Friday, May 12, 2017

Belia - Pikiran Rakyat | Hari Kartini & Menulis | April, 2017 | Dhiany Nadya Utami


Sebagai pembuka, karena di bulan ini kita memperingati Hari Kartini, menurut Mbak Dee bagaimana sih seharusnya tokoh Kartini itu?

“Seharusnya” bukanlah konsep yang saya miliki tentang Hari Kartini maupun sosok Kartini. Namun, sebagaimana Kartini pada saat itu, saya merasa Kartini menyimbolkan pemikiran kritis terhadap kemajuan dan harkat perempuan. Ia sosok yang cerdas dan melampaui zaman, walaupun akhirnya menyerah kepada keterbatasan yang mengungkungnya saat itu. Saya merasa pergelutan Kartini itu lebih di tataran intelektual.

Dalam pandangan Mbak Dee, apa yang sebenarnya menjadikan seorang wanita itu hebat?

Perempuan yang bersentuhan dekat dengan potensinya, kekuatannya, dan mampu memanifestasikannya dalam kehidupan nyata, bidang apa pun itu, termasuk dalam berumah tangga dan membesarkan anak-anaknya.

Apa yang bisa dilakukan seorang perempuan untuk memberdayakan (empowering) sesama perempuan?

Saling berbagi informasi, pengetahuan, pemikiran. Saya rasa itu juga yang kurang lebih dilakukan Kartini dulu. Saat ini tentu kita sudah bisa melangkah jauh, ada yang memilih berorganisasi, bergerak melalui LSM, dsb. Namun, intinya adalah bagaimana kita menciptakan kesadaran akan kekuatan dan potensi kaum perempuan.

Kembali ke Kartini, kita tahu ia dikenal salah satunya karena ia mendokumentasikan pemikirannya dalam tulisan dan mengirimkannya dalam bentuk surat pada temannya, bagaimana Mbak Dee memandang hal tersebut?

Bagaimana pandangan Mbak Dee jika Mbak disebut disebut sebagai Kartini Literasi?
Saya merasa predikat seperti itu merupakan hak dari pembaca atau siapa pun yang berada di luar dari saya sendiri, tentunya. Jika saya kembali ke diri saya sendiri, saya berkarya bukan demi predikat, melainkan karena kecintaan dan kegemaran saya pada seni bercerita. Tentu pada akhirnya, ketika seorang konsisten berkarya dan mulai memiliki gaung di tengah masyarakat, akan ada banyak predikat yang disandangkan. Saya merasa itu sesuatu yang patut diapresiasi, tapi bukan sesuatu yang saya kejar, jadi saya terima saja.

Oh ya, Mbak Dee sendiri sejak kapan suka menulis dan mengapa memutuskan untuk berkarya lewat tulisan?

Saya mulai menulis “novel-novelan” sejak kelas lima SD, dan sering mengkhayal cerita-cerita bahkan lebih muda dari itu. Setelahnya saya menulis terus sebagai hobi, sampai lulus kuliah, berkarier di bidang musik, dan akhirnya tahun 2001 saya menerbitkan buku (Supernova episode Kesatria, Puteri, dan Bintang Jatuh).

Bagi Mbak, menulis itu apa?

Saluran berekspresi dan pekerjaan yang saya cintai.

Siapa (atau apa) yang menjadi inspirasi Mbak Dee dalam menulis?

Inspirasi saya didapat dari hidup itu sendiri. Ketika menjalani hidup dan mengalami berbagai pengalaman, banyak hal yang renungkan, ingin saya bagikan, dan komunikasikan ke pihak lain. Medium yang saya pilih adalah menulis. Sama halnya dengan pelukis yang memilih melakukannya lewat lukisan, atau musikus yang berekspresi lewat musik.

Karya seperti apa sih yang ingin dihasilkan oleh seorang Dewi Lestari?

Karya yang saya sendiri sukai. Saya hanya menulis buku yang ingin saya baca, dan lagu yang ingin saya dengar.

Adakah pesan atau tips dari Mbak Dee untuk pembaca Belia yang ingin atau sudah  mulai menulis?

Menulis itu seperti otot. Jika kita ingin tangguh, ingin bertumbuh, ingin terus bertambah kuat, satu-satunya cara adalah dilatih, sering, dan sebisa mungkin rutin. Setelah sering latihan, tentu kita juga ingin tahu cara berlatih yang benar dan efektif, maka carilah ilmu menulis yang baik, lewat membaca, ikut workshop, dan sebagainya. Intinya jadikan itu bagian dari hidup seperti halnya kita makan dan minum.