Saturday, December 13, 2014

Cekidot Magz | Film Perahu Kertas | Agustus, 2012 | by Adriana Andang

-->Bagaimana perjalanan awal karier Dewi Lestari bisa menjadi penulis? Apakah sudah menjadi cita-cita dari kecil? 
Saya nggak bercita-cita menulis menjadi profesi, waktu kecil saya lebih terbayang menjadi musisi atau penyanyi. Tapi, saya memang sudah hobi menulis sejak kecil, dan membayangkan bahwa satu hari akan punya buku yang diterbitkan, walau tidak membayangkan bahwa menulis akan menjadi profesi saya. Cerita saya yang pertama kali dimuat di majalah adalah Rico De Coro yang dimuat di majalah Mode, tahun 1997.

Apa/siapa yang menjadi inspirasi Dewi Lestari saat menulis novel Perahu Kertas? 

Sudah saya jelaskan panjang lebar di Kata Pengantar dalam buku Perahu Kertas. Saya memang senang dengan format cerita serial, jadi sudah pengin membuatnya. Satu hari saya terusik dengan potongan lirik dari lagu Indigo Girls yang berjudul "Mystery", dan dari situ saya mendapat ide cerita untuk Perahu Kertas. 

Sewaktu mengalami lagi buntu nulis atau kehilangan inspirasi solusi dari Kak Dewi sendiri apa? 

Situasional saja. Kadang, yang terbaik adalah berhenti menulis dulu, tidak usah memaksakan, dan kembali lagi kalau sudah "segar". Kadang, saya mandi kalau lagi buntu. Kadang, membaca karya dair penulis lain bisa membantu. Saya rasa tidak ada solusi yang persis sama untuk setiap orang. Semua orang harus merasakan dan mencoba berbagai macam metode yang paling cocok untuk mereka masing-masing. 

Dari beberapa novel yang Kak Dewi tulis mana yang paling berkesan, kenapa? 

Semua buku memiliki kesan masing-masing yang berbeda-beda. Karena yang paling terakhir ditulis adalah Partikel, ya, sekarang rasanya yang paling berkesan adalah Partikel. Partikel adalah novel panjang pertama yang saya buat setelah memiliki dua anak. Dulu saya merasa tidak mungkin bisa menulis intensif kalau anak-anak saya masih kecil, tapi setelah melewati proses Partikel, akhirnya saya tahu bahwa itu mungkin dilakukan. 

Apakah ada perbedaan antara film Perahu Kertas yang akan tayang dan novel aslinya ? 

Pasti ada. Tidak semua detail dalam buku bisa dituangkan dalam film, kadang ada yang sudah tidak cocok lagi dengan format film. Yang jelas, spirit dan jalan cerita besarnya nggak berubah. Ditonton saja untuk diketahui mana perbedaan dan persamaannya. 

Menurut Kak Dee, peran Maudy Ayunda dan Adipati Dolken sudah sangat cocok dengan karakter Kugy dan Keenan yang di novel? 

Saya diajak konsultasi juga perihal casting, dan saya pikir merekalah pilihan terbaik yang kami miliki saat ini. 

Apakah ada hambatan dalam memilih pemeran yang cocok tersebut? 

Proses casting cukup lama dan sulit, karena banyak pihak yang harus dikonsolidasi, dan casting Perahu Kertas itu seperti orkestrasi. Berubah satu, maka semuanya terpengaruh. Jadi, akhirnya kami harus menetapkan satu karakter utama dulu, baru sisanya mengikuti dari sana. 

Bagaimana cara memilih judul buat tulisan agar buat orang tertarik ketika baru baca judulnya saja? Saran, dong. 

Membuat judul memang bukan perkara mudah, saya rasa intuisi dan juga kepekaan menjadi faktor penentu. Carilah sesuatu yang tidak membongkar isi cerita, tapi mengandung cukup misteri untuk mengusik rasa ingin tahu. Saya juga kurang suka judul panjang. Lebih singkat lebih bagus.


Bz! Majalah Komunitas Blogger | Blook: Dari Buku ke Blog | April, 2012 | By Meity Mutiara


Sempat menulis, kemudian menyanyi dan menulis lagi. Apa yang membuat Kak Dee memantapkan hati untuk menulis?

Sebetulnya sekuensnya nggak begitu. Awalnya saya nyanyi duluan. Dan setelah menulis, belum pernah berhenti menulis. Menyanyinya yang off, kecuali ketika bikin Rectoverso yang memang terdiri dari album dan buku. Menulis sendiri sudah hobi dari kecil, tapi baru tahun 2001 saya menerbitkan buku. Hingga kini saya menulis karena memang sudah hobi, dan tentu kini menjadi profesi. Dan bagi saya, menulis adalah profesi yang nyaman, karena memungkinkan saya lebih banyak di rumah.

Tentang Supernova yang banyak ditunggu, karena setiap sequence bikin penasaran fansnya. Terinspirasi dari apa/siapa setiap sequence Supernova?

Konsep untuk Supernova dan masing-masing serinya sudah ada sejak lama, saya susun dari tahun 2001. Jadi sekarang tinggal eksekusinya aja. Setiap buku menampilkan tokoh yang berbeda-beda, penelusuran yang berbeda-beda, dan penekanan topik/disiplin ilmu yang juga beragam. Benang merahnya adalah spiritualitas. Supernova merupakan kisah petualangan spiritual dari tokoh-tokohnya.

Loncat ke Perahu Kertas. Bagaimana akhirnya menyetujui Perahu Kertas untuk dilayarlebarkan? Apa harapan Kak Dee terhadap versi layar lebarnya ini mengingat terkadang banyak film adaptasi yang tidak memuaskan fans yang sudah membaca bukunya?

Sejak menulis manuskrip Perahu Kertas thn 1996, saya selalu membayangkan cerita itu sebagai motion picture. Dulunya sih kebayangnya sebagai serial teve, tapi jadi film pun saya oke. Jadi, ketika dulu penerbit Bentang datang untuk menawarkan diri menerbitkan Perahu Kertas, Mizan Production yang merupakan sister company dari Bentang sudah juga langsung menawarkan format film. Tentu saya sambut baik, karena memang itu cita-cita saya sejak lama. Risiko fans tidak puas tentu ada, tapi ya sudah terima saja. Menurut saya, tidak akan mungkin memuaskan semua orang karena masing-masing pembaca akan memiliki "film" versi masing-masing di kepalanya, yang bahkan mungkin berbeda dengan saya. Yang penting selama proses pembuatan Perahu Kertas, saya coba untuk terlibat sebisa mungkin dalam penentuan hal-hal penting semisal skenario, casting, dsb. Sejauh ini tim produksi Perahu Kertas pun sangat kooperatif untuk diajak diskusi.

Tentang blog Blog Dee Idea di 
http://dee-idea.blogspot.com/ , bisa cerita tentang blognya? Lalu apa guna blog, fanpage dan twitter buat seorang penulis seperti Kak Dee? 

Blog saya sebetulnya sudah lama nggak aktif karena saya kepingin ganti konsep, cuma belum sempat fokus ke sana karena setahun lebih ini menulis dan riset untuk Supernova Partikel. Buat saya, blog lebih seperti wadah untuk memuat ide yang tidak tertampung di buku. Sementara Twitter dan fanpage gunanya lebih untuk berkomunikasi dengan pembaca, memberikan informasi, dsb.

Bookopedia | Pertanyaan dari Pembaca | Maret, 2012

@felicia_hana: Bagaimana cara nulis dengan pemilihan kata yang minim tapi feelnya bisa terasa dan bikin orang senyum/nangis? 

Pertama, karakter tersebut harus merasuk dulu ke dalam batin kita. Jadi kita menulis dari sudut pandangnya, bukan semata2 sudut pandang kita pribadi. Kalau kita ikut senyum/nangis, kemungkinan besar pembaca juga akan merasa begitu. Jadi, kita sebagai penulis harus ikut hanyut. Pemilihan kata yg efektif terbentuk dari latihan, dari editing, hingga lama-lama jadi kebiasaan/skill.  

@DeltaYordani: Adakah keinginan untuk membuat suatu tempat/organisasi untuk membuat anak-anak indonesia gemar baca? 

Saat ini belum. Dan untuk yang gemar baca sudah cukup banyak organisasi/individu yang membuat wadahnya. Pelatihan menulis masih sedikit. Tapi saya belum punya cukup keleluasaan waktu dan fokus untuk membuat wadahnya. 

@tottilicious79: Buku mana yang penulisannya paling menguras energi dan emosi? 

Supernova 4, Partikel. Sejauh ini, ya. Nanti-nanti nggak tahu :) 

@YolandaHul: Bagaimana cara supaya mood buat nulis lagi, di saat kita malas nulis? 

Bikin deadline. Kalau sudah merasakan menulis dan diterbitkan, kita akan tahu sendiri bahwa mood tidak menjadi prasyarat mutlak untuk bisa menulis. Yg menjadi penggerak mutlak adalah ketika kita HARUS menulis. Kalau belum ada pihak yang memberi deadline, bikinlah sendiri, dan coba patuhi. 

@RMDalvin: Ada minat buat novel horor atau thriller, nggak? Terus berkarya dalam karya tulis atau ingin pindah ke yg lain? 

Untuk genre horor dan thriller, jujur saya belum kepikir. Mungkin karena minat saya memang bukan di sana. Genre lain yang mungkin saya jelajahi adalah nonfiksi dan buku anak.  

@Amel4thegunner: Pernah mengalami jatuh bangun selama menjadi penulis? Pernah punya keinginan ‘duet’ nulis sama penulis luar, kalau iya, sama siapa? 

Jatuh bangun amat sering. Sepertinya seluruh perjalanan karier menulis terbentuk dari yang namanya jatuh bangun. Duet penulis susah diwujudkan, karena itu seperti menggabungkan dua semesta tanpa konduktor. Beda dengan duet musik. Ada produser yang menengahi. Sejauh ini saya nggak punya cita-cita ke arah sana. 

@esvandiarisant: Andaikan Tuhan mengambil kemampuanmu menulis, apa yang akan kamu lakukan? 

Tetap hidup. Entah jadi apa, but I'll survive. 

@destiimnida: Setelah Perahu Kertas, cerita apa lagi yang mau diangkat ke layar lebar? 

Rectoverso, Filosofi Kopi, dan ada beberapa kemungkinan judul lain, tapi belum bisa saya kasih tahu. 

@NanaGensai_asl @FhilyAnastasya @arsachputri: Apa kiat-kiat untuk menjadi seorang penulis yang hebat sperti Mbak? Punya tips buat penulis pemula yang nggak pede ngirim karyanya ke penerbit atau self-publishing? 

Sering berlatih, sering gagal, dan tidak jera mencoba lagi. Nggak pede hanya bisa disembuhkan oleh yang bersangkutan. Self-publishing saat ini sangat dimungkinkan, yang penting punya modal. Sekarang sudah ada wadah seperti @NulisBuku yang memungkinkan para penulis menerbitkan sendiri. Bikin jalur sendiri juga bisa. Kuncinya, punya modal dan siap kerja keras.  

@hyukiein: Bagi Kakak lebih enak jadi penyanyi atau penulis, sih? 

Sejauh ini lebih enak jadi penulis. Saya bisa kerja dari rumah, nggak perlu make-up, nggak perlu hair-do, nggak perlu stand-by seharian nunggu syuting/manggung. Dan menulis adalah profesi yang nggak kenal umur. Sampai tua saya bisa terus produktif. 

@arsachputri: Gimana sih Mbak menciptakan karakter yg menarik kayak Kugy di Perahu Kertas? Gimana caranya supaya novel/cerpen endingnya nggak ketebak sama pembaca, Mbak? 

Karakter adalah segalanya. Kalau tidak bisa membuat karakter yang menarik dan mengikat, kemungkinan besar cerita tersebut akan gagal. Menyusun plot itu seperti exercise. Kita susun seperti puzzle. Yang lebih penting sebetulnya bukan nggak ketebak, tapi menarik. Bisa ditebak asal bagus juga nggak apa-apa, daripada nggak ketebak dan tidak bagus. 

@samunifu: Punya pengalaman apa yang tidak terlupakan tentang “janji”? 

Saat ini nggak ada yang ingat. 

@lucylucuu  @erma_pd @rabiaedra @diraasjingga: Adakah penulis idola kamu? Siapa? Apa alasannya? Apa/siapa inspirasi/inspirator terbesar Dee? 

Kalau dari sosok penulis sih nggak ada. Inspirasi terbesar saya adalah alam ini sendiri. Tidak ada inspirator tunggal. 

@T_jacks17: Mengapa Anda memilih Madre sebagai judul buku di karya ketujuh Anda? 

Karena Madre dari segi kuantitas halaman adalah cerita yang paling mendominasi dari kumpulan cerita tersebut.   

@mygsftri: Menurut Kakak menulis itu apa, sih? 

Salah satu cara homosapien berkomunikasi.

Friday, December 12, 2014

Batam Pos | Partikel & Kepenulisan | Juni, 2012 | by Hasan Aspahani


Baiklah, saya ingin mulai dengan satu pertanyaan. Semacam konfirmasi saja, dari petikan Milan Kundera. Dia bilang, "Spirit novel adalah spirit kontinuitas: setiap karya adalah jawaban karya terdahulu; setiap karya mengandung pengalaman novel sebelumnya." Saya kira yg dimaksud Kundera, selain novel yang kita tulis sendiri, adalah juga karya penulis lain yang kita baca. Secara sengaja, atau tidak sengaja, spirit karya siapakah yang Anda "lanjutkan"? Atau Anda tak setuju dan tak peduli pada Kundera tadi?

Sepertinya pendapat saya senada, walau tak persis sama. Saya sendiri percaya bahwa pengetahuan yang kita miliki, demikian juga opini dan persepsi, sesungguhnya merupakan "kain perca" yang terdiri dari pecahan pengetahuan, opini, dan persepsi orang lain yang kita baca, dan seterusnya. Jadi, segala ide yang dimiliki oleh setiap orang selalu merupakan kontinuitas dari ide-ide yang hadir sebelumnya. Supernova, bagi saya pribadi, adalah bukti nyata dari kenyataan itu. Dia adalah karya yang organik, yang tumbuh bersama dengan penulisnya. Tidak ada pemikiran maupun karya tunggal yang saya teruskan, melainkan banyak karya dari banyak penulis. Agak sukar saya sebutkan terperinci satu demi satu. Untuk contoh saja, novel terbaru saya "Partikel", mengusung pemikiran Dr. Birute Galdikas, Graham Hancock, Andrew Collins, Terrence McKenna, Albert Hoffman, dan masih banyak lagi yang karya-karyanya menjadi bahan riset saya. 

Tanpa mengabaikan Filosofi Kopi, Perahu Kertas, Madre dan Rectoverso (yg terakhir ini satu-satunya karya Anda yang belum saya baca), empat seri Supernova menunjukkan kelas Anda sebagai novelis. Apa dan atau siapa yang membuat Anda menulis? Saya curiga jangan-jangan Anda menulis karena muak dengan novel-novel yang pernah Anda baca? Semacam wujud kemarahan 'hei, begini seharusnya sebuah novel ditulis!'?

Cukup tepat, sebetulnya. Walaupun energi yang muncul bukan kemarahan, melainkan gemas dan penasaran. Topik-topik yang selama ini saya angkat di Supernova adalah topik-topik yang selalu mengusik rasa ingin tahu saya, dan sangat minim diangkat dalam pustaka Indonesia. Setidaknya sejauh yang saya temukan. Karena itulah, saya setuju benar dengan apa yang dibilang penulis Amitav Gosh: "Tulislah buku yang ingin kita baca." Ketika saya mendengar kalimat tersebut, rasanya itu merangkum semua yang saya lakukan selama ini. Baik di bidang musik maupun sastra. Saya semata-mata menulis buku yang ingin saya baca, dan membuat musik yang ingin saya dengar.

Menelisik empat seri Supernova, saya yakin banyak sekali perjalanan yang harus Anda lakukan untuk novel-novel Anda. Pertanyaan saya, perjalanan itu Anda lakukan mengikut rancangan kisah dalam novel Anda atau sebaliknya, Anda bepergian saja ke berbagai sudut dunia, lalu dari sana tumbuh gagasan-gagasan, tokoh-tokoh dalam cerita Anda?

Sayangnya, tidak banyak perjalanan fisik yang saya lakukan. Sungguh, saya amat berharap bisa mengunjungi tempat-tempat yang saya tulis. Kenyataannya, sebagian besar tempat tersebut belum saya kunjungi langsung. Tapi, saya merasa dianugerahi bakat untuk menulis dengan cukup meyakinkan, hehe. Menurut saya itu tergantung angle dan porsi deskripsi yang tepat. Tanpa terlalu berlebihan membeberkan, atau terlalu minim deskripsi. Jika pas, maka pembaca akan merasa mereka berada di sana, dan imbasnya mereka juga ikut percaya bahwa saya pasti pernah berada di sana. Plot saya selalu berjalan sesuai dengan kebutuhan gagasan yang ingin saya sampaikan ke pembaca. Jika gagasan tersebut kemudian membutuhkan perjalanan tertentu, ya, akan saya buat. Terlepas saya pernah melakukan perjalanan yang sama atau tidak. Sering kali juga cerita bertumbuh saat ditulis. Kalau tiba-tiba tokoh saya butuh kedalaman psikologis tertentu, dan untuk itu dia  harus melakukan perjalanan ke satu tempat atau bertemu karakter yang spesifik, ya, akan saya ciptakan.

Bagaimana Anda menemukan atau menciptakan tokoh dalam cerita Anda, memilih dari (saya yakin ada) sekian banyak, mengembangkan karakternya, menjaga konsistensinya, dan nanti bagaimana menghabisi mereka? Adakah tokoh yang merupakan "pecahan" dari diri Anda? Atau diri Anda yang Anda inginkan seperti karakter cerita Anda tersebut?

Ketika sudah ditulis, sejujurnya saya tidak bisa lagi membedakan. Kadang-kadang dengan sadar dan sengaja saya mencomot orang-orang di sekeliling saya, yang saya kenal baik atau cuma kenal sekilas, atau bahkan hanya fisiknya saja tanpa saya kenal sama sekali. Namun, kadang-kadang proses itu sudah tidak disadari lagi. Pastinya ada bagian-bagian diri saya yang masuk ke dalam karakter, tapi tidak pernah seutuhnya. Bagi saya, itu otobiografi terselubung, dan bukan itu saya inginkan dalam fiksi-fiksi saya. Sama seperti plot, tokoh pun bertumbung seiring dengan ditulisnya cerita. Kadang ada yang tiba-tiba jadi antagonis, padahal niat awal saya tidak demikian. Hanya ketika ditulis, secara intuitif saya merasa tokoh tersebut harus membuat "twist". Ada juga tokoh yang di rencana awal saya hanya jadi pelengkap, tapi ketika ditulis mendadak dia punya dimensi menarik yang akhirnya menuntut saya untuk memperbesar porsinya. Kejutan-kejutan seperti itulah yang membuat proses menulis menjadi sangat menarik dan seru.
  
Ini teknis, saya yakin Anda mewawancarai banyak orang-orang untuk novel-novel Anda, seperti jurnalis untuk sebuah liputan investigasi. Atau lebih daripada itu. Bagaimana Anda mengatur hasil wawancara itu: data, foto-foto (yang tak akan ditampilkan di novel), rekaman, juga kesan-kesan yg terekam di hati. Anda mencicil pekerjaan menulis Anda? Atau menumpuknya untuk dituntaskan setelah mengaanggap semua bahan telah cukup?

Ya, karena saya tidak punya banyak kesempatan untuk mengunjungi berbagai macam tempat secara langsung, akhirnya saya banyak melakukan wawancara. Saya tidak pernah persis tahu apa yang saya butuhkan untuk cerita hingga tiba waktu menuliskannya. Saya paling hanya terbayang garis besarnya saja. Untuk itu saya selalu bertanya sebanyak-banyaknya. Untuk mengetahui sebuah tempat, misalnya, saya bertanya sampai ke rasa udaranya bagaimana, lembap atau kering; air di sana bagaimana, jernih atau keruh; bagaimana rupa pepohonan dan tetumbuhan di sana, dsb. Untuk riset pustaka kurang lebih begitu juga, saya baca sebanyak-banyaknya. Satu buku bisa mencabangkan saya ke banyak buku lain, dan saya cerap saja semua informasinya di memori. Begitu tiba saatnya saya menulis, biasanya pengetahuan tersebut akan terseleksi, mana yang dituangkan dan mana yang tidak. Untuk Partikel, saking sudah lamanya saya mengumpulkan materi, saya harus membuat outline dulu. Berdasarkan panduan plot tersebut, maka dipilihlah informasi yang sekiranya menunjang cerita. Tapi, tentu pada pelaksanaannya proses tersebut berjalan organik dan banyak unsur spontanitas.

"... Supernova hanya menjamin satu hal: perubahan cara pandang kita terhadap dunia akan berdampak besar pada dunia, melampaui apa yang bisa kita bayangkan." Ini petikan dari "kredo" Supernova. Saya melihat itu tersirat amat sublim dalam empat rangkaian karya Anda: ajakan untuk lebih arif, mengubah cara pandang, melihat dunia dgn cara yg lebih luas. Sejauh mana ajakan itu disambut oleh pembaca Anda?

Saya tidak pernah mengadakan riset atau polling resmi jadi tidak bisa menjawab secara pasti, hehe. Yang jelas, dari apa yang disampaikan pembaca saat kami bertemu, atau via internet, media sosial, dan lain-lain, banyak yang merasa hidupnya ikut diubah karena membaca buku-buku saya. Kadarnya sudah pasti berbeda-beda. Dan tentu bukan saya yang mengubah hidup seseorang secara langsung, melainkan persepsi merekalah yang kemudian bergeser atau berubah akibat apa yang mereka baca. Itu juga apa yang saya sebut di Supernova, bahwa cara pandang kita terhadap hidup otomatis mengubah hidup kita. Life is all about perception.

Apakah sejak awal memang Supernova dirancang jadi enam seri? Kenapa enam? Anda menyisakan dua seri lagi. Sekarang kalau boleh buka rahasia sebagai pengarang, apakah Anda sudah punya cara menutup rangkaian serial ini?

Sebetulnya mengapa Supernova menjadi enam adalah perkembangan yang terjadi ketika proses menulis berjalan. Sejujurnya, konsep awal saya adalah tiga buku. Trilogi. Buku kedua akan bercerita tentang 4 tokoh baru yakni: Akar, Petir, Partikel, dan Gelombang. Namun, ketika saya mulai menulis Bodhi, saya sadar bahwa materi Bodhi sendiri volumenya sudah cukup untuk satu buku. Dan untuk menjaga konsistensi, maka ketiga teman lainnya pun juga harus masing-masing ditulis dalam satu buku. Akhirnya episode kedua berubah menjadi empat buku. Dan yang tadinya trilogi menjadi heksalogi. Bagaimana saya menutupnya? Saya sendiri tidak tahu persis, hehe. Sudah ada bayangan, tapi sifatnya masih sangat cair, jadi masih bisa berubah walaupun saya sudah punya ancer-ancer. Untuk sementara ini saya rasa lebih baik soal penutup dibiarkan menjadi misteri.

Baluran sains dalam karya Anda sebenarnya berpotensi untuk bikin "tidak laku". Pembaca kita tak akrab dgn isu-isu sains, bukan? Ini saya kira pertaruhan besar di edisi awal Supernova. Dan Anda memenangkan pertaruhan itu. Keberhasilan itu apakah kemudian ini ada pengaruhnya dalam proses penulisan serial berikutnya?

Memang awalnya saya sendiri tidak peduli buku itu akan laku atau tidak. Saya menulis Supernova untuk kado ulang tahun saya yang ke-25, jadi menghadiahi diri sendiri. Saya sudah senang menulis sejak kecil, dan sering berkhayal bahwa satu saat akan punya buku sendiri. Saya menerbitkan Supernova untuk memenuhi impian itu. Waktu itu, saya nggak peduli apakah 7000 buku yang saya cetak itu akan habis dalam setahun atau sepuluh tahun. Topik sains dan spiritualitas memang menjadi ketertarikan saya. Namun, saya tidak mengulang sains di Akar karena memang kebutuhan cerita Bodhi tidak ke sana arahnya. Demikian juga pada Petir. Baru pada Partikel, unsur sains muncul kembali. Jadi, ciri khas Supernova memang bukan pada sainsnya, melainkan penelusuran spiritualnya.

Apakah Supernova sekarang jadi beban atau berkah bagi kepengarangan Anda? Maksud saya, ketika nanti Anda merencanakan menulis karya lain diluar rangkaian Supernova.

Saya sudah menulis karya lain selain Supernova sejak 2006, melalui Filosofi Kopi. Dan sesudah itu saya mengeluarkan tiga buku lain yang juga tidak dalam rangkaian Supernova. Jadi, isu tersebut sepertinya sudah tidak relevan. Waktu akan merilis Filosofi Kopi memang sempat deg-degan, karena itulah kali pertama saya menulis di luar dari Supernova. Namun, ternyata sambutannya cukup baik. Malah Filosofi Kopi menjadi lima besar di Khatulistiwa Award dan menjadi karya sastra terbaik tahun 2006 pilihan majalah Tempo. Saya, sih, tidak ada beban untuk berkarya apa pun. Cuma saya nggak tahu apakah akan menulis serial sejenis Supernova lagi atau tidak.

Thursday, December 11, 2014

Ayah Bunda | Minat Baca Anak | Februari, 2010


Sebagai penulis, sejak kapan Dee mengenalkan bacaan kepada anak? (khususnya Keenan, yang sudah jauh lebih besar dari Atisha). Dan bagaimana penerimaan Keenan terhadap hal ini?

Saya membiasakan suasana membaca dulu, jadi terlepas Keenan mengerti atau tidak, saya membuat rutinitas membaca buku cerita sebelum tidur, dan itu menjadi sebuah asosiasi “kebersamaan” bagi Keenan. Saya memulainya dari Keenan umur 1 tahun. Di samping itu, saya memang sudah mengajarkan Keenan membaca dari umur 1 tahun menggunakan flash card.

Buku/bacaan apa yang pertama kali Dee kenalkan kepada anak-anak?

Buku-buku cerita yang edukatif. Saya banyak menggunakan buku-buku produksi Tiga Raksa.  

Apa ide Dee untuk menumbuhkan minat baca pada anak-anak?

Membuat membaca dan suasana membaca menjadi kegiatan yang nyaman dan menenteramkan. Membuat sudut buku di mana buku-buku mudah untuk mereka raih dan mereka lihat kapan saja.

Apakah Dee dan Reza menciptakan satu rutinitas khusus untuk membaca dalam keluarga?

Biasanya setiap malam sebelum tidur.

Jenis bacaan seperti apa yang Dee/Reza/Keenan suka? Mengapa? Dan apa buku favorit Dee sekeluarga?

Kalau buku sih saya perkenalkan yang sesuai dengan umurnya saja. Waktu Keenan lebih kecil, bukunya lebih sederhana, teksnya sedikit. Ketika dia sudah lebih besar (4-5 tahun) bukunya juga sudah lebih kompleks. Ceritanya mulai panjang, gambarnya juga lebih kaya. Favorit kami adalah serial Winnie The Witch.

Apakah Dee berencana menerbitkan novel lagi setelah Perahu Kertas? Dan apakah mbak tertarik untuk menulis buku anak-anak?

Setelah Perahu Kertas, pe-er saya masih banyak, antara lain menamatkan serial Supernova. Jadi proyek menulis saya masih banyak. Menuliskan buku anak-anak adalah cita-cita besar saya, tapi sepertinya baru akan dilaksanakan setelah pe-er fiksinya (dan non-fiksi) selesai semua dulu.

Menurut Dee, bagaimana bacaan anak-anak yang sudah ada sekarang ini? Apakah sudah cukup memberikan apa yang seharusnya diketahui oleh anak-anak?

Menurut saya, bacaan anak-anak sudah sangat banyak, beragam dan bagus-bagus. Isinya juga informatif. Dan yang lebih menarik lagi, sudah banyak ilustrator-ilustrator lokal yang karyanya juga tak kalah dibandingkan ilustrator luar. Produksi bukunya, kualitas cetakan, dsb, juga nggak kalah.

Wednesday, December 10, 2014

Ayah Bunda | Vaksinasi | September, 2011


Apa pemahaman Mbak tentang imunisasi?
Bagaimana pendapat Mbak bila ada orangtua yang tidak ingin mengimunisasi anaknya? Apa yang menjadi alasannya menurut Mbak? Apakah jumlah mereka sudah banyak di Indonesia?
Bila Mbak – mohon maaf bila salah – juga berniat untuk tidak mengimunisasi anak Mbak, apa yang menjadi alasan Mbak? Lalu, apa yang Mbak lakukan agar anak Mbak tidak terjangkit penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi?
Bila kebetulan anak sakit, termasuk sakit yang bisa dicegah dengan imunisasi, tindakan apa yang akan Mbak lakukan atau bagaimana menyikapinya?

Saya tidak anti vaksinasi, tapi saya mendukung perilaku konsumen medis yang mempelajari dengan benar risiko dan kandungan yang terdapat pada vaksinasi tersebut, baru kemudian memilihnya dengan sadar.  Yang kurang berkenan bagi saya, adalah perilaku membeo ikut arus vaksinasi hanya karena mayoritas orangtua yang lain melakukannya, tanpa mempelajari sendiri riset yang ada, tanpa berkonsultasi pada intuisi kita sendiri sebagai orang tua.
Imunisasi tidaklah bebas risiko bagi tubuh anak, meskipun dinyatakan aman oleh beberapa pihak. Jika setelah dipelajari plus-minusnya, kita cek intuisi kita, dan kita menyimpulkan vaksinasi tersebut diperlukan bagi sang anak, maka silakan diteruskan. Kalau kesimpulan kita ternyata tidak, maka tidak usah dipaksakan. Intinya, kita harus lebih kritis dan hati-hati.
Sistem kekebalan tubuh punya kekuatan alamiah yang luar biasa, selama kita menjaga hidup yang sehat lewat nutrisi, olahraga, keseimbangan mental emosional. Perlindungan vaksinasi, yang bersifat imunitas buatan, tidak pernah juga efektif 100% dan jangka waktu perlindungannya pun terbatas.  Jadi, pada intinya pencegahan penyakit tetap harus dari gaya hidup sehat secara keseluruhan, tidak hanya mengandalkan vaksinasi saja.
Saya dan keluarga memilih untuk mengobati secara alami terlebih dulu. Penyakit bukanlah sesuatu yang selalu harus diperangi dengan segala cara, dan tubuh sudah punya kecerdasan alamiah untuk menyembuhkan diri. Cuma karena kita terlalu terbiasa menyikapi sakit dengan reaksi ketakutan, jadi muncul gejala sedikit kita sudah cekoki berbagai obat, yang belum tentu ramah untuk tubuh.
Saya dan suami memutuskan untuk tidak memvaksinasi Atisha karena kami justru ingin daya tahan tubuhnya berkembang maksimal tanpa intervensi yang terlalu dini. Sejak kelahirannya dengan metode gentle birth di rumah, hingga sekarang di usianya hampir 15 bulan, sistem imun Atisha keliatannya cukup kuat, jarang sekali sakit, dan belum pernah diberi obat medis apa pun sama sekali. Bila anak kami sedang kurang sehat, biasanya diterapi di rumah dengan pijat dan homeopati saja, serta tentunya ASI bagi Atisha.
Jika suatu hari, kami merasa imunisasi diperlukan, kami akan memilih vaksinasi homeopati yang berdasarkan riset, jauh lebih aman ketimbang vaksinasi alopati (riset dokter Isaac Golden). Untuk referensi tentang imunisasi yang aman, kami mempelajari antara lain: buku-buku & riset Sherri Tenpenny, MD (www.drtenpenny.com), film dokumenter Vaccine Nation – Gary Null, selain itu informasi mengenai vaksinasi juga banyak di internet. Bagi saya sudah menjadi tanggung jawab orang tua untuk menggali informasi tersebut, dan tidak hanya mengandalkan “kata orang”, atau informasi dari satu dokter saja. Opini mengenai vaksinasi tidak berarti bebas bias, jadi yang lebih penting, kita juga cek intuisi kita sebagai orang tua.

Area Magz | Rubrik Hotseat | September, 2011

Alasan menghadirkan buku kumpulan cerita Madre? 

Untuk membuat kumpulan cerita, butuh waktu tahunan bagi saya mengumpulkannya, karena saya menulis cerpen itu biasanya insidental. Beda dengan novel. Sejak Filosofi Kopi dan Rectoverso rilis, saya sudah punya lagi "tumpukan" karya pendek dalam kurun waktu 2006-2011, yang setelah saya hitung-hitung, volumenya cukup untuk membuat kumpulan cerita. Jadilah Madre. 

Menyoal cerita Madre, ada latar belakang apa yang membuat Anda tertarik dengan roti? Ada riset khusus yang dilakukan? 

Beberapa tahun terakhir saya hobi memasak, juga baking. Ingin sekali menulis tentang dunia memasak. Ide baru muncul ketika saya ikut kursus bikin roti, di sana saya dapat informai tentang ragi instan vs adonan biang. Seketika saya tertarik. Dan setelah saya riset, ternyata memang ada dimensi cerita yang saya bisa gali dan kembangkan dari sana.   

Kopi sudah. Kini roti. Anda sedang tertarik dalam wacana kuliner? 

Sejak dulu, sih. Kuliner selalu jadi minat saya sejak kecil. Cuma memang baru intensif saya lakukan ketika sudah berumah tangga.   

Madre jadi buku kumpulan cerita ketiga selain Filosofi Kopi dan Rectoverso. Dari Anda sendiri, ada alasan tersendiri menghadirkan buku kumpulan cerita selain novel?   

Seperti jawaban nomor 1 di atas, secara insidental saya cukup sering membuat karya pendek, baik itu cerpen maupun prosa. Otomatis peluang untuk membuat kumpulan cerita jadi ada. Saya ini kan penulis, bukan cuma novelis, hehe, jadi berkaryanya bukan hanya dalam bentuk novel.  

Cerita yang beragam. Buku ini menjadi ajang luapan segala unek-unek Anda atas segala tema, mulai dari cinta, hubungan ibu dan janinnya, tuhan, dan lainnya. Sengaja untuk tidak mengkhususkan pada satu bahasan? Ada alasan menghadirkan sejumlah sajak dalam buku ini? 

Seperti yang saya jelaskan tadi, menulis cerpen/karya pendek lainnya bagi saya insidental, tema apa yang menginspirasi saya pada momen itu, ya itulah yang saya jadikan tulisan. Baik itu cerpen atau prosa (atau yang disebut di pertanyaan sebagai sajak). Jadi tentunya tidak ada frame work untuk menyambungkan semuanya dalam satu tema, karena proses penulisannya tidak seperti itu. 

Jujur saja, menurut saya, cerita yang Anda hadirkan sederhana. Tokoh yang diciptakan sederhana. Tapi kenapa Anda selalu berhasil membuat kejutan dan membikin penasaran. Menurut Anda sendiri apa kunci keberhasilan Anda? 

Sejujurnya, saya sendiri nggak tahu persis apa kuncinya. Saya selalu percaya tidak ada rumusan baku di balik keberhasilan sebuah buku. Rumus dasar saya dalam berkarya cuma satu: menulis buku yang ingin saya baca. Mungkin apa yang ingin saya baca atau temukan dalam sebuah buku ternyata juga menjadi pencarian bagi banyak orang. Mengenai "sederhana" tadi, bagi saya justru keindahan lebih banyak bisa kita dapatkan dari hal-hal yang sederhana. Jadi faktor kejutan atau penasaran bukan ditentukan oleh sederhana/tidak, tapi seberapa kuat cerita itu bisa mengikat pembaca. 

Harus diakui, keberhasilan buku satu menyulut tuntutan keberhasilan di buku-buku selanjutnya.  Pembaca setia selalu menanti kejutan dari Anda. Bagaimana Anda menyikapi situasi ini? Bagaimana menghadapi pembaca-pembaca Anda yang over-expectation? 

Saya dengarkan, kadang dijadikan pertimbangan, sekaligus evaluasi. Tapi saya nggak pernah menjadikan keinginan pembaca sebagai benchmark dalam berkarya. Seperti yang saya bilang tadi, pada dasarnya saya hanya ingin menulis buku yang ingin saya baca. Dalam posisi tersebut, saya menjadikan diri saya sebagai pembaca: apa yang ingin saya cari dari sebuah buku, metafora seperti apa yang bisa menyentuh saya, dsb, itulah yang saya terapkan dalam semua karya saya. 

Kenapa memilih menulis? 

Bagi saya yang utama adalah bercerita. Saya bercerita lewat tulisan dan lagu. Barangkali inti dari semua itu adalah dorongan untuk ingin berbagi. Menulis hanyalah saluran atau cara yang pas bagi saya.  

Dalam proses kreatif penulisan, utamanya berkenaan dengan tema ilmiah dan historis yang kerap Anda ungkap, riset menjadi proses terbesar dan terpenting yang melatari kelahiran buku-buku Anda. Apa yang biasanya Anda lakukan? Apa kendala yang dihadapi? 

Riset pustaka, wawancara, riset internet, dan apa pun yang bisa membantu saya menggali sebuah tema. Yang paling besar tentunya adalah riset pustaka alias baca buku. Kendala saat ini adalah waktu. Banyak yang saya perlu urus di rumah, terutama anak-anak, jadi harus lihai mencuri-curi waktu, dan realistis bikin target biar nggak terlalu ngoyo. 

Di balik semua perdebatan, berkat Supernova Anda didaulat sebagai pengusung sains fiction. Adakah gelar tersebut menjadi beban dalam proses penulisan Anda selanjutnya? 

Saya nggak pernah setuju dengan penyebutan Supernova sebagai science fiction. Genre science fiction yang saya tahu itu nggak seperti Supernova. Dalam science fiction ada realitas yang diolah dan dimanipulasi dengan sains, sementara di Supernova yang ada hanyalah tokoh yang kebetulan suka sains. Jadi sudah beda definisi sebetulnya. Tapi mungkin karena saat itu nggak ada lagi cerita lain yang ada unsur sains, jadi dengan ringannya Supernova dikategorikan sebagai science fiction.  

Menulis buku (cerita pendek atau panjang) sedianya memiliki tantangan. Anda sendiri, kala menulis novel atau cerita-cerita pendek, tantangan apa yang dihadapi? 

Dalam cerita pendek yang menjadi tantangan adalah plot, bagaimana kita bisa membuat grafik cerita yang bagus dan dinamis dalam ruang yang ketat. Begitu juga dalam membentuk karakter, dengan cepat kita harus membuat pembaca mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh utama. Kita punya waktu panjang untuk itu dalam novel, tapi dalam cerpen efisiensi harus kita perhitungkan dengan matang. 

Apa yang menjadi tolok ukur keberhasilan Anda dalam menulis? 

Pertama, jika saya puas dengan hasilnya, bisa terbawa suasana oleh ceritanya, dan bisa sejiwa dengan karakter-karakternya. Kedua, jika ada pembaca yang juga merasakan sama.

Apa proyek selanjutnya? Buku atau musik? 

Supernova 4 yang berjudul Partikel.  

Bagaimana dengan urusan tarik suara dan menulis lagu? Masih berhasrat menyalurkan talenta tersebut dalam album? 

Masih, tapi tidak sekarang. Saat ini saya ingin fokus dulu membesarkan anak-anak, apalagi yang bungsu belum genap dua tahun. Musik itu lebih demanding ketimbang menulis karena ada jadwal promo yang lebih padat serta melelahkan. Bagi saya hal itu nggak realistis untuk saya kejar saat ini.  

Banyak orang bisa menulis. Banyak yang bisa menerbitkan buku. Banyak juga yang sekadar one-hit-wonder lantas hilang. Bagaimana tanggapan Anda dengan penulis-penulis yang demikian? Faktor apa yang menjadi aral? 

Banyak faktor. Bisa jadi mentok di ide, bisa jadi tertarik pada karier lain sehingga nggak ada lagi waktu untuk menulis, bisa jadi juga persaingan dalam industri. Hal seperti itu selalu terjadi dalam berbagai industri. Ya menulis, ya musik. Seleksi alam selalu ada. Saya sih yang penting industrinya yang tetap maju dan sehat supaya bisa terus men-support penulis-penulis baru, memapankan penulis yang sudah established, dan terus mengembangkan pembaca. 

Selebritas, popularitas, musik, buku, keluarga, anak-anak, dan lain-lain. Masih ada impian yang ingin diraih? 

Kursus merangkai bunga. Dari dulu belum kesampaian.  

Menyoal teknologi komunikasi digital dan social media. Bagaimana perannya dalam mendukung kreatif Anda dan pemasaran karya Anda? 

Untuk pemasaran, promosi, dan interaksi dengan pembaca, social media sangat membantu, khususnya Twitter. Namun untuk proses kreatif, bisa jadi pedang bermata dua. Terkadang saya terbantu juga oleh masukan atau input dari pembaca seputar nama karakter, informasi, dsb. Tapi Twitter adalah distraksi besar jika sudah memasuki proses nulis. Walaupun sepertinya nggak signifikan, tapi media seperti Twitter itu menyedot atensi dan energi kita.