Wednesday, March 11, 2009

GOOD HOUSEKEEPING | Cover Story | Jan, 2009 | By Zustina Priyatni

1. Apa rasanya jatuh cinta (dengan Reza Gunawan) lagi?

Reza adalah sahabat terbaik saya, bahkan sebelum kita pacaran dan menikah. I feel so blessed to experience this companionship with him.

2. Saat Anda memutuskan untuk menikah lagi, apa pertimbangan Anda?

Sejujurnya saya nggak tahu pasti. Lebih seperti intuisi. Jadi bukan pertimbangan logis atau matematis bahwa ini poin positifnya berapa, negatifnya berapa, penjelasannya gimana, dsb. Pokoknya, itulah yang saya rasakan sebagai sesuatu yang ‘pas’ bagi saya saat itu, dan juga saat ini, tapi ujungnya apa… kita nggak pernah tahu.

3. Apa yang Anda pelajari dari kegagalan pernikahan Anda sebelumnya?

Bahwa segala sesuatu indah pada waktunya, baik itu perjumpaan maupun perpisahan. Bahwa kejujuran, bagi saya, lebih penting daripada sekadar kebersamaan. Bahwa hubungan cinta, bagi saya, adalah sesuatu yang realistis dan ‘hidup’, bukan konsep mati dan pajangan sosial. Bahwa otentik pada diri kita sendiri jauh lebih mendamaikan daripada cuma bikin masyarakat senang.

4. Percayakah Anda dengan istilah "soulmate"?

Menurut saya, “soulmate” adalah salah satu istilah yang terlalu diromantisir. Hehe. Bagi saya pribadi, “soulmate” tidaklah tunggal, melainkan jamak. Setiap orang dan setiap hal yang hadir untuk mendewasakan jiwa kita, ya itulah “soulmate”. Jadi jumlahnya tidak satu, dan punya banyak konteks. Saya dengan orang tua dan keluarga saya di kehidupan sekarang ini, misalnya, mereka juga “soulmate[s]” saya. Jadi konteksnya tidak harus dengan pasangan hidup saja.

5. Apa Keenan tahu bahwa bapak dan ibunya sudah berpisah? Pengertian seperti apa yang Anda coba sampaikan padanya?

Keenan sekarang baru berusia 4 tahun. Jangankan konsep perceraian, konsep pernikahan saja tentunya anak sebesar dia belum ngeh. Menurut pengalaman dan pengamatan saya selama ini, di usia anak seperti Keenan penjelasan bukanlah hal utama. Dia lebih melihat kenyataan dan contoh langsung, bukan memahami penjelasan. Sama halnya kalau saya mau mencontohkan makan yang tertib, bukan dengan dijelaskan, tapi dengan saya peragakan langsung. Barulah dia paham. Jadi saya belum pernah menjelaskan verbal ke Keenan mengenai perpisahan orang tuanya ataupun keluarga barunya dengan Reza, saya hanya menunjukkan dari hari ke hari bagaimana ayah dan ibunya tidak bersama lagi, tapi kami berdua masih berhubungan baik dan dia bisa menemui ayahnya kapan saja. Jadi dia masih merasa secure dan tidak kehilangan. Saya juga pelan-pelan memperkenalkan Reza dan membiarkan Keenan dan Reza menemukan “chemistry” mereka secara alamiah. Nggak dipaksakan. Begitu juga ketika memperkenalkan Keenan ke oma-opanya yang baru (orang tua Reza), ya alamiah aja. Sampai akhirnya Keenan malah yang nagih ingin ke rumah oma-opanya bahkan senang bermalam di sana.

6. Apakah pandangan Anda tentang media massa berubah, setelah kasus perceraian Anda menjadi berita hangat?

Sejak lama saya memang menyadari bahwa media massa tidak ada yang objektif, meskipun kredonya demikian. Kebetulan saya kuliah politik jadi secara teoritis saya paham bahwa memang media massa pada dasarnya adalah drama-maker, tapi yang dirangkai adalah potongan kehidupan nyata, fakta, opini, dsb. Jenis drama apa yang ingin ditampilkan, ya disesuaikan dengan kepentingan dan kebutuhan dari medianya. Dan saya mengalami sendiri bagaimana fakta bisa disetir dan dirangkai untuk memenuhi kebutuhan media, terutama media hiburan. Pelajaran utamanya adalah: jangan sepenuhnya percaya apa yang kita baca dan kita dengar, justru kita harus senantiasa mempertanyakan apa yang kita baca dan kita dengar. Dan, bagi saya, dengan pendekatan seperti kita bisa lebih kritis dan jernih dalam memilah informasi.

7. Apakah benar, kehadiran Keenan sedikit banyak memengaruhi proses menulis Anda?

Setelah punya anak, cara kerja saya memang berubah. Saya nggak lagi fanatik dengan menulis subuh atau menulis malam. Sekarang saya belajar menulis kapan saja dan di mana saja, sesuai dengan sempatnya saya. Tadinya saya sempat ragu, bisa atau enggak. Tapi ternyata bisa, dan saya malah lebih merasa sehat dengan cara kerja seperti itu. Baik fisik maupun mental. Karena keseimbangan hidup saya jadi lebih terjaga, fisik saya juga nggak terlalu diforsir.

8. Belakangan Anda sering diajak menjadi pembicara di berbagai acara/seminar tentang meditasi. Sejak kapan Anda mendalami meditasi dan apa yang membuat Anda tertarik untuk menjalaninya? Adakah 'live turning event' yang menguatkan keinginan Anda untuk mempelajari meditasi?

Ketertarikan saya pada spiritualitas (dan di dalamnya termasuk meditasi) dimulai sudah cukup lama sebetulnya, dari tahun 1999 tepatnya. Saya pernah belajar meditasi selewat melalui yoga dan reiki, tapi baru tahun 2006 saya mulai serius belajar. Pertama kali saya ikut Mindfulness Retreat dengan Master Thich Nhat Hanh tahun 2006, waktu itu retreatnya diadakan di Hongkong. Pada tahun yang sama, saya ikut retreat meditasi vipassana (meditasi untuk mengenal diri) di Vihara Mendut. Dan dari sana hingga sekarang saya cukup rutin meditasi, baik melalui praktek harian maupun ikut retreat maupun pelatihan. Sekarang ini saya praktek mingguan juga di Meditasi Rabu yang kebetulan dibimbing Reza.
Tahun 1999 saya melepaskan konsep “lama” saya tentang Tuhan, agama, dsb, dan mulai mencari sendiri. Kalau dulu kan saya ikut-ikut saja apa yang dibilang orang, lingkungan, dsb. Nah mulai tahun 1999 saya kembali ke diri saya sendiri, dan mulai mencari dari sana. Kalau untuk meditasi sendiri, boleh dibilang setelah sekian tahun membaca literatur tentang spiritualitas dan meditasi, akhirnya saya haus untuk berpraktek dan mengalami sendiri. Dan itulah yang menguatkan keinginan saya untuk bermeditasi.

9. Apa manfaat meditasi yang Anda rasakan dalam kehidupan sehari-hari?

Lebih peka dan jujur pada diri sendiri. Lebih memahami jerat-jerat pikiran dan perasaan yang kadang bisa membelenggu dan memabukkan, dan lebih memahami bahwa segala sesuatu yang di luar sana adalah hasil bentukan mental kita sendiri. Jadi, meditasi membantu saya lebih bertanggung jawab atas hidup saya sendiri.

10. Saat aktivitas Anda padat, bagaimana Anda mencari waktu untuk bermeditasi?

Meditasi sebetulnya tidak sebatas pada duduk diam. Segala kegiatan bisa jadi meditasi, yang penting kita menyadari sepenuhnya, baik itu makan, berjalan, bernyanyi, masak, dsb. Saya sih selalu mengupayakan minimal dalam 1 hari itu ada kegiatan meditatifnya, mau itu duduk diam, menyadari napas, atau melakukan relaksasi ringan. 10 menit dicicil 3x sehari, misalnya.

11. Apakah Anda percaya pada kekuatan pikiran?

Semesta ini adalah kumpulan energi, dan energi mengikuti gerak pikiran (thought). Jadi, ibarat kuda dan pedati, pikiranlah kuda yang menggiring pedati ke mana2. Masalahnya, pikiran kita seringkali tidak jernih, liar, dan tidak disadari, karena kita terlalu sering mengidentifikasikan diri kita dengan pikiran kita. Padahal pikiran, meski punya kekuatan, hanyalah fenomena. Masih dualitas. Cuma keelingan atau awareness-lah yang bisa membantu kita melihat semua fenomena itu dengan jernih.

12. Bagi Anda, apakah menulis mempunyai efek yang sama dengan meditasi?

Menulis dapat menjadi kegiatan meditatif, jika dilakukan dengan meditatif. Jadi bukan sembarang menulis. Saya punya sebuah buku tentang kepenulisan dari seorang pemeditasi Zen (Natalie Goldberg). Di sana dikatakan bahwa: menulis, jika dilakukan dengan meditatif, akan membantu kita untuk menghadapkan diri kita yang sejati. Dan saya setuju itu.

13. Kegiatan menulis dan meditasi, menimbulkan kesan bahwa Anda orang yang serius. Sementara dari tulisan-tulisan Anda (termasuk di blog), sisi humoris seorang Dewi Lestari justru jelas terlihat. Apakah bisa dibilang bahwa proses menulis merupakan upaya Anda
untuk menyeimbangkan diri?

Hehe, yah itu namanya ‘kesan’ saja. Meditasi tidak identik dengan keseriusan kok. Justru orang yang terlalu serius malah bisa kesulitan dalam praktek meditasinya. Dalam meditasi tertentu, kita bisa tertawa segila-gilanya dan bertingkah sekonyol-konyolnya. Yang penting disadari. Jadi meditasi bukan masalah “serius” atau “nggak serius”, tapi disadari atau tidak. Humor menurut saya adalah bentuk sifat ilahiah yang sangat sakral. Tuhan, kalau di mata saya, adalah Maha Humoris. Saya nggak ada upaya khusus untuk menyeimbangkan diri, tapi ya itulah faset-faset yang ada pada saya. Saya, seperti halnya semua orang, punya banyak sisi atau faset.

14. Menurut Anda, adakah perbedaan yang Anda rasakan saat menulis blog dengan menulis buku?

Tujuan awal saya membuat blog adalah membuat wadah bagi tulisan-tulisan saya yang tidak tertampung dalam wadah buku. Jadi bentuk tulisan dalam blog lebih seperti artikel lepas, kontemplasi pendek, dsb. Satu hari nanti, bukannya nggak mungkin tulisan saya di blog akan dibukukan. Jadi perbedaan utamanya hanya dalam bentuk format aja. Kalau rasa menulisnya sama. Tulisan panjang atau pendek, untuk diterbitkan atau enggak, dalam proses mentahnya terasa sama, kok. Dalam metafora saya, seperti memancing di kolam inspirasi. Sama-sama ada tarik menarik antara diri saya dengan Sang Sumber tersebut.

Monday, February 23, 2009

PRESTIGE | Author of the Year / The "It" People | Oct, 2008 | By Aruminingsih

1. How do you describe yourself?

Multifaceted, crazy, humorous, curious, cool, and (a bit) narcisstic in a humorous manner.

2. What do you like most about your job? Tell us about it.

My hobby is my job. I think I am extremely lucky to be blessed in such way. I know many people who hate their job, but they don’t have a choice because they need to make a living. I love my profession, and couldn’t think of doing anything else beside this. I sing, write, and write songs even when people don’t read or listen to them. So I merely do my job for myself, the rest is up to the universe.

2. Your favourite persons to work with?

In writing (song or prose), I work mostly alone. But I have a graphic designer that has been working on my book covers since 2002 (Fahmi). He always manages to translate my idea to graphic image in such perfection. In music, I really enjoy my current team for Rectoverso.

4. Honestly, what was the first thing that went through your mind when Prestige called and said we want to interview you?

The info came to me like this: “Prestige just chose you to be the Author of The Year and wanted to do an interview”. The first thing that came into mind was of course: Say what?? The second thing is: Well, whatever happens, I hope they don’t change their mind. Heheh. I was flattered, seriously. Thank you. It’s an honor.

5. Your breakthrough, Rectoverso, (yes, we do our research) offers new experience for readers. Please tell us about Rectoverso.

Rectoverso is a hybrid of music and fiction. It consists 11 songs and 11 short stories. Basically, it’s two of my main hobbies merged into one. The idea was born accidentally. In 2006, I was planning to make a solo album, then I met a friend of mine who was working in the music industry and he gave me an advice that I should attach my writing to my music otherwise I would be just another name in the list of Indonesia’s female solo singers. There wouldn’t be any strong distinction (I thought he was right). That incidence was the embryo of Rectoverso. For me personally, it was a new creative experience. Then I started to do some more, extending my songs into fiction, and the next thing I knew I had “Rectoverso” in hand. It’s simply the most romantic work I’ve ever created. It’s like reading 11 long, love letters. Each word and expression was carefully picked to fit into the ryhthm of a whole. Everything is about love, and the heart’s journey through love.

6. Is there a single concept, or word, that defines you and your writing?

Enlightening (at least that is my intention, heheh).

7. What's the best piece of advice you've ever been given?

Sorry, need to clarify: I was given an advice? Or I gave an advice to somone?
My best advice: Stop trying to change the world and just change yourself.
The best advice that has ever been given to me: Wake up from this illusion called life. Then live your life, as real as it can be, but keep in mind that you’re only dreaming.

8. What country or culture holds an interest for you?

Ever since I wrote my second book “Akar”, I’ve been so interested in Southeast Asia region. It’s so rich, diverse, and it has the best food in the world. I’ve been wanting to travel throughout Southeast Asia. Another country that I’d like to visit is Bhutan. It’s said that Bhutan is not like anything else in the world. Their culture is very well preserved, although the food – I heard – is not so good.

10. What is your biggest ambition so far?

To have my works expand internationally.

11. Who's the coolest person on the planet at the moment?

At the moment? Aside of myself? Reza Gunawan. Heheh. And also one of our teachers, Mingyur Rinpoche. For their lifetime dedication, I also admire Thich Nhat Hanh and Oprah Winfrey.

Thursday, February 19, 2009

COSMOPOLITAN | Fun Fearless Female | May, 2006 | By Intan Pradina

1. Kabarnya album Out of Shell sudah rilis? Bagaimana rasanya telah merampungkan satu proyek yang makan waktu lama dalam prosesnya? Semua Anda kerjakan sendiri mulai dari bikin lagu sampai produksi?

Rasanya plong! Karena proyek ini tertunda lama banget. Mungkin bisa dicatatkan di MURI sebagai album yang persiapannya paling lama, hehe. Saya memang mengerjakan semuanya hampir sendirian, bahkan kalau lagi rekaman saya kadang-kadang merangkap jadi ‘office girl’ juga, beliin makanan buat kru, musisi, dsb. Demo pertama saya buat sejak tahun 1997, dan master sudah jadi dari tahun 2002. Waktu itu kendalanya karena masih terikat di Sony, tapi ketika keluar dari RSD tahun 2003 pun saya masih belum bisa keluarin karena menikah lalu hamil, 2004 punya anak, 2005 Keenan masih kecil banget, nah… baru 2006 inilah, setelah sudah bener-bener nggak tahu album itu musti diapain, tahu-tahu jalannya terbuka begitu aja. Out of Shell pertama rilis di I-Tunes dulu, dua minggu kemudian baru di toko-toko. Sebagian pembiayaan album ini sempat dibantu juga oleh Triawan Munaf, tapi operasionalnya saya kerjakan sendiri.

2. RSD dulu sukses. Begitu pun buku-buku Anda, laku keras! Apa resepnya?

Wah, apa, ya? Mungkin karena semua dilakukan dengan cinta. Memang kecintaan saya ada di musik dan menulis. Ukuran laku sih relatif ya, tapi kalau kita melakukan profesi kita atas dasar cinta, passion, pasti hasilnya memuaskan, setidaknya dari ukuran kreatornya. Faktor lain yang nggak kalah penting lagi adalah kerja keras. Mempromosikan buku sebenarnya sangat melelahkan dan menyita waktu, makanya nggak semua penulis mau melakukannya. Tapi sejauh ini saya memilih untuk seoptimal mungkin berpromo karena saya rasa itu yang terbaik bagi buku itu sendiri.

3. Sepintas melihat Dee, yang terbayang Dee itu tipe pemikir dan orangnya serius. Tapi saat membaca beberapa karya Anda seperti Petir dan cerpen Rico De Coro (Filosofi Kopi), sepertinya sisi humor Anda tinggi juga bahkan cenderung “gila”. Benarkah?

Bener banget. Untuk banyak hal saya memang serius, sangat-sangat serius, saya senang berpikir, merenung, melamun, kontemplasi, dan bacaan saya juga kebanyakan serius dan berat. Tapi di sisi lain saya ini pencinta humor sejati, sangat senang tertawa, sangat ringan, konyol, bahkan “gila”. Itu terlihat dari sahabat-sahabat saya yang sangat beragam, dari mulai yang ancur-ancuran lucunya sampai ke para pemikir yang sangat serius. Dan memiliki kedua sisi itu, menurut saya, adalah cara terbaik untuk menikmati hidup. Ada yang bilang, ketika orang sudah mencapai pencerahan dia justru akan tertawa. Saya setuju banget. Untuk jadi tercerahkan biasanya kita setengah mati memeras hati dan otak, tapi kalau pada ujungnya nanti kita malah nggak bisa ketawa, maka pencarian itu sia-sia. Tidak ada cara terjitu untuk memaknai hidup selain lewat humor.

4. Imajinasi Anda pasti tinggi. Pernahkah merasa “kewalahan” dengan talenta Anda itu? Bagaimana Anda mengatur untuk dapat menampung seluruhnya dalam wadah yang tepat?

Kayaknya saya tiap hari kewalahan soal itu, deh. Haha! Dan memang itulah tantangan saya terbesar, mengorganisasi begitu banyak ide dan menyusunnya dalam rancangan kerja yang realistis. Selama ini, yang sering menjadi batu sandungan saya adalah jumlah ide dan keinginan yang tidak sinkron dengan kemampuan riil. Solusinya adalah kompromi dengan diri sendiri. Di kepala saya ada sepuluh proyek, tapi di atas kertas saya cuma bisa mencantumkan dua atau tiga, dan saya tidak boleh terhanyut rasa frustrasi atau gemas karena yang sisanya itu belum bisa direalisasi. Intinya sih, just get real. Dan untuk bisa realistis bagi seorang pemimpi seperti saya itu adalah tantangan besar.

5. Apa hal-hal yang bisa bikin Anda tertawa lepas dan gembira?

Almost anything. Saya punya sekelompok sahabat, yang kalau sudah dengan mereka dijamin saya bisa lepas dan gila. Dengan keluarga saya pun begitu juga, kami selalu mampu menemukan hal lucu. Momen terlucu yang baru-baru ini terjadi adalah ketika saya di restoran masakan Sunda di Cirebon, dan saya menemukan hal aneh di buku menunya. Jadi untuk menerjemahkan masakannya ke bahasa Inggris mereka pakai istilah Latin, mungkin karena ingin sekali terkesan serius dan akurat. Misalnya, “Keripik Emping” diterjemahkan jadi “Gnentum Gnenom Cracker”, “Ikan Mas Bakar” jadi “Grilled Cyphrinus Carpio”, “Pete Goreng” jadi “Fried Parkia Speciosa”, dan masih banyak lagi. Sumpah, saya ketawa sampai ternangis-nangis, setengah jam lebih nggak berhenti. I think that’s the best kind of humour. Ketika sesuatu tidak dimaksudkan untuk lucu, ditemukan nggak sengaja, dan absurd.

6. Apa sisi paling mengasyikkan dari pekerjaan Anda sekarang?

Bertemu begitu banyak orang yang berkualitas. Bertemu dengan para pembaca saya yang bilang ‘buku Anda menginspirasi saya’, ‘buku Anda mengubah hidup saya’. Itu tak terkatakan rasanya.

7. Anda bahagia menjadi Dee karena... ?

I can do what I love the most, and actually can make a living out of it. Untuk satu hal itu, I consider myself very, very lucky.

8. Orang-orang dekat Anda mengatakan Dee itu identik dengan apa?

Kata adik saya: Joget Norak dan Suara Dua. Haha! Berhubung di rumah cuma lagi ada dia, jadi saya nggak ada tambahan dari yang lain.

9. Anda pernah diprotes soal cover novel Akar yang menyinggung satu agama tertentu. Bagaimana reaksi dan sikap Anda menghadapi hal itu?

Setiap agama pasti punya kelompok chauvinist yang memang hobinya mengklaim ini-itu sebagai milik eksklusif kelompoknya, dan ini merupakan ciri umum dari agama di seluruh dunia. Ketika saya membahas masalah universal seperti spiritualitas, yang merupakan jantung tiap agama, pastinya akan beririsan dengan lapisan periferinya juga, yaitu dengan orang-orang yang pandangannya masih eksklusif dan sempit. Fenomena ini wajar sekali. There’s no wrong or right, hanya sudut pandang yang berbeda. Dan, saya pikir masyarakat pun bisa bijak melihat esensi dari masalah seperti itu. Toh di berbagai kasus yang serupa pun yang protes juga masih orang-orang yang sama.

10. Menurut Anda, sisi fearless Anda muncul pada saat Anda...

Saat saya jatuh cinta. Rasanya apa aja bisa dilakukan. And also in those short moments when I feel that life is actually a whole, inseparable, and everything is one.

11. Apa arti seksi buat Anda? Anda mengatakan seorang wanita tampak seksi bila?

Sexy is a state of mind. Sexy is an energy that when transcended becomes nothing but love. Jadi seksi sesungguhnya adalah kemampuan untuk mencinta. Ketika seseorang tampak sangat nyaman dengan dirinya sendiri, menurut saya itu sangat seksi. Penerimaan diri itu bukan hal yang mudah, tidak bisa dicapai dengan kosmetik atau operasi plastik, dan sepertinya orang-orang modern makin keras berjuang untuk bisa diterima. Mereka cari guidance dari majalah, dari iklan, dari macam-macam. Ada yang ketemu, tapi lebih banyak lagi yang malah tersesat. When a woman finally arrives at a point where she can claim: “This is me. And I’m happy and comfortable with myself”, it’s when she reaches the sexiest point of her life.

12. Anda suka membaca apa? Musik siapa yang Anda dengarkan?

Bacaan saya kebanyakan seputar spiritualitas, sains, filsafat, kesehatan, parenting, ekologi, dan beberapa fiksi. Kalau sekarang lagi suka baca bukunya Graham Hancock yang mendekonstruksi sejarah pra-primitif dan bicara soal The Lost Civilization, dan yang lebih menariknya lagi adalah ternyata penelitian tsb masih berhubungan dengan global warming yang kita hadapi sekarang. Lagi baca bukunya Osho juga. Untuk musik saya kebanyakan suka band atau singer-songwriter, saya suka Tears for Fears, Sarah McLachlan, Paula Cole, dll.

13. Apa pengaruh keluarga/orangtua dalam membentuk karakter Anda hingga seperti sekarang ini?

Sangat besar. Mereka tidak pernah intervensi kerjaan saya secara langsung, tapi keberadaan mereka sebagai sebuah sistem penyokong memungkinkan saya bisa berkembang seperti ini. Ayah saya sangat demokratis, berpikiran terbuka. Ibu saya cenderung disiplin, intelektual. Kakak-adik saya “gila” semua, mereka memang seniman-seniman sejak kecil, dan sampai sekarang pun bekerja di bidang seni. Jadi kreativitas sudah jadi kegiatan sehari-hari dari kami kanak-kanak.

14. Apa yang kamu lakukan untuk relaksasi, keluar dari 'rutinitas' sebagai selebriti?

Santai di rumah saja, nonton TV kabel, nggak keluar-keluar, bahkan seharian nggak mandi, itu sudah jadi relaksasi. Sesekali ke bioskop, atau nongkrong ketemu teman-teman lama.

15. Apa impian Anda saat ini?

Pingin travelling. Banyak sekali yang ingin saya lihat tapi sejauh ini waktunya belum ada. Mudah-mudahan setelah Keenan agak besar, setelah proyek-proyek buku selesai, saya ingin off dulu beberapa lama dan hanya travelling.

Friday, February 13, 2009

GREY | My Father My Hero | Nov, 2008 | By Roni

1. Bagaimana kehidupan kecil Mbak Dewi dengan Ayah?

Ayah saya seorang perwira militer yang selalu pindah-pindah tempat tugas, jadi semasa kecil seringnya saya bertemu Bapak (panggilan kami pada beliau) satu minggu sekali. Meskipun demikian hubungan kami cukup dekat. Saya selalu menanti-nanti kepulangan Bapak. Karena begitu ada Bapak, suasana rumah jadi lebih semarak.

2. Mana yang lebih dekat dengan Mbak Dewi? Ayah atau Ibu?

Ibu (almarhum) adalah seorang ibu rumah tangga, jadi setiap hari saya ketemunya dengan Mama, sementara dengan Bapak seringnya seminggu sekali. Otomatis Mama lebih dekat ke anak-anaknya. Tapi berhubung Bapak orangnya seru banget, jadi kalau di hati sih saya tetap merasa dekat dan akrab dengan Bapak, walaupun ketemunya nggak terlalu sering.

3. Bagaimana sifat Ayah Mbak Dewi secara keseluruhan?

Humoris, demokratis, ramah, berpikiran terbuka, kreatif, seorang pencerita dan pengingat yang baik.

4. Adakah perlakuan Ayah Mbak Dewi yang selalu terkenang sampai sekarang, atau bahkan semua itu mengubah hidup Mbak Dewi?

Bapak selalu ngebela-belain segalanya untuk anak-anak. Bapak bahkan pernah rela nggak ganti mobil, yang padahal udah butut banget, biar bisa membelikan anak-anaknya komputer. Dan meskipun dengan gaji pegawai negeri, Bapak tetap menomorsatukan pendidikan dan pengasahan skill buat anak-anaknya. Kami semua dikursuskan piano, dan selalu banyak alat musik di rumah. Bapak juga juaranya dokumentasi. Paling senang berfoto. Jadi foto-foto zaman dulu tuh banyak banget.

5. Pernahkan Ayah Mbak Dewi berperilaku layaknya Super Hero dalam keluarga?

Nggak.

6. Adakah perilaku lucu dan menyebalkan yang pernah dilakukan oleh Sang Ayah dan masih dikenang sampai sekarang?

Bapak selalu lucu. Yang menyebalkan saya nggak ingat. Tapi yang paling menyenangkan adalah waktu kelas 2 SD, saya dan adik saya, tahu-tahu dipanggil ke lapangan kompleks perumahan saya dulu (di Medan). Ternyata Bapak kasih surprise yakni kami berdua diajak naik helikopter keliling kota Medan. It was unforgettable.

7. Ayah Mbak Dewi akan marah-marah jika?

Kalau kita terlalu berisik saat Bapak tidur siang.

8. Pernahkah Sang Ayah berbuat kasar pada Mbak?

Nggak.

9. Bagaimana perlakuan Ayah Mbak Dewi ketika menghadapi pacar atau cowok Mbak?

Berhati-hati, sekaligus menyelidiki. Nggak pernah menentang dengan frontal sekalipun mungkin dia kurang sreg. Dia lebih mempercayakan anak-anaknya untuk milih sendiri dan belajar dari pengalaman.

10. Lebih kemanakah tipe Ayah Mbak? Demokrat atau diktaktor?

Demokrat.

11. Bagaimana Ayah Mbak Dewi dalam menanggapi masalah pendidikan anak-anaknya?

Seperti layaknya orang Batak pada umumnya, bagi Bapak pendidikan itu nomor satu. Kami semua diwajibkan lulus perguruan tinggi, jadi sarjana, karena bagi Bapak itu akan menjadi bekal atau semacam parasut cadangan kalau-kalau ada sesuatu dengan karier seni kami. Walaupun sampai sekarang semua anak-anaknya berkarier di jalur yang sama sekali berbeda dengan jurusan kuliahnya dulu.

12. Kata-kata atau nasehat apa yang paling diingat oleh Mbak Dewi yang pernah keluar dari mulut sang Ayah?

Ayah saya jarang menasehati. Tapi banyak petuah-petuah ‘tak sengaja’ yang keluar saat dia bercerita. Tapi paling sering sih Bapak selalu mengingatkan untuk ingat keluarga, silaturahmi antar saudara, dsb. Maklum, anak-anaknya sibuk semua. Hehe.

13. Adakah perbedaan sikap Ayah yang dulu dan sekarang? Ceritakan?

Bapak lebih realistis, lebih nrimo. Tapi kondisi fisiknya agak menurun ketimbang dulu. Bapak sehat sekali, senang olahraga, jagoan ping-pong. Tapi berhubung kakinya sekarang sedikit bermasalah, jadi Bapak selincah dulu lagi. Dan itu kadang-kadang bikin beliau agak murung.

Thursday, February 12, 2009

NIRMALA | Yang Muda Yang Spiritual | Dec, 2006 | By Emma Madjid

1. Mengapa Dee belakangan ini tertarik masuk ke gerbang spiritual?

Sebetulnya proses itu sudah cukup lama, sejak akhir 1999. Dan saya merasa ketertarikan pada spiritualitas itu inheren pada setiap orang, hanya masalah momen naik ke permukaannya saja yang berbeda-beda. Pertanyaan tentang Tuhan, eksistensi, makna hidup, dan sejenisnya, memang selalu mengusik saya sejak kecil dan bolanya bergulir terus hingga sampai puncaknya pada tahun 1999. Sejak itu konsep saya tentang Tuhan dan agama berubah total. Saya memutuskan untuk melepaskan segala ‘jubah’ keagamaan dan ingin mengapresiasi hidup dari titik nol. Sejujurnya, saya sangat nyaman dengan kondisi ‘jalan tak berpeta’ tersebut. Namun setelah berkeluarga, barulah saya mulai mempertimbangkan untuk berada dalam satu koridor khusus. Saya mendapatkan banyak kecocokan dengan ajaran Buddha, walaupun itu tidak berarti saya lantas berhenti mengeksplorasi. Prinsipnya, apapun yang cocok dengan intuisi dan mencerahkan saya secara pribadi, akan saya terima. Misalnya, saya banyak sekali mendapatkan wawasan baru dan jernih dari Kabballah, juga dari sains yang berbasis monisme idealistik (mis. buku-buku Amit Goswami). Pendekatan eklektik semacam ini memang yang paling pas bagi saya. Perjalanan spiritual adalah perjalanan yang individual, meski dalam prosesnya kita dibantu oleh banyak orang dan banyak jiwa lain, hanya kitalah yang bisa merasa apa yang paling pas bagi diri kita sendiri dari waktu ke waktu.

2. Kapan pencerahan itu datang? Apakah melewati kejadian tertentu dalam hidup Dee? Atau ada yang 'ngomporin'?

Bagi saya, momen pencerahan itu tidak tunggal tapi multipel. Bukan satu peristiwa yang sekali jadi lalu selesai, melainkan proses yang berulang-ulang dan semakin dalam. ‘Gong’ pertama memang tahun 1999, tapi prosesnya terus saya jalani hingga sekarang. Pada saat itu saya memang terbentur masalah pribadi yang cukup berat, dan akhirnya itu menggiring saya untuk menggali lebih dalam makna cinta, hidup, dan Tuhan. Dan sekarang saya mengerti bahwa gerbang menuju kesejatian memang bermacam-macam, barangkali itulah gerbang yang jiwa saya pilih. Selain itu, secara umum saya memang sangat terusik dengan fenomena perseteruan agama; orang-orang bisa saling membunuh atas nama Tuhan. Dan pada saat itu tragedi Ambon sedang ramai-ramainya. Di Indonesia, bahkan dunia, sejarah manusia berdarah-darah akibat membela Tuhannya masing-masing. Itu membuat saya semakin tergerak untuk berbuat sesuatu, karena menurut saya masalah dunia ini terletak pada pemahaman dasar manusia akan Tuhan. Apa yang seseorang percaya atau tidak percaya tentang Tuhannya akan membentuk sikap dan cara pandangnya untuk berlaku di Bumi. Makanya kemudian saya menulis Supernova, novel serial yang memang dikhususkan untuk tema spiritualitas. Supernova merupakan cermin perjalanan batin saya. Saya ingin berbagi cara pandang, syukur kalau ada yang merasa cocok, kalau tidak pun tidak apa-apa. Semua makhluk menjalankan proses yang patut kita hargai.
Perjalanan saya sejauh ini dituntun alamiah oleh hidup melalui peristiwa dan hasil trial & error. Belum pernah punya sosok guru tunggal, mungkin belum ketemu. Sejauh ini saya lebih didukung oleh support system berupa buku-buku, teman-teman, keluarga, dll.

3. Apakah ada perubahan dalam diri setelah masuk ke gerbang tersebut? Tolong disebutkan.

Wah, banyak sekali ya. Karena itu tadi, saya percaya pemahaman seseorang akan Tuhan (atau non-Tuhan) itu otomatis menentukan segala hal lainnya. Prioritas saya berubah, cara saya memandang sebuah hubungan baik itu percintaan atau persahabatan juga berubah. Dalam keseharian, saya lebih menghargai proses, berusaha tidak menjustifikasi berdasarkan polaritas hitam-putih tapi berusaha mentransendensi polaritas tsb dan melihat segala hal dari esensi yang netral, bukan apa yang kelihatan di permukaan. Secara global, saya jauh merasa lebih tenang, lebih seimbang, dan lebih sehat secara fisik. Saya sangat menikmati dan menghargai hidup ini. Bukan berarti segala masalah lenyap, tapi cara pandang saya pada masalah itu yang jadi beda. Saya nggak terlalu ngoyo lagi soal pekerjaan. Dulu saya orangnya target-minded, sekarang jauh lebih rileks, dan hasilnya malah lebih baik. Intinya, saya lebih bisa menerima diri. Semakin kenal, dan semakin menerima. Proses ini tidak mudah, tapi tidak ada istilah mundur. Gampang dan susah tinggal kita yang mengkontekstualisasi. Perjalanan spiritual itu tidak kenal mundur, sama halnya dengan evolusi. Kita bisa berpencar arah, tapi semua melangkah maju dengan waktu dan kecocokan caranya masing-masing.

4. Selama ini Dee termasuk sering mengatur POLA MAKAN, dan menjalani hidup sehat, boleh dijelaskan? Demi kesehatan, makanan/minuman apa saja yang sudah dihapus?

Saya mulai jadi vegetarian lacto-ovo sejak tahun 2006. Sudah lama sih kepingin jadi vegetarian tapi ternyata tekadnya baru bulat setelah membaca hubungan hidup vegetaris dengan lingkungan hidup. Jadi alasan saya bukan semata-mata kesehatan. Saya memang lagi concern sekali dengan masalah lingkungan, dan ingin serius melakukan kontribusi. Ternyata hidup vegetarian punya dampak besar sekali. Banyak dari kita yang belum tahu bahwa industri hewan kontribusinya sangat signifikan bagi pemanasan global. Keenan, anak saya, yang justru pertama kali jadi vegetarian. Sejak umur 1 tahun dia sudah menolak makan daging. Dipaksa dan diakali seperti apapun dia nggak mau, pasti dia keluarkan dari mulutnya. Jadi ketika saya berniat vegetarian saya pikir sekalian saja, toh Keenan bahkan sudah duluan. Dan untungnya kami bisa kompak satu keluarga, masaknya jadi praktis.
Secara umum, pola makan kami tidak terlalu rigid, bahkan cenderung sederhana. Untuk konsumsi telur kami coba batasi 3x seminggu, sehari-hari lauk kami hanya tahu-tempe-sayur. Gula juga kami batasi, sebisa mungkin menggunakan gula yang lebih natural (bukan yang refined), seperti gula batu atau gula madu. Camilan Keenan juga kami usahakan tidak yang terlalu berbumbu atau berasa tajam supaya lidahnya nggak ‘kecanduan’, dia lebih sering makan rice crackers atau sereal polos. Selain itu, saya berusaha sebisa mungkin mengonsumsi makanan organik.

6. Apa makanan/minuman Andalan Dee agar selalu fit?

Air putih, sebisa mungkin yang heksagonal. Dan sayur yang dimasak tidak terlalu layu.

7. Bagaimana cara Dee menekan stres yang selalu timbul dalam aktivitas keseharian? (ini semacam tip dari Dee aja, yang Dee sering lakukan, boleh beberapa poin, kalau memang unik boleh diterangkan cara menerapkannya)

Memahami bahwa hidup ini hanya kumpulan aktor yang sedang akting, termasuk diri kita sendiri. Di Buddhisme dikenal istilah anicca, yakni tidak ada yang kekal. Stres itu timbul karena kita ingin meyakini beberapa hal itu nyata dan kekal, padahal tidak ada. Bahagia maupun sedih, senang maupun sakit, semua itu senantiasa berubah dan hidup ini cair. Melawan, kita justru tenggelam. Berenang oke, asal tidak menentang arus, karena akhirnya kelelahan.
Ketika tengah menjalani hari saya kadang-kadang suka ngomong sendiri: ‘Cut!’, dan itu menyadarkan saya bahwa hidup ini rangkaian adegan belaka. Susah atau senang itu bikinan kita sendiri. Lewat beradegan kita menerima pelajaran, dan apabila pelajaran itu selesai, maka kita beradegan baru, kalau belum maka adegannya akan diulang-ulang terus.

NOMORECHOICE - FIKOM UNPAD | Vegetarian | May, 2007 | By Aniez

1. Mbak Dewi kan vegetarian, ya?

Betul.

2. Sejak kapan jadi vegetarian?

Dari tahun 2006.

3. Kenapa kok tertarik jadi vegetarian?

Dari SMA sebetulnya saya sudah tertarik jadi vegetarian gara-gara baca artikel tentang vegetarianisme di majalah, tapi motivasinya belum cukup kuat. Beberapa kali juga mencoba, tapi sedikit-sedikit, belum total. Baru setelah saya tahu kaitan erat antara vegetarianisme dengan isu lingkungan, motivasi saya langsung menguat, dan hari itu juga saya memutuskan jadi vegetarian sampai sekarang. Dengan kita menjadi vegetarian, berarti kita ikut membantu masalah pangan dunia dan juga masalah lingkungan, karena salah satu penyebab krisis gizi dan krisis lingkungan yang membelit dunia sekarang adalah masifnya industri daging.

4. Merasa ada perubahan sejak jadi vegetarian?

Tubuh saya lebih sehat, jarang sakit, dan lebih peka. Secara emosional juga lebih tenang dan kalem.

5. Makna vegetarian buat Mbak Dewi apa, sih?

Bagi saya, menjadi vegetarian adalah pilihan moral paling jitu dan logis untuk kondisi dunia sekarang ini. Jika kita peduli pada masalah lingkungan, kesehatan, dan etika sesama makhluk, memilih menjadi vegetarian adalah bukti kepedulian yang sangat konkret.

6. Ada tips buat yang baru mau mulai jadi vegetarian?

Mulailah dengan skala harian, nggak usah dipikir bahwa jadi vegetarian itu berat dan menyusahkan, jalani saja dengan komitmen, kita pasti mampu untuk mengatasi tantangan-tantangannya. Kalau sebelumnya kita mungkin berpikir bahwa lidah yang perlu dimanja, sekarang kita mulai berpikir bahwa gizi dan kesehatan lebih penting dari sekadar piknik lidah. Dan cari tahu info sebanyak-banyaknya tentang vegetarian agar tidak salah langkah dan malah kurang gizi. Info tentang vegetarian bisa dicari di situs Indonesian Vegetarian Society.

Tuesday, February 10, 2009

HERWORLD | Kebangkitan Spiritualitas di Indonesia | July, 2008 | By Marisa Yoeng

1. Kenapa tertarik mempelajari spiritualisme?

Spiritualitas (atau spiritualisme) menurut saya adalah dorongan evolusi yang alamiah ada dalam setiap manusia, karena ketertarikan seseorang akan spiritualitas dimotori oleh inti kebenaran yang bersemayam di setiap makhluk. Jadi semua manusia dan semua makhluk pasti akan bermuara ke sana. Hanya karena tidak semua berangkat dan berjalan dengan kecepatan yang sama, jadi perjalanan spiritual seseorang secara permukaan sangat bervariasi, tergantung karma masing-masing. Jadi kalau ditanya ‘kenapa’, saya tidak tahu pasti, selain menjawab bahwa pencarian ke dalam diri adalah dorongan evolusi yang alamiah. Demikian jugalah yang terjadi pada diri saya.

2. Dari mana Mbak Dee mempelajarinya?

Epifani saya yang pertama terjadi tahun 1999 akhir, saya tidak mempelajari dari mana-mana, selain mendengarkan suara ilahi yang muncul sendiri dalam batin saya. Seperti orang mengobrol dan bercakap-cakap. Namun dari sana, keingintahuan saya tentang bagaimana manusia mempersepsikan Tuhan dan kebenaran jadi sangat kuat, dan akhirnya saya mempelajari semua agama, aliran, dsb, dari buku-buku dan juga berdialog. Tahun 2006 saya mulai mempelajari meditasi secara lebih mendalam.

3. Sebenarnya, spiritualisme itu kan suatu hal yang personal, tapi sekarang berkembang menjadi sesuatu yang universal. Misalnya, diterapkan dalam bisnis. Apakah Mbak Dee juga melakukan hal serupa? Bisa diceritakan? Berhasilkah langkah tersebut?

Spiritualitas sesungguhnya tidak mengenal sekat. Sekali seseorang mengenal dan mengetahui diri sejatinya, otomatis apa pun yang ia kerjakan pasti bernuansakan ‘itu’. Intinya, lebih percaya pada kata hati. Saya sendiri tidak merasa melakukan langkah khusus tertentu, selain menjalankan hidup seapa-adanya mungkin, dan percaya bahwa setiap langkah dan dinamika memiliki manfaat bagi pembelajaran jiwa saya, baik itu yang pahit, manis, atau sedang-sedang saja.

4. Manfaat spiritualisme dalam kehidupan sosial?

Menjadi orang yang lebih apa adanya, tidak melekat, tidak berkubang dalam penderitaan, dan lebih humoris. Setidaknya itu efek yang saya rasakan.

5. Apakah Mbak Dee setuju jika Indonesia dikatakan sebagai pusat kebangkitan spiritual? Alasannya?

Saya pernah mendengar ‘selentingan’ demikian. Saya tidak tahu validasinya dilihat dari faktor apa. Tapi saya rasa, kebangkitan spiritual adalah gejala yang mendunia.

6. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh para pembaca yang tertarik dengan spiritualisme?

Mereka bisa mulai dengan membaca dan berdialog, tapi lebih penting lagi adalah berani menanggalkan semua pengetahuan kita dan terjun ke dalam diri melalui meditasi, misalnya, alias praktek. Karena spiritualitas yang hanya menjadi wacana juga bisa menjadi jebakan tersendiri.

7. Dengan naiknya harga minyak, bahan pangan, demo dimana-mana, politik kantor yang semakin menggila, dll, membuat banyak orang rentan terserang stress. Apa yang dapat dilakukan agar dapat menghindari, atau setidaknya, mengurangi stress, sehingga bisa menjadi pribadi yang lebih baik (lebih berupa tips dari sisi spiritual)?

Inti spiritualitas sesungguhnya hanya satu: hidup di saat ini. Semua stres yang kita alami cuma bersumber dari dua hal: beban masa lalu dan kekhawatiran akan masa depan. Dengan memahami dan mengalami bagaimana hidup di ‘saat ini’ alias ‘in the now’, segala stres yang berlebih akan runtuh dengan sendirinya. Tidak semua orang bisa terus-terusan bertahan dalam situasi batin ‘saat ini’, tapi kita bisa berlatih melalui meditasi, menjalankan hidup yang seimbang, dan banyak-banyaklah tertawa.

8. Di luar negeri, kepercayaan seperti Scientology dan Kaballah, apakah dapat disebut sebagai "buah" dari spiritualisme?

Berbeda dengan Scientology, secara historis Kaballah sebetulnya adalah aliran mistik dalam agama Yahudi yang juga merupakan akar dari agama-agama samawi (Kristen, Islam, dsb), jadi Kaballah bukan ‘produk baru’, malah sangat-sangat tua.
Maaf, kalau salah mempersepsi, tapi saya merasa pertanyaan di atas mengacu bahwa keduanya adalah produk tren. Benarkah? Saya sendiri merasa spiritualitas adalah "jantung", atau inti. Dan jika kita semakin dalam menyelami jantung kebenaran, konsep keterpisahan pun semakin kabur. Sementara di permukaan, kita kenal berbagai agama yang rasanya sangat berbeda, bersekat, dan terpisah antara satu sama lain. Orang banyak bilang, setiap agama pada dasarnya sama. Nah, dasar itulah yang, bagi saya, namanya Spiritualitas. Jadi sesungguhnya spiritualitas sendiri bersih tanpa nama, label, dan penggolongan. Dari sudut pandang tsb, bukan hanya Scientology dan Kaballah yang menjadi “buah” spiritualitas, semua agama dan kepercayaan di muka dunia, termasuk ateisme, merupakan buah dari spiritualitas.