 
1.  Tips menulis yang baik dan berkualitas dari Mbak Dee? 
 
 
Menulis yang baik dan berkualitas itu butuh pembelajaran seumur hidup. Sulit dirangkum dalam tips singkat. Yang jelas, kalau kamu suka menulis, yang perlu dikejar adalah menamatkan karya kita terlebih dahulu. Dengan menamatkan, kita jadi semakin mengenal proses kreatif itu seperti apa, dan kita lebih berani untuk mencoba. Setelah berhasil punya beberapa karya yang tamat, kejarlah kualitas. Parameter “kualitas” itu subjektif, ada yang ukurannya popularitas, ada yang ukurannya oplah, ada yang ukurannya penghargaan, ada juga yang bukan semua itu tapi lebih kepada kepuasan pribadi. Apa pun itu, kualitas dikejar dengan itikad dan upaya untuk menulis lebih baik—lebih rapi, lebih jelas, lebih jernih, lebih memikat. Belajarlah dari tulisan orang lain, banyak membaca, dan sering berlatih. 
 
 
11 Bagaimana Mbak Dee menggeluti passion menulis hingga dapat memberikan karya yang begitu sukses? 
 
 
Sama seperti yang saya tulis di atas. Saya menulis karena menyukai seni bercerita, dan dalam setiap buku, saya selalu berusaha memperbaiki dan mengejar cara bercerita yang menurut saya lebih baik: lebih efektif, lebih jelas, lebih memikat, lebih mengikat, dan seterusnya. Sukses dalam arti laku atau tidak, sangat sulit untuk dikendalikan. Kita tidak pernah tahu. Jadi, kalau bagi saya pribadi, saya berusaha untuk tidak mengejar “laku” atau “dapat penghargaan”, karena itu hal-hal yang tidak bisa saya kendalikan. Lebih memuaskan jika saya menulis karena saya mengejar cara bercerita yang bagi saya pribadi lebih baik daripada sebelumnya. Saya sebut itu “kaizen writing”, menulis dengan mengejar kemajuan yang berkesinambungan. 
 
 
12 Apa perbedaan membangun karakter dalam lagu dan dalam novel? 
 
 
Pada dasarnya, dalam lagu kita tidak punya ruang gerak yang banyak. Karakter tidak bisa dibangun dalam lagu seperti halnya membangun karakter dalam novel. Yang bisa kita lakukan adalah agar pendengar mengidentifikasi dirinya menjadi karakter dalam lagu. Dengan demikian, yang kita ceritakan dalam lagu menjadi ceritanya sang pendengar. Tentu saja itu juga subjektif. Belum tentu semua orang otomatis ‘relate’ dengan lagu kita. Namun, membuat cerita lagu sebaik mungkin dengan melodi yang sinergis dengan kata-kata, bagi saya adalah pintu masuk agar orang bisa menemukan kisahnya dalam lagu. 
 
 
1  Tiga destinasi wisata paling favorit? 
 
 
Bali, Bandung, Jepang. 
 
 
1   Adakah kebiasaan tertentu sebelum menulis yang selalu dilakukan Mbak Dee? 
 
 
Mandi. Mandi bagi saya seperti tombol “reset”. Saya selalu menulis pagi hari, jadi sebelum memulai hari, sebelum mulai menulis, saya “reset” tubuh dan pikiran saya dulu dengan mandi.

London Book Fair | Author's Q&A | Feb, 2019 | Flint Public Relations


The first book I fell in love with:


Charlotte’s Web by E.B White.
I read it when I was around 11 year old. I was at awe on how the story was so neatly structured. Of course, at that time I didn’t know anything about story structure. But I could already appreciate how the characters were designed in such ways that they all were interesting—even the less likeable ones; on how the challenge was kept on escalating; and on how the ending was put so beautifully yet heartbreaking. It was the most intricate story I came across at that time.


The author that most heavily influenced my writing:

I cannot name one. I think I took a little bit of this and that from a lot of authors. But, I can tell that my fondness for writing series was influenced by serial books I read when I was a child, like Enid Blyton’s books, and shojo manga from authors such as Yoko Shoji and Suzue Miuchi. 


The author (dead or alive) I'd most like to meet:

I would love to meet Yuval Noah Harari over coffee, just to pick his brain. I was so fascinated with his books and the way he composed his writings. On the side note, I also I wish I could meet Suzue Miuchi who wrote The Glass Mask from 1975 and has not finished the series until now. I read The Glass Mask when I was in highschool in the 90’s. Now that I become an author myself, I feel it’s very devastating to the readers to leave your story unfinished like that. I want to ask her: why? Why she didn’t finish her story for so long? I’d like to offer her some help to finish The Glass Mask in any way I can.  

Saturday, April 4, 2020

BeritaBaik.ID | Penulis & Media Sosial | Sept, 2018 | Chaedar Ambadar


Bagaimana Dewi Lestari melihat sosial media saat ini sebagai penulis? Apakah ide tulisan bisa muncul dari sana?

Media sosial saat ini menjadi media saya berkomunikasi dengan pembaca. Konten media sosial saya upayakan lebih banyak ke pekerjaan ketimbang personal, karena saya memang lebih ingin teridentifikasi dengan karya saya daripada kehidupan pribadi. Ide tulisan pada dasarnya bisa didapat dari mana saja, termasuk media sosial, karena isi media sosial sangat beragam, mulai dari berita sampai gunjingan. Jadi, sama saja seperti kita berhadapan dengan kehidupan riil. Namun, saya belum pernah mengangkat cerita khusus dari media sosial. Kalau terbantu untuk riset, sering. Cukup sering saya melempar pertanyaan lewat media sosial, seperti nama tempat, atau narasumber, dan cukup sering saya terbantu.  


Sekarang ini sepertinya sedang tren penulis membuat karya secara online (seperti di Wattpad), setelah banyak respons positif dan banyak permintaan untuk diterbitkan baru dibuat buku fisik. Bagaimana Dewi Lestari melihat ini?

Dari sisi kreator, semua kanal yang bisa dipakai berbagi, tentunya menjadi celah baginya berkarya. Menurut saya ini baik, karena para kreator tidak harus lagi bergantung kepada jalur-jalur konvensional untuk bisa berkarya dan membagikan karyanya. Jika kemudian penerbit yang mengubah manuvernya, berburu penulis dan bukan lagi diburu, saya rasa itu adalah perkembangan wajar mengingat kondisi di era teknologi ini. Informasi semakin tidak bisa dibendung. Termasuk kreativitas. Perkembangan yang kita lihat sekarang ini tak lain tak bukan adalahP demokratisasi informasi. Dan, pada akhirnya, pembacalah yang menentukan diterima atau tidaknya sebuah karya.  

Dari seluruh karya Dewi Lestari, mana yang prosesnya paling singkat? Buku apa dan berapa lama pembuatannya dari ide, penulisan hingga akhirnya terbit?

Yang sifatnya antologi atau kumpulan cerpen, seperti Filosofi Kopi dan Madre, biasanya perampungannya lebih singkat dibandingkan novel. Singkat, karena sebagian besar isinya merupakan stok karya yang sudah saya kerjakan 5 bahkan 10 tahun sebelum kumcernya terbit. Jadi, “singkat” di sini adalah waktu yang dibutuhkan untuk penulisan beberapa karya baru. Mungkin 3-4 bulan untuk penulisan 3-4 cerita baru, dan 1-2 bulan ekstra untuk penyuntingan keseluruhan antologi, dan 1 bulan lagi untuk produksi serta distribusi. Tapi, jika dihitung-hitung, buku-buku kumcer saya sebagian isinya sudah ditulis bertahun-tahun yang lampau. Akibatnya, dipandang singkat atau tidak jadi tergantung perspektif kita melihatnya bagaimana.   


Apakah lama tidaknya proses pembuatan buku memengaruhi kepuasan penulis akan karyanya? Sekaligus tips bagi penulis pemula yang mungkin kerap ingin segera melihat karyanya di toko buku tapi kurang matang tulisannya.

Lama tidaknya proses pembuatan buku menurut saya tidak berpengaruh kepada kualitas maupun kepuasan. Ada tendensi untuk kita menilai bahwa buku yang bagus itu ditulisnya pasti lama, sementara buku yang ditulisnya kilat itu cenderung tidak bermutu. Sebetulnya tidak sesederhana itu. Buku sendiri wujudnya bermacam-macam. Kita tidak bisa menyamakan novelet 10.000 kata dengan novel epik 100.000 kata, walau hasil akhirnya sama-sama jadi satu buku. Yang mengerjakan 10.000 kata pasti akan lebih cepat daripada yang 100.000 kata, tapi belum tentu yang 10.000 bakal lebih jelek hasilnya. Jadi, lama atau tidaknya pengerjaan kembali kepada jenis buku apa yang hendak ditulis serta tingkat kesulitannya, tetapi tidak berarti yang ditulis lama hasilnya bakal berkualitas. Bisa saja lamanya itu karena ternyata tidak digarap dengan sungguh-sungguh, disambi dengan banyak pekerjaan lain, nulisnya berhenti-berhenti, dsb.
Matang atau tidaknya penulisan kadang tidak bisa jernih dinilai oleh penulisnya sendiri. Yang kita tulis hari ini bisa saja kita anggap mahakarya, tapi 10 tahun lagi sudah kita anggap sampah. Untuk penulis pemula yang ingin berkarya, luangkanlah waktu dan sumber dayamu untuk penyuntingan yang baik. Ada editor-editor lepasan yang bisa membantu memoles naskah kita. Jangan cepat berpuas diri. Menulis adalah keahlian yang harus terus digali seumur hidup. Selalu belajar. Ketika kamu membaca karya orang lain, baca bukan cuma untuk terhibur, melainkan juga untuk sambil belajar.


Siapa saja sih penulis yang menginspirasi Dewi Lestari? Kenapa?

Terlalu banyak untuk disebut satu-satu. Saat ini saya sedang sangat menyukai tulisannya Yuval Noah Harari. Kemampuannya mengolah materi, kejernihan dan ketajamannya bertutur sangat mengagumkan.

Friday, April 3, 2020

Jawa Pos | Hari Buku Nasional | Mei, 2018 | Fahmi Samastuti


Sebelum berkarier sebagai penulis, Dee dikenal sebagai musisi. Seperti apa transformasi dari musisi jadi penulis?

Sebetulnya tidak ada transformasi yang khusus, sih. Hanya lambat laun karena saya lebih produktif menulis, orang jadi mengenal dan mengasosiasikan saya lebih kuat ke menulis ketimbang musik/menyanyi. Saya juga masih membuat album sampai tahun 2009, dan sesekali menulis lagu untuk penyanyi lain, maupun soundtrack film. Jadi, sebenarnya masih berjalan paralel, hanya saja di menulis saya lebih rutin memproduksi buku baru.

Adakah kesamaan menulis lirik untuk lagu dengan menulis untuk cerpen, novel pendek, atau novel panjang?

Bagi saya, semuanya sama-sama harus memiliki struktur cerita, meski lirik hitungannya jauh lebih pendek dan ruang geraknya lebih sempit karena dibatasi durasi. Hanya saja, keuntungan lirik adalah hadirnya melodi, aransemen, yang kesemuanya bisa memperkuat cerita.

Banyak orang maupun penulis yang punya penulis idola. Untuk Dee pribadi, siapa penulis favoritnya (baik luar maupun dalam negeri)?

Saya jarang mengikuti katalog karya satu penulis yang sama terus menerus. Koleksi buku saya juga sebetulnya lebih banyak nonfiksi karena saya adalah pembaca yang dipicu oleh ketertarikan saya akan topik tertentu. Namun, tentunya ada karya-karya penulis yang meninggalkan kesan mendalam bagi saya, baik dari gaya tulisan maupun kepenulisan (produktivitas, keberanian menggebrak, dsb). Buku-buku tersebut antara lain: Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono, Saman – Ayu Utami, Sightseeing – Rattawut Lapcharoensap, Manusia Harimau – Eka Kurniawan. Saya pun menyukai gaya tulisan Dave Eggers dan mengagumi kemampuan Dan Brown dalam membuat struktur. Secara personal, saya juga mengagumi sosok Pak Sapardi dan Goenawan Mohamad karena produktivitas dan aktivitas mereka yang terus berlanjut hingga usia senior.

Dee banyak mengambil Indonesia, entah tempat maupun budayanya, untuk latar cerita. Mengapa demikian? 

Tentu saja karena saya tinggal di Indonesia, sehingga pengamatan saya banyak datang dari sekeliling saya. Semata-mata karena kebutuhan cerita, saya hampir tidak pernah punya misi khusus untuk mengangkat budaya tertentu. Tapi, sebenarnya tulisan saya lebih kontemporer ketimbang tradisional. Jadi, meskipun ada budaya lokal yang saya ambil, seringnya dikombinasikan dengan kehidupan masyarakat modern. Selain setting lokal, sebenarnya saya cukup sering mengambil setting di luar negeri.

Oh ya, kalau boleh tahu, buku apa saja yang ada di Must Read List-nya Dee (mungkin empat atau lima judul) dan mengapa?

The Life-Changing Magic of Tidying Up – Marie Kondo
Self-Aware Universe – Amit Goswami
Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono
On Writing – Stephen King
The Joy of Living – Yongey Mingyur Rinpoche

Alasannya, karena kesemuanya penting, menarik, dan transformatif.



Thursday, April 2, 2020

Blog Putra Sasmita | Profil & Teknik Menulis | Mei, 2017 | Putra Sasmita

Bagaimana Anda memulai menulis novel? Apakah Anda membuat outline sebelum menulis?

Dari waktu ke waktu, teknik maupun metode saya menulis terus saya perbarui. Dulu saya menulis tanpa outline, walau hampir selalu membuat semacam peta cerita meski sederhana. Sekarang saya selalu membuat outline dan time table. Jadi, bukan hanya konten yang saya petakan, tapi sama pentingnya adalah jadwal kerja. Saya memberlakukan pemakaian outline hanya untuk novel. Prosa singkat, cerpen, atauapun novelet, biasanya saya tulis spontan.

Apa Anda punya target harian?

Ada. Bisa bervariasi sesuai kebutuhan. Untuk draf pertama, hitungan saya biasanya adalah jumlah kata. 1000 kata per hari. Jika sudah mendekati akhir cerita, lebih ke target ke berapa adegan yang bisa saya selesaikan (karena jalan cerita sudah semakin jelas). Pada tahap editing, target saya adalah menyunting sekian bab per hari (jumlahnya bergantung ada berapa banyak bab dan berapa lama waktu yang saya punya sebelum target cetak – yang biasanya saya tentukan sendiri).

Tampaknya Anda begitu disiplin dalam menulis. Anda memiliki target-target yang jelas, bahkan sampai target cetak yang Anda tentukan sendiri. Apakah kedisiplinan ini sudah ditanam oleh keluarga Anda sejak kecil?

Kedisiplinan menulis saya tumbuhnya berangsur, tidak serta merta, semata-mata karena akhirnya saya menemukan dan merasakan sendiri bahwa disiplin memiliki manfaat yang nyata bagi produktivitas kepenulisan saya sekaligus merupakan cara kerja yang realistis dengan kondisi saya yang berkeluarga. Pada aspek lain, saya orangnya cenderung santai.

Apakah Anda mengedit saat menulis atau setelahnya?

Tahapan pertama adalah penuntasan draf pertama. Melakukan penyuntingan pada tahap ini bagi saya kontraproduktif, karena bisa memperlambat jadwal kerja. Saya melakukan penyuntingan menyeluruh setelah draf pertama selesai. Ada kalanya di tengah jalan (biasanya mulai memasuki babak 2B), saya harus berhenti sejenak untuk meninjau ulang jalan cerita. Tapi, saya batasi untuk tidak jadi menyunting seluruh naskah, karena buat saya beda banget setting berpikir antara menulis dan menyunting. Kalau menulis saya harus di dalam cerita. Kalau menyunting saya harus di luar cerita. Kalau sudah di luar, cukup sulit untuk balik lagi ke dalam. Jadi, lebih baik penyuntingan dilakukan setelah draf pertama selesai.

Apa Anda punya rutinitas selama menulis?

Saya sudah mencoba berbagai macam jadwal dan kebiasaan. Dari menulis malam sampai menulis subuh. Dari nulis di keramaian sampai menulis sendirian. Saat ini saya cenderung menulis pagi hari hingga setelah makan siang, umumnya sebelum anak saya pulang sekolah. Biasanya saya olah raga dulu, mandi, ngopi, baru mulai menulis. Yang penting buat saya adalah tidak diinterupsi (diajak ngobrol). Tidak masalah dalam keramaian atau kesendirian.

Maya Angelou bercerita, saat menulis Ia akan menyewa sebuah kamar hotel dan harus ada sebotol Sherry, kamus, thesaurus, notepad, asbak, dan Injil. Bagaimana dengan Anda? Boleh gambarkan sedikit seperti apa ruang kerja Anda? Adakah kebiasaan yang Anda lakukan sambil menulis, misalnya sambil mendengarkan musik?

Saat ini saya sedang tidak punya ruang kerja khusus, biasanya saya menulis di kamar atau meja makan. Kalau di luar rumah, saya biasanya bekerja di kedai kopi. Saya berusaha tidak usah banyak “benda ritualistik” agar tidak repot. Yang penting ada air putih dan suhu ruangan tidak terlalu dingin/terlalu panas agar bisa menulis nyaman (saya menghindari tempat duduk yang terlalu dekat dengan tiupan angin AC). Kamus saya biasa pakai aplikasi KBBI, jadi tidak pakai versi cetak lagi. Terkecuali jika ada beberapa buku atau kamus spesifik yang saya butuhkan berkenaan dengan cerita. Musik tidak wajib, hanya kalau dirasa perlu. Kadang-kadang saya gunakan untuk membangun suasana saat menulis adegan tertentu. Tapi, tanpa musik juga bisa.

Siapa yang membaca draf pertama tulisan Anda?

Biasanya suami. Habis itu baru saya bagikan ke beberapa orang beta reader, yang biasanya teman-teman di penerbit.

Apakah suami Anda memberikan masukan?

Iya, dan juga kesannya terhadap cerita.

Ketika mengedit atau menulis, apakah Anda membaca keras-keras (read out loud)?

Iya. Tidak terus-terusan dalam setiap kali menyunting, tapi hampir selalu saya mengetes kalimat saya dengan membunyikannya (membacanya dengan bersuara).

Tema spiritualitas dan sains kerap muncul di serial Supernova, bagaimana Anda menggabungkan dua hal yang kelihatannya berseberangan ini ke dalam karya tulis Anda?

Bagi saya, justru keduanya tidak berseberangan, malah berkaitan. Dan keterkaitan itu yang menarik untuk ditulis. Tidak ada metode khusus untuk menggabungkan keduanya selain berusaha membangun cerita yang solid.

Bisa tolong jelaskan bagaimana Anda melihat keterkaitan spiritualitas dan sains?

Sains dan spiritualitas sama-sama bertujuan mengungkap realitas, memahami manusia, dan mekanisme kehidupan.

Sepertinya Ibu Dee tertarik dengan spiritualitas, sains, dan filsafat. Bagaimana ketertarikan ini bermula? Apakah Anda memiliki pengalaman pribadi?

Kalau saya ingat-ingat, memang hal-hal itu yang menarik minat saya sejak kecil. Mungkin belum saya bahasakan sebagai spiritualitas-sains-filsafat, tapi saya sering melamunkan bagaimana kehidupan ini bermula, dan buat apa saya (dan manusia lain) hidup dan terlahir di Bumi.

Apakah karena ini Anda menulis fiksi? Untuk mengungkap realitas, memahami manusia, dan menjelaskan mekanisme kehidupan?

Yang saya ungkapkan di atas itu lebih tepat sebagai alasan saya menulis Supernova. Karya fiksi saya yang lain tidak semuanya setema dengan Supernova. Saya menulis fiksi pada dasarnya karena saya suka seni bercerita.

Apakah pop culture ada pengaruhnya terhadap karya-karya Anda?

Saya tidak pernah benar-benar menyadari atau menyengajakannya, tapi saya percaya kita semua terpengaruh oleh budaya apa pun yang berlaku pada zaman kita hidup. Karena saya hidup dan besar di zaman ketika pop culture ada, tentunya saya terpengaruh. Seberapa banyak dan seberapa besar, saya tidak mengukurnya.

Bagaimana Anda melakukan riset untuk karya-karya Anda?

Riset yang saya lakukan umumnya dua macam. Riset langsung dan tidak langsung. Riset langsung contohnya ketika saya ke Sianjur Mula-mula untuk penulisan Gelombang, atau mencoba terapi listrik ketika menulis Petir. Namun, tidak semua kebutuhan riset bisa saya penuhi melalui riset langsung. Biasanya karena keterbatasan waktu. Misalnya, ketika saya masih punya bayi yang nggak bisa saya tinggal-tinggal, otomatis saya tidak bisa bepergian, meski kebutuhan cerita menuntut saya menulis berbagai tempat yang belum pernah saya kunjungi. Untuk itu saya melakukan riset tidak langsung, melalui riset pustaka (membaca buku, atau browsing), riset video / dokumenter, dan wawancara narasumber.

Pembaca bisa menduga bahwa Anda tentunya melakukan riset mendalam untuk karya-karya Anda. Biasanya yang terjadi apakah Anda meriset setelah menentukan cerita (plot, karakter, dsb) atau sebaliknya, riset dulu baru dicocokkan dengan cerita dan karakter? 

Keduanya bisa berjalan paralel. Hasil riset bisa menentukan jalan cerita. Jalan cerita juga bisa menentukan kebutuhan riset. Biasanya saya melakukan riset di awal, tapi hampir selalu saya mengecek banyak hal selama proses menulis berjalan, jadi bisa dibilang berjalan paralel.

Karakter-karakter yang Anda ciptakan tergambar kuat di benak pembaca. Apakah Anda membayangkan orang tertentu di dunia nyata saat menciptakan karakter?

Setiap karakter yang saya buat bagai kain perca. Ada campuran orang nyata (biasanya saya ambil nama, profesi, ciri fisik – dan jumlahnya lebih dari satu) dan imajinasi saya sendiri. Tidak pernah ada orang tertentu di dunia nyata yang benar-benar saya ambil utuh menjadi karakter.

Apakah bagi Anda proses menulis cerpen dan puisi serupa dengan proses menulis novel?

Beda. Puisi cenderung spontan. Cerpen memiliki perencanaan seperti halnya novel tapi jauh lebih sederhana. Tantangan cerpen buat saya adalah membuat kejutan dan fokus yang tajam. Sementara novel ibarat lari marathon, persiapannya panjang, prosesnya panjang, dan butuh stamina yang luar biasa.

Menurut Anda adakah persamaan proses menulis dengan menciptakan lagu?
Ketika saya menulis lagu, intinya juga saya membuat cerita. Tantangannya berbeda. Dalam lagu, efektivitas kata menjadi amat penting. Kita membuat cerita seutuh mungkin dalam durasi terbatas, dengan suku kata yang harus pas dengan melodi. Selain itu, dalam pembuatan lagu ada aspek menciptakan melodi dan menyusun aransemen. Tapi intinya sama-sama membuat cerita.

Ada yang mengatakan menulis lagu dan menulis puisi berkaitan. Bagaimana menurut Anda?

Kurang lebih prinsipnya sama, tapi tentunya di lagu ada melodi. Jadi ada aspek lain yang harus diperhatikan ketimbang puisi. Juga ada keterbatasan dalam lagu karena mengikuti durasi dan struktur tertentu (bait, reff, dsb).

Adakah penulis yang berpengaruh terhadap gaya penulisan Anda? Apakah Graham Hancock memiliki pengaruh dalam gaya penulisan Anda?

Untuk gaya menulis, saya tidak pernah terlalu menyadari. Mungkin karena bacaan saya juga kebanyakan nonfiksi. Graham Hancock dan penulis-penulis nonfiksi lainnya memengaruhi saya dalam hal konten, bukan gaya menulis. Gaya menulis lebih banyak bisa kita dapat dari penulis fiksi. Untuk metafora saya mengagumi Sapardi Djoko Damono. Untuk plot, penulis-penulis seperti Dan Brown, JK. Rowling, James Patterson, Alfred Hitchcock, Michael Crichton, Stephen King, amat patut dipelajari. Penulis seperti John Green dan Margaret Atwood menurut saya pintar memainkan emosi. Dan, ada penulis-penulis lain yang temanya unik dan kuat seperti Yan Martell, Alan Lightman, Paulo Coelho. Setiap yang saya baca pasti meninggalkan pengaruh, tapi karena kekuatan masing-masing penulis berbeda dan tampaknya yang saya serap juga berbeda-beda, saya tidak menunjuk satu-dua nama saja. Gaya penulisan merupakan kumulasi dari begitu banyak hal yang kita baca maupun gali dari diri kita sendiri.

Kalau saya tidak salah lagu Anda "Satu Bintang Di Langit Kelam" terinspirasi puisi SDD "Hujan Di Bulan Juni". Adakah karya Beliau lainnya yang Anda sukai? Bagaimana Anda menilainya?

SBDLK tidak terinspirasi HBJ. Tapi gaya menulis lirik saya berubah setelah membaca buku HBJ. Lebih metaforis dan puitis. Secara umum saya menyukai puisi-puisi Beliau. Saya menyukai metaforanya, kepekaannya memilih kata, dan ritme kalimatnya.

Apa yang Anda dapatkan dari menulis puisi/lagu yang tidak Anda dapatkan dari menulis novel?

Saya merasa hampir tidak pernah menulis puisi. Prosa pendek, iya. Lagu, iya. Yang tidak didapatkan dari menulis novel dibandingkan keduanya tadi tentu saja adalah perkawinan kata dengan melodi serta keleluasaan waktu. Secara durasi pengerjaan membuat novel jauh lebih panjang dan lebih rumit.

Ketika mengadaptasi novel Anda menjadi naskah film apa saja tantangannya? Sejauh mana keterlibatan Anda dalam setiap adaptasi film?

Keterlibatan saya berbeda-beda di setiap film. Ada yang terlibat sampai menjadi penulis skenario seperti di Perahu Kertas, ada juga yang tidak terlibat sama sekali seperti Madre dan Supernova KPBJ. Ada juga yang terlibat secara konsultatif, seperti Rectoverso, Filosofi Kopi 1, dan Filosofi Kopi 2. Dari cerpen menjadi film menurut saya tidak terlampau sukar karena biasanya yang terjadi pengembangan. Sementara masalah atau pun pendapat yang kontra biasanya muncul karena terjadi pemotongan/pengurangan dari cerita asli. Biasanya itu terjadi dalam adaptasi dari novel. Tantangannya tentu karena buku dan film merupakan medium yang berbeda, produk dari dua industri yang berbeda, yang mana keduanya punya aturan dan pakem sendiri. Dalam film, kita bicara durasi, pemain, penyutradaraan, sinematografi, investasi produser, dan banyak faktor lain yang tidak ada di buku. Saya sendiri melihat bahwa dalam adaptasi ke film, yang berkarya adalah para pembuat film, bukan penulis. Begitu juga ketika saya menjadi penulis skenario. Film akan “ditulis ulang” oleh sutradara dan editor, jadi skrip saya bukan satu-satunya patokan. Pada prinsipnya, yang terjadi adalah kompromi dan bagaimana kita bisa menjembatani keinginan dan kepentingan banyak pihak.

Bagaimana perasaan Anda setelah melihat hasil akhirnya di film?

Bergantung hasilnya. Tapi, dari setiap film akan selalu ada hal yang saya sukai, ada yang tidak. Sama-sama saja seperti kita melihat film lain sebetulnya, tapi tentu ada kebanggaan karena melihat bagaimana karya kita bertransformasi menjadi bentuk lain, dan film adalah hasil kerja keras banyak orang. Membayangkan bagaimana sebegitu banyak orang berupaya untuk mewujudkan cerita kita menjadi produk film juga membanggakan sekaligus mengharukan.

Apakah aktif di media sosial adalah salah satu cara Anda menjaga basis pembaca (readership)?

Media sosial bagi saya fungsinya kadang-kadang untuk saluran ekspresi yang personal juga, bersilaturahmi dengan teman-teman lama, dsb. Meski demikian, pemakaian yang utama memang adalah untuk mendukung pekerjaan saya. Pada zaman ini, pembaca memang tidak hanya mengenal karya, tapi bisa juga mengenal penulisnya. Tinggal tergantung seterbuka apa kita menunjukkan dunia kita yang lebih personal. Bagi saya, media sosial adalah cara paling praktis saat ini untuk berkomunikasi langsung dengan pembaca.

Saat menulis apakah Anda membayangkan audiens tertentu?

Sejujurnya, tidak. Saya membayangkan kalau saya yang jadi pembaca. Intinya, saya harus menulis buku yang bisa memikat minat saya. Buku yang bisa membuat saya kepengin terus membaca. Setelah berkali-kali menerbitkan buku tentunya saya bisa membayangkan profil pembaca saya. Tapi ketika berkarya, fokus saya hampir selalu internal.

Kalau saya tidak salah Supernova 1 adalah self-published, kemudian karya berikutnya dicetak penerbit lain. Bagaimana transisi ini terjadi? Adakah pengaruhnya terhadap karya Anda?

Untuk sejarah self-publish Supernova 1 bisa dilihat di arsip saya www.dee-interview.blogspot.co.id ya, karena sudah sering sekali saya bahas.

Menurut Anda bagaimana cara latihan menulis? Apakah penulis harus belajar secara otodidak?

Belajar terbaik menurut saya adalah dengan punya mentalitas ingin belajar terlebih dahulu. Dengan demikian, ketika kita membaca buku orang lain, kita bukan cuma sekadar membaca, melainkan membaca sambil belajar. Belajar mengenali apa yang kita suka, mengenali apa yang kita tidak suka, berusaha mengadopsi apa yang menurut kita baik, dan menghindari apa yang menurut kita tidak baik/tidak cocok. Otodidak atau tidak menurut saya bukan patokan. Kalau memang ada kesempatan ikut workshop, seminar, atau masterclass, mengapa tidak? Tapi, kalau tidak ada kesempatan itu, yang otodidak tidak berarti akan lebih buruk dari yang ikut workshop atau masterclass. Jam terbang akan amat menentukan. Tapi yang lebih menentukan lagi adalah keinginan untuk memperbaiki diri. Dari satu karya ke karya lain, kita harus dengan sadar ingin melakukan perbaikan.

Apakah Anda pernah mengikuti kelas menulis? Jika iya, bisa ceritakan pengalaman Anda? Siapa pengajarnya?

Sejauh ini, saya pernah ikut Masterclass James Patterson, ikut beberapa kursus fiksi dari Steve Alcorn, saya juga pernah mengikuti kursus scriptwriting dari Sue Clayton. Terkecuali dengan Sue Clayton, kedua yang pertama dilakukan secara online.

Anda dikategorikan dalam gerakan "Sastra Wangi" (fragrant literature), tanggapan Anda?

Sastra Wangi tidak ada maknanya buat saya. Itu hanya istilah yang diciptakan media untuk merujuk ke satu masa di awal 2000-an ketika banyak penulis perempuan muncul dan menonjol. Tidak ada substansi lain.

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Bagi Anda, apakah inspirasi itu datang dari dalam diri sendiri atau dari luar diri?

Dua-duanya.

Apakah ada hobi yang sedang Anda geluti saat ini?

Memasak dan berenang.

Jika boleh bertanya, buku apa yang sedang Anda kerjakan saat ini?

Saya sedang mengerjakan naskah buku baru, tapi detailnya saat ini belum bisa saya ungkap ke publik.

Setelah menjadi seorang ibu, adakah yang berubah pada diri Anda sebagai seorang penulis?

Perubahan utama adalah jadwal. Saya harus lebih disiplin dan lihai membagi waktu agar semua tugas dan kewajiban saya di rumah tetap terlaksana dan masih bisa berkarya.

Adakah pengaruh seni dari anggota keluarga Anda saat Anda kecil?

Tentunya ada, karena semua anggota keluarga saya suka seni, khususnya gambar dan musik. Semua suka membaca. Jadi, otomatis itu menjadi atmosfer saya sehari-hari di rumah sejak kecil.

Apa kendala teknis (dalam menulis) terberat yang sejauh ini Anda alami?

Bagaimana cara Anda mengatasinya?

Tantangan terbesar saya adalah penataan waktu. Hal tersebut tidak inheren termasuk dalam “teknik” menulis, tapi manajemen waktu menentukan produktivitas kita menulis. Bagaimana cara menjadikan menulis itu “habit”, kemudian merajutnya dalam kehidupan sehari-hari. Kalau kita sudah punya dedikasi untuk menjadikan menulis agenda kita sehari-hari, kesulitan dalam menulis akan terurai dengan sendirinya karena kita sudah punya waktu dan komitmen untuk itu. Tapi, kalau aktivitas menulis masih menjadi hal yang sporadis, nunggu mood, dsb, maka akan banyak perkara teknis dalam menulis yang sulit semata-mata karena kita tidak punya cukup dedikasi dan waktu untuk mencari solusinya. 


Friday, May 12, 2017

YouthManual.Com | Menulis & UWRF | Oktober, 2016 | Laila Achmad


Hai, Mbak Dee. Lagi mengerjakan project apa sekarang?

Lagi tidak mengerjakan apa-apa alias rihat. Februari 2016 lalu saya menyelesaikan serial Supernova dengan merilis buku ke-6 sekaligus penutup yakni Inteligensi Embun Pagi, dan sekarang ini saya masih jeda dulu dari proses kreatif, mungkin hingga awal 2017.

Bagaimana awalnya Mbak Dee menjadi seorang penulis? Kapan dan bagaimana Mbak Dee sadar bahwa passion Mbak Dee adalah bidang ini?

Sejak kecil senang mengkhayal, mulai mencoba menulis sedikit serius sejak kelas 5 SD, dan pada tahun 2001, tepat ketika berulang tahun ke-25, saya menerbitkan buku pertama saya, Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh.

Menurut Mbak Dee, etos kerja atau karakter seperti apa yang diperlukan untuk menjadi seorang penulis yang baik?

Mau belajar, memelihara rasa ingin tahu, punya disiplin, dan jeli mengamati keadaan sekitar termasuk mengamati batinnya sendiri.

Menurut Mbak Dee, bagaimana prospek karir penulis di Indonesia? Mengingat industri ini memiliki banyak sekali pesaing.

Sebagai karier, tentu permasalahannya bukan kreativitas atau pesaing semata-mata, tapi industri perbukuan secara keseluruhan. Untuk beberapa penulis yang berhasil, sekarang ini bukannya tidak mungkin mengandalkan profesi penulis sebagai sumber mata pencaharian. Tapi, hal ini bukan hal yang mudah dicapai. Tidak ada formula pasti agar buku kita bisa jadi best-seller, kalau formula itu ada, harusnya semua buku bisa jadi best-seller. Kenyataannya, tidak. Jadi, saya lebih fokus untuk menuliskan topik yang saya sukai, berusaha bekerja sebaik mungkin. Itu lebih penting daripada fokus kepada meraba kemauan pasar. Saya percaya basis pembaca itu bisa diciptakan.

Apa yang paling Mbak Dee sukai dari menjadi seorang penulis, dan apa tantangannnya?

Menciptakan semesta kehidupan dan menjadi rahim dari sebuah kehidupan. Tantangan utama bagi saya adalah menjaga keseimbangan dalam keseharian dan waktu saya agar tetap fungsional di hal-hal lain di luar menulis. 

Siapa penulis atau penulis idola Mbak Dee, dan kenapa?

Banyak. Salah satunya Graham Hancock. Karyanya kebanyakan nonfiksi, meski ada beberapa yang fiksi. Dedikasinya untuk sebuah topik, melakukan penelitian, dan menuangkannya ke dalam tulisan, sangat luar biasa.

Cerita, dong, tentang awalnya ide menulis buku Perahu Kertas. Bagaimana mendalami dunia anak muda untuk membangun tokoh Keenan dan Kugy?

Perahu Kertas adalah cerita yang aslinya saya tulis semasa kuliah, tahun 1996. Saya ingin membuat cerita cinta yang elegan dalam format cerita bersambung. Namun, karena waktu itu (dan sekarang) sudah tidak banyak media yang memuat cerita bersambung, akhirnya saya jadikan novel. Saya tulis ulang tahun 2008 dengan setting waktu yang sedikit dimajukan. Tidak terlalu sulit sebetulnya untuk mendalami dunia Keenan dan Kugy. Plus, saya waktu itu menyewa kamar kos untuk menulis, tetangga saya mahasiswi semua. Jadi, sedikit banyak itu juga membantu.

Pengalaman apa yang paling berkesan selama membuat Perahu Kertas?

Waktu itu saya mencoba metode menulis yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, yakni menentukan deadline terlebih dahulu dan kemudian mengumumkan deadline tersebut ke publik. Jadi, ada ekstra tekanan. Akibatnya, saya jadi lebih fokus. Metode itu akhirnya saya pakai terus, walaupun tidak selalu mengumumkan deadline saya ke publik.

Boleh minta lima tips bagi anak muda yang ingin memulai menjadi penulis? (Bagaimana mencari inspirasi sampai bagaimana memotivasi diri sendiri untuk terus menulis)

Ciptakan ruang dan waktu yang rutin untuk menulis. Dua jam per hari, misalnya. Buat target tenggat waktu dan agenda kerja, dan berusahalah untuk mematuhinya. Coba selesaikan sebuah karya, apapun formatnya. Biasanya,  begitu seseorang sudah berhasil menamatkan sebuah karya, ia akan punya kepercayaan diri untuk meneruskan ke karya berikutnya. Tidak usah untuk diterbitkan dulu juga tidak apa-apa. Yang penting berlatih.

Waktu kuliah, bagaimana, sih, profil dan aktivitas Mbak Dee secara garis besar? (berprestasi secara akademis? Suka berorganisasi? Suka nongkrong di kampus?)

Saya sudah memulai karier jadi penyanyi dari awal masuk kuliah, jadi saya tidak punya banyak kesempatan terlibat di aktivitas kampus karena sudah sibuk membagi waktu antara kuliah dan karier. Kedatangan saya ke kampus lebih seperlunya saja. Tidak juga punya ambisi berprestasi secara akademis. Lebih sering menahan kantuk ketika kuliah. Tapi ketika skripsi, saya akhirnya menemukan topik yang benar-benar menarik dan mendadak saya jadi serius banget belajar. Sayangnya, itu baru terjadi menjelang saya lulus, hehe.

First job Mbak Dee dulu apa? Kenapa memilih pekerjaan itu? How did you like it? Tell us more about it!

Jadi penari. Tahun 1990, kelas 1 SMA. Pementasan pertama saya honornya saya belikan tas sekolah dan empat jam tangan Kura-Kura Ninja. Motivasinya lebih karena iseng mencoba dan kebetulan klub dance saya itu dapat porsi di sebuah pertunjukan besar, jadi saya langsung dilibatkan secara profesional. I stayed in the dance club for one year. I didn’t enjoy it as much as I enjoyed singing and music, to be honest. Tapi, itu adalah pengalaman berharga yang tak terlupakan.

Apa skill yang dipelajari di luar bangku sekolah, tapi bermanfaat untuk profesi Mbak Dee sekarang?

Musik. Saya les piano, dan itu menjadi basis saya untuk menciptakan lagu. Untuk nyanyi saya otodidak, lebih karena aktif di paduan suara dan grup vokal sejak kecil, baik di gereja maupun di ekskul sekolah.

Boleh cerita tentang satu contoh kegagalan Mbak Dee dalam karier ataupun studi? Apa yang bikin kembali bersemangat?

Saking sibuknya di paduan suara dan grup vokal, waktu kelas 2 SMA saya sempat jadi ranking 49 dari 51 siswa. Itu rekor akademik saya terburuk. Tapi, saya nggak nyesal-nyesal amat, karena saya tahu itu bukan karena saya bodoh, tapi karena saya fokus ke hal lain. Pada saat bersamaan, saat itu saya memimpin seksi kesenian di sekolah, dan SMA saya mendapatkan prestasi puncaknya di ajang-ajang perlombaan musik. 

Kalau nggak jadi penulis atau penyanyi, kira-kira seorang Dewi Lestari bakal berprofesi sebagai apa?

Mungkin jadi juru masak dan buka restoran.

Hal apa yang Mbak Dee lakukan dulu ketika kuliah tapi nggak dilakukan oleh teman-teman sehingga Mbak Dee bisa sukses seperti sekarang?

Saya kurang tahu pasti karena tidak mengecek kegiatan semua teman saya. Saya hanya merasa beruntung karena bisa mengidentifikasi passion saya sejak cukup awal dan cukup serius untuk menggelutinya.

Mbak Dee bakal mengisi acara di Ubud Writers and Readers Festival 2016, apa hal yang paling bikin Mbak Dee excited?

Hadir di UWRF selalu menyenangkan karena bukan cuma berkesempatan untuk melihat banyak sesi menarik dari penulis berkualitas, tapi juga atmosfer kreatif yang bisa kita nikmati hanya dengan hadir di sana selama UWRF. Untuk UWRF kali ini saya juga akan berkesempatan untuk membahas perjalanan serial Supernova. That will be exciting for me.

Menurut Mbak Dee, Kalau anak-anak muda ke UWRF, kira-kira apa benefit yang bisa mereka ambil?

Seperti yang saya bilang tadi, berada di sana saja sudah pasti bisa merasakan atmosfer kreatif yang kental. It’s so refreshing and invigorating. Menyaksikan begitu banyak orang kreatif berkumpul dan berbagi pengalaman mereka, menurut saya sudah merupakan manfaat yang luar biasa.

What would you say to your 20-year-old self?

The best is yet to come.