Tuesday, December 23, 2014

Majalah Suara KPU | Rubrik: Suara Selebritas | November, 2014 | by Shoffa A. Fajriyah


Apakah Anda turut berpartisipasi dalam Pemilu 2014 kemarin? Bagaimana dengan partisipasi pada pemilu sebelum-sebelumnya?

Ya, saya ikut memilih kali ini. Sebelum-sebelumnya tidak. Partisipasi saya di Pemilu 2014 memang ekstra, karena saya juga ikut jadi relawan sosmed yang mendukung Jokowi. Kami cuma bermodal group Whatsapp, isinya orang-orang industri kreatif, dari mulai sutradara, aktor, produser, MC, dan lain-lain. Partisipasi kita fokus di sosial media. Tapi saya dan suami ikut mengawasi juga penghitungan suara di TPS saya.  

Bagaimana tanggapan Anda soal keberlangsungan Pemilu 2014 kemarin?

Rasanya, itulah pemilu yang paling seru dan tajam yang pernah ada di Indonesia. Pemilu 2014 berhasil jadi peristiwa politik yang membuat banyak orang “turun gunung” dan keluar dari “selibat politik”-nya. Dari sisi itu, saya rasa Pemilu 2014 berhasil memancing kepedulian orang terhadap politik.

Bagaimana tanggapan Anda soal kinerja KPU dalam Pemilu 2014 kemarin?

Saya rasa KPU bekerja sangat keras dan memiliki peran yang luar biasa krusial dalam Pemilu 2014. Banyak momen kritis dalam Pemilu 2014 yang akhirnya bergantung pada keputusan dan kejernihan KPU. Salah satu langkah yang patut diacungi jempol adalah memberikan data terbuka bagi masyarakat yang memberikan ruang gerak bagi para penghitung independen untuk ikut mengawasi jalannya pemilu. Ini akan jadi preseden baik bagi pemilu ke depan.

Menurut Anda, apa saja hal-hal yang harus dibenahi selama penyelenggaraan Pemilu 2014 kemarin?

Sejauh memantau dari pemilu kemarin, saya rasa perlu ada pembenahan teknologi dan logistik, mengingat banyak komplain dari pemilih di luar negeri yang tidak bisa memilih karena kehabisan surat suara.

Bagaimana tanggapan Anda soal partisipasi kalangan muda yang lebih pro aktif dalam Pemilu 2014 kemarin?

Kontras dan kuatnya figur kedua capres di Pemilu 2014 memang memicu banyaknya dukungan kalangan muda. Secara umum kepedulian politik memang meningkat jauh di Pemilu 2014. Saya sangat senang dengan banyaknya anak muda yang berkampanye kreatif dan memanfaatkan teknologi untuk ikut mengawasi pemilu seperti Kawalpemilu.org. Saya membayangkan Indonesia akan punya darah segar untuk kehidupan politik jika anak-anak muda lebih banyak terlibat dan turun tangan.

Hasil suara dalam Pilpres kemarin memiliki angka yang sangat beda tipis, bagaimana pandangan Anda melihat fenomena tersebut?

Ya, itulah serunya. Seperti saya bilang tadi, kedua figur sama-sama kuat, pendukungnya juga hampir sama banyak. Belum tentu kita akan melihat pemilu seseru itu lagi ke depannya. Saya rasa terjadi pembelajaran politik luar biasa bagi masyarakat Indonesia lewat Pemilu 2014. Para pemegang kekuasaan ke depan juga harus semakin mencermati kecerdasan dan kritisnya para pemilih di pemilu-pemilu depan.

Bagaimana tanggapan Anda soal adanya gugatan-gugatan sengketa hasil pilpres?

Saya rasa sebagai pihak yang kalah wajar saja kalau memang ada keinginan untuk memperjuangkan hasil semaksimal mungkin, selama masih di koridor yang wajar dan diperbolehkan secara hukum sih menurut saya sah-sah saja. Walaupun memang terkadang saya menilai secara luas masyarakat akan lebih dimudahkan jika semua pihak percaya dan berserah pada hasil dan kemudian segera beriorientasi ke masa depan ketimbang meributkan keputusan yang sudah final. Karena meskipun tipis, tetap saja kita bicara hitungan jutaan suara.

Bagaimana tanggapan Anda soal rencana KPU yang akan menerapakan e-voting dalam pemilu mendatang? Setujukah Anda dengan rencana ini? Tolong berikan kritik dan saran agar ke depannya KPU semakin baik?

Saya sih setuju dengan e-voting, selama memang terdukung oleh infrastruktur internet dan sekuritas yang baik. Bagaimanapun juga pemilu manual itu mahal, memakan begitu banyak sumber daya, dan juga makan waktu. Dengan perkembangan teknologi di dunia saat ini, bukan tidak mungkin bagi Indonesia untuk mulai menerapkan e-voting. Apalagi dengan bentuk negara kepulauan, akan jauh lebih efisien karena kita bisa memangkas banyak aspek logistik lewat internet. (itu sekaligus jadi masukan dari saya untuk KPU)

Monday, December 22, 2014

Bintang Indonesia | Single NOAH: Seperti Kemarin | November, 2014 | by Yohanes

Sebenarnya sejak kapan Anda mengenal para personel NOAH?

Saya cuma kenal langsung sama Ariel. Waktu saya masih di Bandung dan Peter Pan belum rekaman, saya pernah nyanyi di satu acara yang home band-nya adalah Peter Pan, jadi mereka mengiringi saya nyanyi. Kakaknya Ariel kebetulan teman kampus adik saya juga.

Pandangan Anda melihat NOAH adalah sebuah grup musik yang seperti apa?

Menurut saya, sebagai band Noah itu termasuk yang progresif dan berkualitas. Saya suka aransemen-aransemen mereka. Pada saat yang sama, Noah juga punya basis fans yang sangat kuat dan luas. Jadi mereka mampu mengombinasikan kualitas dan popularitas.

Apa sebelumnya pernah bekerja sama dengan NOAH?

Belum.

Lagu seperti kemarin kabarnya judul itu yang memilih NOAH lalu Anda diminta tolong membuat liriknya? Lagu itu mengkisahkan tentang apa, ya?

Saya dihubungi oleh publisher saya, Trinity Optima. Katanya, Noah punya single tapi belum ada lirik, dan Bu Acin dari Musica sedang mencari penulis lagu untuk dimintai bantuan bikin liriknya. Saya lalu dikirimi sampelnya, dan sudah tertera judul “Seperti Kemarin”. Di sampel itu, Ariel cuma nyanyi kata-kata “seperti kemarin” di awal, selebihnya “nanana”. Saya dengarkan dulu sampelnya, saya bilang kalau memang cocok ya saya kerjakan, kalau enggak saya juga tidak akan memaksakan. Dan, ketika dengar berulang-ulang, saya suka dan setuju untuk mencoba. Saya lalu tanya kepada Ariel apakah kata-kata “seperti kemarin” ingin dipertahankan, dan menurut dia memang itu kalimat yang spontan muncul. Akhirnya saya putuskan untuk dipertahankan dan saya mengembangkan cerita lagu dari sana. Interpretasinya memang bisa banyak dan macam-macam. Tapi saya mendasarkan liriknya yang paling utama dari melodi. Menurut saya, melodinya itu terdengar uplifting dan ada suasana yang membebaskan. Akhirnya saya pilih tema “back with vengeance”, yang kira-kira tentang seseorang yang berhasil keluar dari keterpurukan atau situasi yang mengekang, dan lagu itu menjadi semacam pernyataan kebebasan dan itikad barunya. Saya rasa hal itu itu bisa relate dengan banyak orang.

Ada kebanggaan bisa menulis lirik untuk NOAH?

Saya sih senang, karena pada dasarnya menulis lagu itu passion saya, cuma tidak banyak kesempatan untuk mengeksplorasi karena saya sibuk nulis buku. Dengan berkolaborasi bersama Noah, rasanya saya bisa kembali menyalurkan passion saya di musik. Menulis lagu itu kayak bercerita juga, jadi rasanya saya punya “pembaca” baru, yakni para penikmat musik Noah.

Pesan apa yang ingin Anda sampaikan lewat lirik seperti kemarin?

Lagu itu punya banyak pesan yang positif; keberanian keluar dari comfort zone, independensi, memulai babak baru, dsb. Mereka yang mungkin terjebak dalam abusive relationship, susah move on, galau berkepanjangan, dsb, mudah-mudahan bisa tergerak untuk bangkit kalau mendengar lagu tersebut.

Sekarang kesibukan Mbak Dewi apa saja?

Sekarang sih masih dalam periode promosi buku terbaru saya, Supernova episode kelima berjudul Gelombang. Bulan Desember nanti film Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh juga bakal tayang. Setelah itu saya mau kembali lagi menulis episode Supernova yang keenam.


The Jakarta Globe | Frankfurt Book Fair | September, 2014 | by Jaime Adams


Indonesia will be Guest of Honor country at next year's Frankfurt Book Fair. You will already travel to Germany this year to attend the handover ceremony at the end of the fair, when Indonesia will officially take over from this year's GoH country Finland. What exactly will your role be, and how did you end up being chosen for it?

My role will be as a Indonesia’s to receive the scroll from Finland, a symbolic gesture to acknowledge the honor of being the next GoH in Frankfurt Book Fair. There will be a short conversation between me and the Finland’s representative afterwards on stage. I think it was Goenawan Mohamad and the National Committee who chose me for the handover ceremony. Although I’m sure they would know their reason better than I do, I think I was chosen because of my experience in some international literary events before. They would also want someone who can represent Indonesia’s book industry and I’ve been a published writer for 13 years now, so I can say a thing or two about the situation of our book industry.

Besides the handover ceremony, what other Indonesia-related events at Frankfurt Book Fair will you attend?

I will have a session with Slamet Rahardjo where we will be talking about Indonesia cinemas. The session will begin with Rectoverso movie screening. Rectoverso is the movie adapted from my short story collections and had won several awards in Indonesia and Asia.

Besides Frankfurt Book Fair, what else is on the agenda for your Germany trip?

I will give a talk at Dussman, Berlin, on Oct 14. I was told it was a very prestigious venue for writers. I’m truly honored.

Looking ahead to next year, how important do you think it is for Indonesia to be the GoH country at Frankfurt Book Fair?

Basically, all eyes will be on Indonesia. Frankfurt Book Fair is the biggest book event in the world. I heard many complaints about how unrecognizable Indonesia literature is on the international level, only few names were ever heard of, like Pramoedya Ananta Toer and recently Andrea Hirata, and that situation has been stagnant for a long time. There hasn’t been a real breakthrough in introducing Indonesia literature to the world market. Being the GoH of Frankfurt Book Fair is a golden chance for Indonesia. But I’m worried our government is not realizing it. I don’t even think most people are aware of the importance of this event. Our role in Frankfurt Book Fair 2015 has to be promoted on national scale, because not only the book industry will benefit from it, but also our creative economy industry. It should perceived as a huge cultural event and opportunity. We need to showcase our country and culture as optimally as we can.

What do you think are the necessary steps to be taken in order to make next year's fair a successful one?

Our preparation for Frankfurt Book Fair is extremely short. The government is also being very slow and rather vague on their support. I heard the term for translation funding is rather impossible, they give one month deadline to finish the whole translation. Everybody with the right mind knows there cannot be a good translation work done in only one month, not to mention the scarcity of good translators out there. So, it’s a deadlock. We need to take the initiative. Everybody’s involved in the book industry has to socialize and promote Frankfurt Book Fair to the mass. It’s a golden opportunity which should be celebrated by our creative industry. We don’t only display books, we can display our culinary treasure, our dance, our culture, our music, and share those beauties to the world. If the government is holding back their support, for whatever reason, then we must actively work outside of that frame.

Will you be able present your own books in German as well? Have you found a German publisher that shows interest in your novels?

It’s a tricky situation. I wrote eight books, but only one book has an English translation. Some writers with dozens of books may not even have a single English translation. All this time, we never really pay attention to the importance of translation. Therefore, being the Guest of Honor of Frankfurt Book Fair is a like huge slap on our face. It’s either a blessing or a curse. There won’t be enough time to translate a whole book in significant quantity. So, basically we can only translate synopsis into English or German and try to sell the rights to international publishers. The trade will only start this October, so we’ll see.

Currently, there is a new "challenge" making its rounds in social media circles, where people can nominate their friends to compile a list of books that have inspired them the most. What books would make it to your list?

I think it will be interesting to introduce the work like Es Tito’s Negeri Kelima (The Fifth Country). The book packages Indonesia’s history in a popular, fast-paced, story telling. Something we don’t see so often in the market.

Are you working on a new book at the moment?

Yes. I just finished the fifth installment of my Supernova series, called Gelombang. It’ll be out in bookstores on Oct 17. I will start writing the final book immediately afterward.

Are there any other outlets you ever wanted to try to unleash your creativity, like film, theater or art?

Aside of writing books, I still involve in the music industry, although mostly now as a songwriter and not into stage performance so much. I partly invole in movies too. I wrote my first screenplay Perahu Kertas two years ago. But since I want to focus in finishing my Supernova series, I can’t afford to get involve in any other creative projects, at least for another one or two years. I’m seriously planning to write a cook book, though.

You are a mother, a wife, a writer, a singer and a songwriter. Don't you ever feel tired? :)

Those roles can be overwhelming, indeed. Ha-ha! It’s like a juggling game, day in day out. Everyday I learn to set my priorities straight, to work more efficiently and effectively. My office is practically at home, and I still have daily household chores and a family to take care of. So, I’m very stingy of my time. I say no to most meetings. I live in suburb (Tangerang Selatan), and it’ll cost me a whole day for an hour meeting in Jakarta. Regarding my work, I rely on e-mail and phone communications. To finish my latest book, I need to wake up before everybody else at home, so I still have that silence and uninterrupted moment. For months, I woke up at four AM and wrote for two-three hours straight. I declined most talkshow and teve invitations for almost a year. At first I was shaky because I felt like I was missing out opportunities, but I gradually learn to see what really matters. I can’t stress more of how important it is to see the distinction. Sometimes we’re just busy without being truly productive.

Wawancara Tugas | Serial Supernova | September, 2014 | by Lizda Fathia


Apakah ada tujuan tertentu dalam menulis novel Supernova?

Saya ingin menuangkan pengalaman spiritual saya ke dalam fiksi, dan akhirnya saya menulis Supernova.

Dari manakah Anda mendapatkan inspirasi dalam menulis seri buku Supernova?

Kalau ditanya dari mana, saya nggak bisa jawab secara detail karena menurut saya inspirasi itu tidak tunggal dan datang dari mana saja, dari mulai observasi saya, buku-buku yang saya baca, pengalaman saya pribadi, dst. Yang saya tahu, Supernova memang ingin saya buat serial karena ceritanya belum habis di buku pertama.  

Dalam Supernova episode 1 dan 2, dpt terlihat perbedaan cerita dan suasana dalam novel, hal apakah yang membuat Anda memutuskan tema atau suasana tersebut?

Setiap episode Supernova memang berbeda-beda karena bergantung dari karakter yang menjadi naratornya. Jadi saya menyesuaikan tema dan suasana dari kebutuhan karakter utama.

Apakah Anda akan terus memperkenalkan karakter-karakter baru dan meneruskan sekuel novel Supernova?

Karakter utama yang baru hanya sampai di buku 5. Di buku ke-6 semua sudah bertemu, dan merupakan episode penutup.

Apakah hubungan antara karakter-karakter dlm seri Supernova Akar dan Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh?

Ada, tapi tidak semua tokoh. Hubungannya baru akan terungkap di buku terakhir.

Bagaimanakah pembaca dapat menggambarkan karakter-karakter novel Supernova? Apakah harus sesuai dengan deskripsi dari novel ataukah kita dapat berimajinasi dan mempunyai pemahaman masing-masing?

Saya rasa, penulis tidak punya otorisasi terhadap imajinasi pembaca. Ketika naskah sudah selesai dan dipublikasi, buku tersebut adalah milik pembaca. Jadi, terserah saja mereka mau mengimajinasikannya seperti apa.

CNN Indonesia | Adaptasi Buku Jadi Film | September, 2014 | by Karina Armandani


Pertama, kenapa sekarang banyak buku Anda yang diadaptasi ke film? Apa ini kemauan Anda sendiri atau gimana?

Sejauh ini saya tidak pernah berada di posisi yang menawarkan. Dan memang demikian praktik umum yang terjadi. Produserlah yang melamar buku untuk diadaptasi, bukan sebaliknya. Karena tentunya pertimbangan produser datang dari kacamata industri film, dialah yang akan berhitung prospek dari sebuah buku.

Kedua, setelah Perahu Kertas kemarin apa Anda merasa sudah puas dengan hasilnya? Sama juga dengan film-film lain yang diadaptasi dari buku Anda, puas tidak selama ini dengan hasilnya?

Bervariasi. Seratus persen puas mungkin hanya terjadi kalau saya sendiri memfilmkan, memproduseri, menulis, dan menyutradarai. Itu pun sebenarnya bukan jaminan. Perlu dipahami film itu beda banget dengan buku. Di Perahu Kertas saya terlibat cukup jauh, di situ saya baru belajar dan melihat bahwa banyak sekali kompromi dalam film, dan itu wajar, karena film adalah proyek rame-rame. Beda dengan buku yang cenderung soliter. Jadi sekarang saya berhenti membandingkan. Film ya film, buku ya buku.

Ketiga, Anda sendiri ikut proses produksi filmnya tidak, untuk memastikan cerita tidak melenceng? Sejauh mana keterlibatan di pembuatan film ini? Anda ikut memilih pemainnya atau tidak?

Untuk Supernova saya tidak ikut proses produksi. Produsernya, Sunil Soraya, sempat beberapa kali mengajak berdiskusi, termasuk soal pemain. Namun tentu keputusan terakhir ada di pihak produser, karena saya memang tidak bergabung secara formal sebagai pengambil keputusan. Saya sempat juga memberikan catatan-catatan untuk draf skenarionya. Tapi seperti apa perkembangannya sekarang, dan bagaimana jadinya nanti, itu saya lepaskan saja. Saya ingin jadi penonton saja nanti.

Lalu kenapa film-film yang diangkat dari buku Anda ini disutradarai dan diproduseri orang yang berbeda-beda? Apa Anda merasa tidak puas dengan pemahaman dari satu sutradara saja?

Sekali lagi, pemilihan sutradara dan produser bukan bergantung dari saya. Produser A datang, misalnya, karena tertarik pada buku saya yang B. Nanti produser lain lagi datang karena ketertarikannya dengan karya saya yang lain lagi. Saya tidak berada di posisi menawarkan. Dan, para produser biasanya sudah punya kalkulasi tersendiri untuk menunjuk sutradara, pemain, bahkan penulis naskah. Hubungan saya dengan mereka sebatas mereka membeli hak adaptasi buku. Itu saja. Terkecuali Perahu Kertas di mana saya memang berperan sebagai penulis skenario dan penulis beberapa lagu utama di soundtrack. Selebihnya saya hanya melepas hak adaptasi.


MeetDoctor E-Magazine | Pola Makan Sehat | September, 2014 | by Astrid MD

-->
Saya membaca di More (yang dikutip Kompas) bahwa Mbak Dee memulai pola makan vegetarian di tahun 2000 karena mencicipi masakan guru yoga Mbak Dee. Lalu, tahun 2006, saat Mbak Dee berada di Jogja, Mbak Dee pun menjadi vegetarian seutuhnya. 
Bisa diceritakan alasannya? 
Apa bagian terbaik dan terberat selama menjadi vegetarian?



Waktu itu alasan saya sebenarnya adalah lingkungan hidup. Industri peternakan adalah salah satu penyumbang besar pemanasan global, jadi kalau kita vegetarian, atau minimal mengurangi konsumsi daging, kita berkontribusi kepada Bumi. Yang berat waktu itu adalah penyesuaian rasa kenyang. Karena rasa kenyangnya beda, nggak berat di perut. Jadi saya sempat merasa kekurangan makan terus karena mencari rasa kenyang yang berat, hehe. Tapi, setelah terbiasa akhirnya porsi makannya kembali normal. Bervegetarian juga membuat saya belajar masak, karena memang nggak terlalu mudah untuk makan vegetarian di luar. Lebih gampang dan luwes kalau masak sendiri. Setahun terakhir saya tidak bervegetarian penuh lagi, hanya paruh waktu.

Adakah satu hari yang dijadikan sebagai “hari bebas”? Jadi, Mbak Dee bisa menyantap makanan seperti daging atau junk food atau bakso kampung mungkin?


Tergantung lagi menjalankan program makan seperti apa. Kalau lagi detoks ya benar-benar makan bersih selama periode waktu tertentu. Sehari-hari, saya sendiri nggak terlalu ketat menjatah pembatasan makan bersih dan makan bebas, pokoknya disadari saja kalau makan bebas jangan sampai kebablasan dan nggak sering-sering.


Mbak Dee, kepuasan apa yang didapatkan dari memasak?



Saya orangnya senang ngulik, dan buat saya adalah kepuasan ketika makanan-makanan enak yang tadinya cuma bisa disantap di restoran ternyata bisa saya buat sendiri di rumah. Saya senang mengulik resep dan kemudian berkreasi sendiri. Bagi saya, memasak itu kombinasi sains dan intuisi. Kegiatan yang sangat mengasyikkan pokoknya.

Kebanyakan orang beranggapan makanan sehat itu tidak enak. Nah, apa trik yang bisa Mbak Dee bagi untuk pembaca kami supaya makanan yang sehat rasanya pun lezat.



Yang paling penting kita tahu dulu aneka substitusi sehat yang bisa membuat masakan kita nggak kehilangan unsur-unsur yang membuat rasanya lezat. Seperti garam, pakailah garam Himalaya atau sea salt. Untuk gula, pakai gula kelapa atau sweetener seperti Stevia, Xylitol, atau sirup Yacon. Untuk minyak, saya pakai minyak kelapa atau macadamia untuk goreng, dan Extra Virgin Olive Oil untuk salad. Untuk penyedap, saya pakai penyedap jamur yang tanpa MSG. Kecap sekarang udah ada kecap dari kedelai organik, atau kecap koro yang non-GMO. Kalau butter, ada merk butter yang pakai susu dari sapi yang grass-fed (dan bukan pakan sintetis). Kalau bumbu-bumbu seperti itu sudah ketemu, sebetulnya kita bisa masak apa saja. Untuk sayur, telur, jamur, dan lauk-lauk, saya pilih sebisa mungkin yang organik. Dan karena saya sukanya masakan Indonesia, kalau ada program diet tertentu yang juklaknya orang bule yang bikin dan resepnya kebanyakan resep-resep western food yang nggak semuanya saya suka, saya coba ulik dari juklaknya untuk membuat masakan Indonesia.

Apa makanan favorit Keenan dan Atisha yang dibuat oleh Mbak Dee?



Keenan sudah nggak vegetarian, dia paling suka Nasi Goreng, Mie Goreng, Spaghetti Bolognaise, dan Sop Buntut buatan saya. Atisha suka Sup Pasta Sayur dan Singapore Fried Rice. Dua-duanya juga suka Pancake, Banana Strawberry Smoothies dan jus Pakchoy-Nanas.

Apa arti makanan bagi Mbak Dee?



Penyambung hidup dan kebahagiaan hidup.

Bisa dijelaskan efek positif yang didapat dari gaya hidup yang dijalani saat ini? Misalnya, untuk kesehatan fisik dan jiwa.


Saat ini sih saya merasa fisik saya lebih balans, jarang sakit, dan fit. Saya menemukan kepuasan batin dalam memasak dan menyiapkan makanan buat keluarga. Kalau ada hal yang sangat ingin saya promosikan adalah home made food. Dengan membuat makanan sendiri, kita bisa lebih mengontrol apa yang kita makan dan membuatnya lebih sehat. Memiliki resep sendiri dan mewariskannya kelak ke anak cucu buat saya juga punya nilai tersendiri.

Saran bagi pembaca kami yang ingin memulai menjalani gaya hidup vegetarian?

Saya sarankan untuk mencari referensi sebanyak-banyaknya, entah lewat buku, komunitas, atau riset di internet. Salah satu mispersepsi orang adalah kalau vegetarian berarti sehat, padahal belum tentu. Karena sebenarnya yang penting bukan absennya daging atau produk hewani dalam tubuh, tapi apa yang masuk ke dalam tubuh kita secara keseluruhan. Kalau cuma nggak makan daging tapi asupannya nggak berkualitas, sama saja jadi sumber penyakit. Milikilah wawasan gizi yang up-to-date, jadi kita nggak lekas percaya ilmu “katanya” dan sekadar ikut-ikutan tren tapi malas cari info. Risetlah dan buktikan sendiri.

Wawancara Tugas | Bhs Indonesia & Bhs Asing dalam Sastra | September, 2009 | by Billy Fadhila

-->
Apa yang menginspirasi Anda dalam membuat sebuah karya?

Apa saja. Saya tidak pernah tahu persis. Segala hal dalam hidup ini menurut saya bisa menginspirasi.

Apa yang membuat Anda memilih sebuah gaya bahasa dan kosa kata tertentu dalam karya Anda?

Saya senang kalimat yang iramanya liris, punya sedikit rima, dan enak diucapkan dan didengar. Gaya bahasa menurut saya lebih baik kalau tidak terlalu trendy supaya bisa lekang, tapi juga tidak terlalu kaku hingga aneh dan tidak realistis.

Apakah sah-sah saja menurut Anda jika mencampurkan bahasa asing dengan Bahasa Indonesia dalam sebuah karya sastra, mohon sebutkan alasan (contoh: judul novel Bahasa Inggris, isi Bahasa Indonesia)

Sah selama penempatannya sesuai konteks dan memang dibutuhkan. Setiap bahasa asing harus dicetak miring, jadi ikut aturan itu juga. Judul Bahasa Inggris selama memang konteksnya tepat silakan saja.

Menurut Anda apakah bahasa asing khususnya Bahasa Inggris di Indonesia, akan menyudutkan Bahasa Indonesia? Atau malah akan memperkaya kosa kata? (Jika ada alasan dan jawaban lain silakan disebutkan)

Bisa keduanya. Menurut saya itu bergantung kepada sistem pendidikan dan penyerapan teknologi dan informasi global. Bahasa Indonesia masih akan terus berkembang, walau Bahasa Indonesia menurut saya agak lambat dalam menyerap perkembangan bahasa secara global.

Di mana biasanya Anda menempatkan bahasa asing dalam karya sastra Anda (nama, isi, judul, dll)?

Pertama, kalau ada istilah teknis yang belum punya padanan dalam Bahasa Indonesia, terpaksa saya gunakan istilah aslinya dan dicetak miring. Kedua, dalam percakapan, kalau tokoh saya memang secara kontekstual berbicara dalam bahasa asing.

Di manakah biasanya Anda mendapatkan kosa kata asing yang Anda gunakan dalam karya Anda? (kamus, pengetahuan pribadi, kitab, dll)

Bergantung dari topik apa yang saya bahas. Kalau tentang sains, ya, dari buku-buku sains.

Bagaimana cara Anda menjadi tetap konsisten dalam memilih bahasa dan gaya bahasa dalam karya Anda?

Saya tidak berusaha konsisten soal itu, karena malah bisa membuat saya tidak berkembang. Saya hanya berusaha berkarya dengan baik. Gaya bahasa bukan hal yang prioritas bagi saya. Lebih penting substansi dari cerita. Gaya bahasa menurut saya akan mengikuti dengan sendirinya. Setelah menulis bertahun-tahun, tentu saya akan punya ciri sendiri tanpa harus lagi dengan sadar berusaha konsisten dengan gaya tertentu.

Bagaimana cara Anda menentukan khalayak pembaca Anda? Apakah ditentukan setelah atau sebelum membuat karya Anda? (Jika ada jawaban lain silakan disebutkan)

Saya tidak menentukan pembaca. Saya hanya menulis. Saya bisa membayangkan profil pembaca saya secara umum, tapi itu tidak pernah menjadi prasyarat saya berkarya.

Bagaimana Anda mendeskripsikan Anda dan karya-karya Anda dalam beberapa kata/kalimat?

Kontemplatif. Makna berlapis. Dalam tapi ringan.

Siapa yang biasanya membantu Anda dalam membuat karya?

Saya tidak punya asisten khusus. Saya hampir selalu bekerja sendiri. Kalau ada narasumber untuk buku tertentu biasanya bergantung kepada topik dan spesialisasi narasumber tersebut, tidak ada yang tetap.

Siapakah tokoh yang menginspirasi Anda dalam membuat karya? (baik dalam gaya penulisan, bahasa yang dipilih, dll)

Saya suka Sapardi Djoko Damono. Saya juga suka gaya esai Goenawan Mohamad.

Apa Anda memiliki waktu khusus dalam membuat karya (mis: /hari, /bulan, /tahun)?

Setidaknya satu buku dalam 1,5 – 2 tahun.