Showing posts with label Atisha. Show all posts
Showing posts with label Atisha. Show all posts

Thursday, April 2, 2020

Majalah Moments | Back to the Kitchen | Agustus, 2017 | Eyi Puspita


Memasak kini menjadi hobi yang "seksi". Selain dianggap sebagai stress relief, memasak dan kembali ke dapur, juga bisa membantu memaksimalkan hubungan keluarga dengan bonus hidangan yang lebih sehat dan segar. Tak heran jika kini semakin banyak individu yang kembali ke dapur. Sejak kapan Mbak Dee belajar masak? Masakan apa yang pertama kali dibuat sendiri (tanpa dibantu sama sekali)?

Awalnya saya belajar masak karena sebagian keluarga saya vegetarian. Untuk yang bervegetarian, membeli makanan terus-terusan di luar tidak semudah itu karena pilihannya terbatas. Karena itulah saya belajar memasak. Pertama kali saya membuat tom yam (kalau tidak salah), saat itu masih memakai bumbu jadi, tapi sudah senang banget karena akhirnya bisa makan makanan favorit tanpa harus beli di luar dan saya juga bisa bikin versi vegetariannya.

Dari mana/siapa Mbak belajar masak? Apakah diajari oleh ibu/kakak? Atau mungkin otodidak? Mengandalkan gadget/sosmed/YouTube/acara masak-masak di TV? Atau campuran semuanya?

Ibu saya jago masak, tapi beliau meninggal jauh sebelum saya berkeluarga, jadi saya belum sempat mencuri ilmunya. Bisa dibilang saya otodidak. Terkecuali baking. Kalau baking saya masih ikut banyak kursus, tapi kalau masak learning by doing saja. Referensi saya macam-macam, dari buku resep, Youtube, dsb. Saya paling suka kalau bisa menyusup ke dapur restoran dan melihat cara mereka masak. Beberapa kenalan yang punya restoran mengizinkan saya masuk dan tanya-tanya langsung ke kokinya, sekaligus minta resep.

Menurut Mbak, apa saja manfaat/kelebihan hobi masak ini – terutama manfaatnya untuk keluarga ?

Pola makan sehat itu seperti tren, berubah terus. Yang dulu dibilang sehat sekarang tidak, yang sekarang tidak nanti tahu-tahu dianggap makanan sehat. Namun, memasak sendiri akan selalu lebih baik, terlepas menu apa yang kita pilih. Kita tahu persis apa saja yang ada di masakan kita, kebersihannya, dan kita bisa memilih kualitas bahan makanan yang kita pakai. Bagi saya, masakan rumah adalah fondasi dan juga jangkar memori. Ketika anak-anak kita besar nanti, salah satu hal terbaik yang mereka bisa kenang adalah masakan khas rumahnya.

Benar nggak sih, hobi masak juga mendekatkan sesama anggota keluarga? Dengan cara apa?

Saya nggak pernah lupa rica-rica bikinan ibu saya, ayam gorengnya, sambalnya. Semua kekhasan itu akan selalu terkenang dan juga mendekatkan batin saya dengannya, meskipun beliau sudah tidak ada. Bagi saya, ketika rumah memiliki masakan khas sendiri, ada ikatan emosional yang terjalin antara anggotanya. Dalam proses memasak, kita juga bisa melibatkan anak-anak, membagi tugas, sehingga mereka punya partisipasi. Ini juga akan menyuburkan memori yang baik kelak.

Apakah karena mamanya hobi ngubek di dapur, Atisha/Keenan juga terpicu minatnya untuk ikut masak? Biasanya kalau ‘membantu ibunya’, apa tugas mereka?

Sejauh ini mereka lebih suka ikut baking, mungkin karena bahan-bahannya lebih wangi dan nggak terlalu ‘messy’. Atisha ikut mengaduk adonan Keenan ikut menghias kue kering, dan mereka juga kasih penilaian kalau hasilnya sudah jadi, bahkan kasih masukan mereka inginnya seperti apa.

Apa prinsip Mbak dalam memasak buat keluarga?

Selalu menggunakan bahan yang terbaik, menjaga kebersihan alat-alat, menanyakan penilaian keluarga agar kita bisa terus memperbaiki diri, dikerjakan dengan sukacita. 

Apa makanan andalan Mbak yang jadi favorit Mas Reza dan anak-anak?


Reza suka Tempe Penyet, Pelecing Kacang Panjang, Tom Yam dan Mee Krawp. Atisha paling suka Pumpkin Soup dan Mint Chocholate Chip Cookies. Keenan paling suka Ikan Bakar, Ayam Goreng Kunyit, dan Hainan Chicken Rice.

Mengingat kesibukan Mbak, seberapa sering Mbak masak buat keluarga? Apakah tiap hari?

Hampir tiap hari masak, kecuali weekend. Karena biasanya masih ada sisa makanan atau kita makan di luar untuk rekreasi. Untuk resep-resep yang sudah sering saya ulang, biasanya saya sudah ajarkan ke ART, jadi sebagian bisa didelegasikan, terkecuali masakan-masakan luar Indonesia, seperti Minestrone, Baked Penne, dll, itu biasanya saya kerjakan sendiri.

Apa benar seorang perempuan harus bisa masak? Kenapa?

Saya tidak melihat masak harus eksklusif dilakukan perempuan. Hobi masak ini sangat berguna, baik untuk laki-laki dan perempuan. Mau single atau menikah. Mengolah dan memasak makanan itu satu hal yang menurut saya patut dirayakan. Tidak ada makhluk lain di Bumi yang melakukannya selain manusia.

Saya pernah baca, Mbak punya impian menulis buku masak. Apakah rencana itu masih ada dan akan diwujudkan?

Masih dalam daftar target. Saya ingin fokus membuat buku masak bagi yang benar-benar nggak bisa masak sekali, jadi from zero. Karena saya pun dulu seperti itu. Membuat buku masak bagi saya juga salah satu cara untuk meneruskan resep-resep terbaik kita kepada anak-anak (dan keturunan kita seterusnya), sekaligus membagi kebaikan ke orang lain.
                                                                                                         
Selain bisa menghidangkan makanan buat keluarga, apa saja manfaat hobi masak yang Mbak rasakan (untuk pribadi)? Benar nggak sih, hobi ini punya efek menenangkan (atau mungkin efek lainnya seperti ‘jadi lebih sabar’ dan ‘lebih telaten’ dsb)?

Sejauh ini, bagi saya memasak itu mengasah intuisi dan kepekaan indrawi. Sekarang kalau ada satu suap makanan yang masuk mulut, saya kurang lebih bisa menduga bahannya apa saja, bumbunya apa saja, dan mulai bisa memperkirakan step-step pengolahannya bagaimana. Ketika memasak dan kita fokus, bagi saya itu juga menenangkan. Dan ada kepuasan mengolah sesuatu, meramu banyak hal berbeda, menjadi hasil akhir yang padu.

Adakah sumber andalan Mbak buat belajar masak? Misalnya aplikasi/blog favorit /akun IG favorit/acara masak di TV? Kenapa Mbak memilih aplikasi/akun/blog/acara ini sebagai favorit/referensi?


Sejauh ini lebih sporadis sih, saya tidak mengikuti satu referensi terus menerus. Tapi saya selalu menyukai buku-buku keluaran Seri Sedap Sekejap karena hasil-hasilnya hampir selalu memuaskan. Untuk baking, saya mengikuti banyak kursus dari Natural Cooking Club (NCC).


Sunday, December 21, 2014

Majalah Tumbuh Kembang | Rubrik Bintang Tumbuh Kembang | April, 2011 | by Deti Gurnita


Di antara kesibukan Dewi, kegiatan apa nih yang kira-kira sering dilakukan bersama anak-anak? Dan seperti apa membagi waktunya?

Anak kedua saya, Atisha, masih 17 bulan, jadi selalu saya dampingi tiap harinya. Justru saya yang mengurangi drastis kegiatan saya untuk bisa menemaninya. Kalau Keenan, sudah kelas 1 SD, jadi kegiatan saya dengan dia lebih banyak membimbing belajar, membaca buku bersama. Dan kalau weekend, kita sesekali jalan-jalan bareng sekeluarga. Saya banyak bekerja dari rumah, jadi paling saya mengkhususkan 2-3 jam bekerja (menulis, dsb), habis itu sudah. Saya nemani anak-anak lagi.

Kejadian atau kebiasaan unik apa nih yang sedang terjadi di keluarga?

Menurut saya sih, sebetulnya kebiasaan-kebiasaan kami biasa-biasa saja. Sedang menikmati perkembangan pesat Atisha dan menikmati humor dan kelakuannya Keenan yang penuh kejutan.

Apa saja perkembangan pesat Atisha yang sekarang Dewi amati?

Dia sangat "connect" dengan orang. Pandangannya selalu fokus, dan dia seperti memahami semua yang kita komunikasikan, meskipun dia belum bisa bicara seperti orang dewasa. Saat ini dia sangat pintar meniru, sangat senang bicara, sangat senang menari.

Humor dan kelakuan Keenan apa saja yang sering membuat Dewi terkejut?

Komentar-komentarnya suka tidak terduga. Saking seringnya saya udah nggak inget lagi satu-satu, cuma sering saya posting aja di Twitter, hehe.

Pola dan rules apa yang telah dibangun dan sedang berjalan di keluarga Dewi?

Kami mengajarkan anak-anak untuk tidak ragu mengungkapkan perasaan mereka, karena bagi kami itu lebih sehat untuk perkembangan mentalnya. Dan kami juga membiasakan menghargai perasaan mereka. Kalau mereka kelihatan sedih atau ngambek, kami ajak bicara baik-baik, permasalahannya apa, kenapa merasa seperti itu, dsb. Meski Atisha belum berkomunikasi verbal dengan jelas, tapi kami tetap sebisa mungkin menunjukkan itikad kami untuk menghargai perasaannya.

Sebagai penulis, pasti ada beberapa cerita yang terinspirasi dari anak-anak. Sebenarnya, sebagai orangtua, apa yang paling Anda harapkan dari mereka? dan bagaimana arti anak-anak sendiri di hidup Anda?

Saya berharap mereka tumbuh maksimal sesuai dengan potensi yang mereka punya. Mereka menjadi manusia yang sadar akan tujuan mereka, dan membantu menyembuhkan Bumi. Saya sepaham dengan Kahlil Gibran tentang makna anak. Mereka adalah panah yang akan melesat. Kami orang tua hanya membekali perjalanan mereka sebaik mungkin.

Pernahkah Anda terinspirasi dari anak-anak dalam membuat tulisan?

Kalau secara harfiah dijadikan cerita sih belum. Tapi beberapa kali membuat artikel berdasarkan kejadian saya dengan Keenan. Sudah pernah saya posting juga di blog.

Apa upaya Dewi dan suami dalam memaksimalkan tumbuh kembang anak-anak? 

Memberikan ruang bagi mereka untuk berekspresi, tapi juga punya guideline untuk mereka belajar disiplin.

Tolong berikan sedikit tips dari Anda dalam menciptakan waktu yang maksimal untuk anak-anak.

Semua profesi pasti punya tantangan masing-masing perihal pembagian waktu. Kalau saya, saya harus benar-benar menyediakan waktu untuk nulis secara khusus, 2-3 jam sehari, sisanya saya harus bagi untuk anak-anak dan keluarga. Intinya sih ya ditata saja waktunya, karena kalau nggak banyak yang keteteran. Saya sengaja nggak ambil banyak kerjaan selama Atisha masih ASI. Rencananya saya ASI sampai 2,5 thn. Jadi sebisa mungkin selama periode itu, saya lebih banyak bersama anak-anak.

Saturday, December 20, 2014

Nakita | Gentle Birth | Oktober, 2011 | by Dedeh


Kesibukan dan aktivitas apa saja yang sekarang Anda tengah lakukan?
                   
Saat ini saya sedang menyelesaikan buku saya kedelapan, Supernova Partikel. Untuk itu, saya sengaja cuti panjang dari berbagai kegiatan yang di luar rumah. Jadi saat ini konsentrasi saya hanya untuk menulis dan mengurus rumah, keluarga, anak-anak.
                   
Anda pernah menjalani persalinan dengan gentle birth. Dari pengalaman yang Anda rasakan, bagaimana pengaruhnya bagi diri anak sekarang ini dan juga hubungannya dengan Anda sebagai ibu? (Misalnya, anaknya termasuk anak yang tenang, bahagia, dan sebagainya. Hubungan dengan Anda sebagai ibu lebih erat, dan sebagainya.)
                   
Sejak lahir, Atisha bisa dibilang sangat "conscious". Perkembangannya sangat baik, baik itu motorik, sensorik, maupun memori dan daya tangkapnya. Dari Atisha masih di kandungan, saya dan sudah membiasakan berkomunikasi dengannya. Jadi setelah lahir pun, meski dia belum berkomunikasi seperti orang dewasa, dia sangat responsif terhadap apa yang kami sampaikan. Secara kesehatan, Atisha jarang sakit, daya tahan tubuhnya sangat bagus.
Pengalaman Gentle Birth benar-benar revolusioner dalam hidup saya, dan juga keluarga. Atisha juga dekat dengan abangnya dan ayahnya. Saya sendiri sangat menikmati peran saya sebagai ibu. Meski bisa dibilang, saya hampir tidak bekerja lagi seperti dulu, jadi hanya mengambil pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah, saya tidak merasa kehilangan apa pun. Malah kalau bisa selama mungkin mengurus Atisha secara penuh, setidaknya sampai sebelum dia bersekolah.
                   
Dalam hal membesarkan buah hatinya, seperti mendidik dan mengasuhnya, apa yang Anda anggap penting untuk ditanamkan pada diri mereka? Mengapa itu penting?
                   
Kami selalu mendorong mereka untuk jujur dan tidak sungkan mengomunikasikan perasaan dan pikiran mereka. Kami ingin mereka tumbuh besar menjadi orang yang peka dan tidak mengabaikan suara batin mereka. Karena kami melihat kecenderungan orang modern sekarang ini adalah melapisi diri mereka dengan berbagai tameng, entah itu citra, identifikasi yang tidak tulus, dan sebagainya.
                   
Kegiatan apa yang sering dilakukan bersama anak-anak dalam keseharian dan juga di hari weekend?

Kami sering jalan-jalan di sekitar kompleks, membaca, menyanyi di rumah. Saat kami semua berkumpul di kamar, bercanda dan ketawa-ketawa, itulah momen yang paling menyenangkan.

Mother & Baby | Gentle Birth | Desember, 2010


Apa kabar? Selain disibukkan dengan Keenan dan Atisha, apa lagi kegiatan sekarang? Bagaimana dengan penulisan buku? Perahu Kertas jadi difilmkan?

Kabar baik. Saat ini saya sengaja “sabbatical leave” alias cuti panjang dari pekerjaan, untuk mengurus Atisha. Untuk pekerjaan saya cuma ambil yang bisa dikerjakan dari rumah saja. Penulisan buku masih jalan terus. Tahun ini saya menulis skenario Perahu Kertas yang rencananya akan difilmkan tahun depan. Dan ada satu manuskrip kumpulan cerpen, plus beberapa proyek website pribadi.

Apakah sempat kagok jadi ibu lagi karena jarak antara Keenan dan Atisha cukup jauh? Apakah santai saja atau sempat juga baca-baca majalah kehamilan atau website?

Kagok sih enggak, bahkan saya merasa sangat dimudahkan karena Keenan udah cukup besar dan mulai mandiri, jadi saya bisa konsentrasi untuk mengurus Atisha. Kalau santai ya santai, tapi banyak pembekalan saat hamil, seperti membaca, praktek meditasi, latihan self healing, taichi, dsb.

Perbedaan kehamilan Keenan dan Atisha kemarin seperti apa? Tolong ceritakan.

Saat hamil Atisha pendekatan saya jauh lebih natural, karena sudah mulai menerapkan Gentle Birth yang memang dimulai dari kehamilan. Check up hanya dilakukan jika benar-benar perlu, USG saya hanya dua kali, dan tidak ada obat-obatan sama sekali. Banyak istirahat, taichi, meditasi, dan terapi alami seperti homeopati, Jin Shin Jyutsu, self-healing, dsb. Waktu hamil Keenan saya sebentar-sebentar ke dokter, bahkan sempat masuk rumah sakit dua kali, padahal nggak ada yang serius, cuma parno aja. Hehe.

Bagaimana dengan makanan? Berarti dari janin, Atisha vegan ya?

Saya sudah vegetarian saat hamil Atisha, jadi otomatis dia vegetarian juga. (catatan: bukan vegan, kalau vegan sudah tidak mengonsumsi telur/produk susu. Waktu hamil saya vegetarian, bukan vegan)

Sempat baca, kemarin melahirkan Atisha bersama suami dengan metode gentle birth. Apa yang dimaksud dengan metode gentle birth? Bisa diceritakan? Perbedaan dengan water birth atau persalinan normal pada umumnya apa?

Gentle Birth itu pendekatan yang holistik untuk persalinan, dan juga kehamilan, di mana yang diutamakan bukan hanya keselamatan fisik saja, tapi juga meminimalkan trauma lahir pada bayi dan ibu. Untuk itu kami memilih bersalin di rumah, sehingga suasananya santai dan sakral. Kami dibantu bidan, tapi pada saat persalinan karena bidannya nggak keburu datang sementara bayi sudah siap keluar, akhirnya Reza yang menangkap bayi. Tapi karena sudah persiapan, jadi kami cukup tenang menjalankannya. Tidak ada sobekan, dan semua berjalan cepat. Bidan membantu untuk proses pengeluaran plasenta dan perawatan pasca persalinan. Kami memang menggunakan metode water birth karena dari riset kami, bayi yang keluar di air transisinya lebih mulus, dan berada di air juga menenangkan bagi sang ibu.

Dari mana Anda dan suami mendapatkan metode ini? Apakah setelah persalinan ini, Anda ke rumah sakit juga? Berapa berat dan panjang Atisha serta arti namanya?

Reza sudah cukup lama mengenal Gentle Birth karena pekerjaannya sebagai praktisi penyembuhan holistik. Kami banyak belajar dari buku, menonton video, dan konsultasi dengan para bidan di Bali yang menjalankan metode ini, seperti di Bumi Sehat (Ubud). Kami tidak ke rumah sakit sesudahnya karena tidak ada kondisi medis yang mengharuskan. Nama lengkap Atisha adalah Atisha Prajna Tiara. Atisha adalah nama guru besar agama Buddha, Prajna artinya “wisdom”, dan Tiara adalah mahkota.

Bagaimana Anda memandang kelahiran Atisha untuk pribadi dan keluarga baru Anda?

Kelahiran Atisha benar-benar mentransformasi kami semua. Proses persalinannya sungguh luar biasa dan itu benar-benar membawa keajaiban bagi kami sekeluarga.

Lalu, bagaimana dengan pola didik dan pola asuh yang diterapkan untuknya?

Kami menerapkan conscious parenting yakni pola asuh berkesadaran. Prinsipnya sederhana, ketimbang mengasuh berdasarkan teori para ahli, atau sekadar meniru pola asuh mayoritas, kami berusaha untuk terus dituntun intuisi dari dalam diri. Kepekaan ini adalah kombinasi dari upaya untuk terus memperhatikan secara jernih energi, perilaku dan perkembangan si anak yang tentu punya kebutuhan unik, dengan latihan hidup berkesadaran yang kami latih sebagai individu. 

Untuk edisi Januari ini, temanya New Year, New You, kalau Anda sendiri apakah Anda memiliki resolusi tahun baru untuk pribadi dan keluarga? Seperti apa? Apakah Anda memiliki waktu pribadi untuk merenung?

Kami berencana untuk membangun rumah tahun depan, jadi itu resolusi kami yang terdekat. Biasanya untuk tahun baru saya dan Reza meditasi singkat bersama-sama.

Tip sehat dan bugar dari Anda?

Banyak tertawa, punya hobi, banyak minum air putih, meditasi, sering berjalan dan hiruplah udara segar.

Majalah Internal Kesehatan | Rekreasi Untuk Anak | Desember, 2009 | by Anastasia Ratih P Tyas


Menurut Anda, pentingkah seorang anak diberi kesempatan untuk rekreasi secara rutin? Mengapa?

Rekreasi itu penting. Kalau rutinnya sih saya lihat sikon, jika memang memungkinkan oke, tapi kalau enggak ya nggak usah dipaksakan. Menurut saya, rekreasi itu menyehatkan mental anak, dan juga memperkuat bonding antara orang tua dan anak.

Buat anak Anda, Keenan Avalokita Kirana, dalam bentuk apa rekreasi yang Anda berikan kepadanya? Atau, adakah permintaan khusus dari si kecil untuk melakukan suatu kegiatan rekreasi?

Keenan lagi suka main di air, jadi paling sering diajak berenang. Kalau ke luar kota sesekali kita jalankan, misalnya ke Taman Safari, Puncak, Garut, Bali. Kalau memang pas saya ada nyanyi/talkshow ke luar kota juga kadang-kadang Keenan saya bawa. Dia sih pada dasarnya suka jalan-jalan, jadi ke mana pun semangat. Tapi tempat favorit dia sejauh ini adalah Bali.

Saat ini, apa yang biasanya anak Anda lakukan saat diberi waktu untuk bermain?

Dia senang main di luar, ketemu teman-teman sebayanya. Kebetulan di kompleks kami cukup banyak anak kecil. Atau dia main musik (drum).

Apakah Anda termasuk tipe orangtua yang membatasi waktu bermain anak setiap harinya? Kalau iya, kapankah waktu yang pas untuk Keenan bermain/bersantai?

Karena dia baru 5 tahun, masih TK, dan belum ada pekerjaan rumah dari sekolah. Hampir setiap saat ya kerjanya main. Dia punya slot waktu khusus untuk belajar dan membaca. Sekarang ini dia lagi belajar nulis, dan biasanya dia membaca dongeng bersama saya sebelum tidur. Sisanya dia main.

Apakah Anda senantiasa menemani Keenan bermain atau Anda sudah mulai membiarkan dirinya mandiri, termasuk dalam hal rekreasi? Alasannya?

Saya nggak selalu menemani, apalagi sekarang ini saya sedang mengurus anak kedua, jadi Keenan lebih sering dibiarkan mandiri atau ditemani Reza. Karena Keenan juga cukup sering mengunjungi kakek-neneknya di Bandung, dia sudah terbiasa naik travel ditemani babysitter, jadi sudah cukup mandiri. 

Biasanya, apa yang Anda lakukan bersama anak-anak di waktu luang?

Ngobrol, nonton teve bareng, atau baca buku. 

Majalah Luar Biasa | Purpose of Life | November, 2009 | by Anastasya Ratih P Tyas


Kebanyakan orang memiliki resolusi hidup yang ingin dicapai setiap kali pergantian tahun. Apakah Anda termasuk salah satunya? Bila iya, dalam hal apa saja resolusi tahunan yang Anda buat?

Sudah lama sekali tidak punya resolusi tahunan. Mungkin terakhir bikin waktu masih kuliah. Sekarang sih menjalani hidup apa adanya saja.

Resolusi apa yang Anda ingin capai pada saat awal tahun 2009 lalu? Dan, apakah resolusi itu dapat diwujudkan?

Merujuk ke jawaban no 1, saya nggak punya resolusi.

Menurut Anda, pentingkah seseorang memiliki resolusi dalam hidupnya? Mengapa?

Menurut saya, nggak ada jawaban general yang bisa berlaku untuk semua orang. Akan selalu tergantung kebutuhan orang itu sendiri. Barangkali ada yang merasa terbantu dengan memiliki resolusi, karena jadi ada target untuk dikejar. Tapi ada juga yang mungkin tidak merasa terlalu perlu punya resolusi, saya salah satunya. Sesekali saya tetap punya target, tapi saya tidak menjadikannya kegiatan rutin. Kalau memang diperlukan saja.

Apakah Anda termasuk orang yang menganggap pergantian tahun patut dirayakan?

Sekarang ini saya rasanya lebih santai melihat pergantian tahun. Kalau memang ada kesempatan merayakan, oke. Kalau enggak pun nggak apa-apa. Esensinya, kan, semua tanggal pun tidak ada yang berulang dua kali, jadi setiap hari sebetulnya sama spesialnya.

Biasanya, dengan cara apa Anda menutup tahun?

Belakangan lebih banyak di rumah bersama keluarga. Dengar suara kembang api dan kadang-kadang nonton kembang api di langit kalau lagi ada. Pada saat tengah malam, saya dan Reza selalu bermeditasi sejenak. Setelah lewat tengah malam baru tidur.

Sudah ada rencana untuk akhir tahun 2009?

Untuk akhir tahun ini nggak ada. Tapi Oktober lalu saya baru melahirkan anak ke-2, jadi akhir tahun ini kami punya anggota keluarga baru. Bagi saya itu sudah cukup menjadikan akhir tahun 2009 ini ekstra spesial.

Sudahkah Anda menetapkan apa yang ingin Anda capai di tahun 2010?

Ada beberapa agenda pekerjaan yang memang jatuhnya di tahun 2010, antara lain beberapa judul buku baru. Tapi saya tidak menjadikannya resolusi, sekadar agenda kerja saja.

Apakah Anda sudah puas dengan hidup yang sudah Anda miliki dan jalani saat ini? Kalau belum, apa yang dirasa masih kurang dalam pencapaian hidup Anda?

Puas-puas saja. Impian atau proyeksi masa depan tetap ada, tapi itu rasanya tidak sampai membuat saya merasa kurang dengan apa yang saya punya sekarang.

Pernahkah Anda merasa menyerah dalam menghadapi suatu masalah?

Menurut saya, tahu kapan kita menyerah dan kapan kita berjuang adalah seni yang harus terus digeluti dalam hidup. Entah itu menyerah, bertahan, atau berjuang, bagi saya yang lebih penting adalah berpasrah dalam segala prosesnya. Menyadari dan menerima bahwa apa pun yang kita pikirkan dan rencanakan belum tentu akan terwujud dan belum tentu adalah yang terbaik. Menjalani hidup secara sadar bagi saya lebih esensial.

Bila hal di no.9 tadi sedang melanda, apa yang Anda lakukan untuk membangkitkan kembali semangat hidup?

Sekadar menyadari bahwa segala sesuatu tidak ada yang tetap. Kesedihan tidak tetap, kesialan tidak tetap, semua itu akan berlalu jika memang sudah saatnya. Sebaliknya pun sama. Nasib mujur tidak tetap, kegembiraan pun tidak tetap. Jadi kedua sisi itu nggak usah terlalu digigit kuat. Biarkan saja mereka hadir bergiliran sesuai waktunya.

Kesibukan apa yang sedang Anda lakukan saat ini?

Saat ini saya mau konsentrasi mengurus anak ke-2 saya dan keluarga. Lebih banyak ingin kerja dari rumah saja dan mengurangi kegiatan di luar kalau nggak perlu-perlu banget. Ada beberapa naskah buku yang tengah dipersiapkan.

Anda pertama kali terjun di dunia entertainment sebagai penyanyi, lalu belakangan orang mengenal Anda sebagai salah satu penulis wanita yang telah menerbitkan karya-karya tulis yang luar biasa. Mana sebenarnya yang lebih mencerminkan diri Anda sendiri, penyanyi atau penulis?

Bagi saya pribadi, musik dan menulis tidak bisa dipisahkan. Keduanya merupakan bagian inheren dari diri saya. Keduanya merupakan jalur saya berekspresi. Tinggal waktunya saja, kadang-kadang yang muncul adalah keinginan menulis, kadang-kadang bermusik. Jadi, hanya momen dan timing-nya saja yang bervariasi, tapi jalur ekspresinya ya hanya dua itu.

Ke depannya, apakah rencana Anda, apakah fokus pada dunia tarik suara atau dunia tulis-menulis?

Masih di dua-duanya. Tapi untuk jangka waktu dekat, saya masih harus menyelesaikan beberapa naskah tulisan saya.

Oktober lalu, Anda melahirkan anak ke-2. Bagaimana cara Anda membagi waktu secara adil, antara keluarga dan karier? Apalagi saat ini, promo album terbaru Anda juga masih berlangsung?

Sejak dulu, prinsip saya tentang prioritas adalah melihat situasi dan kondisi serealistis mungkin. Saat ini, saya memilih untuk fokus pada keluarga dan anak-anak saya dulu, khususnya anak ke-2 saya yang baru lahir. Untuk promo, kalau album sih sudah rilis dari tahun lalu jadi sudah tidak lagi intensif promonya. Yang paling baru justru buku (Perahu Kertas), dan sekarang buku itu tetap berpromo, tapi tidak dengan cara menghadirkan saya secara fisik, jadi lebih ke pemakaian media cetak seperti poster, banner, iklan, dsb. Syukurnya, meski dengan begitu, Perahu Kertas tetap bisa jadi best-seller.

Bagaimana tanggapan anak pertama dalam menerima kehadiran adik baru dalam hidupnya?

Keenan, anak pertama saya, sangat antusias sekali dengan kehadiran adiknya. Dari waktu hamil, dia sudah nagih-nagih untuk adiknya cepat keluar. Dan sekarang, dia sayang sekali dengan adiknya. Keenan selalu membanggakan ke orang-orang bahwa sekarang dia sudah punya adik perempuan.

Bagaimana cara Anda memperlakukan dengan adil kedua buah hati Anda?

Sebisa mungkin saya tetap kasih porsi perhatian saya pada Keenan. Kami punya ritual yakni membaca cerita sebelum dia tidur, jadi walaupun sekarang sudah ada adiknya, saya tetap sebisa mungkin mempertahankan ritual, tsb. Cara lain adalah dengan melibatkan Keenan dalam kegiatan mengurus adiknya: mengajarkan dia cara membelai, meminta tolong dia untuk menjaga adiknya, dsb.

Apakah kendalanya membesarkan anak dengan dua ayah yang berbeda? Apakah itu terkadang membuat Anda susah, atau malah memberikan warna tersendiri dalam hidup Anda?

Sebelum Atisha, anak ke-2 saya lahir, ikatan antara Keenan dan Reza sudah sangat kuat. Jadi tidak ada kesulitan sama sekali. Dan sejak saya hamil Atisha, Keenan sudah kami libatkan dari mulai proses kehamilan, bahkan saat kelahiran. Jadi ikatan antara satu sama lain dalam keluarga kecil kami tidak pernah terputus atau merenggang dengan perubahan ini. Kuncinya, ya, dengan cara melibatkan Keenan secara perlahan namun kontinu dalam semua perubahan yang terjadi.

Pernahkan anak pertama Anda mengeluhkan kurangnya perhatian Anda kepadanya, dan bagaimana Anda menyikapinya?

Sejauh ini sih nggak pernah, karena yang kasih perhatian sama dia banyak sekali. Saya malah bersyukur dia punya banyak keluarga. Karena dengan demikian dia bisa punya variasi dan curahan kasih sayang dari kiri-kanan, nggak hanya menuntut dari kami saja. Setiap akhir pekan dia punya kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama ayah kandungnya atau nenek-kakeknya di Bandung. Meski demikian, Keenan memang menghabiskan waktu paling banyak dengan saya dan Reza. Jadi sebagai sebuah unit keluarga, memang kami harus solid supaya Keenan tetap merasa stabil di mana pun dia berada. 

Friday, December 19, 2014

Kompas | Gentle Birth | Maret, 2010 | by Lusiana Indriasari


Bagaimana sampai pada keputusan memakai cara melahirkan dengan metode gentle birth/water birth? Apakah ada pengalaman buruk yang pernah di dengar atau karena ada motivasi khusus?

Waktu melahirkan anak pertama, saya di-caesar. Saat mengetahui kehamilan yang kedua, saya berkeinginan untuk mengalami persalinan yang bukan hanya “normal”, tapi juga sealami mungkin. Rezalah yang memperkenalkan konsep gentle birth pada saya, sejalan dengan pekerjaannya sebagai terapis penyembuhan holistik.  Sudut pandang holistik inipun ternyata sangat penting ketika menyikapi kehamilan & persalinan. Akhirnya kami mencari info sebanyak-banyaknya tentang opsi gentle birth ini, lewat buku, internet, video dokumenter, dsb. Dan ternyata memang beda sekali pendekatannya. Persalinan umumnya hanya fokus pada selamat / sehat secara fisik semata dan sesaat, artinya terpantau secara jangka pendek setelah persalinan. Namun, filosofi gentle birth justru peduli perkembangan fisik dan psikologis jangka panjang dari momen kelahiran, untuk itu proses hamil hingga bersalin perlu dirawat sebaik mungkin agar tidak saja sehat fisik, tapi juga intervensi sesedikit mungkin agar minim trauma & ramah jiwa bagi ibu dan bayi.  Gentle birth bukan hanya fokus pada ibu agar rileks, mengurangi sakit, dsb, tapi juga pada kesejahteraan batin dan tubuh bayi saat melewati transisi terbesar yang paling jadi titik penentu dalam hidupnya, yakni perjalanan dari rahim menuju dunia luar rahim.

Ceritakan bagaimana persiapan pada masa kehamilan dan juga persiapan menjelang gentle birth? Apakah sejak awal kehamilan sudah melakukan banyak persiapan misalnya seperti yoga kehamilan, meditasi, dll.?

Persiapan gentle birth yang kami lakukan meliputi emotional & trauma clearing, menyiapkan water birth di rumah – dari mulai memesan peralatan dan persiapan teknis pelaksanaan (kami memang memilih metode water birth karena lebih relaks bagi ibu dan juga minim risiko trauma fisik bagi bayi), dan saya melakukan Tai Chi khusus kehamilan selama dua bulan terakhir. Perencanaan persalinan kami juga tetap memperhitungkan aspek gawat darurat medis yang bisa saja terjadi, oleh karena itu kami tetap punya back-up rumah sakit yang sedekat mungkin dari rumah.
Hingga saat ini, Atisha tumbuh berkembang begitu sehat dan ‘hidup’.  Sejak awal lahir dia sudah membuka mata, dan kontak mata langsung dengan sadar & responsif. Perkembangan panca indera dan motoriknya juga cenderung cepat, begitu pula dengan proses belajar mengunyah makanan pendukung ASI yang kami berikan. Dia belum pernah sakit berat kecuali demam ringan saat-saat tumbuh gigi saja.  Dia sering mampu mengerti permintaan lisan kami, misalnya kalau kami harus ada meeting atau perjalanan jauh, biasanya dia tidak pernah rewel bahkan beristirahat tidur, dan terbangun tepat saat kesibukan kami sudah beres.  Bagi kami berdua, melaksanakan gentle birth adalah persembahan terbaik yang bisa kami berikan bagi bayi kami.
Perlu digaris bawahi bahwa gentle birth tidak harus selalu terjadi di air. Water birth bisa menjadi bagian dari gentle birth, tapi bukan sebuah prasyarat. Gentle birth bisa terjadi dengan metode water birth ataupun dry birth.

Tuesday, December 16, 2014

Her World Magazine | Most Powerful Woman 2011 | Juni, 2011 | by Theresia Christy


Apa saja kesibukan Mbak Dewi saat ini?

Saya baru saja meluncurkan buku baru, kumpulan cerita berjudul Madre yang merupakan kumpulan karya saya selama lima tahun terakhir. Selebihnya sih lebih banyak kerja dari rumah, dan mengurus anak tentunya.

Dari beberapa e-mail kita, aku lihat perhatian Mbak Dewi sangat besar untuk keluarga, khususnya anak-anak. Hal apa yang mendasari hal tersebut? Adakah yang bisa dibagikan kepada pembaca Her World secara khusus, dan perempuan Indonesia secara umum?

Sudah jadi komitmen saya dengan suami untuk full mengurus anak bungsu kami, Atisha yang sekarang baru 20 bulan. Anak kami yang pertama, Keenan, juga baru kelas 1 SD (sekarang naik kelas 2). Jadi banyak sekali hal-hal yang sifatnya transisional bagi anak-anak seumur mereka. Dari mulai perkembangan mental, fisik, sampai aktivitas. Bagi kami periode itu sangat krusial, tidak akan terulang lagi, jadi sayang kalau terlewat. Sementara saya berprinsip kalau pekerjaan sih bisa menunggu, akan ada saatnya saya bisa kembali full bekerja seperti dulu. Lagipula, banyak di rumah bersama anak itu ternyata lebih menyenangkan.

Supernova KPBJ menjadi salah satu karya yang diterbitkan dalam bahasa Inggris, bagaimana perasaan dan apa pendapat Mbak Dewi tentang hal tersebut?

Bagi saya itu impian yang jadi kenyataan. Memang tidak mudah untuk buku lokal menembus pasar internasional, dan diterjemahkan saja bukanlah jaminan buku tersebut akan bagus penjualannya. Namun bagi saya, dan juga Yayasan Lontar - yang menerbitkannya, penerjemahan karya pustaka Indonesia adalah penting untuk memperkenalkan kultur, masyarakat, dan Indonesia secara keseluruhan kepada dunia, karena sastra adalah karya kompleks yang mencerminkan lebih dari sekadar kisah, melainkan juga budaya sebuah bangsa.

Saat ini, Mbak Dewi (tampaknya) lebih dikenal sebagai novelis, apakah memang ini yang menjadi cita-cita Mbak sejak awal? Tolong ceritakan.

Saya nggak pernah bercita-cita secara spesifik menjadi penulis. Yang saya tahu sejak kecil, hobi saya adalah musik dan menulis, dan saya mengembangkannya sedemikian rupa selama bertahun-tahun sehingga akhirnya bisa menjadi profesi. Prinsip saya dalam bekerja adalah realistis dan situasional, artinya mana yang bisa dan feasible untuk saya kerjakan saat ini, itulah yang saya jalankan. Dengan pilihan saya untuk lebih banyak di rumah dan fokus pada keluarga, otomatis menulis menjadi lebih convenient, karena saya dimungkinkan untuk banyak di rumah. Kalau satu saat situasinya berubah lagi, anak-anak sudah lebih independen misalnya, ya, prioritas karier saya bisa berubah lagi juga. Namun bidangnya nggak akan lepas dari hobi saya. 

Adakah hal-hal tertentu yang ingin Mbak sampaikan melalui tulisan-tulisan Mbak kepada para pembaca?

Intinya, saya menulis apa yang saya suka baca. Artinya, saya menuliskan minat saya sendiri. Hal-hal yang saya tulis cenderung berbau transendental, spiritual, tapi dalam kemasan yang relatif mudah dicerna. Hal itu jugalah yang saya suka dan saya cari ketika saya membaca buku. Jadi dalam hal ini saya memposisikan diri saya sebagai pembaca.

 Adakah bidang lain yang menjadi passion Mbak Dewi, selain menulis? Kalau nggak salah, aku pernah baca di blog Mbak Dewi kalau Mbak juga hobi dengan masak dan makan? Bisa ceritakan tentang hal tersebut?

Saya senang masak dari kecil, tapi sempat berhenti lama. Setelah berkeluarga, minat itu muncul lagi. Selain masak, saya senang tanaman. Punya keinginan kursus serius merangkai bunga, tapi belum kesampaian. Saat ini lebih banyak sibuk di kebun sendiri, bercocok-tanam.

Mbak Dewi apakah masih aktif menulis di blog? Alasannya? Soalnya aku lihat (kayaknya) terakhir nulis di blog tahun 2009.

Blog Dee-Idea itu dibuat untuk menampung tulisan-tulisan nonfiksi yang sifatnya random. Dan bagi saya, per saat ini kumpulan tulisan yang saya buat sudah cukup dari segi jumlah. Jadi saya memang berencana untuk menutup blog tersebut. Barangkali satu saat akan saya jadikan buku. Kegiatan blogging mungkin masih akan berjalan tapi dalam format dan konsep yang berbeda. Jadi nggak sama dengan Dee-Idea lagi. Untuk interaksi dengan pembaca, saya sekarang lebih memilih lewat jalur Twitter.

Apa yang menjadi pencapaian terbesar Mbak Dewi sejauh ini?

Mengalami gentle birth saat bersalin Atisha. Bagi saya, peristiwa itu sangat luar biasa dan menguatkan saya secara fisik, mental, dan spiritual.

Menurut Mbak, apa yang membuat seorang perempuan menjadi powerful?

Terus terang, pemahaman saya tentang esensi keperempuanan mengalami banyak transisi. Terutama ketika saya belajar memahami sifat feminin dan maskulin secara energetik. Menurut saya, selama ini kita cenderung fokus pada pencapaian eksternal seorang perempuan. Kalau perempuan berkarier hebat, berpendidikan tinggi, berpengaruh secara politis, kita lantas mencapnya "powerful". Namun sebetulnya orientasi external achievement pada hakikatnya sangatlah maskulin. Jadi kita seperti menghargai perempuan yang punya kualitas maskulin kuat, dan bukan kualitas feminin yang kuat. Maskulin di sini bukan berarti tomboy, dan feminin juga bukan berarti girly, melainkan dalam dari itu. Bagi saya perempuan yang powerful dalam arti sesungguhnya adalah perempuan yang "grounded", punya koneksi kuat pada tubuhnya, pada alam, pada intuisinya, dan mentally & spiritually secured.

Apa yang menjadi kekuatan terbesar Mbak Dewi? 

Saat saya berfungsi sehari-hari, kekuatan terbesar adalah dari keluarga saya. Namun selalu ada kekuatan yang lebih besar dari diri kita sendiri, yang bahkan pemikiran kita tidak bisa memahaminya. 

Berkaitan dengan ulang tahun Indonesia, cara Mbak Dewi dalam mewujudkan rasa cinta pada Indonesia?

Terus berkarya, dan memberikan yang terbaik ke dalam karya tersebut. 

Siapa sosok perempuan powerful yang menjadi inspirasi Mbak Dewi dan apa alasannya?

Saya sangat mengagumi Robin Lim, seorang bidan dan pemilik klinik bersalin Bumi Sehat di Ubud. Ibu Robin ini baru saja dapat award dari Kick Andy dan juga menjadi salah satu CNN Heroes. Saya kenal langsung dengan beliau dan sering mampir ke Bumi Sehat setiap kali ke Ubud. Dedikasi, semangat, dan ketulusan Beliau sangat luar biasa. Dan bukan hanya Robin seorang bidan yang membantu ribuan ibu, beliau juga penulis yang menulis buku tentang kehamilan, persalinan, buku puisi, fiksi, dsb. Beliau sangat mengagumkan.