Showing posts with label 2012. Show all posts
Showing posts with label 2012. Show all posts

Sunday, December 21, 2014

Majalah GADIS | Profesi Penulis | Februari, 2012 | by Maharani Legita


Apa sih, profesi penulis menurut Mbak Dee?

Dalam terminologi Bahasa Inggris, sebetulnya penulis bisa dibedakan menjadi dua, yakni writer dan author. Writer adalah mereka yang berprofesi menulis dalam format yang belum tentu buku, bisa jadi scriptwriter, copywriter, dsb. Sementara author adalah mereka yang karya tulisnya sudah diterbitkan dalam bentuk buku. Dalam terminologi Bahasa Indonesia, setahu saya belum ada pemisahan ini. Jadi, jika yang dimaksud penulis sebagai profesi maka adalah mereka yang memang sudah mencari nafkah atau mendapatkan income dari kegiatan menulis. Sementara kalau penulis buku, menurut pendapat saya pribadi, baru layak ditetapkan sebagai profesi jika mereka sudah menerbitkan minimal dua buku.

Tantangan apa saja yang dihadapi oleh Mbak Dee ketika menjadi penulis?

Tantangan yang paling utama bagi saya adalah konsisten memproduksi buku dan konsisten menjaga mutu. Dengan produksi buku yang konsisten dengan kualitas yang terjaga, menurut saya ini jugalah yang bisa mempertahankan basis pembaca yang kuat dan terus bertumbuh. Dan tantangan ini tentu banyak perintang antara lain fokus, mood, atensi, manajemen waktu, strategi pemasaran, dsb, yang melibatkan tidak hanya penulis, tapi juga penerbit, editor, dan aspek-aspek lain.

Apakah pengalaman tidak terlupakan selama menjalani profesi sebagai penulis?

Saya paling menikmati saat bisa berpartisipasi dalam event seperti Writer's Festival. Sejauh ini sudah ada beberapa yang saya datangi, antara lain Ubud Writer's Festival, Sydney Writer's Festival, dan Byron Bay Writer's Festival. Nuansa dan suasana dalam event seperti itu benar-benar berkesan dan menjadi pengalaman berharga.

Adakah hal/kejadian yang paling bikin Mbak Dee bangga selama menjadi penulis?

Ketika ada yang mendatangi saya dan berkata, "Buku Anda telah mengubah hidup saya."

Menurut Mbak Dee, apakah modal utama yang harus dimiliki oleh seorang yang ingin menjadi penulis?

Keberanian untuk memulai, keberanian untuk gagal, dan keberanian untuk sukses. Banyak yang ingin menulis tapi karena terjebak dalam konsep-konsep tentang kepenulisan akhirnya malah nggak mulai-mulai. Menurut saya, yang penting adalah mulai dulu. Dan di tengah jalan, dia harus berani menghadapi kegagalan. Kalau karyanya tidak selesai , karyanya ditolak, ia tidak lantas berhenti. Ia malah harus semakin tertantang dan belajar memperbaiki tulisannya. Dan terakhir, jika sukses, ia juga kuat menghadapi tantangan dan tekanan yang diterima oleh pembaca dan lingkungannya. Karena kesuksesan bukannya tanpa tantangan, kita malah harus lebih lihai dan hati-hati menghadapinya.

Mbak Dee, kan, lulusan Hubungan Internasional. Sedangkan dunia tulis menulis identik dengan jurusan sastra. Apakah ada pelatihan atau pendidikan khusus yang diikuti untuk mengasah kemampuan menulis? Pelatihan/pendidikan seperti apa saja yang diikuti?

Menurut pengamatan saya, jurusan Sastra sebetulnya lebih cocok jika seseorang ingin belajar banyak tentang kritik dan sejarah Sastra, jadi tidak serta merta mengajarkan kita bagaimana cara menulis kreatif. Seseorang tidak harus belajar formal Sastra untuk bisa jadi penulis. Pelatihan atau workshop menulis kreatif menurut saya lebih banyak membantu jika seseorang memang ingin serius jadi penulis, karena dalam workshop semacam itu, fokusnya sudah lebih spesifik. Walaupun, tanpa itu semua, jika seseorang memang sudah memiliki passion, sensitivitas bahasa, serta keuletan untuk berlatih, dia bisa jadi penulis yang sukses.

Selain itu, keterampilan apa saja yang harus dimiliki oleh seorang penulis agar bisa menghasilkan karya yang bagus?

Membaca. Anggaplah menulis dan membaca itu seperti kegiatan bernapas, yang keduanya harus ada untuk saling menghidupi. Saat menulis kita mengembuskan napas, menyalurkan inspirasi dan ide dalam benak kita. Saat membaca, kita menarik napas, mengumpulkan informasi, memperkaya diri, untuk menjadi bekal saat kita menulis nanti.

Waktu kerja penulis itu seperti apa, sih? Apakah ada waktu-waktu khusus yang sengaja diluangkan untuk menulis?

Tidak ada rumus bakunya. Setiap orang akan memiliki pola disiplin masing-masing yang sesuai dengan ketersediaan waktu dan gaya hidupnya. Contohnya, dulu saya selalu menulis saat malam hingga dini hari. Tapi sejak saya punya anak, saya nggak bisa menulis malam hari lagi. Akhirnya saya menulis lebih banyak pagi atau siang atau sore. Kapan pun saya bisa curi waktu, saya akan menulis. Tapi untuk penulis pemula, ada baiknya membuat disiplin tertentu. Melakukan kegiatan menulis dalam jam yang sama, atau minimal dengan durasi yang sama, misalnya dua jam sehari. Dengan demikian "otot" menulisnya akan terus terlatih.

Tips apa yang bisa diberikan kepada para pembaca GADIS yang ingin menjadi penulis seperti Mbak Dee?

Temukan diri sendiri dalam kreasi tulisan yang kita buat. Hampir semua orang yang mengawali menulis pasti akan, secara sadar atau tidak, mengimitasi gaya penulis yang mereka suka, dan itu sangat wajar. Jangan jadi gentar karena tulisan kita dibilang mirip dengan A atau B. Tapi, yang lebih penting adalah, gali terus lebih dalam hingga kita menemukan diri kita sendiri. Gaya apa yang kita suka, tema apa yang kita suka. Menurut saya, di atas segalanya, menulis adalah tools untuk menggali ke dalam diri, mengenal diri kita sendiri dengan lebih baik. 

Trax Magazine | Issue Report: Cool to be Youth | September, 2012 | by Ajeng Safitri


Jadi, di planet manakah Mbak Dee sebenarnya tinggal?
Sebenarnya seorang Dee itu ingin dikenal sebagai apa sih? Apakah penyanyi, penulis, istri atau model?

Hah? Model? Saya kayaknya nggak pernah merintis karier, bahkan menunjukkan ketertarikan jadi model. Hehe. Saya tidak pasang target untuk dikenal sebagai apa. Intinya saya hanya menjalankan apa yang saya cintai. Saya suka musik, suka menulis, kemudian berkarya. Konsekuensinya, ya, saya dikenal sebagai musisi, entah itu penyanyi atau pencipta lagu atau keduanya, dan saya juga dikenal sebagai penulis. Sebagai istri, sebagai pemilik sah akte pernikahan otomatis status saya jadi istri, ya. I also love family life. I love my husband and children and I will do everything that I can to take care of them.

Sejak kapan mulai tertarik dan akhirnya menjadikan menulis sebagai salah satu pilihan karier?

Saya senang menulis sudah dari kecil. Pertama kali bikin tulisan yang cukup panjang itu kelas 5 SD. Mulai berkhayal bahwa satu saat akan nulis buku. Tapi tidak membayangkan itu akan menjadi profesi utama saya. Karier menulis resmi dimulai saat menerbitkan Supernova 1 tahun 2001. Tujuan awalnya pun sebetulnya hanya untuk kasih kado ultah ke-25 ke diri sendiri. Konsekuensi dari Supernova merupakan kisah serial ya akhirnya saya menulis lanjutannya, dan jadilah saya mulai dikenal sebagai penulis, hingga sekarang sudah menulis delapan buku.

Kalau menulis itu, apakah tema dan gaya penulisan mengikuti kata hati atau mengikuti selera pasar? Seberapa sulitkah mengeluarkan ide menulis? Kendala yang sering ditemui ketika menulis?

Prinsip saya dalam menulis sederhana. Tulislah buku yang ingin kita baca. Jadi, ketika saya menulis buku, itu adalah buku yang saya ingin baca, dan tipe yang saya suka. Bagaimana pembaca kemudian bereaksi terhadap karya saya adalah kebebasan dari pembaca. Kalau suka ya syukur, kalau enggak, ya nggak apa-apa. Karena setidaknya saya menulis buku yang ingin saya baca. Bagaimana mengelola ide semata-mata adalah jam terbang, tekad, dan pembiasaan. Jika sudah berhasil merampungkan sebuah cerita, mau itu cerpen atau novel, kita akhirnya mengenal tantangan dari berkarya. Termasuk kekuatan dan kelemahan kita serta bagaimana cara mengompensasi itu semua. Kendala utama saya adalah waktu. Anak-anak saya masih kecil jadi sangat butuh perhatian saya, begitu juga dengan berbagai macam project yang bermunculan, yang barangkali nggak sepenuhnya berhubungan dengan menulis buku, tapi harus saya jalani, dan akhirnya itu mengambil jatah atensi dan waktu yang saya miliki untuk berkarya.

Latest project-nya apa, Mbak? Next project-nya?

Latest project adalah Perahu Kertas part 2, yang akan tayang bulan Oktober 2012. Sesudah itu ada Madre dan Rectoverso yang sama-sama difilmkan, tapi karena saya nggak terlibat dalam produksi sebagaimana keterlibatan saya di Perahu Kertas, jadi nggak terlalu menyita fokus. Fokus utama saya masih Supernova dan menyelesaikan Gelombang. Cuma karena sekarang sedang bersiap pindah rumah, jadi mau tunggu selesai pindahan dulu baru nulis lagi.

Terakhir, aku minta quote dong soal 'youth' di mata Mbak Dee.

Youth is the age of experience and consequence. Seek for your passion. Finding your passion as soon as possible is one of the life's greatest gift.

Butuh talent buat Madre? Mungkin jadi adonan roti gitu *abaikan.

Toplesnya lah ya minimal... ;p

Tabloid Nyata | Profil | Oktober, 2012 | by Mohammad Yanuarika


Sisi kehidupan yang bagaimana sebenarnya yang Anda tonjolkan, sisi humanis, sosial  atau ketuhanan?

Bisa dibilang benang merah dari hampir semua karya saya adalah pencarian jati diri. Dan jalur yang ditempuh untuk itu bisa beragam, bisa lewat perjalanan asmara, perjuangan mencapai cita-cita, dan seterusnya. Jadi lewat prosesnya banyak aspek yang akhirnya ikut tergali, baik itu sisi humanisme, sosial, dan yang lainnya.

Dari keberagaman itu apa yang hendak Anda ungkapkan? Apakah pernah mengalami kegalauan tentang ketuhanan?

Awal saya menulis buku memang akibat kegelisahan spiritual yang saya alami sendiri. Itu terjadi pertama kali tahun 1999, dan akhirnya saya menuliskan manuskrip Supernova pada tahun 2000. Yang saya ingin ungkapkan tentu berbeda-beda untuk setiap buku, tergantung proses internalisasi yang terjadi saat itu apa. Barangkali yang saya ingin ungkapkan adalah keberagaman itu sendiri.

Bagaimana kemudian Anda menemukan Tuhan dan mengungkapkan lewat sebuah cerita novel?

Tuhan bagi saya bukan sesuatu yang statis, yang sekali ditemukan lalu sudah. Dalam setiap kisah maupun buku, meski isinya berbeda-beda, sesungguhnya kesemua itu adalah internalisasi kegelisahan seorang penulis yang mencerap kehidupan sekitarnya, termasuk kehidupan dirinya sendiri. Tuhan, menurut saya, adalah bagian intrinsik dari semua itu. Jadi, tanpa bicara spesifik bahwa seseorang menuliskan tema tentang Tuhan, menurut saya, proses kita menjalani kehidupan yang kemudian terekam dalam sebuah karya, sedikit banyak adalah cara kita memaknai Tuhan yang kita temukan masing-masing. Sementara, cara mengungkapkan sesuatu lewat novel adalah perkara teknis. Mau itu tentang Tuhan ataupun tentang sebuah makanan, misalnya, ya teknisnya sama. Kita harus punya premis, plot, karakter.

Bisa dijelaskan keterlibatan Mbak Dee dalam pembuatan film Madre? Dan bagaimana perbedaan dengan pembuatan film Madre dari film sebelumnya, Perahu Kertas?

Dalam film Madre, saya hanya melepas hak adaptasi saja. Jadi, segala proses kreatif dijalankan oleh pihak lain, dalam hal ini Mizan Production dan Benny Setiawan sebagai sutradara dan penulis skenario. Lain halnya dengan Perahu Kertas di mana saya terlibat formal sebagai penulis skenario dan penyusun soundtrack. Secara informal, dalam Perahu Kertas, mau tak mau saya juga jadi dilibatkan dalam proses casting, editing, dsb. Pada Madre, saya memang sejak awal ingin melepas hak adaptasi saja karena memang sedang tidak punya keleluasaan waktu untuk terlibat lebih dalam.
 
Mengapa karya tulis baru muncul setelah vakum dari dunia menyanyi?

Kronologisnya tidak begitu. Saya menerbitkan Supernova tahun 2001, dan baru keluar dari Rida Sita Dewi tahun 2003.

Selain menulis novel atau buku, apakah ada keinginan menulis lagu atau skenario?

Saya menulis lagu dari tahun 1995, Mas. Dan skenario film Perahu Kertas saya yang tulis.

Bagaimana karier Mbak Dee dalam dunia tarik suara? Apa sudah tidak tertarik melanjutkannya?

Sesekali, sih, oke-oke saja. Di soundtrack Perahu Kertas, saya menyanyi lagi satu lagu bersama grup saya dulu, Rida Sita Dewi. Judulnya Langit Amat Indah.

Bagaimana perasaan Mbak Dee melihat karyanya yang dijadikan film Perahu Kertas mencapai kesuksesannya?

Terharu. Bukan semata-mata karena jumlah penonton, tapi bagaimana banyak penonton Perahu Kertas yang benar-benar menghayati cerita tersebut hingga membuat berbagai karya seni, produk, kerajinan tangan, dan lain-lain, atas kecintaan mereka terhadap kisah Perahu Kertas.

Bagaimana proses Madre bisa dibikinkan film?

Mizan Production mengajukan diri untuk membeli hak adaptasinya. Karena Mizan adalah salah satu perusahaan film yang kredibel dan kami sudah bekerja sama di Perahu Kertas, saya merasa sreg untuk melepas. Selebihnya, Mizan yang kemudian menyusun tim produksi termasuk memilih sutradara dan penulis skenario.

Setelah Madre, apakah ada novel lain Mbak Dee yang akan dibuatkan film ketiga dan berikutnya?

Rectoverso akan dibuat menjadi film, diproduksi oleh Marcella Zalianty dan disutradarai oleh lima artis perempuan.

Bagaimana dukungan keluarga terhadap profesi penulis Mbak Dee?

Bisa dibilang, merekalah sebagian besar dari alasan saya berkarya. Dukungan mereka adalah segalanya bagi saya.

Rolling Stone Indonesia | Film Perahu Kertas | Agustus, 2012 | by Wening Gitomartoyo


Penulisan novel Perahu Kertas dilakukan dengan 'mengasingkan diri' selama 60 hari. Bagaimana dengan penulisan skenario filmnya? Dan berapa lama pengerjaannya?

Untuk skenario saya nggak menargetkan waktu seperti saat menulis novel. Saat menulis skenario, prosesnya saya barengi dengan belajar dasar teorinya juga. Jadi, cukup lama juga saya berkutat dengan buku-buku penulisan skenario, membaca skenario film yang menurut saya bagus dan mempelajari strukturnya. Saya lebih lama bermain dengan struktur ketimbang penulisannya, karena tantangan skenario Perahu Kertas adalah memuat cerita yang begitu besar ke dalam skenario 100 halaman tanpa merusak grafiknya. Belum lagi penulisan skenario tersebut harus mengakomodasi keinginan tiga produser (Pak Chand Parwez dari Starvision, Pak Putut dari Bentang Pictures, dan Hanung Bramantyo dari Dapur Film). Jadi, cukup lama proses bongkar pasangnya. Kira-kira setahun saya mengerjakan skenario Perahu Kertas.

Hal apa yang dirasa paling pelik dalam 'memindahkan' karakter-karakter novel ke dalam film?

Tidak banyak perubahan dalam karakter. Karakter-karakter di novel sudah cukup kuat. Namun, saya merasa, dalam film, cerita dan karakter harus dipertegas gradasinya. Harus ada tokoh-tokoh yang menajamkan konflik. Untuk itu, saya memunculkan beberapa tokoh "baru", tepatnya, tokoh yang sudah ada di novel tapi dikembangkan sedemikian rupa sehingga mereka memiliki porsi yang lebih besar dan signifikan. Misalnya, tokoh Siska (partner kerjanya Remigius) dan Banyu (pemahat di Ubud). Dua tokoh itu ada di novel, tapi hanya selewat, di film mereka diperbesar dan punya porsi signifikan dalam hidup tokoh-tokoh utama.

Film biasanya tidak bisa seleluasa novel, dalam arti ada hal-hal yang harus dikorbankan atau dihilangkan. Bagaimana Mbak Dewi berkompromi dengan hal ini?

Itu hal yang saya sadari sejak awal. Karena itulah saya mengajukan diri sebagai penulis skenario Perahu Kertas sejak awal kerja sama. Saya berpikir, kalau ada orang yang bisa tega memutilasi cerita Perahu Kertas, ya, harus saya orangnya. Sayalah orang yang memahami betul fondasi cerita Perahu Kertas, hingga sayalah yang bisa memutilasinya tanpa membunuh spirit ceritanya. Konsekuensinya, kalau ada yang protes kenapa cerita beda dengan novel, ya, saya jugalah orang yang diprotes. Nggak bisa cari kambing hitam. Hehe.

Bagaimana komentar Mbak Dewi untuk Hanung Bramantyo sebagai sutradara film ini? Apa dari awal memang sudah menginginkan Hanung di posisi itu?

Untuk pemilihan sutradara, kami pitching bersama (saya, Pak Chand Parwez, dan Pak Putut). Ada empat nama sutradara yang sempat dicalonkan. Sejak awal, Pak Parwez sudah sangat yakin dengan Hanung, karena menurut beliau, Hanung tipe sutradara yang mampu memegang banyak pemain, pas dengan karakter Perahu Kertas yang punya tokoh banyak. Sayangnya, Hanung sempat tidak bisa karena jadwal kerjanya nggak matching. Setelah rencana rilis Perahu Kertas diundurkan ke Agustus 2012, jadwal Hanung kembali memungkinkan, dan akhirnya Pak Parwez kembali mengusulkan Hanung. Jujur, tadinya saya ragu. Tapi, setelah kenal langsung dengan Hanung, intuisi saya seketika mengatakan, dialah orang yang tepat. Apalagi akhirnya Hanung bukan cuma menyutradarai, tapi ikut terlibat sebagai produser dengan perusahaannya, Dapur Film.

Mbak Dewi juga terlibat dalam pemilihan pemain filmnya. Bisa diceritakan bagaimana prosesnya? Sulitkah 'memasangkan' karakter-karakter di novel dengan para aktor/aktrisnya?

Keterlibatan saya lebih konsultatif, sih. Proses casting tetap sepenuhnya dijalankan oleh Zaskia. Menurut Zaskia sendiri, inilah proses casting tersulit yang pernah dia lakukan. Casting Perahu Kertas itu seperti orkestrasi, semua pemain saling terkait, jadi kalau ada satu yang diubah, yang lain harus ikut berubah. Maudy adalah pemain yang pertama kami kunci, dan memang sayalah yang meyakini bahwa Maudy adalah pemain yang tepat untuk Kugy. Setelah semua pihak setuju, barulah kami menyesuaikan semua pemain berdasarkan tokoh Kugy yang sudah kami kunci.

Selain Maudy Ayunda, film Perahu Kertas juga memuat Rida Sita Dewi dalam soundtrack-nya. Apa yang memicu ini, dan bagaimana saat kembali menyanyi setelah beberapa tahun tidak bersama?

Ide melibatkan RSD sebenarnya sudah cukup lama ada di benak saya, tepatnya ketika saya menuliskan adegan terakhir Perahu Kertas. Ada satu lagu yang saya rasa pas banget untuk adegan itu. Lagu lama saya yang belum pernah dirilis, saya tulis mungkin sekitar tahun '96, judulnya "Langit Amat Indah". Tahun segitu saya lagi senang-senangnya dengan Indigo Girls, jadi lagu itu pun feel-nya kurang lebih seperti lagu-lagu Indigo Girls yang cenderung folk, dinyanyikan lebih dari satu orang, dst. Saya pun iseng terpikir untuk menyanyikannya bareng RSD. Ternyata para produser, termasuk Trinity Optima yang mengerjakan soundtrack-nya, bersemangat dengan ide tersebut. Saya sendiri baru mengontak Rida dan Sita menjelang rekaman. Mereka juga ternyata bisa dan semangat untuk rekaman lagi. Rasanya lucu campur aneh, ya. Bayangkan, kami terakhir rekaman 8 tahun yang lalu. Sudah nggak tahu lagi suara kita kalau digabung seperti apa. Begitu rekaman, ternyata belum berubah, termasuk kelakuannya juga. Jadi, seru banget proses rekamannya waktu itu.

Penulisan lagu-lagu untuk soundtrack Perahu Kertas memakan waktu berapa lama? Bagaimana proses merangkum cerita panjang di novel menjadi lirik lagu?

Sejak awal pula saya sudah tahu akan melibatkan diri dalam soundtrack. Saya rasa, dengan profesi saya sebagai musisi dan pencipta lagu, sangat alamiah jika saya pun berpikir tentang Perahu Kertas dalam format musik. Jadi, ketika skenario selesai, saya langsung membuat lagu "Perahu Kertas". Saya pilah-pilah mana ide yang perlu dimasukkan, dan juga kata-kata kunci seperti "perahu kertas", "surat cinta', "radar", dsb. Jadi terasa jelas keterkaitan lagu dan film. Saya menciptakan lima lagu untuk soundtrack ini. Ada empat lagu baru (termasuk "Perahu Kertas), dua di antaranya bahkan saya tulis dalam waktu seminggu saja, karena baru kita ketahui slotnya ketika sudah nonton preview pertama kali. Satu lagu yang sudah saya tulis lama tapi belum pernah dirilis, "Langit Amat Indah" (RSD). Sisanya: "Tahu Diri" oleh Maudy Ayunda, "Dua Manusia" oleh Dendy Mikes, "A New World" oleh Nadya Fathira. Di luar dari lagu saya, ada Triangle Band ("How Could You") dan Adrian Martadinata ("Behind The Star").

Kabarnya Mbak Dewi sempat ragu akan kemampuan Maudy Ayunda menyanyikan theme song Perahu Kertas. Bagaimana setelah mendengar hasil akhirnya?

Usia Maudy masih sangat muda, dan saya tadinya ragu apakah dia punya kematangan cukup untuk bisa menyelami lagu tersebut. Tapi Maudy ternyata menguasainya dengan baik. Satu hal tentang Maudy, menurut saya dia orang yang sangat cerdas dan perseptif, dengan mudah dia memahami apa yang dibutuhkan darinya, dan apa yang kita mau. Jadi, prosesnya cukup mulus.

Selain Perahu Kertas, Rectoverso juga akan dibawa ke layar lebar oleh beberapa sutradara perempuan. Sulitkah menaruh kepercayaan pada orang lain atas pembuatan karya Mbak Dewi dalam format lain?

Memang tidak mudah. Tapi saya sendiri bukan tipe kreator yang fanatik, dalam arti saya masih bisa melihat karya saya berkembang dari benak orang lain, dan malah penasaran seperti apa hasilnya. Yang sulit sebetulnya adalah menjaga agar karakter dan "flavor" Dee tetap ada dalam karya-karya yang dikembangkan tersebut, karena itu yang rentan hilang. Sementara menurut saya justru "flavor" itulah yang paling dikenali oleh pembaca. Jadi, kalau bukan saya terlibat langsung, ya, saya harus benar-benar berani melepas. Di Rectoverso, keterlibatan saya memang agak "nanggung", karena saya tidak menulis skenario atau casting, dan hanya terlibat secara konsultatif saja. Tapi, ya, kita lihat nanti. Saya rasa Marcella dan teman-teman sudah bekerja dengan sangat serius untuk mewujudkannya menjadi film yang cukup baik.

Nylon Magazine | Supernova PARTIKEL | April 2012 | by Alexander Kusuma Praja


Awalnya saya mau bertanya tentang kenapa begitu lamanya rentang waktu dari Petir ke Partikel, but you already explain it on the book, so yang hendak saya tanya sekarang adalah how do you feel right now setelah Partikel dirilis?

Mixed of feelings. Yang mendominasi tentu saja rasa lega, sekaligus excited ingin tahu respons pembaca bagaimana, apalagi mereka yang sudah menunggu bertahun-tahun. So far, I'm overwhelmed with the warm response, beyond happy!

Bolehkah ceritakan sedikit bagaimana dulu Anda bisa terpikir untuk membuat novel Supernova pertama kali? Apa yang membuatmu tergerak untuk menulisnya?

Saya menulis Supernova tahun 2000, tak lama setelah saya mengalami semacam "epifani" personal yang mengubah total pandangan saya terhadap spiritualitas, religi, dsb. Dulu tujuannya bikin Supernova sebetulnya tidak lebih dari berbagi penelusuran spiritual pribadi saya.

Bagian apa yang paling susah/menyenangkan dalam menyelesaikan Partikel?

Paling susah adalah waktu. Saya menulis Partikel dalam kondisi sudah ada anak dua, yang satu sudah SD, yang satu masih balita, di tengah gempuran berbagai urusan pekerjaan dan mengurus rumah tangga. It felt almost impossible. Tapi dengan dukungan suami saya dan orang-orang rumah, keleluasaan dari penerbit, dan juga tekad yang memang sudah bulat untuk menyelesaikan manuskrip Partikel, akhirnya bisa juga. Yang paling menyenangkan tentunya adalah proses menulis itu sendiri. Bisa tenggelam dalam semesta kehidupan karakter saya. It's a pleasant and exciting process, bahkan saat sulit sekalipun. If it's pain, then it's a good pain.

Buku-buku atau materi apa saja yang paling membantu Anda sebagai referensi/bahan riset untuk Partikel?

Setiap bagian atau babak punya referensi tersendiri. Tiga yang paling membantu adalah buku-buku dan penelitian Paul Stamets tentang fungi, Graham Hancock tentang enteogen, dan Birute Galdikas tentang orang utan. Selain itu masih banyak lagi, tapi bisa dibilang pondasi terkuat adalah tiga penulis tadi.

Saat menulis tentang sebuah tokoh, apakah Anda membayangkan sosok orang tertentu yang pernah Anda lihat atau kenal?

Hampir selalu. Kadang juga meramu beberapa orang menjadi satu. Terkadang saya pinjam namanya, atau fisiknya.

Ini murni penasaran, jika Mbak Dee keberatan pertanyaan ini dimuat saya bisa memakluminya. Di Partikel Anda menuliskan dengan begitu gamblang tentang efek dari enteogen, apakah Anda juga mencoba mengonsumsinya untuk mengetahui efeknya?

Sayangnya tidak. I wish I had, though. Tiga tahun lalu saya sudah berencana ke Peru untuk ikut retret Ayahuasca, tapi batal karena hamil anak kedua. Akhirnya, murni riset informasi tangan kedua. Tapi, pengalaman bermeditasi amat sangat menolong. Ketika saya membaca dan tanya jawab dengan mereka yang sudah mengalami, saya sangat bisa relate. 

How do you manage to balance the family life and writing?

I don't think there's any certain formula to that. Dijalankan saja, lengkap dengan trial dan error tentunya. Selalu ada konsekuensi. Ketika menulis Partikel, saya sempat "disapih" oleh Atisha, anak kedua saya, padahal saya masih berencana menyusuinya. Mungkin dia merasa vibrasi ibunya jadi agak lain. Tapi begitu manuskrip selesai, pelan-pelan dia balik lagi menyusui. Sekarang sudah normal lagi. Suamiku, Reza Gunawan, yang untungnya terapis, juga kenyang dengan ups and downs yang saya alami, ketika stuck, ketika riset mentok, dsb. He was really, really, my strongest pillar throughout the process.

Bagaimana dengan project selanjutnya? Saya dengar Perahu Kertas akan difilmkan, boleh diceritakan sedikit keterlibatan Anda dalam pembuatannya?

Perahu Kertas sudah selesai syuting, akan tayang Agustus. Saya menulis skenario dan menggawangi hingga proses casting kemarin. Sisanya sudah di tangan Hanung Bramantyo dan para produser, tentunya. Untuk menulis, saya akan melanjutkan penulisan Supernova selanjutnya. Sekarang masih dalam tahap riset. Ada beberapa buku saya lain yang akan difilmkan juga, tapi saya nggak akan terlibat jauh. Mau menyelesaikan Supernova dulu.

Sekarang banyak novel Indonesia yang dialihbahasakan ke Bahasa Inggris, ada rencana serupa untuk Supernova?

Supernova pertama sudah diterjemahkan oleh Harry Aveling, diterbitkan oleh Lontar, dan dijual di iBooks dan Amazon. Episode lainnya belum.

Untuk sekarang, apa yang sedang Anda inginkan?

Beristirahat dulu. It was quite a roller coaster, secara batin terkuras tiap kali menulis intensif.

As a fan and your reader, saya tidak bisa menahan diri untuk bertanya, kapan Gelombang akan dirilis? Apakah Anda sudah mulai menulis beberapa bagiannya atau belum sama sekali?

Semua episode Supernova sudah saya buat konsepnya sejak 2001. Jadi embrio Gelombang sudah lama ada. Rencananya saya menulis maraton, sih. Jadi tidak ada proyek menulis lain sampai Supernova selesai.

Apa mimpi-mimpi Anda yang belum terwujud?

Hmm. Apa, ya. Saat ini rasanya saya lebih condong melihat sesuatu jarak pendek, nggak terlalu panjang-panjang lagi. Dalam jarak dekat ini "impian" saya adalah menyelesaikan Supernova. Tapi sebetulnya itu lebih ke target daripada "mimpi".

Apa tanggapan paling berkesan yang pernah Anda terima dari pembaca Anda?

Sejauh ini, pertemuan saya dengan seorang pembaca saya bernama Pak Kas yang pernah saya ceritakan di Twitter adalah hal yang paling berkesan yang pernah saya alami selama jadi penulis. Intinya, ketika seseorang merasa diubah hidupnya oleh buku atau tulisan saya, that's like the greatest award ever.

Bagaimana sih hari/suasana paling menyenangkan bagi seorang Dee untuk menulis?

Yang sepi, yang tenang, tidak diganggu.

Ada yang ingin disampaikan untuk yang sedang membaca artikel ini?

Bacalah Partikel. Hehe.

Marie Claire | Endorsement di Twitter | Juni, 2012


Seberapa kuat pengaruh Twitter dalam mempengaruhi opini public?

Saya rasa pertanyaan ini lebih bisa dijawab oleh para pengamat sosmed atau pun advertising agency yang memang mengukur dengan lebih pasti keberhasilan kampanye publik yang terjadi di Twitter. Sejauh pengamatan saya, sih, opini di Twitter cukup berpengaruh, ya. Banyak gerakan atau kampanye yang tercipta diawali di Twitter. Kenyataan bahwa sekarang divisi sosial media selalu ada di semua biro iklan, dan hampir semua brand punya akun Twitter, adalah bukti bahwa kekuatan sosial media sangat diperhitungkan. Tapi seberapa jauh pengaruhnya, saya nggak tahu pasti.

Apakah Twitter sudah menjadi media iklan / propaganda yang efektif?

Kalau untuk iklan atau pun informasi kegiatan menurut saya, sih, lumayan efektif. Saya adalah salah satu contoh orang yang menggunakan Twitter sebagai pusat informasi kegiatan-kegiatan saya, dan saya jarang sekali menggunakan Facebook. Meski demikian, sejauh ini Twitter sudah mencukupi untuk saya. Setiap bikin acara saya selalu umumkan di Twitter dan jumlah pengunjung selalu memuaskan, dan ketika saya tanya pada yang datang, mereka memang bilang tahunya dari Twitter. Sejak buku ke-7, Madre, saya menggunakan Twitter sebagai pusat informasi untuk penjualan maupun promosi, sejauh ini hasilnya memuaskan.

Tentang fenomena endorsement oleh beberapa brand terhadap akun ber-follower besar maupun jual beli akun, apa pendapat Anda?

Endorsement adalah fenomena yang tak terelakkan ketika brand mulai terjun ke dalam sosmed. Tentunya mereka selalu butuh corong-corong untuk membantu mereka "bersuara" sebagaimana yang selama ini terjadi di media non Twitter sekalipun. Kalau jual beli akun, saya nggak terlalu tahu fenomenanya. Hanya dengar-dengar saja.

Anda sendiri termasuk yang punya pengalaman di-endorse oleh brand tertentu? Bagaimana ceritanya?

Setahun setelah memakai Twitter, mulai ada brand yang menawarkan kerja sama dengan saya. Dari mulai barter dengan produk hingga pembayaran finansial. Saya melihatnya sama seperti saya ditawari iklan atau pun mengendorse brand tertentu. Pertimbangan yang saya pakai pun sama. Jika brandnya "nyambung" dengan brand image saya sebagai seorang pribadi,  saya oke. Saya juga melihat dulu konsep jualannya bagaimana, kalau terlalu hard-sell saya nggak mau. Untuk jumlah juga saya atur supaya nggak terasa spamming oleh follower.

Twitter kini bisa menjadi penghasilan tambahan bagi sejumlah orang, pendapat Anda?

Kenyataannya memang demikian. Dan menurut saya wajar saja. Selama industri masih melirik sosmed sebagai salah satu saluran yang menjanjikan untuk promosi, tentu akan ada akun-akun atau orang-orang yang akan diuntungkan, sama seperti orang berdagang lewat Facebook, lewat blog, dsb.

Apakah Anda pernah ditawari untuk menjual akun? Anda pernah mendengar jual beli akun?

Belum pernah.

Apakah Anda membuat akun khusus untuk mengakomodir endorsement dari brand tertentu?

Tidak. Saya hanya memakai akun pribadi saya.

Apakah perempuan pada umumnya bisa mengoptimalkan akun Twitter sehingga bisa menghasilkan uang?

Saya rasa nggak terlalu berhubungan dengan gender, tapi siapa yang mampu melihat celah kesempatan saja.

Bagaimana membuat trik agar Twitter dapat menarik banyak follower?

Menurut saya, yang orang cari di Twitter adalah interaksi. Jadi akun yang lebih punya interaksi dengan follower-nya, dan punya "personality" lebih bisa berkembang. Saya sendiri suka dengan akun follower yang "manusiawi", yang terasa kualitas orang yang di baliknya.


Koran Jakarta | Profil | Mei. 2012 | by Edwin Habibun


Boleh diceritakan bagaimana kehidupan masa kecil seorang Dewi Lestari?

Masa kecil saya berpindah-pindah kota, karena ikut dinas Bapak yang prajurit militer. Baru sejak kelas 4 SD saya menetap permanen di Bandung hingga sarjana. Saya lima bersaudara, jadi semarak. Senang berkhayal sejak kecil. Mulai senang menulis sejak kelas 5 SD.

Selama perjalanan hidup Dewi Lestari, kira-kira sosok siapakah yang memberikan influence paling besar?

Sepertinya tidak ada sosok tunggal. Keluarga jelas memberi pengaruh, kakak-kakak dan adik saya. Teman-teman, mentor-mentor, buku-buku yang saya baca, film yang saya tonton. Saya nggak bisa menunjuk satu pihak. 

Bila diberi kesempatan untuk mendeskripsikan sosok Dewi Lestari dengan menggunakan satu kata, apakah kata tersebut? Mengapa?

"Penasaran". Karena sepertinya banyak hal dalam hidup ini yang saya telusuri berawal dari rasa penasaran.

Dewi Lestari ingin dikenal dan diingat sebagai apa dan siapa?

Seseorang yang berkarya. Itu saja.

Sebelum Supernova keluar, Dewi Lestari memang dikabarkan memang senang menulis dan mengirimkan hasil tulisannya ke berbagai media. Tapi hal apa yang membuat Dewi Lestari memutuskan membuat sebuah novel?

Itu tidak benar. Saya amat jarang menulis untuk media. Sebelum Supernova hanya ada dua tulisan saya yang dipublikasi. Yang pertama, waktu saya jadi juara lomba menulis esai di majalah Gadis, tapi pakai nama adik saya, jadi tetap nama saya tidak muncul. Yang kedua, cerpen di majalah Mode, yaitu Rico De Coro. Tapi itu pun bukan saya mengirimkan, melainkan Hilman Hariwijaya (penulis Lupus, yang juga teman baik kakak saya) yang memasukkan naskahnya ke Mode. Saya menulis novel karena memang ingin menerbitkan buku dalam rangka menghadiahi diri sendiri pada ulang tahun saya ke-25. Dan Supernova adalah novel pertama saya yang berhasil rampung. Kebanyakan tulisan saya dulu yang formatnya novel gagal di tengah jalan.

Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh sangat sensasional dan memasuki nominasi Katulistiwa Literary Award disandingkan dengan penulis senior lainnya. Bagaimana perasaan Dewi Lestari saat itu?

Senang, bangga, sekaligus lucu. Karena saya betul-betul satu-satunya finalis yang umurnya masih 20-an, sementara yang lain penulis berusia 50-an ke atas semua. Tahun-tahun berikutnya Khatulistiwa akhirnya memisahkan kategori penulis muda. Pada waktu zaman saya masih tidak ada kategori itu.

Sebuah kontroversi, bagaimana seorang Dewi menyikapinya?

Kontroversi adalah konsekuensi dari keberagaman persepsi orang. Pro-kontra, suka-tak suka, setuju tak setuju, itulah dualitas yang selalu kita temui dan pasti akan selalu muncul karena memang bagian dari realitas kita. Saya tidak tahu persis bagaimana harus menyikapi kontroversi, saya rasa nggak ada rumus bakunya untuk itu. Kalau terjadi ya terjadilah, dan hadapi. Segalanya toh akan berlalu pada akhirnya.

Ciri khas Dewi Lestari dalam menulis lebih ke mana? Dan lebih menyenangi mengambil tema apa?

Saya rasa ciri khas adalah sesuatu yang sebaiknya dinilai oleh pembaca dan kritikus. Saya kurang berjarak untuk bisa menilai ciri khas saya apa. Kalau sedang menulis ya menulis saja, tanpa berpikir ini ciri saya atau bukan. Kalau tema, saya menyukai tema-tema spiritualitas, pencarian jati diri.

Target pembaca Dewi Lestari sebenarnya siapa saja?

Ini juga sesuatu yang sebaiknya dijawab oleh penerbit. Saya nggak punya target khusus. Yang jelas, dari profil pembaca saya saat ini kebanyakan, ya, anak muda, anak kuliahan, dan orang-orang di rentang usia 30-40 tahun.

Dalam menulis sesuatu, kiranya Dewi Lestari memperoleh inspirasi dari mana saja?

Dari hidup itu sendiri. Tidak ada yang spesifik. Menurut saya inspirasi itu tidak bisa "diperoleh", inspirasilah yang memilih kita. Selama kita peka dan mengamati hidup dengan baik, inspirasi selalu ada.

Hal apa yang Dewi Lestari senangi dalam berprofesi sebagai penulis?

Profesi penulis tidak kenal usia, tidak kenal pensiun, sampai umur berapa pun, selama masih bisa berpikir, ya bisa menulis. Saya juga tidak harus "perform" di depan umum dengan persyaratan seperti halnya penyanyi, lebih santai. Saya bisa lebih banyak di rumah. Di sisi lain, buku memiliki daya jangkau dan daya ubah yang sama kuatnya seperti musik.

Tiga buku favorit yang Dewi Lestari pernah baca? Mengapa?

Buku favorit saya jelas lebih dari tiga. Jadi, saya menuliskan ini bukan karena ini tiga buku yang mengalahkan lainnya, melainkan yang paling berkesan untuk diingat saat ini: Hujan Bulan Juni - Sapardi Djoko Damono, Self Aware Universe - Amit Goswami, Fingerprints of the Gods - Graham Hancock.

Boleh tahu bagaimana kabar Rida Sita Dewi? Apakah ada rencana untuk mengadakan pentas atau pertunjukkan bersama kembali?

Perkawanan dengan Rida dan Sita sih tetap berjalan baik. Walaupun lebih banyak menyapa di dunia maya karena jarak tinggal kami masing-masing cukup jauh. Saya masih lebih sering ketemu Sita karena sama-sama di Jakarta. Rencana untuk pentas lagi sebetulnya ada, semacam reunion show. Tapi belum dijalankan dengan serius, dan sepertinya untuk mempersiapkan itu kami harus benar-benar commit menyiapkannya. Saat ini belum ada tanda-tanda ke arah sana.

Bagaimana menyeimbangkan kegiatan berkeluarga, as a mother and a wife, dengan profesi Dewi Lestari sendiri?

Nggak tahu persis bagaimana, selain menjalaninya saja. Prioritas tentunya berganti-ganti, situasional tergantung keadaan. Saat anak saya masih bayi, ya jelas saya nggak memprioritaskan pekerjaan sama sekali. Setelah sekarang sudah memasuki fase batita, saya mulai bisa bekerja lagi. Nanti-nanti bisa berubah lagi.

Rencana ke depan seorang Dewi Lestari kira-kira apa saja?

Saat ini target saya dalam pekerjaan adalah menyelesaikan serial Supernova. Kesempatan dan berbagai penawaran selalu akan datang dan pergi, jadi saya nggak berencana macam-macam. Menyelesaikan Supernova menjadi prioritas untuk bidang pekerjaan.

Kira-kira boleh berbagi tips dari Dewi Lestari untuk para penulis yang ingin menulis sebuah novel, namun tidak tahu harus memulainya dari mana?

Tulislah buku yang ingin kita baca. Itu saja. Soal teknis dan sebagainya, bisa pelajari di buku atau mempelajari tulisan-tulisan yang kita suka. Temanya apa? Hanya yang menulis yang tahu. Ia tinggal mengikuti minatnya saja.

Komunitas Kastil Fantasi | Supernova PARTIKEL | Juli, 2012 | by Dian Kartawiria


Sewaktu dulu pertama kali menulis serial Supernova, apa yang ada di bayangan Dee mengenai serial ini? Apa ekspektasi Dee terhadap serial ini sewaktu pertama kali ditulis? 

Singkat kata, berbagi apa yang menjadi ketertarikan sekaligus penelusuran pribadi saya. Magnet utama saya dalam menulis adalah spiritualitas. Tema tentang pencarian jati diri dan kontemplasi akan makna kehidupan, keilahian, dan cinta, adalah sesuatu yang menarik buat saya. Dan saya ingin berbagi itu. Tidak ada ekspektasi saat kali pertama menerbitkan Supernova, sejujurnya saya menulis Supernova hanya untuk menghadiahi diri sendiri kado ulang tahun ke-25. Ada yang baca syukur, enggak juga nggak apa-apa. 

Apakah ada pesan khusus yang ingin disampaikan Dee melalui Supernova Partikel? Pesan moral, misalnya? 

Saya bukan penulis yang suka dengan pesan moral. Saya tidak suka bacaan yang disisipi pesan-pesan moral. Saya suka bacaan yang membuat orang terusik, bertanya, mencari, merenung, dan bukan pasif menerima. Demikian juga ketika saya menulis Supernova, termasuk Partikel, saya tidak berniat memberikan pesan moral, melainkan mengungkapkan banyak pertanyaan tentang asal-usul manusia, relasi manusia dengan lingkungan, dan seterusnya. Bagaimana pembaca menyikapinya, menurut saya itu akan tergantung keingintahuan mereka sendiri, dan saya tidak punya kendali atasnya. 

Siapa karakter terfavorit Dee di Supernova Partikel? Adegan/plot apa yang jadi terfavorit Dee di buku itu? 

Firas. Dia mewakili orang-orang yang terpinggirkan di masyarakat, yang karena kecerdasan dan rasa ingin tahunya, mengakibatkan ia menjadi sosok yang tidak konvensional, akibatnya ia terlihat begitu kontras dengan lingkungannya. Saya juga sangat menyukai Zachary Nolan, ia adalah sosok yang bisa menjadi sahabat saya di dunia nyata. Adegan yang sangat meninggalkan kesan bagi saya adalah kelahiran Adek. Adegan itu sangat mencekam saya, dan itulah kali pertama saya meneteskan air mata dalam proses menulis Partikel. 

Apakah Sarah adalah tokoh fiktif? 

Iya. 

Saya dengar Bukit Jambul terinspirasi setelah Dee menonton Tintin, benarkah? 

Sama sekali tidak. Dengar dari mana, ya? Bukit Jambul secara fisik saya ambil dari sebuah bukit yang sering saya lewati di perjalanan Bandung-Jakarta. Di kilometer 90-an Tol Cipularang, ada sebuah bukit yang berbeda sendiri dari bukit-bukit sekitarnya. Pohonnya tua dan besar-besar. Saya sering mengamati dan penasaran, bagaimana bisa dia beda sendiri? Kenapa tidak dijadikan ladang seperti bukit sekitarnya? Lalu, saya menamainya dalam hati: Bukit Jambul. Itulah yang kemudian saya ambil. Sementara untuk fenomena Bukit Jambul di dalam Partikel itu sih murni imajinasi, saya ciptakan untuk kebutuhan plot. 

Selain menulis, apa kegiatan sehari-hari Dee yang lain sekarang ini? Bagaimana cara Dee membagi waktu untuk menulis? Apa ada tips mengenai ini untuk teman-teman yang ingin mulai menulis juga? 

Sekarang saya sedang nggak menulis. Saya malah sedang beristirahat. Memberikan benak saya rihat setelah menulis intensif hampir setahun. Jeda seperti ini bagi saya penting. Seperti baru melahirkan anak, fisik kita pun harus istirahat total dulu agar bisa pulih seperti sediakala. Demikian juga yang selalu saya lakukan sehabis menulis buku. Saat ini saya sedang menjalankan tur booksigning keliling Indonesia. Ada 15 event yang akan berjalan hingga bulan September. Sekarang baru setengahnya.
Tidak ada tips khusus untuk membagi waktu. Saya pun menjalaninya dengan trial and error. Punya deadline akan sangat membantu kita agar disiplin dan punya target waktu yang jelas. Setelah ada deadline, manajemen waktu akan terbentuk dengan sendirinya. Ada yang mungkin menulis harian, atau menulis tiap akhir pekan, bebas saja. Sesuaikan dengan ritme dan aktivitas harian kita. Saya sendiri menggunakan patokan jumlah halaman. Ada jumlah tertentu yang harus saya penuhi setiap harinya. 

Apa proyek menulis Dee setelah Supernova Partikel? Apakah sekarang tengah melanjutkan ke Gelombang atau mungkin sedang mengerjakan buku lain? 

Langsung Gelombang. Target saya sekarang adalah menyelesaikan serial Supernova. Jadi, saya tidak mengambil proyek menulis apa pun hingga Supernova selesai. Dan bukan cuma proyek menulis saja, biasanya saya rihat total dari berbagai pekerjaan non-menulis, termasuk talkshow, promosi, dll. Benar-benar saya seleksi dan sedikit sekali yang saya ambil.


Pertanyaan dari Fred, pembaca di Jakarta:

Saya beranggapan kalau perubahan gaya kepenulisan di tiap-tiap buku serial Supernova adalah karena sengaja menyesuaikan dengan gaya narasi tokoh utama yang menjadi sentral dalam tiap-tiap buku, misalnya Partikel ditulis dalam gaya narasi Zarah, Petir bergaya narasi Elektra, dst. Apa pendapat Dee tentang hal ini? 

Pengamatan yang sangat tepat. Untuk konsep serial Supernova, dan gaya penulisan saya secara umum, adalah berserah pada karakter. Mereka yang maju. Bukan saya. Dan konsekuensinya adalah, saya bercerita lewat suara mereka, gaya mereka, preferensi mereka. Bukan Dewi Lestari. Makanya setiap episode berbeda-beda. 

Kalau boleh tahu, kenapa Petir tidak mendapatkan surat dari Supernova, ya? 

Masih rahasia. Akan diungkap belakangan. Ditunggu saja. 

Ketika mencari referensi untuk tulisan-tulisan fiksi, sumber dari mana yang paling menjadi favorit Dee? Apakah ada contoh sumber yang menurut Dee paling/sangat menarik atau informatif sehingga sampai saat ini masih teringat selalu? (Misalnya: dari internet, yang masih teringat adalah website “ABCD”; atau dari buku-buku referensi, yang masih teringat judulnya “XYZ”) 

Metode favorit saya adalah wawancara dan observasi langsung ke lapangan. Baru riset pustaka. Namun, tidak banyak juga kesempatan wawancara atau observasi langsung yang saya miliki. Akhirnya, hampir semua riset yang saya lakukan, khususnya Partikel, adalah melalui riset pustaka. Yang juga sangat membantu adalah menonton video, belakangan itu yang saya sering lakukan. Karena kita tidak cuma membaca data, tapi melihat wujud visualnya, jadi nuansanya lebih kaya. Salah satu yang paling berkesan selama riset Partikel adalah ketika saya bertemu dengan karya-karyanya Paul Stamets tentang fungi, dan juga menonton video-video presentasinya. Selain itu, bisa berkenalan dengan Dr. Birute Galdikas yang bukunya benar-benar menjadi panduan saya untuk menuliskan babak Tanjung Puting.

Pertanyaan dari Michael, pembaca di Jakarta:

Menurut Dee, genre Supernova ini apa? 

Tidak tahu. Bagi saya, fiksi atau sastra saja sudah cukup. Saya sendiri tidak terlalu sependapat jika Supernova disebut sci-fi. Benang merah serial Supernova bukan terletak pada sains-nya. Buktinya, di Akar dan Petir, hal tersebut hampir tidak muncul. Yang menjadi benang merah justru penelusuran spiritualnya. Tapi saya merasa, orang-orang menyebutnya sci-fi sebagai simplifikasi saja, atau pengamatan parsial berdasarkan beberapa episode Supernova saja. 

Adakah penulis atau buku tertentu yang mempengaruhi penulisan Supernova Partikel? 

Untuk Partikel saya lebih banyak membaca buku nonfiksi, untuk keperluan riset. Jumlahnya banyak, tidak bisa saya sebutkan satu-satu. Antara lain adalah karya-karyanya Graham Hancock, Andrew Collins, Paul Stamets, Birute Galdikas, Albert Hoffman, Daniel Pinchbek, dst. Sudah saya tulis di Kata Pengantar. Secara penulisan, tidak ada yang spesifik. Namun, saya banyak belajar dari beberapa novel luar genre suspense, saya mengamati cara mereka menyusun plot. Sedikit banyak itu mempengaruhi saya dalam penulisan Partikel.

Saat ini, Dee sangat dipengaruhi oleh penulis siapa? 

Fiksi, maksudnya? Tidak ada yang jelas. Karena jarang baca fiksi, saya tidak bisa menunjuk penulis atau buku yang saat ini sangat berpengaruh untuk saya. Nonfiksi sih, banyak. Antara lain yang tadi sudah saya sebutkan di atas. "Dipengaruhi" di sini maknanya adalah saya tertarik dengan apa yang mereka ungkapkan dalam karyanya.