Showing posts with label Gentle Birth. Show all posts
Showing posts with label Gentle Birth. Show all posts

Sunday, December 21, 2014

Republika | Gentle Birth | Desember, 2011 | by Vidita



Selain menulis, Mbak juga sedang banyak bicara tentang gentle birth. Apa yang membuat Mbak tertarik untuk membudayakan cara melahirkan yang sebagian orang dianggap primitif tersebut?

Saya dan Reza mengalami sendiri benefit dari gentle birth. Apalagi pada persalinan pertama saya mengalami begitu banyak intervensi, dari mulai induksi sampai akhirnya saya melahirkan dengan cara Caesar. Saya tidak bisa IMD, tidak bisa bersama bayi saya. Apa yang saya lalui di persalinan kedua adalah kebalikan dari itu semua, dan manfaatnya sangat terasa, baik secara fisik dan mental. Tak hanya pada saya, tapi juga anak saya Atisha. Perkembangan dan kesehatannya luar biasa baik. Dan setelah melalui riset yang saya dan suami lakukan lewat membaca, menonton dokumenter, termasuk berbicara dengan banyak praktisi persalinan, gentle birth adalah metode yang paling ramah fisik dan jiwa karena minim trauma dan intervensi yang tidak perlu. Lewat gentle birth, power persalinan dikembalikan sebagaimana seharusnya kodrat alam yakni pada ibu dan bayi.

Aku mohon dijelaskan sedikit Mbak tentang gentle birth. Apa saja sih keuntungan dari gentle birth ini? Pernahkah mendengar respon yang negatif ketika Mbak bicara tentang hal ini?

Untuk lengkapnya tentang gentle birth bisa mengunjungi situs kami di www.gentlebirthindonesia.com. Sejauh ini sih tidak ada respon negatif, tapi memang tidak semua orang langsung percaya diri bisa melakukan gentle birth karena dianggap harus punya "skill" khusus. Menurut saya ini adalah mispersepsi akibat praktik persalinan umum yang terjadi selama ini, yakni pergeseran persalinan dari peristiwa alam menjadi peristiwa medis. Akibatnya, perempuan merasa bahwa jika bukan berlatarbelakang medis atau punya keterampilan khusus maka persalinan adalah peristiwa berbahaya jika dijalankan secara alami. Padahal seharusnya intervensi medis hanya dilakukan jika diperlukan saja. Untuk kehamilan yang sehat, ibu dan bidan atau keluarga bisa menjadi pendamping yang cukup. Tidak ada "skill" khusus, yang paling penting adalah keberserahan kita pada proses alamiah. Untuk itu kita harus punya informasi yang memadai agar yakin dengan cara persalinan yang kita pilih dan tidak mudah diintimidasi ketakutan orang lain.

Seperti apa sih keseharian Mbak Dewi di luar menulis? Apa saja kegiatan atau hobi yang sering Mbak lakukan untuk mengisi waktu luang?

Hobi saya banyak. Saya suka masak, berkebun, olah raga, membaca. Kalau ada waktu luang saya lebih banyak habiskan dengan anak-anak dan suami, atau kegiatan domestik seperti ke pasar dan mengurus rumah. Saya pindah dari Bandung tiga tahun lalu, dan sejak itu saya lebih suka di rumah. Nggak tahan macetnya Jakarta. Untung saya tinggal di pinggiran Jakarta dan di tempat saya tinggal fasilitasnya cukup lengkap. Kalau nggak penting-penting banget saya nggak keluar rumah.

Terakhir Mbak, sebagai orang yang dikenal memiliki kepedulian besar pada lingkungan. Permasalahan lingkungan apa yang paling menggangu perasaan Mbak? (Mungkin tentang penebangan hutan atau pembantaian orang utan yang terjadi baru-baru ini)

Hampir semua aspek tentang lingkungan menjadi concern saya saat ini. Dari mulai penebangan hutan hingga pengolahan sampah. Penebangan hutan bukan berarti hanya hilangnya pohon tapi juga spesies yang penghidupannya bergantung pada eksistensi hutan, contoh yang paling gres adalah orang utan yang terbantai akibat lahan sawit. Saya percaya kita bisa melakukan perubahan dari rumah. Lewat apa yang kita konsumsi, pilih, dan lakukan. Contoh kecilnya: mengolah sampah rumah tangga, membuat sumur resapan, biopori, menanam pohon, dan memilih produk-produk ramah lingkungan. Saya sendiri mengurangi konsumsi minyak goreng berbahan sawit dan beralih ke minyak kelapa. Hal-hal kecil seperti ini sering terlewat, padahal jika dilakukan secara kolektif dampaknya bisa sangat besar.

Saturday, December 20, 2014

Nakita | Gentle Birth | Oktober, 2011 | by Dedeh


Kesibukan dan aktivitas apa saja yang sekarang Anda tengah lakukan?
                   
Saat ini saya sedang menyelesaikan buku saya kedelapan, Supernova Partikel. Untuk itu, saya sengaja cuti panjang dari berbagai kegiatan yang di luar rumah. Jadi saat ini konsentrasi saya hanya untuk menulis dan mengurus rumah, keluarga, anak-anak.
                   
Anda pernah menjalani persalinan dengan gentle birth. Dari pengalaman yang Anda rasakan, bagaimana pengaruhnya bagi diri anak sekarang ini dan juga hubungannya dengan Anda sebagai ibu? (Misalnya, anaknya termasuk anak yang tenang, bahagia, dan sebagainya. Hubungan dengan Anda sebagai ibu lebih erat, dan sebagainya.)
                   
Sejak lahir, Atisha bisa dibilang sangat "conscious". Perkembangannya sangat baik, baik itu motorik, sensorik, maupun memori dan daya tangkapnya. Dari Atisha masih di kandungan, saya dan sudah membiasakan berkomunikasi dengannya. Jadi setelah lahir pun, meski dia belum berkomunikasi seperti orang dewasa, dia sangat responsif terhadap apa yang kami sampaikan. Secara kesehatan, Atisha jarang sakit, daya tahan tubuhnya sangat bagus.
Pengalaman Gentle Birth benar-benar revolusioner dalam hidup saya, dan juga keluarga. Atisha juga dekat dengan abangnya dan ayahnya. Saya sendiri sangat menikmati peran saya sebagai ibu. Meski bisa dibilang, saya hampir tidak bekerja lagi seperti dulu, jadi hanya mengambil pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah, saya tidak merasa kehilangan apa pun. Malah kalau bisa selama mungkin mengurus Atisha secara penuh, setidaknya sampai sebelum dia bersekolah.
                   
Dalam hal membesarkan buah hatinya, seperti mendidik dan mengasuhnya, apa yang Anda anggap penting untuk ditanamkan pada diri mereka? Mengapa itu penting?
                   
Kami selalu mendorong mereka untuk jujur dan tidak sungkan mengomunikasikan perasaan dan pikiran mereka. Kami ingin mereka tumbuh besar menjadi orang yang peka dan tidak mengabaikan suara batin mereka. Karena kami melihat kecenderungan orang modern sekarang ini adalah melapisi diri mereka dengan berbagai tameng, entah itu citra, identifikasi yang tidak tulus, dan sebagainya.
                   
Kegiatan apa yang sering dilakukan bersama anak-anak dalam keseharian dan juga di hari weekend?

Kami sering jalan-jalan di sekitar kompleks, membaca, menyanyi di rumah. Saat kami semua berkumpul di kamar, bercanda dan ketawa-ketawa, itulah momen yang paling menyenangkan.

Mother & Baby | Gentle Birth | Desember, 2010


Apa kabar? Selain disibukkan dengan Keenan dan Atisha, apa lagi kegiatan sekarang? Bagaimana dengan penulisan buku? Perahu Kertas jadi difilmkan?

Kabar baik. Saat ini saya sengaja “sabbatical leave” alias cuti panjang dari pekerjaan, untuk mengurus Atisha. Untuk pekerjaan saya cuma ambil yang bisa dikerjakan dari rumah saja. Penulisan buku masih jalan terus. Tahun ini saya menulis skenario Perahu Kertas yang rencananya akan difilmkan tahun depan. Dan ada satu manuskrip kumpulan cerpen, plus beberapa proyek website pribadi.

Apakah sempat kagok jadi ibu lagi karena jarak antara Keenan dan Atisha cukup jauh? Apakah santai saja atau sempat juga baca-baca majalah kehamilan atau website?

Kagok sih enggak, bahkan saya merasa sangat dimudahkan karena Keenan udah cukup besar dan mulai mandiri, jadi saya bisa konsentrasi untuk mengurus Atisha. Kalau santai ya santai, tapi banyak pembekalan saat hamil, seperti membaca, praktek meditasi, latihan self healing, taichi, dsb.

Perbedaan kehamilan Keenan dan Atisha kemarin seperti apa? Tolong ceritakan.

Saat hamil Atisha pendekatan saya jauh lebih natural, karena sudah mulai menerapkan Gentle Birth yang memang dimulai dari kehamilan. Check up hanya dilakukan jika benar-benar perlu, USG saya hanya dua kali, dan tidak ada obat-obatan sama sekali. Banyak istirahat, taichi, meditasi, dan terapi alami seperti homeopati, Jin Shin Jyutsu, self-healing, dsb. Waktu hamil Keenan saya sebentar-sebentar ke dokter, bahkan sempat masuk rumah sakit dua kali, padahal nggak ada yang serius, cuma parno aja. Hehe.

Bagaimana dengan makanan? Berarti dari janin, Atisha vegan ya?

Saya sudah vegetarian saat hamil Atisha, jadi otomatis dia vegetarian juga. (catatan: bukan vegan, kalau vegan sudah tidak mengonsumsi telur/produk susu. Waktu hamil saya vegetarian, bukan vegan)

Sempat baca, kemarin melahirkan Atisha bersama suami dengan metode gentle birth. Apa yang dimaksud dengan metode gentle birth? Bisa diceritakan? Perbedaan dengan water birth atau persalinan normal pada umumnya apa?

Gentle Birth itu pendekatan yang holistik untuk persalinan, dan juga kehamilan, di mana yang diutamakan bukan hanya keselamatan fisik saja, tapi juga meminimalkan trauma lahir pada bayi dan ibu. Untuk itu kami memilih bersalin di rumah, sehingga suasananya santai dan sakral. Kami dibantu bidan, tapi pada saat persalinan karena bidannya nggak keburu datang sementara bayi sudah siap keluar, akhirnya Reza yang menangkap bayi. Tapi karena sudah persiapan, jadi kami cukup tenang menjalankannya. Tidak ada sobekan, dan semua berjalan cepat. Bidan membantu untuk proses pengeluaran plasenta dan perawatan pasca persalinan. Kami memang menggunakan metode water birth karena dari riset kami, bayi yang keluar di air transisinya lebih mulus, dan berada di air juga menenangkan bagi sang ibu.

Dari mana Anda dan suami mendapatkan metode ini? Apakah setelah persalinan ini, Anda ke rumah sakit juga? Berapa berat dan panjang Atisha serta arti namanya?

Reza sudah cukup lama mengenal Gentle Birth karena pekerjaannya sebagai praktisi penyembuhan holistik. Kami banyak belajar dari buku, menonton video, dan konsultasi dengan para bidan di Bali yang menjalankan metode ini, seperti di Bumi Sehat (Ubud). Kami tidak ke rumah sakit sesudahnya karena tidak ada kondisi medis yang mengharuskan. Nama lengkap Atisha adalah Atisha Prajna Tiara. Atisha adalah nama guru besar agama Buddha, Prajna artinya “wisdom”, dan Tiara adalah mahkota.

Bagaimana Anda memandang kelahiran Atisha untuk pribadi dan keluarga baru Anda?

Kelahiran Atisha benar-benar mentransformasi kami semua. Proses persalinannya sungguh luar biasa dan itu benar-benar membawa keajaiban bagi kami sekeluarga.

Lalu, bagaimana dengan pola didik dan pola asuh yang diterapkan untuknya?

Kami menerapkan conscious parenting yakni pola asuh berkesadaran. Prinsipnya sederhana, ketimbang mengasuh berdasarkan teori para ahli, atau sekadar meniru pola asuh mayoritas, kami berusaha untuk terus dituntun intuisi dari dalam diri. Kepekaan ini adalah kombinasi dari upaya untuk terus memperhatikan secara jernih energi, perilaku dan perkembangan si anak yang tentu punya kebutuhan unik, dengan latihan hidup berkesadaran yang kami latih sebagai individu. 

Untuk edisi Januari ini, temanya New Year, New You, kalau Anda sendiri apakah Anda memiliki resolusi tahun baru untuk pribadi dan keluarga? Seperti apa? Apakah Anda memiliki waktu pribadi untuk merenung?

Kami berencana untuk membangun rumah tahun depan, jadi itu resolusi kami yang terdekat. Biasanya untuk tahun baru saya dan Reza meditasi singkat bersama-sama.

Tip sehat dan bugar dari Anda?

Banyak tertawa, punya hobi, banyak minum air putih, meditasi, sering berjalan dan hiruplah udara segar.

Friday, December 19, 2014

Kompas | Gentle Birth | Maret, 2010 | by Lusiana Indriasari


Bagaimana sampai pada keputusan memakai cara melahirkan dengan metode gentle birth/water birth? Apakah ada pengalaman buruk yang pernah di dengar atau karena ada motivasi khusus?

Waktu melahirkan anak pertama, saya di-caesar. Saat mengetahui kehamilan yang kedua, saya berkeinginan untuk mengalami persalinan yang bukan hanya “normal”, tapi juga sealami mungkin. Rezalah yang memperkenalkan konsep gentle birth pada saya, sejalan dengan pekerjaannya sebagai terapis penyembuhan holistik.  Sudut pandang holistik inipun ternyata sangat penting ketika menyikapi kehamilan & persalinan. Akhirnya kami mencari info sebanyak-banyaknya tentang opsi gentle birth ini, lewat buku, internet, video dokumenter, dsb. Dan ternyata memang beda sekali pendekatannya. Persalinan umumnya hanya fokus pada selamat / sehat secara fisik semata dan sesaat, artinya terpantau secara jangka pendek setelah persalinan. Namun, filosofi gentle birth justru peduli perkembangan fisik dan psikologis jangka panjang dari momen kelahiran, untuk itu proses hamil hingga bersalin perlu dirawat sebaik mungkin agar tidak saja sehat fisik, tapi juga intervensi sesedikit mungkin agar minim trauma & ramah jiwa bagi ibu dan bayi.  Gentle birth bukan hanya fokus pada ibu agar rileks, mengurangi sakit, dsb, tapi juga pada kesejahteraan batin dan tubuh bayi saat melewati transisi terbesar yang paling jadi titik penentu dalam hidupnya, yakni perjalanan dari rahim menuju dunia luar rahim.

Ceritakan bagaimana persiapan pada masa kehamilan dan juga persiapan menjelang gentle birth? Apakah sejak awal kehamilan sudah melakukan banyak persiapan misalnya seperti yoga kehamilan, meditasi, dll.?

Persiapan gentle birth yang kami lakukan meliputi emotional & trauma clearing, menyiapkan water birth di rumah – dari mulai memesan peralatan dan persiapan teknis pelaksanaan (kami memang memilih metode water birth karena lebih relaks bagi ibu dan juga minim risiko trauma fisik bagi bayi), dan saya melakukan Tai Chi khusus kehamilan selama dua bulan terakhir. Perencanaan persalinan kami juga tetap memperhitungkan aspek gawat darurat medis yang bisa saja terjadi, oleh karena itu kami tetap punya back-up rumah sakit yang sedekat mungkin dari rumah.
Hingga saat ini, Atisha tumbuh berkembang begitu sehat dan ‘hidup’.  Sejak awal lahir dia sudah membuka mata, dan kontak mata langsung dengan sadar & responsif. Perkembangan panca indera dan motoriknya juga cenderung cepat, begitu pula dengan proses belajar mengunyah makanan pendukung ASI yang kami berikan. Dia belum pernah sakit berat kecuali demam ringan saat-saat tumbuh gigi saja.  Dia sering mampu mengerti permintaan lisan kami, misalnya kalau kami harus ada meeting atau perjalanan jauh, biasanya dia tidak pernah rewel bahkan beristirahat tidur, dan terbangun tepat saat kesibukan kami sudah beres.  Bagi kami berdua, melaksanakan gentle birth adalah persembahan terbaik yang bisa kami berikan bagi bayi kami.
Perlu digaris bawahi bahwa gentle birth tidak harus selalu terjadi di air. Water birth bisa menjadi bagian dari gentle birth, tapi bukan sebuah prasyarat. Gentle birth bisa terjadi dengan metode water birth ataupun dry birth.

Tuesday, December 16, 2014

Her World Magazine | Most Powerful Woman 2011 | Juni, 2011 | by Theresia Christy


Apa saja kesibukan Mbak Dewi saat ini?

Saya baru saja meluncurkan buku baru, kumpulan cerita berjudul Madre yang merupakan kumpulan karya saya selama lima tahun terakhir. Selebihnya sih lebih banyak kerja dari rumah, dan mengurus anak tentunya.

Dari beberapa e-mail kita, aku lihat perhatian Mbak Dewi sangat besar untuk keluarga, khususnya anak-anak. Hal apa yang mendasari hal tersebut? Adakah yang bisa dibagikan kepada pembaca Her World secara khusus, dan perempuan Indonesia secara umum?

Sudah jadi komitmen saya dengan suami untuk full mengurus anak bungsu kami, Atisha yang sekarang baru 20 bulan. Anak kami yang pertama, Keenan, juga baru kelas 1 SD (sekarang naik kelas 2). Jadi banyak sekali hal-hal yang sifatnya transisional bagi anak-anak seumur mereka. Dari mulai perkembangan mental, fisik, sampai aktivitas. Bagi kami periode itu sangat krusial, tidak akan terulang lagi, jadi sayang kalau terlewat. Sementara saya berprinsip kalau pekerjaan sih bisa menunggu, akan ada saatnya saya bisa kembali full bekerja seperti dulu. Lagipula, banyak di rumah bersama anak itu ternyata lebih menyenangkan.

Supernova KPBJ menjadi salah satu karya yang diterbitkan dalam bahasa Inggris, bagaimana perasaan dan apa pendapat Mbak Dewi tentang hal tersebut?

Bagi saya itu impian yang jadi kenyataan. Memang tidak mudah untuk buku lokal menembus pasar internasional, dan diterjemahkan saja bukanlah jaminan buku tersebut akan bagus penjualannya. Namun bagi saya, dan juga Yayasan Lontar - yang menerbitkannya, penerjemahan karya pustaka Indonesia adalah penting untuk memperkenalkan kultur, masyarakat, dan Indonesia secara keseluruhan kepada dunia, karena sastra adalah karya kompleks yang mencerminkan lebih dari sekadar kisah, melainkan juga budaya sebuah bangsa.

Saat ini, Mbak Dewi (tampaknya) lebih dikenal sebagai novelis, apakah memang ini yang menjadi cita-cita Mbak sejak awal? Tolong ceritakan.

Saya nggak pernah bercita-cita secara spesifik menjadi penulis. Yang saya tahu sejak kecil, hobi saya adalah musik dan menulis, dan saya mengembangkannya sedemikian rupa selama bertahun-tahun sehingga akhirnya bisa menjadi profesi. Prinsip saya dalam bekerja adalah realistis dan situasional, artinya mana yang bisa dan feasible untuk saya kerjakan saat ini, itulah yang saya jalankan. Dengan pilihan saya untuk lebih banyak di rumah dan fokus pada keluarga, otomatis menulis menjadi lebih convenient, karena saya dimungkinkan untuk banyak di rumah. Kalau satu saat situasinya berubah lagi, anak-anak sudah lebih independen misalnya, ya, prioritas karier saya bisa berubah lagi juga. Namun bidangnya nggak akan lepas dari hobi saya. 

Adakah hal-hal tertentu yang ingin Mbak sampaikan melalui tulisan-tulisan Mbak kepada para pembaca?

Intinya, saya menulis apa yang saya suka baca. Artinya, saya menuliskan minat saya sendiri. Hal-hal yang saya tulis cenderung berbau transendental, spiritual, tapi dalam kemasan yang relatif mudah dicerna. Hal itu jugalah yang saya suka dan saya cari ketika saya membaca buku. Jadi dalam hal ini saya memposisikan diri saya sebagai pembaca.

 Adakah bidang lain yang menjadi passion Mbak Dewi, selain menulis? Kalau nggak salah, aku pernah baca di blog Mbak Dewi kalau Mbak juga hobi dengan masak dan makan? Bisa ceritakan tentang hal tersebut?

Saya senang masak dari kecil, tapi sempat berhenti lama. Setelah berkeluarga, minat itu muncul lagi. Selain masak, saya senang tanaman. Punya keinginan kursus serius merangkai bunga, tapi belum kesampaian. Saat ini lebih banyak sibuk di kebun sendiri, bercocok-tanam.

Mbak Dewi apakah masih aktif menulis di blog? Alasannya? Soalnya aku lihat (kayaknya) terakhir nulis di blog tahun 2009.

Blog Dee-Idea itu dibuat untuk menampung tulisan-tulisan nonfiksi yang sifatnya random. Dan bagi saya, per saat ini kumpulan tulisan yang saya buat sudah cukup dari segi jumlah. Jadi saya memang berencana untuk menutup blog tersebut. Barangkali satu saat akan saya jadikan buku. Kegiatan blogging mungkin masih akan berjalan tapi dalam format dan konsep yang berbeda. Jadi nggak sama dengan Dee-Idea lagi. Untuk interaksi dengan pembaca, saya sekarang lebih memilih lewat jalur Twitter.

Apa yang menjadi pencapaian terbesar Mbak Dewi sejauh ini?

Mengalami gentle birth saat bersalin Atisha. Bagi saya, peristiwa itu sangat luar biasa dan menguatkan saya secara fisik, mental, dan spiritual.

Menurut Mbak, apa yang membuat seorang perempuan menjadi powerful?

Terus terang, pemahaman saya tentang esensi keperempuanan mengalami banyak transisi. Terutama ketika saya belajar memahami sifat feminin dan maskulin secara energetik. Menurut saya, selama ini kita cenderung fokus pada pencapaian eksternal seorang perempuan. Kalau perempuan berkarier hebat, berpendidikan tinggi, berpengaruh secara politis, kita lantas mencapnya "powerful". Namun sebetulnya orientasi external achievement pada hakikatnya sangatlah maskulin. Jadi kita seperti menghargai perempuan yang punya kualitas maskulin kuat, dan bukan kualitas feminin yang kuat. Maskulin di sini bukan berarti tomboy, dan feminin juga bukan berarti girly, melainkan dalam dari itu. Bagi saya perempuan yang powerful dalam arti sesungguhnya adalah perempuan yang "grounded", punya koneksi kuat pada tubuhnya, pada alam, pada intuisinya, dan mentally & spiritually secured.

Apa yang menjadi kekuatan terbesar Mbak Dewi? 

Saat saya berfungsi sehari-hari, kekuatan terbesar adalah dari keluarga saya. Namun selalu ada kekuatan yang lebih besar dari diri kita sendiri, yang bahkan pemikiran kita tidak bisa memahaminya. 

Berkaitan dengan ulang tahun Indonesia, cara Mbak Dewi dalam mewujudkan rasa cinta pada Indonesia?

Terus berkarya, dan memberikan yang terbaik ke dalam karya tersebut. 

Siapa sosok perempuan powerful yang menjadi inspirasi Mbak Dewi dan apa alasannya?

Saya sangat mengagumi Robin Lim, seorang bidan dan pemilik klinik bersalin Bumi Sehat di Ubud. Ibu Robin ini baru saja dapat award dari Kick Andy dan juga menjadi salah satu CNN Heroes. Saya kenal langsung dengan beliau dan sering mampir ke Bumi Sehat setiap kali ke Ubud. Dedikasi, semangat, dan ketulusan Beliau sangat luar biasa. Dan bukan hanya Robin seorang bidan yang membantu ribuan ibu, beliau juga penulis yang menulis buku tentang kehamilan, persalinan, buku puisi, fiksi, dsb. Beliau sangat mengagumkan.

Wednesday, December 10, 2014

Ayah Bunda | Vaksinasi | September, 2011


Apa pemahaman Mbak tentang imunisasi?
Bagaimana pendapat Mbak bila ada orangtua yang tidak ingin mengimunisasi anaknya? Apa yang menjadi alasannya menurut Mbak? Apakah jumlah mereka sudah banyak di Indonesia?
Bila Mbak – mohon maaf bila salah – juga berniat untuk tidak mengimunisasi anak Mbak, apa yang menjadi alasan Mbak? Lalu, apa yang Mbak lakukan agar anak Mbak tidak terjangkit penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi?
Bila kebetulan anak sakit, termasuk sakit yang bisa dicegah dengan imunisasi, tindakan apa yang akan Mbak lakukan atau bagaimana menyikapinya?

Saya tidak anti vaksinasi, tapi saya mendukung perilaku konsumen medis yang mempelajari dengan benar risiko dan kandungan yang terdapat pada vaksinasi tersebut, baru kemudian memilihnya dengan sadar.  Yang kurang berkenan bagi saya, adalah perilaku membeo ikut arus vaksinasi hanya karena mayoritas orangtua yang lain melakukannya, tanpa mempelajari sendiri riset yang ada, tanpa berkonsultasi pada intuisi kita sendiri sebagai orang tua.
Imunisasi tidaklah bebas risiko bagi tubuh anak, meskipun dinyatakan aman oleh beberapa pihak. Jika setelah dipelajari plus-minusnya, kita cek intuisi kita, dan kita menyimpulkan vaksinasi tersebut diperlukan bagi sang anak, maka silakan diteruskan. Kalau kesimpulan kita ternyata tidak, maka tidak usah dipaksakan. Intinya, kita harus lebih kritis dan hati-hati.
Sistem kekebalan tubuh punya kekuatan alamiah yang luar biasa, selama kita menjaga hidup yang sehat lewat nutrisi, olahraga, keseimbangan mental emosional. Perlindungan vaksinasi, yang bersifat imunitas buatan, tidak pernah juga efektif 100% dan jangka waktu perlindungannya pun terbatas.  Jadi, pada intinya pencegahan penyakit tetap harus dari gaya hidup sehat secara keseluruhan, tidak hanya mengandalkan vaksinasi saja.
Saya dan keluarga memilih untuk mengobati secara alami terlebih dulu. Penyakit bukanlah sesuatu yang selalu harus diperangi dengan segala cara, dan tubuh sudah punya kecerdasan alamiah untuk menyembuhkan diri. Cuma karena kita terlalu terbiasa menyikapi sakit dengan reaksi ketakutan, jadi muncul gejala sedikit kita sudah cekoki berbagai obat, yang belum tentu ramah untuk tubuh.
Saya dan suami memutuskan untuk tidak memvaksinasi Atisha karena kami justru ingin daya tahan tubuhnya berkembang maksimal tanpa intervensi yang terlalu dini. Sejak kelahirannya dengan metode gentle birth di rumah, hingga sekarang di usianya hampir 15 bulan, sistem imun Atisha keliatannya cukup kuat, jarang sekali sakit, dan belum pernah diberi obat medis apa pun sama sekali. Bila anak kami sedang kurang sehat, biasanya diterapi di rumah dengan pijat dan homeopati saja, serta tentunya ASI bagi Atisha.
Jika suatu hari, kami merasa imunisasi diperlukan, kami akan memilih vaksinasi homeopati yang berdasarkan riset, jauh lebih aman ketimbang vaksinasi alopati (riset dokter Isaac Golden). Untuk referensi tentang imunisasi yang aman, kami mempelajari antara lain: buku-buku & riset Sherri Tenpenny, MD (www.drtenpenny.com), film dokumenter Vaccine Nation – Gary Null, selain itu informasi mengenai vaksinasi juga banyak di internet. Bagi saya sudah menjadi tanggung jawab orang tua untuk menggali informasi tersebut, dan tidak hanya mengandalkan “kata orang”, atau informasi dari satu dokter saja. Opini mengenai vaksinasi tidak berarti bebas bias, jadi yang lebih penting, kita juga cek intuisi kita sebagai orang tua.