Wednesday, December 10, 2014

Aplaus Magazine | Supernova PARTIKEL | Mei, 2012


Selamat untuk buku terbarunya PARTIKEL. Denger-denger, dari Petir ke Partikel jeda waktunya 8 tahun, ya? Kok bisa lama jeda waktunya? Ceritain dong...

Sudah saya ceritakan panjang lebar di Kata Pengantar-nya, hehe. Yang jelas, memang butuh kumulasi ilmu pengetahuan, informasi, dan juga ketertarikan saya untuk bisa menuliskan Partikel sebagaimana naskah yang terbit ini. Singkat kata, semua karya punya timing-nya masing-masing. Untuk Partikel, timing tersebut adalah April 2012.

Kalau kita baca di Twitter, sambutan orang-orang terhadap keluarnya buku PARTIKEL ini sangat luar biasa. Sejauh ini sudah berapa buku yang terjual?

Saya belum cek lagi persisnya. Setahu saya, Partikel langsung dicetak 40.000 eksemplar, dan sekarang hampir semua sudah diserap pasar.

Berapa lama proses membuat PARTIKEL ini? Ada cerita seru yang bisa diceritakan? Dan sebenernya hal atau goal apa yang ingin disampaikan lewat buku ini?

Proses menulis intensifnya antara 10-12 bulan. Sementara mengumpulkan informasi dan riset pustakanya sendiri sudah berjalan bertahun-tahun seiring waktu saja. Tema Partikel dari dulu memang sudah saya putuskan lingkungan hidup. Pesan utamanya kurang lebih adalah untuk manusia bisa menggeser perspektif dari penguasa Bumi menjadi pemelihara Bumi.

Kita tahu Dee telah banyak melahirkan buku-buku yang bagus dan mendapat sambutan yang luar biasa. Ada Kesatria, Puteri dan Bintang Jatuh, Akar, Petir, Perahu Kertas, kumpulan prosa Filosofi Kopi, Rectoverso, Madre, dan yang terakhir PARTIKEL. Dari sekian banyak buku yang sudah dikeluarkan, buku mana yang proses kreatifnya paling susah atau banyak mengalami kendala?

Kalau dari sisi risetnya sih yang paling kompleks Partikel ya, tapi dibilang susah juga sebetulnya bukan susah karena saya sendiri memang bersemangat dan menyukai topik-topik yang disajikan Partikel. Tantangannya lebih ke waktu untuk menulis. Karena Partikel saya tulis dalam kondisi sudah ada dua anak, yang satu masih batita dan butuh banyak perhatian, jadi yang menantang adalah menyisihkan waktu dan fokus untuk menulis intensif. 

Buku dengan penjualan tertinggi di antara buku-bukunya "Dee" yang mana nih?

Secara kumulatif, serial Supernova, khususnya episode pertama (Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh) tentunya adalah yang tertinggi karena terbitnya juga sudah dari 2001.

Perahu Kertas akan dibuat filmnya, apakah ada campur tangan Dee di dalam film ini? Dan denger-denger Filosofi Kopi juga bakal difilmkan ya?

Saya menuliskan naskahnya untuk Perahu Kertas. Filosofi  Kopi akan digarap jadi film pendek oleh Angga Sasongko. Dan Rectoverso juga akan menjadi film omnibus yang melibatkan lima sutradara perempuan, diproduseri oleh Marcella Zalianty. Tapi yang melibatkan saya hingga skenario hanya Perahu Kertas.

Di antara kumpulan prosa Dee,  yang mana yang paling difavoritin?

Sejauh ini ada 3 antologi: Filosofi Kopi, Rectoverso, dan Madre. Saya rasa biar pembaca saja yang memilih favoritnya yang mana. Karena bagi saya, ketiga-tiganya berbeda dan memiliki karakteristik unik yang nggak bisa dibandingkan.

Next project apa nih, Mbak? Kasih bocoran, dong.

Menulis serial Supernova selanjutnya, yakni Gelombang. Tapi saya belum mulai, masih rehat dari proses Partikel kemarin.

Pertanyaan terakhir nih, Mbak. Lebih enjoy mana menulis lirik lagu atau menulis buku?

Menulis buku. Puasnya sih sama, tapi buku lebih memiliki ruang luas untuk berkreasi dan beropini. Ruang dalam lagu tidak selebar itu.


Aplaus Magazine | Profesi Penulis & Proses Menulis | Juni, 2008

Apa pendapat Anda tentang novel pertama yang Anda tulis, setelah melihat sosok Anda sekarang yang menjadi novelis?  

Kadang-kadang geli, kadang-kadang terharu juga kalau ingat perjuangannya. Kadang-kadang gemes, karena sesekali suka muncul juga keinginan untuk mengubah beberapa bagian. 

Masih ingat tidak, honor pertama kali menulis dihabiskan untuk apa? 

Cerpen saya (”Rico de Coro”) dimuat pertama kali di Majalah Mode, saya lupa dihabiskan untuk apa uangnya. 

Selain menulis, biasanya apa saja aktivitas Anda? 

Basically, menjalankan hobi saya: baca, musik, jalan-jalan, nonton, dsb. Sisanya ya mengurus rumah, anak, suami, dan menjalankan hidup seperti biasa. 

Andai saja Anda diperbolehkan menjelma jadi sebuah novel, maka novel seperti apa yang anda inginkan? 

Semacam buku "Pilih Sendiri Petualanganmu", di mana pilihan yang dikasih juga tidak terbatas. 

Bagaimana pendapat Anda mengenai persaingan antar penulis saat ini? 

Saya rasa setiap penulis memiliki ciri khas masing-masing dan pembacanya masing-masing. Saya nggak pernah merasa ada persaingan yang berarti antar penulis. Yang lebih terasa justru persaingan antar penerbit. Kalau yang nulis, sih, biasa-biasa aja sepertinya. 

Pernah tidak Anda saling mengkritik dan memberikan masukan terhadap sesama rekan novelis lainnya? 

Mengkritik nggak pernah. Memuji iya. Karena saya bukan kritikus, pendekatan saya terhadap buku hanyalah suka atau tidak suka. Kalau suka dan saya merasa tergerak untuk kasih tahu, ya saya bilang suka. Kalau nggak suka, saya diam saja. Karena nggak ada gunanya diomongin.

Ada tidak pengalaman buruk selama menulis novel? 

Selama menulisnya sih enggak. Tapi dalam lika-liku menerbitkan buku, sih, iya. Namanya juga bisnis, pasti punya risiko tertentu, melibatkan banyak orang, dsb, jadi ada saja tantangan dan kesulitannya. Kalau menulisnya sendiri sih, walaupun tantangan juga ada, tidak ada yang sampai masuk ke dalam kategori ”pengalaman buruk”. Hampir semuanya menyenangkan. 

Kalau seorang novelis biasanya side job-nya apa? Dan apakah profesi sebagai novelis bisa dijadikan 'lahan pangan'? 

Saya nggak tahu dengan novelis lain. Kalau saya memang pekerjaan utamanya ya menulis dan main musik (menyanyi, bikin lagu). Side job saya adalah bicara di talkshow seputar pekerjaan saya. Bagi saya pribadi, menulis bisa menjadi pekerjaan pokok yang  menjadi sumber income utama. 

Kira-kira pengembangan karier seorang novelis dengan cara apa dan bagaimana? 

Bagi saya simpel aja: berkarya terus. Kalau memang tertarik barangkali bisa melebarkan sayap ke penulisan skenario, jurnalistik, dsb. Selama masih dalam ranah menulis, menurut saya, apa saja mungkin. 

Ada tidak keinginan untuk go international? 

Ada. 

Sebagai penulis novel, pernah tidak hidup sehari tanpa laptop? 

Pernah. Kalau saya berlibur atau retreat meditasi, saya nggak pernah bawa laptop. Saya pikir sesekali tak ber-laptop juga menciptakan jarak yang sehat antara kita dan pekerjaan kita.  

Apakah Anda ingin mempunyai keturunan yang bisa nulis novel juga? 

Kalau memang anak saya tertarik ya syukur, kalau enggak juga nggak apa-apa. 

Selama ini, apakah tema yang Anda tulis murni dari keinginan Anda sendiri atau malah memang pesanan pasar yang ada? 

Murni keinginan sendiri. Saya nggak bisa terima pesanan, bukan karena sok idealis, tapi karena memang nggak sanggup. Saya punya kesulitan untuk hidup dalam ide orang lain. 

Idealisnya seorang novelis itu seperti apa?

Punya karakter kepenulisan yang kuat, punya kejujuran yang mengguncang, dan bisa menyentuh hati banyak orang. Itu idealnya. Sederhananya:  menulis buku yang ingin dia baca dan dia suka. Itu saja. 

Bagaimana dengan honor seorang penulis? 

Kenapa, tuh? Maaf pertanyaannya kurang spesifik. 

Seberapa besar peranan editor mengedit novel anda? Biasanya siapa yang menentukan editornya, apakah penulis atau percetakan? 

Karena kebanyakan saya menerbitkan sendiri, saya jugalah yang mencari editor. Kebetulan saya sudah ada editor langganan. Bagi saya, editing adalah hal yang penting, karena kedekatan si penulis dengan karyanya sendiri kadang-kadang membuat ia luput memperhatikan tulisannya dengan detail. Dibutuhkan mata yang lebih "segar" dan "objektif", yakni editor. 

Kalau ingin novel dilirik produser film, hal apa yang harus dilakukan atau ada malah ada syarat-syarat tertentu ketika sebuah novel difilmkan? 

Novel saya belum pernah difilmkan, jadi saya nggak punya pengalaman yang bisa saya bagi dalam perihal satu ini. 

Pernah punya pengalaman novel yang ditolak penerbit tidak? Dan ternyata dikenal publik, malah si penerbit meminta Anda untuk menuliskan novel lagi untuk mereka? 

Belum pernah. Saya biasa menerbitkan sendiri, atau sharing modal dengan penerbit. 

Hal apa saja yang tidak boleh dilakukan novelis wanita? Dan hal terlucu yang pernah dilakukan saat mencari ide? 

Selama tidak melanggar hukum, kayaknya nggak ada yang nggak boleh.

Hal terlucu? Saya nggak tahu ini kategori lucu atau enggak (kayaknya sih enggak): saya dulu biasa nongkrong di loteng rumah, lihat langit sore, sambil makan es cendol, mendengarkan ”Beach Boys”, dan membayangkan saya lagi di pantai. 

Menurut Anda, apa lagi pencapaian sebagai seorang novelis yang belum Anda dapatkan? 

Menyelesaikan serial saya sampai tamat. 

Kira-kira apa saja masukan untuk penulis novel pemula? Bagaimana tips agar penulis novel pemula bisa dilirik penerbit dan diterima pasar? Kira-kira apa saja hal tersebut? 

Tulislah apa yang benar-benar disuka, yang bikin kita nggak tidur, yang bikin kita kepikiran terus menerus. Follow that fire. Soal penerbit dan diterbitkan adalah masalah perjodohan, boleh dipikirin tapi jangan terlalu dipikirin. Karena yang utama adalah membuat karya yang kuat, karya yang ”bersuara”. The rest will follow.

Antara News | Social Media | April, 2011

1. Seberapa sering anda menggunakan jejaring sosial dan media online? Apa saja yang digunakan? Alasannya? 

Saya menggunakannya secara harian. Yang sejauh ini aktif sih Twitter, kalau FB hanya sesekali saja. Di FB ada personal page dan fan page juga. 

2. Menurut anda bagaimana perkembangan penggunaan jejaring sosial dan media online di Indonesia? Bagaimana hal itu mempengaruhi komunikasi sehari-hari? 

Sejauh yang saya amati dan juga rasakan, bagi saya pengaruh sekaligus perkembangan jejaring sosial ini sangat luar biasa. Bukan hanya memultiplikasi sebuah isu dengan cepat, tapi juga mulai mempengaruhi cara interaksi banyak orang. 

3. Anda bisa memprediksi trend industri media ke depannya? Bagaimana nasib surat kabar dan majalah cetak di tengah "geliat" media-media online dewasa ini? 

Hal itu bukan keahlian saya. Yang jelas, saya memang sudah lama nggak baca/langganan koran & majalah cetak. Hampir semua informasi dan berita, saya peroleh dari online dan Twitter. 

4. Terkait munculnya trend baru mengunggah video di Youtube, seperti aksi lipsync Sinta-Jojo, penyanyi Audrey Tapiheru dan Gamaliel, Bona Paputungan, dan yang terakhir Briptu Norman, yang kemudian menjadi terkenal dengan cepat, ada komentar khusus soal hal tersebut? 

Karena sekarang sudah ada "kendaraan komunikasi baru" yakni internet, dan juga memaraknya penggunaan jejaring sosial, apa pun bisa terekspos dengan intens dalam waktu yang sangat cepat. Apa pun itu. Entah video, pemikiran, foto, isu, dsb. Menurut saya, fenomenanya sih ya biasa dan wajar, dan pasti akan selalu sesuai dengan selera masyarakat pada saat ini, "kendaraan"-nyalah yang luar biasa. Wajar kalau internet disebut "information superhighway". Otomatis, apapun yang dilaluinya, mau itu video Keong Racun atau Briptu Norman, punya potensi terekspos secara super juga. 

5. Menurut anda bagaimana peran media (terutama televisi) dalam mempublikasikan hal-hal unik di atas? Cenderung berlebihan atau sudah sesuai dengan kapasitasnya?

Kayaknya kalau bukan berlebihan, ya itu bukan media, hehe. Saya rasa media hanya menjalankan perannya yang memang seperti itu. Fungsi media kan mengamplifikasi. Dan biasanya satu objek akan diperah dan diamplifikasi habis-habisan dulu sebelum beralih ke isu lain. Jadi buat saya, reaksi media lebih tepatnya adalah "predictable" ketimbang "berlebihan".

AND Magazine | Proses Kreatif | 2006

Bagaimana awal mula Dee mencintai dunia tulis? Apa yang sebetulnya mendorong Dee untuk menulis fiksi? 

Senang menulisnya sudah dari kecil. Saya memang punya dorongan kuat untuk mengkhayal, membayangkan dunia lain, menyusun alur cerita, dsb. Kakak-kakak saya senang membaca, jadi saya ikut kebagian membaca buku-buku cerita mereka. Itu juga salah satu faktor yang mendorong saya tertarik menulis fiksi. 

Apa hambatan dari menulis? 

Untuk saat ini hambatan saya adalah waktu dan kesempatan untuk duduk lama menulis. Setelah punya anak, apalagi sekarang yang bungsu juga belum dua tahun dan yang sulung baru masuk SD, otomatis waktu saya terbagi banyak, antara menulis dan mengurus anak dan rumah tangga. Saya bahkan harus cuti dari pekerjaan di luar rumah dulu untuk sementara waktu, supaya masih bisa menulis buku dan nggak keteteran mengurus anak-anak. 

Bisa diceritakan proses pembuatan tulisan hingga akhirnya sampai ke penerbitannya? 

Simpel saja, manuskrip selesai dulu, baru kontak penerbit. Beberapa buku saya juga pernah saya terbitkan sendiri. Prosesnya kurang lebih sama. Setelah selesai manuskrip, mulai godok dengan pihak penerbit perihal produksinya. Saya sudah punya tim tetap untuk produksi, dari cover sampai lay-out, yang saya ikut supervisi sampai selesai. Karena sudah sering dan terbiasa, jadi masing-masing pihak sudah tahu apa yang dikerjakan. 

Apa pendapat Dee tentang sastra Indonesia ? Apa pendapat Dee tentang karya fiksi di Indonesia ? 

Saya lebih senang melihat dunia penerbitan secara global, ketimbang hanya terkungkung di segmen sastra atau pun fiksi semata. Saya melihat dunia penerbitan Indonesia saat ini semakin seru, banyak penerbit baru dan toko-toko buku dengan konsep yang baik. Yang saya rasa agak melambat adalah regenerasi. Rasanya sejak Angkatan 98 (Ayu Utami) menuju era sekarang, tidak terlalu banyak penulis baru yang mencuat, sekalipun secara kuantitas bisa saja semakin banyak. 

Ada yang bilang, perempuan lebih dekat dengan khasanah sastra ketimbang laki-laki, menurut Anda ? 

Menurut saya sama-sama saja. Sejarah membuktikan, dulu dunia sastra lebih banyak dimeriahkan oleh penulis laki-laki. Dan sekarang banyak yang berpendapat penulis perempuan lebih mendominasi. Tapi secara esensi, menurut saya hal itu tidak sepenuhnya masalah gender. Siapa pun yang punya kepekaan bahasa, akan dekat dengan sastra.

Siapa pengarang yang berpengaruh pada dunia kepenulisan Anda? Mengapa?  Siapa pengarang perempuan dunia dan Indonesia yang anda suka? Mengapa? Karya pengarang laki-laki yang Anda suka? Mengapa? 

Sapardi Djoko Damono, beberapa bukunya pernah sangat mempengaruhi saya dalam menulis lirik dan dalam membuat irama kata. Seno Gumira Ajidarma, karena mampu membuat tulisan yang hidup. Ayu Utami, karena ketekunannya dalam mengulik bahasa. Penulis perempuan dunia, terus terang saya nggak mengikuti banyak genre fiksi karena lebih suka nonfiksi, tapi buku Ana Castillo pernah sangat berpengaruh bagi saya.

Pendapat Anda tentang sastra perempuan atau perempuan bersastra? 

Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya nggak pernah terlalu fokus pada pemilahan gender dalam bersastra. Yang saya lihat, memang banyak penulis perempuan yang disorot sejak 1998. Tapi dalam dunia perbukuan, menurut saya gender bukan perihal yang esensial, pada akhirnya cerita apa pun yang memiliki kedekatan batin dengan pembaca, dipasarkan dengan tepat, terjadi pada momen yang tepat, akan menjadi karya yang mencuat. 

Bagaimana tentang pembaca Indonesia? 

Sekarang ini pembaca Indonesia cukup dimanjakan dengan mudahnya mencari buku, banyaknya toko buku online, taman bacaan yang lebih subur ketimbang dulu-dulu, dsb. Jarak pembaca dan penulis juga semakin didekatkan dengan adanya sosial media. Seorang pembaca pun bisa dengan cepat terakselerasi menjadi "penulis" dengan media blogging. Jadi menurut saya dunia pembaca di Indonesia, dan juga penulis, terasa lebih dinamis.
Komunitas membaca dan sastra menurut saya adalah salah satu cara yang efektif untuk menghidupkan sastra Indonesia. Baik komunitas online atau offline, keduanya berpotensi untuk menjaga semangat bersastra. 

Apa yang Dee harapkan dari dunia sastra di indonesia saat ini ? 

Regenerasi penulis muda yang lebih cepat. 

Sebutkan satu judul buku favorit yang Dee karang sendiri ? Mengapa? 

Pertanyaan sulit, karena menurut saya semua buku saya "tekstur"-nya lain-lain. Tapi saya sangat terhibur dengan Petir (Supernova episode 3). 

Sebutkan satu judul buku favorit dari penulis lain? Mengapa? 

Untuk fiksi saya sedang senang sekali dengan Ratawutt Lapcharoensap, penulis Thailand yang menulis dalam Bahasa Inggris. Bukunya yang saya baca berjudul Sightseeing. Sangat menginspirasi buat saya.



Tuesday, December 9, 2014

Erhalogy Magazine | Hidup, Kecantikan, dan Aging | Juli, 2007


1. Bagaimana cara Dee menjaga kesehatan/kebugaran/kecantikan?

Menurut saya, kesehatan harus menjadi basis untuk kecantikan. Dengan kita ingin sehat, kita akan merawat diri. Namun kalau yang menjadi basis adalah kecantikan, kadang-kadang kita sering keblinger dan malah mengorbankan kesehatan. Kesehatan sendiri meliputi gaya hidup secara keseluruhan. Jadi dari mulai pola makan sampai manajemen stres sampai memilih sabun cuci muka. Saya suka olah raga cardio seperti aerobic, dulu sempat yoga, tapi sempat berhenti lama dan sekarang baru mau mulai lagi. Meditasi juga sangat baik bagi kesehatan fisik dan mental. Saya tidur 7-8 jam per hari. Untuk perawatan muka, saya memilih produk perawatan yang paling lembut, tidak mengandung parfum/pewarna. Untuk perawatan tubuh setiap hari memakai body lotion, dua hari sekali pakai yg ada AHA-nya, dan sebulan sekali luluran.

2. Kebiasaan apa yang Dee lakukan untuk menjaga kecantikan?

Juga ada di no. 1, tapi untuk menambahkan, saya sebisa mungkin tidak pakai make-up tebal-tebal, kalaupun harus, secepatnya saya bersihkan. Selain itu banyak-banyak tertawa, dan jauhi hal-hal yang membuat stres, termasuk program-program teve yang nggak penting.

3. Bagaimana Dee melihat konsep hidup manusia urban sekarang ini?

Manusia urban pada esensinya tidak berbeda dengan manusia suburban, manusia rural, bahkan manusia tribal sekalipun. Hanya pengkondisiannya saja yang berbeda. Manusia urban digempur oleh blundernya pilihan dan informasi, hidup dalam tempo cepat. Dan karena jumlahnya yang relatif banyak serta aksesnya terhadap kekuasaan dan informasi, manusia urban punya pengaruh sangat besar untuk menentukan masa depan Bumi melalui setiap pilihan yang dibuatnya.

4. Apakah Dee punya cara/masukan untuk bisa survive sebagai manusia urban?

Hidup dalam kesadaran, terutama dalam pemilahan pilihan dan informasi. Punya akses terhadap teknologi dan informasi sebetulnya seperti pedang bermata dua, bisa membangun dan juga bisa merusak. Kita harus cermat sekali dalam kegiatan konsumsi, baik konsumsi informasi, hiburan, makanan, sampai gaya hidup. Hidup dalam tempo yang lebih lambat, sesekali kembali ke keheningan, alokasikan sebagian pendapatan kita untuk kepentingan orang banyak, dan menerapkan gaya hidup sehat dan seimbang, menurut pengalaman saya, dapat membantu kita untuk beroleh hidup yang lebih santai sekaligus bermakna.

5. Hidup yang seimbang itu seperti apa? Bagaimana cara Dee mewujudkannya?

Hidup yang seimbang, menurut saya, adalah hidup dengan memberikan perhatian yang proporsional pada fisik, mental, ruh, dan jiwa. Karena setiap manusia, apapun status dan bentuknya, pasti tidak akan lepas dari empat unsur tsb. Sukar sekali untuk mendapatkan keseimbangan yang sempurna, tapi dengan kita ingin mewujudkannya saja sudah pasti akan membawa banyak perubahan besar. Saya belum merasa sebagai ahlinya, tapi yang jelas, dengan memperhatikan dan eling atas segala aktivitas fisik, mental, ruh, dan jiwa kita, kita bisa pelan-pelan hidup lebih sehat, terkendali, dan tenang. Aplikasinya bisa dengan mengisi hari dengan momen hening atau bermeditasi, mengonsumsi makanan yang sehat dan baik bagi tubuh kita, mencerap informasi yang berguna dan mereduksi informasi yang tidak berguna/tidak mendidik, hidup selaras dengan lingkungan, memberikan ruang bagi hati dan benak kita untuk berkreasi.

6. Apa pendapat Dee mengenai aging?


Aging adalah sesuatu yang pasti, sama dengan mati. Aging adalah proses alami hidup yang tidak bisa ditawar-tawar.

7. Bagaimana cara Dee menyikapi aging yang nggak mungkin dicegah datangnya ini?

Jangan dibuat stres, jangan terlalu panik ketika ada kerut atau vlek atau uban muncul. Pertama-tama, harus diterima dulu, apa adanya, bahwa aging itu nyata dan pasti terjadi. Sesudah itu, ya, jalankan saja hidup yang sehat dan seimbang, dan buat saya bukan demi cantik dan panjang umur, tapi karena hidup sehat dan seimbang itu lebih menyenangkan untuk dijalani.

8. Buat Dee, apakah menjadi tua itu menakutkan? Adakah ketakutan lain yang melebihinya?

Saya pikir tidak ada yang perlu ditakuti dengan menjadi tua. Every age has its beauty. Yang perlu ditakutkan adalah kalau kita ingin muda terus, karena sudah pasti kita malah cepat tua berhubung stres kepingin muda, hehe, soalnya ya nggak mungkinlah tambah muda. Itu menyalahi hukum alam. Ketakutan terbesar manusia barangkali adalah takut mati. Ada yang bilang, kalau kita sudah mengatasi ketakutan akan kematian, kita baru benar-benar hidup. Mungkin begitu juga dengan aging. Kalau kita sudah mengatasi ketakutan kita akan penuaan, baru deh jiwa kita awet muda.




Monday, January 7, 2013

GOOD HOUSEKEEPING | Film Rectoverso | Dec, 2012 | Interview by Sanita Deselia


1. Semua sutradara yang terlibat dalam film Rectoverso adalah sutradara baru bahkan beberapa di antaranya baru pertama kali menyutradarai. Bagaimana ekspektasi Mbak Dee terhadap film ini? Apakah sempat muncul keraguan? Jika ya bagaimana berkompromi dengan hal tersebut? Rectoverso adalah buku yang cukup fenomenal. Di tangan sutradara baru tentu ada risikonya. Apa yang membuat mba berani mengambil risiko 'melepas' karya ini di tangan sutradara baru? Bisa diceritakan prosesnya?

Jadi, awalnya Marcella menghubungi saya untuk minta ide cerita. Dia sudah punya konsep ingin membuat film omnibus tentang cinta dengan lima sutradara. Saya bilang bahwa saya lagi nggak ada ide baru, tapi saya punya kumpulan cerita yang barangkali sejalan dengan idenya. Saya lalu mengirimkan buku Rectoverso untuk dia baca. Ternyata Marcella suka. Jadi, sejak awal saya tidak ada masalah dengan sutradara baru, dsb. Saya malah senang ada yang tertarik mengapresiasi Rectoverso dan ingin menjadikannya film. Yang saya tahu Marcella dan rumah produksinya adalah perusahaan profesional dan punya visi yang bagus. Bagi saya itu cukup.

2. Sejauh apa keterlibatan Mbak dalam film ini apakah penulisan skenario di bawah supervisi Mbak Dee semua atau seperti apa? Mengapa tidak menulis sendiri seperti di Perahu Kertas?

Setelah selesai menulis skenario Perahu Kertas, saya kemudian menulis Supernova ke-4, Partikel. Jadi, saat itu saya sudah berkomitmen untuk tidak terlibat dalam proyek penulisan apa pun di luar buku saya sendiri. Karenanya saya tidak terlibat dalam skenario film-film dari buku saya lainnya, seperti Rectoverso ataupun Madre. Saya hanya meluangkan waktu untuk membaca draft-nya, kemudian memberikan masukan. Sebatas itu saja. Supervisinya tidak formal, tapi lebih seperti konsultan informal.

3. Hal apa yang menjadi prioritas perhatian utama mbak Dee dalam proses pembuatan film ini apakah setting tempat/ lokasi atau skenarionya atau pemeran utamanya? Mengapa?

Untuk Rectoverso yang sulit adalah membangun strukturnya, karena Rectoverso terdiri dari lima cerita yang berbeda dengan kekuatan filmis yang juga tidak sana. Selain itu, cara penyajian omnibus, kan, bermacam-macam. Tantangannya adalah mencari yang paling sesuai untuk kebutuhan film, dan bagaimana agar kekuatan maupun kelemahan tiap bagian bisa saling mengisi dan menguatkan. Dan saya tahu Marcella meluangkan waktu cukup panjang untuk membangun struktur cerita di proses editing. Jadi, proses terlama dan paling menantang dari Rectoverso adalah editing-nya.

4. Setelah lewat buku dan album, adakah pesan baru yang ingin disampaikan Rectoverso lewat film? Adakah pesan yang kurang tersampaikan sebelumnya? Bisa diceritakan?

Dalam film, terjadi pengembangan cerita. Karena format bukunya kumpulan cerpen, jadi banyak pengembangan yang bisa dimungkinkan ketika dijadikan film. Aspek cerita yang sifatnya abstrak jadi lebih riil dan nyata. Misalnya saja, di Rectoverso saya tidak menggunakan nama tokoh sama sekali. Dalam film, tentu itu tidak mungkin. Jadi, ada pengembangan nama, latar belakang, dsb. Kalau benang merah dan pesannya, sih, tetap sama. Rectoverso bercerita tentang cinta yang tak terucap.


Friday, May 29, 2009

STILL LOVING YOUTH (SLY) | Profile | Feb, 2009 | Special Interview by El Williams


PART I
1. What moves you emotionally in what you are doing at the moment (music and writes)?

Heart aches, mind inquiries, and our innate quest to know our true selves.

2. What excites you intellectually?

Almost everything related to the origins of life. In the past ten years, I’ve grown interest in alternative history of our world and universe, and that includes the mystery of the first human, sacred sites that spread out throughout the globe, extra-terrestrials, pyschedelics, etc. I start to question the collective knowledge and start my own investigation, and study the works of modern explorers who question the same thing (Graham Hancock, Zeccharia Sitchin, Terrence McKenna, Amit Goswami, Gregg Braden, etc).

3. What inspires you as beautiful?

Nature. Almost everything about it IS beautiful. I like watching the sky—clouds, sunset, moon, and the stars. I like watching the trees—leaves, birds, entwined branches. I like watching the rain—reflections on the puddles, raindrops. I just love observing nature. It’s so simple and yet one can find profound revelations just by reflecting upon Nature. Nature is our mirror. Animals are beautiful, too. People, in their utmost acceptance of themselves, are also beautiful – like babies and children, or adults who have deep connections with themselves.

4. What reminds you of sadness?

The capability and capacity of humans to destroy other beings and also one another.

5. What are you able to do now that you have never been able to do before?

Living in Jakarta. Just a year ago, it’s something that occurs to me as an impossibility. Yet, here I am [grin].

6. If it seems you are getting paid at last for what you used to have to do alone at night at your own expense, is what you are doing now really what you were doing then? How is it different? Are you being paid, rewarded, supported for being yourself, or for not being yourself in some fairly subtle way?

You mean writing and daydreaming? :)
Yeah, I think I’m very lucky to have my hobbies as my professions. I basically do what I love to do and getting paid for it. The difference now is people’s expectations on me; because once your creativity is out in the open and people know about your work, they start to expect things. They expect you not to stop, they expect you to stay the same. So, staying true to yourself and be willing to accept your own natural flow—even though it means you have to occasionally stop, to change, to evolve against people’s expectation—is the biggest challenge of all artists. It’s an art of itself.


PART II

7. Will any kind of art continue to be fields of professional specialization in the future in this society if new tools permit easy generation of material without extensive (time-consuming and often expensive) training and physical coordination skills?

I think we will always need art, no matter how modern and sophisticated the technology will be. Of course, the formats may change, the hardwares may change, but it’s just the outer layer. Deep down inside, we all need art, we’re all artists. Artistry is the main gateway to express our divinity. We can never defy that. We’ll just have to dance with the changes, I guess.

8. How does the awareness of your audience (market) influence the work you are creating? Is it easier to rely on external considerations such as audience, market, or "fashion" to structure your creative output, or to let inner directions and interests structure your work?

I think there’s always constant pull between the two—the outer direction and inner direction—and the artist stands in the middle of the pull. The first step is just to accept that dynamic. Knowing there’s always a pull and a constant dynamic between ourselves and others. It helps us to be realistic and not so stressful about fashion, trends, idealism, etc. But to be in a total ignorance of what’s going on out there is not only dangerous, but also impossible. So, when I create things, I occasionally put myself in the audience seat as well, try to imagine or empathize with their response, reactions, etc. And because I’ve had the experience of being the producers of my own works, I also have the privilege of viewing things from the business side as well—how the market will respond, how to design the most optimal marketing plan, etc. And sometimes those perspectives collide with one another. We cannot avoid that from happening. It’s just how things are. So, being relaxed about it is a profound gift an artist can give to him/herself.
One parameter that I always use is: just write books that you like to read, just make records that you like to buy. Don’t worry so much about the rest. For me that parameter serves as the middle path; you’re being true to yourself and yet at the same time it enables you to include others by positioning yourself as a mere consumer. Put it this way: worse come to worst, at least you have yourself to buy your own stuff :)

9. How is your work different from the work of those who are doing things most similar to what you do? How do you want to be different or want to be the same?

Lately I learned something about myself. They say, imitation is the greatest flattery. But I really hate copycats. Nothing gets more into my nerves than having someone ‘copying’ me. As long as I remember, I’ve always struggled to be different. But actually it’s a thin line between imitating and being influenced. I have many influences myself. I even think our minds and our creativities are actually patches of many other people’s works before us. Yet we cannot be identically the same with others, no matter how much we want and try to imitate them. That’s life. Nothing is identical. So, I begin to realize that effortlessly I’m always different. And so are other people. The degree of differences may vary, though. And perhaps this is what we coin as ‘originality’: when someone or something felt very different from the mass. But when we understand that everything IS naturally different, nothing is truly original anyway. And we can be more relaxed about this whole fuss of being different.

10. How can objectivity and subjectivity be maintained in balance during the creative process, so that neither overshadows the other?

I don’t believe in objectivity. I don’t think such thing exists. Everything in life is subjective, even science has proven to some degree that our reality IS a subjective reality, which means nothing stands on its own, reality is our subjective creation. So I don’t bother about being objective, especially in my creative process. I think subjectivity is what makes it interesting in the first place. Subjectivity is the ultimate, if not only, distinctive factor that makes our work different from others.

11. In what ways do you value the final results you complete and for how long? How do you value the process of doing, creating?

For some, a creative process can be seen like ‘giving birth’. Some may see it as ‘baking’. But it’s all similar feeling deep down. The way I experience it, I feel myself more like a medium for something that wants to reach out, to touch and to speak to the world. That something is larger than my conscious self. Some may call it divinity, some may call it the creative realm. Whatever that is, a creative process always feels sacred. I think to have that experience is the ultimate privilege of being human.
A ‘waiting’ period is also what’s essential in my work. I call the process “fermentation”. When I’m done writing my manuscript or song, I will let them be for a while, let them “ferment”. There’s no fixed time, with a song it can be a few days or a week, with a book it can be a month or two. This waiting period allows me to get back to my work with a fresh perspective. During the making I naturally tend to be microscopic, but after giving it some time, I can look back at my work from a telescopic view. And from that view, it’s easier to spot the flaw or brilliance that had blossomed during the fermentation period. It helps me a lot to finalize my work.


PART III

12. Do we have free will, or is everything destined?

I’m not really sure myself. I used to be a strong believer of free-will, and I used to believe strongly in destiny too, or the ‘grand plan’ theory. But now I’m not so sure anymore. And I guess, to have this question remains an uncertainty is a healthier and more realistic way to approach life, to live moment by moment. Our perceptions always change from time to time, anyway. At one time, maybe the free-will concept works better, but at another time, destiny may be more suitable. But if you look at it from karmic law, or cause-and-effect principle, I think free-will and destiny should complement each other, rather than contradict. To some extent we can have experience and exercise free-will, but our accumulated karma (which we cannot know or perceive wholesomely) can sometimes preventing us from experiencing free-will. So at some cases, people can feel there’s no such as thing as free-will, simply because their karma do not allow them to experience it yet. But since karma is basically a causality, it’s not a fixed thing too. Its direction can be altered by doing new karma, therefore new reality occurs for us, and so on and so forth. And that implies an organic and a living destiny, instead of a fixed one.

13. Are we being told the truth about our origins and destiny?

I think the best mystery is the one that is so simple that our complex minds keep missing it. I’m not 100% sure whether the given history or the scriptures were telling us the truth or not. But I feel the hints and the answers for that mystery are everywhere, right in front of our eyes.
Like I’ve told you before, I have grown interest in that subject, and I’ve adopted it as my personal inquiry. I just find it exciting and stimulating by nature. I’m very open to all kinds of ideas, even some that majority finds as nonsense, wacky, etc. Believing in one single truth and leaving no room for other possibilities is just very boring for me. So if one day we find out that our ancestor is fish rather than ape, I won’t be surprised. Or if we find out that homosapiens were resulted from a genetic experiments by the ET’s, I won’t be surprised either. I’m all here for surprises, heheh.

14. Is "evil" an indispensable part of reality? Would there be crime, racism or hate without it? What would "good" do if there wasn't evil?

Without the opposite, I think “good” will be no good. Heheh. Like any other dualistic reality, good and evil is dependent on each other, that’s why I’m not interested so much in both. I think life is more than just the battle of good and evil. Life is also about transcending both of them.

15. Do you think science will eventually explain everything we wonder about now?

What I like about science is, it always makes room for a change. What’s right today may not be right tomorrow. What’s labeled wrong today may be labeled correct by tomorrow. It’s ever changing. And I think it’s a healthy approach if we’d like to explore more about life and ourselves. It helps us not to be fixated in a single truth. So, yes, as spirit, I think it serves us best if we maintain a scientific spirit.
But if science only represents materialistic reality, it will eventually find a dead end. Science needs to explore more about non-matter reality as well—our inner space. We have landed on the moon, yet most of us do not seek into ourselves. We know so little about our inner space (maybe that’s why we’ve only gone to the moon, not yet other galaxy). By embracing and exploring our inner space, I think humanity will leap into a reality that we’ve only dared to dream.

16. How would you respond to behavior like adopting children who aren't family members, voluntary celibacy, or people deciding to spend their whole life praying?

We’ve seen the worse and more outrageous sample of human behaviours, like genocide in Rwanda or the Nazi camps. So, by all means, adopting children, celibacy, and lifetime praying are very “normal” and “acceptable”. So I would say: GO CRAZY WITH IT! HAVE THE MOST BLAST CELIBATE LIFE EVER! HAVE A GRRREAAAT PRAY DAY! AND ADOPT AS MANY CHILDREN AS IF YOU’RE BUILDING A NATION! :)

17. Can you tell me the process of deciding your son’s name? And why you decided that name in the end?

I’ve always fond of Gaelic name, such as Keenan, Keira, Keane. Keenan has been my long time favorite, though. I’d also like to add a Buddhist element in his name, and the name “Avalokiteshvara” resonates with me somehow. But it’s too long and it’s almost like naming your child “God” – way too heavy socially, poor child. So I asked around, and found out from a Tibetan friend that “Avalokiteshvara” is rooted from an adjective “Avalokita” which means compassionate. “Kirana” means light, and it was his father’s name. So there it goes: Keenan Avalokita Kirana. A cocktail of Gaelic, Tibetan, and Sanskrit :)

18. If you were able to teach every person, what would you want people to believe?

Try not to believe in anything. Instead, try to question everything. Experience those that ache you the most, that move you the most, that trigger your curiosities the most. And after experiencing, you no longer need to believe. You just KNOW.
Knowing is so different from believing.

19. Do you believe that being a vegetarian means that you actually helping our Mother Earth?

To some extent, yes. Only because now we’ve industrialized our food in such way that it’s no longer sensible and sustainable for Earth and humanity at large. I probably won’t question this if we were still a hunting tribe. In those days, we don’t pile up foods, we eat when we have to. Now, we eat for lifestyle, we eat to escape our stress, we eat upon great sufferings from other beings (in this case, the animals that we’ve systematically bred and killed). 90% of big fishes are gone from the ocean now, millions of cattles are living in a literal hell from the time they were born until they die on our plate, for what? 60% of humans still live in hunger anyway. So whom are we feeding? Being a vegetarian is just a moral option that’s sensible for this time. It’s like ‘fasting’ when we’re already overfed and obese. So actually we’re doing ourselves a favor by limiting ourselves and our food to some degree.

Last question…
20. Who are you?

I have no idea.