Showing posts with label Social Media. Show all posts
Showing posts with label Social Media. Show all posts

Saturday, April 4, 2020

BeritaBaik.ID | Penulis & Media Sosial | Sept, 2018 | Chaedar Ambadar


Bagaimana Dewi Lestari melihat sosial media saat ini sebagai penulis? Apakah ide tulisan bisa muncul dari sana?

Media sosial saat ini menjadi media saya berkomunikasi dengan pembaca. Konten media sosial saya upayakan lebih banyak ke pekerjaan ketimbang personal, karena saya memang lebih ingin teridentifikasi dengan karya saya daripada kehidupan pribadi. Ide tulisan pada dasarnya bisa didapat dari mana saja, termasuk media sosial, karena isi media sosial sangat beragam, mulai dari berita sampai gunjingan. Jadi, sama saja seperti kita berhadapan dengan kehidupan riil. Namun, saya belum pernah mengangkat cerita khusus dari media sosial. Kalau terbantu untuk riset, sering. Cukup sering saya melempar pertanyaan lewat media sosial, seperti nama tempat, atau narasumber, dan cukup sering saya terbantu.  


Sekarang ini sepertinya sedang tren penulis membuat karya secara online (seperti di Wattpad), setelah banyak respons positif dan banyak permintaan untuk diterbitkan baru dibuat buku fisik. Bagaimana Dewi Lestari melihat ini?

Dari sisi kreator, semua kanal yang bisa dipakai berbagi, tentunya menjadi celah baginya berkarya. Menurut saya ini baik, karena para kreator tidak harus lagi bergantung kepada jalur-jalur konvensional untuk bisa berkarya dan membagikan karyanya. Jika kemudian penerbit yang mengubah manuvernya, berburu penulis dan bukan lagi diburu, saya rasa itu adalah perkembangan wajar mengingat kondisi di era teknologi ini. Informasi semakin tidak bisa dibendung. Termasuk kreativitas. Perkembangan yang kita lihat sekarang ini tak lain tak bukan adalahP demokratisasi informasi. Dan, pada akhirnya, pembacalah yang menentukan diterima atau tidaknya sebuah karya.  

Dari seluruh karya Dewi Lestari, mana yang prosesnya paling singkat? Buku apa dan berapa lama pembuatannya dari ide, penulisan hingga akhirnya terbit?

Yang sifatnya antologi atau kumpulan cerpen, seperti Filosofi Kopi dan Madre, biasanya perampungannya lebih singkat dibandingkan novel. Singkat, karena sebagian besar isinya merupakan stok karya yang sudah saya kerjakan 5 bahkan 10 tahun sebelum kumcernya terbit. Jadi, “singkat” di sini adalah waktu yang dibutuhkan untuk penulisan beberapa karya baru. Mungkin 3-4 bulan untuk penulisan 3-4 cerita baru, dan 1-2 bulan ekstra untuk penyuntingan keseluruhan antologi, dan 1 bulan lagi untuk produksi serta distribusi. Tapi, jika dihitung-hitung, buku-buku kumcer saya sebagian isinya sudah ditulis bertahun-tahun yang lampau. Akibatnya, dipandang singkat atau tidak jadi tergantung perspektif kita melihatnya bagaimana.   


Apakah lama tidaknya proses pembuatan buku memengaruhi kepuasan penulis akan karyanya? Sekaligus tips bagi penulis pemula yang mungkin kerap ingin segera melihat karyanya di toko buku tapi kurang matang tulisannya.

Lama tidaknya proses pembuatan buku menurut saya tidak berpengaruh kepada kualitas maupun kepuasan. Ada tendensi untuk kita menilai bahwa buku yang bagus itu ditulisnya pasti lama, sementara buku yang ditulisnya kilat itu cenderung tidak bermutu. Sebetulnya tidak sesederhana itu. Buku sendiri wujudnya bermacam-macam. Kita tidak bisa menyamakan novelet 10.000 kata dengan novel epik 100.000 kata, walau hasil akhirnya sama-sama jadi satu buku. Yang mengerjakan 10.000 kata pasti akan lebih cepat daripada yang 100.000 kata, tapi belum tentu yang 10.000 bakal lebih jelek hasilnya. Jadi, lama atau tidaknya pengerjaan kembali kepada jenis buku apa yang hendak ditulis serta tingkat kesulitannya, tetapi tidak berarti yang ditulis lama hasilnya bakal berkualitas. Bisa saja lamanya itu karena ternyata tidak digarap dengan sungguh-sungguh, disambi dengan banyak pekerjaan lain, nulisnya berhenti-berhenti, dsb.
Matang atau tidaknya penulisan kadang tidak bisa jernih dinilai oleh penulisnya sendiri. Yang kita tulis hari ini bisa saja kita anggap mahakarya, tapi 10 tahun lagi sudah kita anggap sampah. Untuk penulis pemula yang ingin berkarya, luangkanlah waktu dan sumber dayamu untuk penyuntingan yang baik. Ada editor-editor lepasan yang bisa membantu memoles naskah kita. Jangan cepat berpuas diri. Menulis adalah keahlian yang harus terus digali seumur hidup. Selalu belajar. Ketika kamu membaca karya orang lain, baca bukan cuma untuk terhibur, melainkan juga untuk sambil belajar.


Siapa saja sih penulis yang menginspirasi Dewi Lestari? Kenapa?

Terlalu banyak untuk disebut satu-satu. Saat ini saya sedang sangat menyukai tulisannya Yuval Noah Harari. Kemampuannya mengolah materi, kejernihan dan ketajamannya bertutur sangat mengagumkan.

Media Indonesia | Buku di Era Digital | Mei, 2018 | Suryani Wandari


Di zaman serba digital ini banyak kekhawatiran terjadi pasalnya sejumlah toko buku akhirnya tutup karena perubahan perilaku masyarakat. Bagaimana Dee melihat kondisi ini? Beberapa penerbit buku sudah mati, tapi menurut IKAPI minat baca masyarakat Indonesia justru semakin meningkat. Menurut Dee mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Perubahan tren pasar berbelanja buku secara online, dalam pengamatan saya, sebetulnya hanya mengubah outlet fisik menjadi outlet digital, tapi minat baca maupun ketertarikan masyarakat terhadap bacaan belum tentu ikut mati dengan matinya beberapa toko buku fisik. Tutupnya banyak rantai toko buku fisik besar di Amerika misalnya, tetap saja dibarengi dengan peningkatan volume penjualan buku secara keseluruhan. Artinya, bukan penjualan bukunya yang turun, outletnya yang berubah. Itu terefleksikan juga pada bisnis retail, bukan daya beli masyarakat yang menurun dengan tutupnya banyak department store, hanya masyarakat lebih cenderung membeli online.
Untuk penerbit kurang lebih serupa kondisinya. Karena penerbit banyak bergantung kepada outlet fisik dan memproduksi buku secara fisik, sementara rabat dari toko buku terus meningkat dan bahan baku produksi buku semakin mahal. Tentu tidak mudah untuk menghidupkan bisnis jika judul-judul bukunya tidak laku. Jadi, dalam hal ini hukum pasar yang mendasar tetap berlaku, entah bukunya yang harus laris, bisnisnya harus lebih ramping, mencari alternatif penjualan yang lebih bisa menghemat profit, atau gabungan semua itu.
Sementara, sebagai kreator konten yang bergerak di hulu seperti saya, sebetulnya tidak banyak yang perlu dikhawatirkan, karena masyarakat tetap membutuhkan konten, hanya cara mendapatkannya saja yang berbeda.

Apa dampak dari masifnya teknologi informasi di berbagai bidang ini berpengaruh pula terhadap penjualan buku yang Dee tulis?

Sejauh ini tidak. Bahkan lebih baik, karena sekarang ada outlet tambahan, yakni toko buku online yang menjual fisik, dan toko buku digital yang menjual format digital.

Apakah pernah mengalami ditolak oleh beberapa penerbit?

Belum, karena latar belakang saya dari self-publishing.

Dee sendiri lebih memilih mencetak buku di penerbit indie atau penerbit mayor? Alasannya?

Keduanya punya keuntungan dan tantangan masing-masing. Menerbitkan sendiri lebih punya keleluasaan, termasuk keuntungan yang bukan hanya datang dari royalti melainkan juga dari profit penjualan. Penerbit indie biasanya lebih punya sedikit penulis jadi bisa lebih fokus, tapi modal dan SDM-nya belum tentu kuat. Penerbit mayor biasanya punya modal dan SDM kuat, meski keleluasaan penulis, pembagian royalti, relatif lebih ketat dibandingkan self-publishing ataupun penerbit indie. Karena saat ini volume penjualan buku-buku saya selalu dalam jumlah besar, modal dan SDM penerbitnya harus kuat, untuk itu saat ini saya lebih merasa pas dengan penerbit mayor.

Dengan fenomena ini tidak sedikit toko buku yang sengaja mengobral buku agar terjual. Ini bagaikan bertolak belakang, satu sisi miris karena buku yang merupakan seni berfikir ini dihargai rendah. Satu sisi lainnya menjadi keuntungan pembeli bisa membeli buku harga murah. Bagaimana Dee melihatnya?

Sebetulnya itu hukum pasar saja. Daripada menumpuk di gudang dan jadi barang mati, tentu lebih baik diobral ketimbang menahannya demi gengsi seni. Bagaimanapun sebuah buku, ketika sudah diproduksi masif, menjadi produk. Mungkin miris bagi penulisnya ketika melihat bukunya dijual murah, tapi ia pun harus memahami bahwa ketika bukunya diterbitkan, maka buku tersebut menjadi barang dagangan. Dan, bukankah lebih baik jika ide dalam buku itu disebar ketimbang menumpuk di gudang? Semua penerbit pasti punya stok buku yang tidak bergerak. Supaya bisnisnya hidup, tentu ia harus melakukan berbagai strategi.

Apa yang dilakukan untuk menjadikan buku buatan Dee laku di pasaran? Apakah memanfaatkan medsos sendiri untuk melakukan branding juga?

Medsos memegang peranan sampai batas tertentu untuk mempopulerkan sebuah produk, tapi tidak ada artinya jika produknya tidak bagus. Menurut saya, yang paling mendasar harus berangkat dari kualitas konten. Saya hampir tidak pernah berpikir soal pasar ketika menulis buku. Fokus utama saya hanya menulis sebaik mungkin.  Tentu di titik ini saya punya kemudahan karena sudah berkarier 17 tahun sebagai penulis profesional dan sudah punya basis pembaca. Tapi, tidak jaminan juga kalau memang buku yang saya hasilkan tidak berkualitas, karena orang lantas akan menilai dan bersuara. Branding lebih kepada pemeliharaan medsos kita sebagai sebuah portofolio, di mana kita mengasosiasikan diri, menampilkan diri, dsb. Hal itu membantu, tapi sekali lagi, inti pekerjaan saya ada pada kreasi saya. Jadi, tugas saya terpenting adalah menghasilkan karya yang berkualitas.

Kabarnya, novel terbaru berjudul Aroma Karsa dirilis melalui format digital, bahkan versi cetak dibuat menyusul. Mengapa?

Saya lampirkan FAQ / Media Highlights untuk menjawab pertanyaan ini.

Bagaimana format bagi hasil dengan penerbit buku digital tersebut?

Formatnya sama dengan penerbit buku fisik, ada pembagian royalti, hanya saja porsinya bisa lebih besar karena beberapa komponen hilang, seperti biaya percetakan, distribusi, dan rabat toko. Jadi, hanya antara penerbit dan penulis saja.

Sejauh ini hasil penjualannya seperti apa? Adakah perbedaan yang signifikan antara penjualan digital dan cetak sebelumnya?

Penjualan cetak tetap jauh lebih besar. Digital kurang lebih 10-12% dari jumlah penjualan cetak. Tapi, faktor lain yang harus diperhitungkan adalah, royalti dari produk digital lebih besar. Jadi, meski secara angka penjualan lebih kecil, itu bisa dikompensasi dari besaran royaltinya.

Apa saja tantangan penulis buku di era digital? Bagaimana pula strategi untuk terus berkarya?

Berkarya menjadi keputusan sepenuhnya dari pembuat karya, dalam era seperti apa pun. Industrinya yang kemudian berubah dan berkembang. Di era digital, penulis punya “channel” lain untuk dipelihara dan dimanfaatkan, yakni medsos. Penulis juga punya banyak “mainan baru” untuk bereksperimen seperti blog, self-publishing, penerbit digital, dll. Tergantung mau dimanfaatkan atau tidak. Yang jelas saat ini kita punya lebih banyak pilihan.

Menjadi penulis dan melihat buku terpampang di rak toko buku menjadi mimpi Dee sejak lama. Bagaimana Dee kembali melihat mimpi tersebut di era digital sekarang ini?

Sama saja sebetulnya. Kalau dulu hanya bisa di rak toko buku, sekarang bisa juga di laman situs toko digital di layar komputer .

Harapannya terhadap industri perbukuan  di tanah air?

Menjadi lebih baik, lebih sehat, buku lebih murah dan mudah diakses.

Friday, April 3, 2020

Media Indonesia | Aroma Karsa & Profesi Penulis | April, 2018 | Rizky Noor Alam


Sebagai seorang penulis senior, bagaimana Anda melihat perkembangan dunia menulis Indonesia saat ini?

Secara umum, profesi penulis saat ini mendapatkan lebih banyak perhatian. Dari soal pajak, program residensi, festival penulis baik lokal maupun internasional, pemunculan beberapa asosiasi penulis, kesemua itu menunjukkan adanya geliat yang lebih dinamis. Berbicara soal penulis tidak bisa lepas dari industri. Industri yang sehat dan bergairah akan memunculkan lebih banyak penulis. Secara industri, industri perbukuan masih sangat kecil dibandingkan industri kreatif lain, yang artinya masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibereskan. Terutama menyangkut minat literasi, akses ke buku yang lebih merata, dan pengadaan buku yang lebih terjangkau.

Buku terbaru Anda yang berjudul Aroma Karsa bisa dibilang booming di pasaran. Bisa dijelaskan apa latar belakang serta pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca? Mengingat tampaknya Anda melakukan riset yang mendalam untuk ini.

Saya bukan tipe penulis yang punya pesan khusus kepada pembaca. Saya menuliskan sesuatu semata-mata karena itu menarik bagi saya. Sejam empat tahun lalu, saya memang sudah tertarik untuk mengolah topik indra penciuman di dalam fiksi. Dari sanalah muncul ide dasar untuk Aroma Karsa.

Bagian mana dari buku Aroma Karsa yang paling menarik/berkesan buat Anda? Mengapa begitu?

Saya tidak bisa mengisolasi beberapa bagian saja dari cerita. Bagi saya, semuanya merupakan satu kesatuan. Di Aroma Karsa, selain tema penciuman, mungkin yang bisa dibilang hal baru bagi saya di Aroma Karsa adalah penggalian mitologi Jawa khususnya Majapahit, yang meski dalam Aroma Karsa hampir semuanya fiktif, dalam risetnya saya tetap mempertimbangkan aspek epigrafi yang relevan. Unsur semacam ini belum pernah sebelumnya muncul di karya saya.

Apa harapan Anda dengan kemunculan buku Aroma Karsa? Mau dibawa ke mana komunitas pembaca Aroma Karsa yang sudah terbentuk?

Dinamika pembaca semacam ini merupakan hal lazim, sebetulnya. Yang membedakan adalah saya, sebagai kreator, sempat ikut di dalamnya. Meski sekarang ini pastinya keterlibatan saya tidak seintensif ketika cerbung Aroma Karsa masih berjalan. Saya tidak ingin mengorganisir pembaca karena itu akan memakan fokus dan atensi saya yang seharusnya bisa dipakai untuk berkarya. Saya juga yakin pembaca lebih membutuhkan saya untuk berkarya ketimbang mengorganisir mereka. Saya lebih cenderung membiarkan komunitas pembaca semacam ini  berjalan organik, seperti halnya Komunitas Supernova. Jadi, biarlah para pembaca yang sudah bersilaturahmi ini yang kemudian memutuskan arahnya bagaimana. Grup FB Aroma Karsa yang sekarang ada tidak akan ditutup.

Berapa eksemplar buku Aroma Karsa yang sudah terjual? Adakah target jumlah buku yang terjual? Dan, apakah akan muncul sekuel lanjutan Aroma Karsa?

10.000 buku PO sudah terjual. Di luar dari itu, jika tidak salah, penerbit mencetak 40.000 eksemplar. Detailnya bisa dipastikan ke Bentang Pustaka. Kalau jumlah terjual harus dicek beberapa bulan kemudian, karena penyerapan di toko buku tidak bisa dilaporkan serta merta.
Sekuel Aroma Karsa sejauh ini belum direncanakan, meski tidak menutup kemungkinan.

Sebelum Aroma Karsa, Anda sudah menerbitkan banyak buku dan beberapa diantaranya diangkat menjadi sebuah film seperti Supernova, Filosofi Kopi, dan Perahu Kertas. Bisa dijelaskan bagaimana perjalanan buku-buku Anda tersebut dapat diangkat menjadi sebuah film?

Tawaran menjadi film sepenuhnya merupakan inisiatif rumah produksi/produser. Saya tidak pernah aktif menawarkan atau mencanangkan buku-buku saya jadi film. Jadi, kalau ada yang tertarik, maka yang bersangkutan akan mengontak saya. Jika segalanya pas, jadi. Jika tidak, ya, tidak jadi. Sesederhana itu saja.

Bagaimana soal hak cipta dari buku/cerita yang Anda tulis yang kemudian diangkat ke film? Mengingat jika sebuah buku diangkat menjadi film, tidak semuanya isi buku tersebut difilmkan? Dan, kalau tidak keberatan, berapa nilai dari setiap buku yang diangkat menjadi film tersebut?

Hak cipta tetap ada di tangan penulis. Proses ekranisasi atau alih wahana dari fiksi menjadi film disebut sebagai hak adaptasi. Artinya, buku diadaptasi, dan bukan garansi bahwa isi buku 100% diterjemahkan menjadi film. Dalam proses alih wahana tersebut pasti akan penyesuaian. Penulis memberikan hak adaptasi kepada pihak film, dan selebihnya merupakan hak pembuat film untuk menentukan.
Poin yang kedua tidak bisa saya jawab karena menyangkut pasal kerahasiaan dalam kontrak.

Dalam menulis buku, apa target Anda? apakah Anda selalu menargetkan menjadi film saat menulis buku? Atau Anda memang sudah membayangkan akan diangkat menjadi film?

Target saya adalah menulis buku yang ingin saya baca, dan menulis sebaik-baiknya. Alih wahana tidak pernah menjadi target.

Setelah Aroma Karsa, buku apa lagi yang sedang dalam proses penulisan? Adakah target jumlah buku yang harus Anda terbitkan setiap tahunnya?

Saat ini saya masih menjalani masa promosi Aroma Karsa, dan belum merencanakan apa yang akan saya garap berikutnya. Tentunya saya sudah punya beberapa opsi, tapi saya tidak mau memikirkan soal itu dulu hingga masa promosi selesai. Setelah itu, saya rihat dulu sambil pelan-pelan mulai merencanakan proyek kreatif berikut. Saya tidak punya target tahunan, karena kecepatan saya berkarya sejauh ini selalu lebih dari setahun, paling cepat setahun setengah.

Di era digital saat ini, banyak orang yang sudah mulai beralih membaca via tablet atau smartphone-nya. Namun masih ada pula beberapa kalangan yang masih setia membaca menggunakan kertas. Bagaimana Anda melihat fenomena ini? Akankah Anda akan mulai beralih menerbitkan buku secara digital?

Saya sudah memulai menerbitkan naskah secara digital sejak tahun 2007, dimulai dari Perahu Kertas. Saat ini, selain Aroma Karsa, semua versi digital dari buku saya juga sudah tersedia. Saya merasa teknologi saat ini merupakan kesempatan emas untuk meningkatkan minat literasi. Meski buku cetak masih mendominasi dan memiliki peran penting, kita bisa memanfaatkan teknologi buku digital untuk pemerataan buku-buku di daerah, ketimbang harus mengirimkan/menyebarkan buku fisik yang juga memakan biaya dan membutuhkan perawatan. Beberapa daerah yang saya kunjungi akhir-akhir ini, salah satunya Kalimantan Selatan, Dinas Perpustakaan-nya sudah bersiap meluncurkan perpustakaan digital, yang mana anggota perpus dapat meminjam buku secara gratis dalam kurun waktu tertentu. Hal seperti ini menurut saya adalah terobosan penting dan mudah-mudahan dapat diterapkan di berbagai daerah di Indonesia. Untuk itu, penting sekali bagi pemerintah untuk menyiapkan jaringan/infrastruktur bagi layanan internet memadai di Indonesia. Buku bukan berhenti sebatas kertas. Buku adalah konten dan informasi. Dan, teknologi saat ini memungkinkan kita mengakses konten buku di luar dari batasan fisik. Tergantung kita siap memanfaatkannya secara maksimal atau tidak.

BEKRAF pernah bilang bahwa media multiplatform cocok untuk orang-orang yang bergerak di industri kreatif, konten tulisan Anda dapat pun dapat dikembangkan melalui banyak media. Maksudnya inti dari industri kreatif adalah hak cipta. Misalnya komik Marvel yang menjelma menjadi banyak film dan dibuat merchandise-nya, Laskar Pelangi yang selain menjadi film juga mampu berdampak pada menghidupkan industri pariwisata di daerahnya, lalu Filosofi Kopi yang tidak hanya diangkat menjadi film tapi sekarang juga ada gerai-gerai kopinya. Bagaimana pendapat Anda dengan hal tersebut?

Menurut saya, memang ke arah sanalah industri perbukuan harus bergerak. Dan, secara umum, ke arah sana jugalah industri kreatif harus bergerak. Sekat antar medium saat ini sudah semakin cair dan fleksibel. Satu ide yang sama dapat bertransformasi menjadi berbagai output, lintas industri.

Bagaimana pendapat Anda soal pengenaan pajak bagi penulis yang dilakukan Pemerintah?

Sudah ada perhatian dengan tanggapnya pemerintah dan Menteri Keuangan terhadap isu pajak penulis tempo hari, dan juga perbaikan dengan adanya profesi penulis di daftar NPPN. Hanya saja, menurut saya pajak penulis masih bisa diperbaiki dan lebih merefleksikan sifat profesinya. Besaran NPPN tsb menurut saya masih bisa disesuaikan. PPh 23 saat ini juga masih terlalu besar (15%), dan pengaturan pemungutan langsung oleh penerbit berarti pemerintah menahan uang penulis dan berpotensi membuat perhitungan yang membutuhkan koreksi di SPT tahunan (bisa lebih atau kurang bayar – yang artinya menambah satu prosedur lagi yang merepotkan penulis, juga pemungut pajak).

Follower Anda di sosial media terbilang banyak. Bagaimana Anda memandang diri Anda sebagai seorang influencer?

Saya tidak memisahkan profesi saya dengan status saya sebagai influencer. Kredibilitas saya datang dari profesi yang saya lakukan. Jadi, yang lain-lain bisa dibilang hanya ‘bonus’. Yang jelas, di medsos saya berprinsip untuk membatasi tidak over-sharing hal-hal yang terlalu pribadi. Dan, ketika saya menampilkan keseharian, saya juga tidak ingin menampilkan citra artifisial, jadi sesuai dengan kepribadian saya saja. Interaksi dengan follower saya jaga tetap riil dan hangat. Bagi saya, medsos pada prinsipnya adalah penunjang pekerjaan, tapi saya tidak ingin “dimanfaatkan” medsos.

Apa saran Anda bagi para penulis muda Indonesia?

Tulis yang ingin kita baca. Tingkatkan jam terbang. Banyak mencoba sampai kita nyaman. Jangan takut gagal, jangan juga terlalu muluk. Mulai tulisan dengan niat menamatkannya.

Apa arti musik dan buku bagi Anda?

Medium untuk berekspresi.

Bagaimana Anda mendapatkan inspirasi dalam menulis? Akankah Anda tertarik untuk menulis berdasarkan fenomena sosial masyarakat terkini?

Inspirasi saya datang dari hidup itu sendiri, dari mengamati dan menjalaninya. Baik perenungan, ketertarikan, maupun buku-buku yang saya baca, menjadi bahan bagi saya menulis. Kalau ada fenomena sosial masyarakat terkini yang menarik, maka bisa saja itu menjadi ide. Tetapi, saya tidak pernah merencanakannya dengan sengaja. Kalau memang terpicu jadi ide, ya terjadilah.

Bagaimana cara Anda menghilangkan penat dan mengumpulkan semangat saat sudah mulai jenuh untuk menulis? 

Kebuntuan ringan cukup diatasi dengan hal-hal yang sederhana, seperti istirahat, nonton film, olahraga, mandi, atau baca buku. Kalau cerita stagnan berkepanjangan, biasanya perlu dirombak secara teknis. Elemen fiksinya dikaji ulang dan diganti, bahkan ditulis ulang. Berusaha terus semangat dalam menyelesaikan karya bukanlah target yang realistis, karena seperti cuaca, pasti ada naik-turunnya. Saya cuma berusaha mematuhi deadline yang saya buat. Semangat atau tidak semangat, jenuh tidak jenuh, kalau kita sudah punya deadline dan komitmen untuk mematuhinya, perintang seperti itu akan teratasi dengan sendirinya, apa pun caranya.


Hobi Anda di luang apa? Seberapa sering Anda lakukan? Bagaimana Anda membagi waktu dengan keluarga d itengah kesibukan?

Berenang, memasak. Memasak hampir setiap hari karena merupakan bagian dari mengurus keluarga. Berenang kira-kira seminggu dua-tiga kali. Membagi waktu berdasarkan prioritas yang tepat sesuai kebutuhan, tidak ada rumus khusus. Kalau saatnya kerja dan keluar kota, ya, lakukan. Kalau memang harus di rumah, ya, di rumah. Saya berusaha membatasi diri saja untuk tidak over-work dan menjalankan prinsip produktif tanpa sibuk. Banyak orang sibuk tapi tidak produktif. Saya berusaha sebaliknya, produktif tapi minim sibuk.

Sebagai seorang penulis, nilai-nilai apa yang selalu Anda tanamkan pada anak Anda? Apakah Anda juga mendorongnya untuk mengikuti jejak Anda?

Di rumah kami berusaha menyuburkan kreativitas anak-anak, memberi mereka akses ke alat musik, kursus musik, dan buku. Saya tidak berusaha menjadikan mereka seperti saya. Saya percaya mereka lahir dengan potensi masing-masing dan ketertarikan yang juga mungkin berbeda dengan saya. Saya dan suami hanya berusaha memfasilitasi sebaik mungkin.

Thursday, April 2, 2020

Blog Putra Sasmita | Profil & Teknik Menulis | Mei, 2017 | Putra Sasmita

Bagaimana Anda memulai menulis novel? Apakah Anda membuat outline sebelum menulis?

Dari waktu ke waktu, teknik maupun metode saya menulis terus saya perbarui. Dulu saya menulis tanpa outline, walau hampir selalu membuat semacam peta cerita meski sederhana. Sekarang saya selalu membuat outline dan time table. Jadi, bukan hanya konten yang saya petakan, tapi sama pentingnya adalah jadwal kerja. Saya memberlakukan pemakaian outline hanya untuk novel. Prosa singkat, cerpen, atauapun novelet, biasanya saya tulis spontan.

Apa Anda punya target harian?

Ada. Bisa bervariasi sesuai kebutuhan. Untuk draf pertama, hitungan saya biasanya adalah jumlah kata. 1000 kata per hari. Jika sudah mendekati akhir cerita, lebih ke target ke berapa adegan yang bisa saya selesaikan (karena jalan cerita sudah semakin jelas). Pada tahap editing, target saya adalah menyunting sekian bab per hari (jumlahnya bergantung ada berapa banyak bab dan berapa lama waktu yang saya punya sebelum target cetak – yang biasanya saya tentukan sendiri).

Tampaknya Anda begitu disiplin dalam menulis. Anda memiliki target-target yang jelas, bahkan sampai target cetak yang Anda tentukan sendiri. Apakah kedisiplinan ini sudah ditanam oleh keluarga Anda sejak kecil?

Kedisiplinan menulis saya tumbuhnya berangsur, tidak serta merta, semata-mata karena akhirnya saya menemukan dan merasakan sendiri bahwa disiplin memiliki manfaat yang nyata bagi produktivitas kepenulisan saya sekaligus merupakan cara kerja yang realistis dengan kondisi saya yang berkeluarga. Pada aspek lain, saya orangnya cenderung santai.

Apakah Anda mengedit saat menulis atau setelahnya?

Tahapan pertama adalah penuntasan draf pertama. Melakukan penyuntingan pada tahap ini bagi saya kontraproduktif, karena bisa memperlambat jadwal kerja. Saya melakukan penyuntingan menyeluruh setelah draf pertama selesai. Ada kalanya di tengah jalan (biasanya mulai memasuki babak 2B), saya harus berhenti sejenak untuk meninjau ulang jalan cerita. Tapi, saya batasi untuk tidak jadi menyunting seluruh naskah, karena buat saya beda banget setting berpikir antara menulis dan menyunting. Kalau menulis saya harus di dalam cerita. Kalau menyunting saya harus di luar cerita. Kalau sudah di luar, cukup sulit untuk balik lagi ke dalam. Jadi, lebih baik penyuntingan dilakukan setelah draf pertama selesai.

Apa Anda punya rutinitas selama menulis?

Saya sudah mencoba berbagai macam jadwal dan kebiasaan. Dari menulis malam sampai menulis subuh. Dari nulis di keramaian sampai menulis sendirian. Saat ini saya cenderung menulis pagi hari hingga setelah makan siang, umumnya sebelum anak saya pulang sekolah. Biasanya saya olah raga dulu, mandi, ngopi, baru mulai menulis. Yang penting buat saya adalah tidak diinterupsi (diajak ngobrol). Tidak masalah dalam keramaian atau kesendirian.

Maya Angelou bercerita, saat menulis Ia akan menyewa sebuah kamar hotel dan harus ada sebotol Sherry, kamus, thesaurus, notepad, asbak, dan Injil. Bagaimana dengan Anda? Boleh gambarkan sedikit seperti apa ruang kerja Anda? Adakah kebiasaan yang Anda lakukan sambil menulis, misalnya sambil mendengarkan musik?

Saat ini saya sedang tidak punya ruang kerja khusus, biasanya saya menulis di kamar atau meja makan. Kalau di luar rumah, saya biasanya bekerja di kedai kopi. Saya berusaha tidak usah banyak “benda ritualistik” agar tidak repot. Yang penting ada air putih dan suhu ruangan tidak terlalu dingin/terlalu panas agar bisa menulis nyaman (saya menghindari tempat duduk yang terlalu dekat dengan tiupan angin AC). Kamus saya biasa pakai aplikasi KBBI, jadi tidak pakai versi cetak lagi. Terkecuali jika ada beberapa buku atau kamus spesifik yang saya butuhkan berkenaan dengan cerita. Musik tidak wajib, hanya kalau dirasa perlu. Kadang-kadang saya gunakan untuk membangun suasana saat menulis adegan tertentu. Tapi, tanpa musik juga bisa.

Siapa yang membaca draf pertama tulisan Anda?

Biasanya suami. Habis itu baru saya bagikan ke beberapa orang beta reader, yang biasanya teman-teman di penerbit.

Apakah suami Anda memberikan masukan?

Iya, dan juga kesannya terhadap cerita.

Ketika mengedit atau menulis, apakah Anda membaca keras-keras (read out loud)?

Iya. Tidak terus-terusan dalam setiap kali menyunting, tapi hampir selalu saya mengetes kalimat saya dengan membunyikannya (membacanya dengan bersuara).

Tema spiritualitas dan sains kerap muncul di serial Supernova, bagaimana Anda menggabungkan dua hal yang kelihatannya berseberangan ini ke dalam karya tulis Anda?

Bagi saya, justru keduanya tidak berseberangan, malah berkaitan. Dan keterkaitan itu yang menarik untuk ditulis. Tidak ada metode khusus untuk menggabungkan keduanya selain berusaha membangun cerita yang solid.

Bisa tolong jelaskan bagaimana Anda melihat keterkaitan spiritualitas dan sains?

Sains dan spiritualitas sama-sama bertujuan mengungkap realitas, memahami manusia, dan mekanisme kehidupan.

Sepertinya Ibu Dee tertarik dengan spiritualitas, sains, dan filsafat. Bagaimana ketertarikan ini bermula? Apakah Anda memiliki pengalaman pribadi?

Kalau saya ingat-ingat, memang hal-hal itu yang menarik minat saya sejak kecil. Mungkin belum saya bahasakan sebagai spiritualitas-sains-filsafat, tapi saya sering melamunkan bagaimana kehidupan ini bermula, dan buat apa saya (dan manusia lain) hidup dan terlahir di Bumi.

Apakah karena ini Anda menulis fiksi? Untuk mengungkap realitas, memahami manusia, dan menjelaskan mekanisme kehidupan?

Yang saya ungkapkan di atas itu lebih tepat sebagai alasan saya menulis Supernova. Karya fiksi saya yang lain tidak semuanya setema dengan Supernova. Saya menulis fiksi pada dasarnya karena saya suka seni bercerita.

Apakah pop culture ada pengaruhnya terhadap karya-karya Anda?

Saya tidak pernah benar-benar menyadari atau menyengajakannya, tapi saya percaya kita semua terpengaruh oleh budaya apa pun yang berlaku pada zaman kita hidup. Karena saya hidup dan besar di zaman ketika pop culture ada, tentunya saya terpengaruh. Seberapa banyak dan seberapa besar, saya tidak mengukurnya.

Bagaimana Anda melakukan riset untuk karya-karya Anda?

Riset yang saya lakukan umumnya dua macam. Riset langsung dan tidak langsung. Riset langsung contohnya ketika saya ke Sianjur Mula-mula untuk penulisan Gelombang, atau mencoba terapi listrik ketika menulis Petir. Namun, tidak semua kebutuhan riset bisa saya penuhi melalui riset langsung. Biasanya karena keterbatasan waktu. Misalnya, ketika saya masih punya bayi yang nggak bisa saya tinggal-tinggal, otomatis saya tidak bisa bepergian, meski kebutuhan cerita menuntut saya menulis berbagai tempat yang belum pernah saya kunjungi. Untuk itu saya melakukan riset tidak langsung, melalui riset pustaka (membaca buku, atau browsing), riset video / dokumenter, dan wawancara narasumber.

Pembaca bisa menduga bahwa Anda tentunya melakukan riset mendalam untuk karya-karya Anda. Biasanya yang terjadi apakah Anda meriset setelah menentukan cerita (plot, karakter, dsb) atau sebaliknya, riset dulu baru dicocokkan dengan cerita dan karakter? 

Keduanya bisa berjalan paralel. Hasil riset bisa menentukan jalan cerita. Jalan cerita juga bisa menentukan kebutuhan riset. Biasanya saya melakukan riset di awal, tapi hampir selalu saya mengecek banyak hal selama proses menulis berjalan, jadi bisa dibilang berjalan paralel.

Karakter-karakter yang Anda ciptakan tergambar kuat di benak pembaca. Apakah Anda membayangkan orang tertentu di dunia nyata saat menciptakan karakter?

Setiap karakter yang saya buat bagai kain perca. Ada campuran orang nyata (biasanya saya ambil nama, profesi, ciri fisik – dan jumlahnya lebih dari satu) dan imajinasi saya sendiri. Tidak pernah ada orang tertentu di dunia nyata yang benar-benar saya ambil utuh menjadi karakter.

Apakah bagi Anda proses menulis cerpen dan puisi serupa dengan proses menulis novel?

Beda. Puisi cenderung spontan. Cerpen memiliki perencanaan seperti halnya novel tapi jauh lebih sederhana. Tantangan cerpen buat saya adalah membuat kejutan dan fokus yang tajam. Sementara novel ibarat lari marathon, persiapannya panjang, prosesnya panjang, dan butuh stamina yang luar biasa.

Menurut Anda adakah persamaan proses menulis dengan menciptakan lagu?
Ketika saya menulis lagu, intinya juga saya membuat cerita. Tantangannya berbeda. Dalam lagu, efektivitas kata menjadi amat penting. Kita membuat cerita seutuh mungkin dalam durasi terbatas, dengan suku kata yang harus pas dengan melodi. Selain itu, dalam pembuatan lagu ada aspek menciptakan melodi dan menyusun aransemen. Tapi intinya sama-sama membuat cerita.

Ada yang mengatakan menulis lagu dan menulis puisi berkaitan. Bagaimana menurut Anda?

Kurang lebih prinsipnya sama, tapi tentunya di lagu ada melodi. Jadi ada aspek lain yang harus diperhatikan ketimbang puisi. Juga ada keterbatasan dalam lagu karena mengikuti durasi dan struktur tertentu (bait, reff, dsb).

Adakah penulis yang berpengaruh terhadap gaya penulisan Anda? Apakah Graham Hancock memiliki pengaruh dalam gaya penulisan Anda?

Untuk gaya menulis, saya tidak pernah terlalu menyadari. Mungkin karena bacaan saya juga kebanyakan nonfiksi. Graham Hancock dan penulis-penulis nonfiksi lainnya memengaruhi saya dalam hal konten, bukan gaya menulis. Gaya menulis lebih banyak bisa kita dapat dari penulis fiksi. Untuk metafora saya mengagumi Sapardi Djoko Damono. Untuk plot, penulis-penulis seperti Dan Brown, JK. Rowling, James Patterson, Alfred Hitchcock, Michael Crichton, Stephen King, amat patut dipelajari. Penulis seperti John Green dan Margaret Atwood menurut saya pintar memainkan emosi. Dan, ada penulis-penulis lain yang temanya unik dan kuat seperti Yan Martell, Alan Lightman, Paulo Coelho. Setiap yang saya baca pasti meninggalkan pengaruh, tapi karena kekuatan masing-masing penulis berbeda dan tampaknya yang saya serap juga berbeda-beda, saya tidak menunjuk satu-dua nama saja. Gaya penulisan merupakan kumulasi dari begitu banyak hal yang kita baca maupun gali dari diri kita sendiri.

Kalau saya tidak salah lagu Anda "Satu Bintang Di Langit Kelam" terinspirasi puisi SDD "Hujan Di Bulan Juni". Adakah karya Beliau lainnya yang Anda sukai? Bagaimana Anda menilainya?

SBDLK tidak terinspirasi HBJ. Tapi gaya menulis lirik saya berubah setelah membaca buku HBJ. Lebih metaforis dan puitis. Secara umum saya menyukai puisi-puisi Beliau. Saya menyukai metaforanya, kepekaannya memilih kata, dan ritme kalimatnya.

Apa yang Anda dapatkan dari menulis puisi/lagu yang tidak Anda dapatkan dari menulis novel?

Saya merasa hampir tidak pernah menulis puisi. Prosa pendek, iya. Lagu, iya. Yang tidak didapatkan dari menulis novel dibandingkan keduanya tadi tentu saja adalah perkawinan kata dengan melodi serta keleluasaan waktu. Secara durasi pengerjaan membuat novel jauh lebih panjang dan lebih rumit.

Ketika mengadaptasi novel Anda menjadi naskah film apa saja tantangannya? Sejauh mana keterlibatan Anda dalam setiap adaptasi film?

Keterlibatan saya berbeda-beda di setiap film. Ada yang terlibat sampai menjadi penulis skenario seperti di Perahu Kertas, ada juga yang tidak terlibat sama sekali seperti Madre dan Supernova KPBJ. Ada juga yang terlibat secara konsultatif, seperti Rectoverso, Filosofi Kopi 1, dan Filosofi Kopi 2. Dari cerpen menjadi film menurut saya tidak terlampau sukar karena biasanya yang terjadi pengembangan. Sementara masalah atau pun pendapat yang kontra biasanya muncul karena terjadi pemotongan/pengurangan dari cerita asli. Biasanya itu terjadi dalam adaptasi dari novel. Tantangannya tentu karena buku dan film merupakan medium yang berbeda, produk dari dua industri yang berbeda, yang mana keduanya punya aturan dan pakem sendiri. Dalam film, kita bicara durasi, pemain, penyutradaraan, sinematografi, investasi produser, dan banyak faktor lain yang tidak ada di buku. Saya sendiri melihat bahwa dalam adaptasi ke film, yang berkarya adalah para pembuat film, bukan penulis. Begitu juga ketika saya menjadi penulis skenario. Film akan “ditulis ulang” oleh sutradara dan editor, jadi skrip saya bukan satu-satunya patokan. Pada prinsipnya, yang terjadi adalah kompromi dan bagaimana kita bisa menjembatani keinginan dan kepentingan banyak pihak.

Bagaimana perasaan Anda setelah melihat hasil akhirnya di film?

Bergantung hasilnya. Tapi, dari setiap film akan selalu ada hal yang saya sukai, ada yang tidak. Sama-sama saja seperti kita melihat film lain sebetulnya, tapi tentu ada kebanggaan karena melihat bagaimana karya kita bertransformasi menjadi bentuk lain, dan film adalah hasil kerja keras banyak orang. Membayangkan bagaimana sebegitu banyak orang berupaya untuk mewujudkan cerita kita menjadi produk film juga membanggakan sekaligus mengharukan.

Apakah aktif di media sosial adalah salah satu cara Anda menjaga basis pembaca (readership)?

Media sosial bagi saya fungsinya kadang-kadang untuk saluran ekspresi yang personal juga, bersilaturahmi dengan teman-teman lama, dsb. Meski demikian, pemakaian yang utama memang adalah untuk mendukung pekerjaan saya. Pada zaman ini, pembaca memang tidak hanya mengenal karya, tapi bisa juga mengenal penulisnya. Tinggal tergantung seterbuka apa kita menunjukkan dunia kita yang lebih personal. Bagi saya, media sosial adalah cara paling praktis saat ini untuk berkomunikasi langsung dengan pembaca.

Saat menulis apakah Anda membayangkan audiens tertentu?

Sejujurnya, tidak. Saya membayangkan kalau saya yang jadi pembaca. Intinya, saya harus menulis buku yang bisa memikat minat saya. Buku yang bisa membuat saya kepengin terus membaca. Setelah berkali-kali menerbitkan buku tentunya saya bisa membayangkan profil pembaca saya. Tapi ketika berkarya, fokus saya hampir selalu internal.

Kalau saya tidak salah Supernova 1 adalah self-published, kemudian karya berikutnya dicetak penerbit lain. Bagaimana transisi ini terjadi? Adakah pengaruhnya terhadap karya Anda?

Untuk sejarah self-publish Supernova 1 bisa dilihat di arsip saya www.dee-interview.blogspot.co.id ya, karena sudah sering sekali saya bahas.

Menurut Anda bagaimana cara latihan menulis? Apakah penulis harus belajar secara otodidak?

Belajar terbaik menurut saya adalah dengan punya mentalitas ingin belajar terlebih dahulu. Dengan demikian, ketika kita membaca buku orang lain, kita bukan cuma sekadar membaca, melainkan membaca sambil belajar. Belajar mengenali apa yang kita suka, mengenali apa yang kita tidak suka, berusaha mengadopsi apa yang menurut kita baik, dan menghindari apa yang menurut kita tidak baik/tidak cocok. Otodidak atau tidak menurut saya bukan patokan. Kalau memang ada kesempatan ikut workshop, seminar, atau masterclass, mengapa tidak? Tapi, kalau tidak ada kesempatan itu, yang otodidak tidak berarti akan lebih buruk dari yang ikut workshop atau masterclass. Jam terbang akan amat menentukan. Tapi yang lebih menentukan lagi adalah keinginan untuk memperbaiki diri. Dari satu karya ke karya lain, kita harus dengan sadar ingin melakukan perbaikan.

Apakah Anda pernah mengikuti kelas menulis? Jika iya, bisa ceritakan pengalaman Anda? Siapa pengajarnya?

Sejauh ini, saya pernah ikut Masterclass James Patterson, ikut beberapa kursus fiksi dari Steve Alcorn, saya juga pernah mengikuti kursus scriptwriting dari Sue Clayton. Terkecuali dengan Sue Clayton, kedua yang pertama dilakukan secara online.

Anda dikategorikan dalam gerakan "Sastra Wangi" (fragrant literature), tanggapan Anda?

Sastra Wangi tidak ada maknanya buat saya. Itu hanya istilah yang diciptakan media untuk merujuk ke satu masa di awal 2000-an ketika banyak penulis perempuan muncul dan menonjol. Tidak ada substansi lain.

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Bagi Anda, apakah inspirasi itu datang dari dalam diri sendiri atau dari luar diri?

Dua-duanya.

Apakah ada hobi yang sedang Anda geluti saat ini?

Memasak dan berenang.

Jika boleh bertanya, buku apa yang sedang Anda kerjakan saat ini?

Saya sedang mengerjakan naskah buku baru, tapi detailnya saat ini belum bisa saya ungkap ke publik.

Setelah menjadi seorang ibu, adakah yang berubah pada diri Anda sebagai seorang penulis?

Perubahan utama adalah jadwal. Saya harus lebih disiplin dan lihai membagi waktu agar semua tugas dan kewajiban saya di rumah tetap terlaksana dan masih bisa berkarya.

Adakah pengaruh seni dari anggota keluarga Anda saat Anda kecil?

Tentunya ada, karena semua anggota keluarga saya suka seni, khususnya gambar dan musik. Semua suka membaca. Jadi, otomatis itu menjadi atmosfer saya sehari-hari di rumah sejak kecil.

Apa kendala teknis (dalam menulis) terberat yang sejauh ini Anda alami?

Bagaimana cara Anda mengatasinya?

Tantangan terbesar saya adalah penataan waktu. Hal tersebut tidak inheren termasuk dalam “teknik” menulis, tapi manajemen waktu menentukan produktivitas kita menulis. Bagaimana cara menjadikan menulis itu “habit”, kemudian merajutnya dalam kehidupan sehari-hari. Kalau kita sudah punya dedikasi untuk menjadikan menulis agenda kita sehari-hari, kesulitan dalam menulis akan terurai dengan sendirinya karena kita sudah punya waktu dan komitmen untuk itu. Tapi, kalau aktivitas menulis masih menjadi hal yang sporadis, nunggu mood, dsb, maka akan banyak perkara teknis dalam menulis yang sulit semata-mata karena kita tidak punya cukup dedikasi dan waktu untuk mencari solusinya. 


Sunday, December 21, 2014

Marie Claire | Endorsement di Twitter | Juni, 2012


Seberapa kuat pengaruh Twitter dalam mempengaruhi opini public?

Saya rasa pertanyaan ini lebih bisa dijawab oleh para pengamat sosmed atau pun advertising agency yang memang mengukur dengan lebih pasti keberhasilan kampanye publik yang terjadi di Twitter. Sejauh pengamatan saya, sih, opini di Twitter cukup berpengaruh, ya. Banyak gerakan atau kampanye yang tercipta diawali di Twitter. Kenyataan bahwa sekarang divisi sosial media selalu ada di semua biro iklan, dan hampir semua brand punya akun Twitter, adalah bukti bahwa kekuatan sosial media sangat diperhitungkan. Tapi seberapa jauh pengaruhnya, saya nggak tahu pasti.

Apakah Twitter sudah menjadi media iklan / propaganda yang efektif?

Kalau untuk iklan atau pun informasi kegiatan menurut saya, sih, lumayan efektif. Saya adalah salah satu contoh orang yang menggunakan Twitter sebagai pusat informasi kegiatan-kegiatan saya, dan saya jarang sekali menggunakan Facebook. Meski demikian, sejauh ini Twitter sudah mencukupi untuk saya. Setiap bikin acara saya selalu umumkan di Twitter dan jumlah pengunjung selalu memuaskan, dan ketika saya tanya pada yang datang, mereka memang bilang tahunya dari Twitter. Sejak buku ke-7, Madre, saya menggunakan Twitter sebagai pusat informasi untuk penjualan maupun promosi, sejauh ini hasilnya memuaskan.

Tentang fenomena endorsement oleh beberapa brand terhadap akun ber-follower besar maupun jual beli akun, apa pendapat Anda?

Endorsement adalah fenomena yang tak terelakkan ketika brand mulai terjun ke dalam sosmed. Tentunya mereka selalu butuh corong-corong untuk membantu mereka "bersuara" sebagaimana yang selama ini terjadi di media non Twitter sekalipun. Kalau jual beli akun, saya nggak terlalu tahu fenomenanya. Hanya dengar-dengar saja.

Anda sendiri termasuk yang punya pengalaman di-endorse oleh brand tertentu? Bagaimana ceritanya?

Setahun setelah memakai Twitter, mulai ada brand yang menawarkan kerja sama dengan saya. Dari mulai barter dengan produk hingga pembayaran finansial. Saya melihatnya sama seperti saya ditawari iklan atau pun mengendorse brand tertentu. Pertimbangan yang saya pakai pun sama. Jika brandnya "nyambung" dengan brand image saya sebagai seorang pribadi,  saya oke. Saya juga melihat dulu konsep jualannya bagaimana, kalau terlalu hard-sell saya nggak mau. Untuk jumlah juga saya atur supaya nggak terasa spamming oleh follower.

Twitter kini bisa menjadi penghasilan tambahan bagi sejumlah orang, pendapat Anda?

Kenyataannya memang demikian. Dan menurut saya wajar saja. Selama industri masih melirik sosmed sebagai salah satu saluran yang menjanjikan untuk promosi, tentu akan ada akun-akun atau orang-orang yang akan diuntungkan, sama seperti orang berdagang lewat Facebook, lewat blog, dsb.

Apakah Anda pernah ditawari untuk menjual akun? Anda pernah mendengar jual beli akun?

Belum pernah.

Apakah Anda membuat akun khusus untuk mengakomodir endorsement dari brand tertentu?

Tidak. Saya hanya memakai akun pribadi saya.

Apakah perempuan pada umumnya bisa mengoptimalkan akun Twitter sehingga bisa menghasilkan uang?

Saya rasa nggak terlalu berhubungan dengan gender, tapi siapa yang mampu melihat celah kesempatan saja.

Bagaimana membuat trik agar Twitter dapat menarik banyak follower?

Menurut saya, yang orang cari di Twitter adalah interaksi. Jadi akun yang lebih punya interaksi dengan follower-nya, dan punya "personality" lebih bisa berkembang. Saya sendiri suka dengan akun follower yang "manusiawi", yang terasa kualitas orang yang di baliknya.