Friday, May 12, 2017

CosmoGirl Magz | Membaca Buku | Agustus. 2016 | Mariana Politton


Seberapa sering Anda membaca buku? Berapa buku yang biasanya Anda baca dalam sebulan?

Saya punya perpustakaan dan cukup sering membeli buku. Tapi, saya biasanya tidak menargetkan jumlah buku yang harus saya baca. Saya membaca tergantung kebutuhan. Kalau sedang riset atau tertarik pada satu topik, saya bisa membaca sampai sepuluh buku dalam sebulan. Tapi, kalau sedang santai, paling-paling satu sebulan, dan bisa jadi bukan buku baru, melainkan mengulang buku yang ingin saya baca lagi.

Buku apa yang terakhir Anda baca, dan apa pendapat Anda tentang buku tersebut?

Saya baru membaca buku terjemahan The Life-Changing Magic of Tidying Up oleh Mari Kondo yang baru saja diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Versi Bahasa Inggrisnya sudah lama saya miliki dan sudah berulangkali saya baca. Bagi saya buku ini sangat penting untuk dimiliki siapa pun, bahkan sayalah yang mendorong Bentang Pustaka untuk menerjemahkan buku tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.

Apakah Anda lebih memilih membaca buku atau karya sastra penulis dalam negeri atau luar negeri? Apa alasannya?

Untuk sastra, saya tidak membeda-bedakan penulis luar atau dalam negeri. Kalau memang  tertarik, akan saya beli dan baca. Tapi untuk buku-buku nonfiksi, karena kebanyakan topik yang saya suka tidak ditulis oleh penulis lokal, kebanyakan isi perpustakaan saya adalah karya penulis luar negeri.

Jenis buku apa yang lebih suka Anda baca: fiksi atau nonfiksi? Apa alasannya?

Nonfiksi. Membaca fiksi bagi saya lebih ke hiburan, atau sekadar memperkaya referensi gaya menulis. Sementara modus saya dalam membaca pada umumnya adalah mencari informasi. Saya mendapatkannya tentu lebih banyak dari buku nonfiksi. Akibatnya, koleksi saya lebih banyak nonfiksi ketimbang fiksi.

Siapa pengarang atau penulis buku favorit Anda saat beranjak dewasa?

Karena kebanyakan yang saya suka adalah nonfiksi, sementara jawaban pertanyaan seperti di atas ekspektasinya biasanya adalah penulis fiksi, jadi agak sulit saya jawab. Dari penulis nonfiksi, saya banyak mengoleksi buku-buku Richard Dawkins dan Graham Hancock. Namun, salah satu buku yang berkesan bagi saya saat mulai kuliah adalah kumpulan puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono, saya masih mengagumi isi buku itu hingga kini.

Apakah Anda punya pengalaman berkesan yang berhubungan dengan membaca suatu buku?

Tahun 1999 akhir saya membaca Conversation With God (buku yang nomor 2) oleh Neale Donald Walsch, dan momen itu mengubah hidup saya selamanya. Banyak pertanyaan saya yang terjawab sekaligus tercipta penelusuran baru yang sekaligus membuka gerbang-gerbang pemahaman baru, khususnya mengenai spiritualitas.

Buku apa yang Anda rekomendasikan untuk dibaca oleh generasi muda masa kini, dan kenapa?

Bagi saya membaca adalah pengalaman personal. Saya tidak punya buku rekomendasi. Tapi saya ingin sekali menganjurkan siapa pun untuk membaca apa pun yang mereka suka. Kita bisa memulai dari mana saja. Dari komik, dari teenlit, dari chicklit, dari buku sastra, dari buku nonfiksi, apa saja. Membaca adalah otot yang bisa terus berkembang jika kita latih. Untuk melatihnya yang penting adalah minat awal. Jadi, mulailah dari mana saja. Selera membaca akan terbentuk dan terbangun dengan sendirinya.

Apa pendapat Anda mengenai minat baca buku yang relatif rendah di kalangan generasi muda Indonesia? Menurut Anda, apa saja faktor yang menyebabkan hal tersebut?

Banyak faktor. Distraksi media sosial, harga buku yang tidak murah, dan juga kultur membaca yang memang belum berakar di masyarakat bertradisi lisan seperti kita. Buku bukan keperluan urgen bagi banyak orang. Informasi iya, tapi kini orang bisa mendapatkannya tidak hanya dari buku.

Apa saja yang ingin Anda lakukan untuk meningkatkan minat membaca buku di kalangan generasi muda Indonesia?

Terus melakukan apa yang bisa saya lakukan, yakni berkarya. Saya sering berbicara di kampus-kampus, dan pesan saya selalu sama, jadikan kegiatan menulis dan membaca itu seperti napas, tarik-embus, keduanya harus dilakukan agar seimbang. Kalau kita ingin memperkaya tulisan kita, ya, harus banyak membaca. Namun, tidak semua orang punya ketertarikan untuk menulis. Tanpa senang menulis, orang tetap bisa menikmati bacaan. Yang bisa saya lakukan adalah menulis sebaik mungkin sehingga moga-moga saya para pembaca yang membaca tulisan saya semakin tertarik untuk menggali informasi baru dan meneruskan ke bacaan lain.

Bisakah Anda memberikan kutipan yang mengajak pembaca CosmoGIRL agar lebih semangat dan lebih tertarik membaca buku?

Jika kita memberi asupan nutrisi kepada tubuh lewat makanan, maka membaca adalah cara kita memberi asupan nutrisi kepada pikiran dan batin. Sebagaimana tubuh memiliki otot yang bisa berkembang, membaca adalah otot yang harus dilatih agar pikiran berkembang.